Kerabat Referensi yb.,

Terutam pada Uda Eka, Pak Risfan, dan Mas Jarot.

Dengan maksud memperdalam diskusi tentang fenomenografi beberapa saat lalu, 
saya telah memposting diskusi di milis Referensi ke milis 'kerabat antropologi 
UI'.

Berikut tanggapan pertama yang telah masuk. Selamat menikmati.

Jika tidak keberatan, mohon kerabat antropologi saya ini bisa diterima sebagai 
anggota milis referensi. Sebagai info singkat saja, ybs. adalah mahasiswa 
tingkat doktoral pada NUS, Singapura.

salam,
ryz

----- Original Message ----- 
From: Idham Bachtiar Setiadi 
To: [email protected] ; kerabat antropologi 
Sent: Tuesday, April 13, 2010 8:29 AM
Subject: [IKA-UI] fenomena ngantrop


  
Melanjutkan bahasan fenomenografi - terpisah dari posting info proyek/program 
pembangunan perkotaan

Pertajam sedikit postingan sebelumnya: menarik banget ... untuk dibahas sebagai 
fenomena ngantrop. Ahli bidang lain pakai etnografi, fenomenografi, mau 
menghasilkan thick description ... pertanyaan buat gue: kenapa? what happened? 
ada fresh PhD, bawa "ilmu" baru, bikin wacana yang nice bunyinya ... atau, ada 
pertanyaan di lapangan kita yang sebelumnya tidak terjawab, sehingga perlu 
pendekatan baru? Atau ... apa? Ada yang tahu lebih persisnya apa yang terjadi?

Khusus soal perkotaan, gue tertarik untuk tahu lebih jauh: bagaimana 
perkembangan cara membahas fenomena kota? Bukan untuk bicara tentang hakekat 
kota, tapi untuk memahami batas-batasnya. Di diskusi milis tetangga itu ada 
masukan bagus dari praktisinya: kalau sudah melihat dari berbagai sudut (atau 
sekian banyak orang masing-masing melihat dari sudut pandangnya), bagaimana 
menyatukannya (orang-orang ini)? Ecological footprint? Titik dalam global 
cultural economy (ethnoscape, technoscape ... dll.)? Cultural landscape? 
Jangan-jangan ini semua sama aja, cuma kerangka, dan yang penting isinya?

Ini persoalan buat gue di Borobudur: "dia" sekaligus monumen (setidaknya 
monumen Orde Baru), kelurahan, kecamatan, calon kawasan strategis nasional, 
tapi juga tempat cari nafkah, ajang adu ide, bahkan juga orang (wong Budur), 
kelompok , kesenian ... dst. Betul, bisa saja diurut apa-apa yang ditemukan. 
Persoalannya: bagaimana (di mana) memulainya? Ternyata, kerangka jadi penting 
juga.

Salam,

Idham Bachtiar Setiadi [email protected]

PS. Soal fenomenografi Mas Jarot: rasanya semua point fenomenografi dia ada 
dalam antropologi, tapi lain-lain aliran. Hebat kalau dia bisa menyatukannya. 
Soal istilah: apalah arti sebuah nama (selain untuk jualan ide, hehehe).





--------------------------------------------------------------------------------
New Windows 7: Simplify what you do everyday. Find the right PC for you. 

Kirim email ke