Halo Pak Indra dan rekans milister,

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan uang dan kalangan monetaris, karena 
memang uang dibuat untuk mempermudah transaksi. Uang menjadi sangat berkuasa 
hanya jika kelembagaan publik sangat lemah dalam mengembangkan proses 
modernisasi yang seiring dengan berkembangnya sistem moneter tsb. Kelembagaan 
publik yang mampu mengelola common pool (Ostrom) dengan baik, menghormati 
tradisi dan nilai2 lokal (persaudaraan, kekerabatan, dsb) dan 
mentransformasikannya dalam bentuk tata kelola urusan publik, itulah yang dapat 
mengimbangi dominasi kapital.

Dua kejadian memalukan hari ini, kasus tanah Cina Benteng dan Makam Mbah Priok 
menunjukkan kelemahan lembaga2 publik. Bagaimana bisa Pemda DKI hanya mengacu 
putusan Pengadilan ttg HPL tanah tsb dipegang oleh PT Pelindo, atau Pemko 
Tangerang mengacu itu tanah negara, sedangkan pada saat yang sama pemerintah 
bertanggung jawab dalam perumahan warganya? Pemda cukup hanya mengatakan tak 
mampu merelokasi dan ganti rugi? Bagaimana pengadilan bisa memutuskan HPL itu 
milik Pelindo kalau tidak menyelidiki bagaimana riwayat dulu pemberian HPL 
tesebut? Harusnya sudah beres, tidak ada masalah dan penghunian (clean and 
clear) sebelum HPL keluar. Bagaimana BPN bisa keluarkan HPL kalau tanahnya 
masih belum beres masalahnya? Belum lagi kalau dipakai asas domain terbalik 
(pada kasus tanah cina benteng). Bayangkan jika Jakarta sudah punya otoritas 
sekaliber HDB dan URA di Singapore, pastilah kawasan makam mbah Priok sudah 
sejak dulu direvitalisasi dan dikembangkan.
 Berbagai masalah hunian diselesaikan, resettlement, relokasi, new area, dsb. 

Kejadian memalukan ini nyaris menghabiskan stok modal kelembagaan kita dalam 
bernegara, mengelola kota, mengelola perumahan dan permukiman. Sehingga kita 
harus korek-korek lagi hingga ke modal paling mendasar UUD 1945: ... dan untuk 
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa... Tinggal ini 
yang tersisa... plus seliweran kapital yang bisa meremote dan membeli siapa dan 
apa saja: bukan hanya tanah, pengadilan, polisi dan tentara pun bisa dibeli!

Jadi tanpa modal kelembagaan publik yang baik, tentu saja sistem uang dan 
kalangan pemegang kapital bisa menjadi sangat dominan dan berkuasa.

Tabik,
Jehan



--- On Wed, 4/14/10, Indra Budiman Syamwil <[email protected]> wrote:

From: Indra Budiman Syamwil <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: uang
To: [email protected]
Date: Wednesday, April 14, 2010, 9:11 AM







 



  


    
      
      
      Pak Eka dan rekan referesier Ysh,



Ilmu ekonomi yang asli tidak membicarakan uang, bisa dibaca dari tulisan

Sir Arthur Lewis, Joan Robinson (Cambridge School of Economics), Nursk

dllsb. Bahkan Adam Smith dan Marx berbicara soal ''value'' bukan uang.

Bisa juga  dibaca buku Charles Lindblom berjudul 'Market'', yang berbicara

pada dasarnya market adalah forum social exchange baik informasi

(knowledge) dan barang. Transaksi dengan uang datang belakangan.

Misalnya disertasi Pak Emil Salim tentang Transmigrasi, jadi menyatu

antara sosial dan ekonomi.

Perkembangan sistem ekonomi feudal, merchantilist sampai sekarang yang

dominan adalah kaum monetarist. Kaum monetaris adalah gejala baru sejak

diperkenalkannya uang sebagai representasi emas sebagai alat tukar utama

(New Economic Order). Mungkin bisa disimak buku-buku Arturo Escobar,

memperlihatkan politik uang ini merajai perekonomian dunia sesudah Perang

Dunia II. Disini juga letak perbedaan pandangan Hernando de Soto dan

pendekatan Muhammad Yunus dengan grameen bank nya.

Dulu orang Yahudi dan orang kaya dunia menyimpan kekayaannya dalam bentuk

lukisan-lukisan, benda seni bukan uang atau tanah. Sekarang orang

menyimpan kekayaan lewat uang, surat-surat tanah, obligasi.

Kalaulah uang telah mencabut network sosial dan menggantikannya dengan

kekuasaan perbankan dan pemusatan kekuasaan itulah realita yang terjadi di

dunia perekonomian kontemporer.

Pada tataran di perdesaan saya melihat sendiri bagaimana perubahan

perekonomian social exchange ini berubah menjadi ''pecuniar' economy yang

mencerabutkan fungsi pasar sebagai social exchange (ajang interaksi

sosial). Dan uang menjadi modus kekuasaan yang baru.

Konflik nyata saya lihat ketika suatu kabupaten baru membangun ibukotanya.

Tetua adat Dayak memberikan tanah ulayat mereka untuk ibukota (tidak

dijual dengan uang). Transmigran menjual tanah sertifikat mereka kepada

pemerintah. Tetua adat heran karena mereka tidak pernah memperdagangkan

tanah (dengan uang) bagi mereka penyerahan tanah adalah suatu exchange

sosial sebagai rasa persaudaraan mereka dengan para transmigran, bukan

menyerahkan secara monetari value. Mereka anggap penyerahan tanah ulayat

kepada kaum transmigran adalah merupakan bentuk penggunaan bersama atas

dasar rasa persaudaraan (collective use). Disini terjadi pertentangan

nilai monetarist dan kultural terhadap suatu resource. Monetaris

menganggap tanah sebagai aset yang bisa di ''uang'' kan, sedangkan secara

tradisional resources adalah ''common pool'' kepemilikan publik. Bahkan

''labor'' yang dimonetise oleh kaum kapitalis di masyarakat Dayak

merupakan ''common pool'' sehingga gotong royong itu suatu exchange yang

tidak bisa dinilai dengan uang.



Mungkin disini letak penjelasan bagaimana uang telah menjadi alat

kekuasaan dengan sistim kelembagaan ekonomi saat ini.



Salam hangat,

Indra B Syamwil






   





 



  






      

Kirim email ke