Pak Yando ysh.,
Kalau menurut saya, pd intinya yg namanya research, investigation, angket, dst 
adalah proses penyelidikan utk mempelajari fenomena sosial dan alam, dan 
kemudian menjadikannya sebagai sebuah knowledge...
Mungkin karena itu banyak antropolog, geograf, di Prancis yg saya kenal tdk 
terlalu repot meributkan soal nama/istilah (yg menurut Pak Idham hanya utk 
jualan)... buat mereka research/investigation/enquiry/angket itu jelas, yakni 
datang saja ke lokasi, pelajari,simpulkan, tulis, publish... :)
salam..



--- En date de : Mar 13.4.10, R. Y. Zakaria <[email protected]> a écrit :

De: R. Y. Zakaria <[email protected]>
Objet: [referensi] Fw: [IKA-UI] fenomena ngantrop --> Fenomenografi Mas Jarot
À: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Mardi 13 avril 2010, 3h58















 
 



  


    
      
      
      


Kerabat Referensi yb.,
 
Terutam pada Uda Eka, Pak Risfan, dan Mas 
Jarot.
 
Dengan maksud memperdalam diskusi tentang 
fenomenografi beberapa saat lalu, saya telah memposting diskusi di milis 
Referensi ke milis 'kerabat antropologi UI'.
 
Berikut tanggapan pertama yang telah masuk. Selamat 
menikmati.
 
Jika tidak keberatan, mohon kerabat antropologi 
saya ini bisa diterima sebagai anggota milis referensi. Sebagai info singkat 
saja, ybs. adalah mahasiswa tingkat doktoral pada NUS, Singapura.
 
salam,
ryz
 
----- Original Message ----- 
From: Idham Bachtiar 
Setiadi 
To: ika...@yahoogroups. com ; kerabat antropologi 
Sent: Tuesday, April 13, 2010 8:29 AM
Subject: [IKA-UI] fenomena ngantrop

  

Melanjutkan bahasan fenomenografi - terpisah dari posting info proyek/program 
pembangunan perkotaan

Pertajam sedikit postingan sebelumnya: menarik 
banget ... untuk dibahas sebagai fenomena ngantrop. Ahli bidang lain pakai 
etnografi, fenomenografi, mau menghasilkan thick description ... pertanyaan 
buat 
gue: kenapa? what happened? ada fresh PhD, bawa "ilmu" baru, bikin wacana yang 
nice bunyinya ... atau, ada pertanyaan di lapangan kita yang sebelumnya tidak 
terjawab, sehingga perlu pendekatan baru? Atau ... apa? Ada yang tahu lebih 
persisnya apa yang terjadi?

Khusus soal perkotaan, gue tertarik untuk 
tahu lebih jauh: bagaimana perkembangan cara membahas fenomena kota? Bukan 
untuk 
bicara tentang hakekat kota, tapi untuk memahami batas-batasnya. Di diskusi 
milis tetangga itu ada masukan bagus dari praktisinya: kalau sudah melihat dari 
berbagai sudut (atau sekian banyak orang masing-masing melihat dari sudut 
pandangnya), bagaimana menyatukannya (orang-orang ini)? Ecological footprint? 
Titik dalam global cultural economy (ethnoscape, technoscape ... dll.)? 
Cultural 
landscape? Jangan-jangan ini semua sama aja, cuma kerangka, dan yang penting 
isinya?

Ini persoalan buat gue di Borobudur: "dia" sekaligus monumen 
(setidaknya monumen Orde Baru), kelurahan, kecamatan, calon kawasan strategis 
nasional, tapi juga tempat cari nafkah, ajang adu ide, bahkan juga orang (wong 
Budur), kelompok , kesenian ... dst. Betul, bisa saja diurut apa-apa yang 
ditemukan. Persoalannya: bagaimana (di mana) memulainya? Ternyata, kerangka 
jadi 
penting juga.

Salam,

Idham Bachtiar Setiadi 
ib_seti...@hotmail. com

PS. Soal fenomenografi Mas Jarot: rasanya 
semua point fenomenografi dia ada dalam antropologi, tapi lain-lain aliran. 
Hebat kalau dia bisa menyatukannya. Soal istilah: apalah arti sebuah nama 
(selain untuk jualan ide, hehehe).




New Windows 7: Simplify what you do everyday. Find the right PC for 
you. 



    
     

    
    


 



  











      

Kirim email ke