Rekan Jehan dan milister ysh,
Campur aduk jelas bisa sedikit banyak menyumbang kerancuan, tapi ya apa mau 
dikata .....hanya saja walau judul threadnya adlh ‘pembangunan wilayah’ ..namun 
kalau kita kembali mengacu ke posting awal pak Risfan yg menunjuk ke artikel 
Kompas berjudul “Saatnya Beraksi di Timur” dimana yg dimaksud adlh ‘pembangunan 
wilayah di KTI (atau KIT terserah masa bodo) saya kira seharusnya diskusi kita 
lbh baik berfokus kepokok persoalan itu, ialah KTI serta relevansinya dan bukan 
kesana kemari yg kurang relevan dan malah nyaris tak menyentuh 
substansinya.............. 
Contoh2 anda dari Jepang (dgn tingkat kesulitan yg ‘kurang seberapa’) utk ide 
pembangunan wilayah (tertinggal dan terpencil) yg sangat berat spt KTI sptnya 
tetap saja kurang kena ........jg masalah sisa infrastruktur penyeberangan dgn 
feri diselat Madura pasca Suramadu yg anda cemaskan yg pdhal  samasekali bukan 
di ‘wilayah terpencil dan tertinggal’ dan samasekali bukan masalah yg sulit 
(krn akan sgt banyak saja alternatif penggunaannya dan pemohonnya akan nanti 
ngantri) ........dan rasanya menyodorkan contoh lain ‘pembangunan wilayah 
tertinggal’/ terpencil  dgn tingkat kesulitan yg  benar2 tinggi akan jauh lbh 
bermanfaat,  lebih relevan dan lebih mencerahkan bagi diskusi KTI kita 
.......bahkan walau itu sekedar kisah  tentang kegagalan pembangunan wilayah  
(tertinggal) sekalipun spt proyek pembangunan Bari-Taranto-Brindisi (operation 
Casa per il Mezzogiorno) di Italia beberapa dekade yl .......krn kita bisa 
belajar kenapa proyek
 sebesar itu masih gagal juga?........... 
Fukuoka yg bahkan bisa dicapai dgn keretaapi dari Tokyo (smntara kita tak 
mungkin mencontohnya dgn membuat jalur keretaapi  Jkt-Manado, Jkt-Ambon atau 
Jkt-Timika)  dan jarak Fukuoka dgn negara industri maju spt Korsel yg hanya 
sekitar 200ankm ...sementara tetangga Fukuoka adlh Korsel yg maju, dan tetangga 
dekat KTI adlh PNG dan Timor Leste yg lemes .......sekali lagi rasanya Fukuoka 
dan pd umumnya pengembangan kota2 lain di Jepang bukanlah contoh yg mencerahkan 
.....atau bahwa Jepang dalam 100 tahun kedepan telah berketetapan utk 
menurunkan jumlah penduduknya dari kini 120an juta menjadi kelak 65-an juta 
.......rasanya masalah kebijakan spatial mereka semakin tak relevan saja utk 
kita sebut sbg contoh dlm pembangunan kawasan tertinggal dan terpencil spt KTI 
.......
Sebaliknya budaya pembangunan kota (pariwisata, peran serta kaum pensiunan / 
lanjut usia yg makmur dan bukan SDA) Los Angeles serta Holywood (industri film 
dgn pasar ekspor dunia) 1950 yg mencairkan ketertinggalan pantai barat yg 
jaraknya 5000km dari megalopolis pantai timur AS, dimana deretan ‘megalopolis 
baru’ dipantai barat ...... megapolitan LA dan megalopolis/ deretan metropolis 
dipantai barat dari  utara : Sacramento, San Fransisco sampai LA dan San Diego 
diselatan sepanjang l/k 600an km (aplg  kalau ditambah Seattle dan Portland 
diutara) yg benar2 mampu mengimbangi  dinamika megapolitan New York dan deretan 
metropolisnya dari Boston, Philadelphia, Baltimore sampai Washington dipantai 
timur yg berderet sepanjang 650an km itu......belum lagi bhw AS yg penduduknya 
300an juta  masih juga menerima imigran asing .... sptnya selalu jauh lbh 
relevan utk menjadi inspirasi dan pencerahan bagi model pengembangan KTI 
dibanding Jepang atau negeri lain
 manapun..........
Saya setuju poin anda ttg ‘inisiatif dan peran spt apa yg bisa menggerakkan 
suatu gagasan pembangunan wilayah’  ...yg itu saya setuju pula kalau disiapkan 
jawabnya berupa ‘kaukus’ spt apa yg dikemukakan oleh rekan BTS .......namun bhw 
menurut anda tak penting berbicara ttg substansi pembangunan wilayah 
..sebaliknya dari itu saya amat sependapat dgn rekan KUS bhw diperlukan 
(kesepakatan) formulasi yg jelas ttg grand design pembangunan KTI itu spt 
apa........
Bahwa grand design sama pentingnya dgn kaukus ..........saya membayangkan kalau 
tidak begitu nanti akan bisa muncul lagi frustasi . ....ialah kalau kaukus yg 
telah terbentuk dan dgn semangat menggebu lalu tak menemukan grand designnya  
yg tepat ......atau akan bisa lbh celaka lagi kalau semangat menggebu dari 
kaukus itu lalu ternyata bersandar pada falacies yg salah .......yg itu tentu 
akan bisa  mengakibatkan cita2 pembangunan KTI tak kan pernah kunjung tercapai 
dgn cepat ..... dan hanya akan bertele2, gagal dan stagnan.........
Pendapat anda “pembicaraan substansi penataan ruang maupun ekonomi wilayah 
secanggih apa-pun, tidak akan dapat diimplementasikan dengan baik tanpa 
kapasitas institusi yang memadai” .....dpt setengahnya saya terima  
...........krn saya sendiripun ragu spt apa kesepakatan ttg  grand design 
pembangunan KTI  itu .....yg jangan2 kita semua inipun  juga akan masing2 
saling beda jauh  dan tajam satu sama lain pandangannya  kala kita masing2 
harus mendiskripsikan bentuknya........
Jadi brkali akan lebih bijak kiranya kalau orang tidak sepotong2 memikirkan ttg 
konsep pembangunan KTI ....spt dimana sebagian hanya akan memikirkan ttg 
‘inisiatif dan peran spt apa yg bisa menggerakkan suatu gagasan pembangunan 
wilayah’  lalu masa bodoh ttg apa substansinya .........atau sebaliknya 
......yg lain hanya  berpikir ttg substansinya spt apa namun masa bodoh pula 
dgn siapa dan bgmn hrs mengkonkretisasikan desainnya itu...........
Orang lain pasti beda2 lagi .......namun utk grand design KTI ..... saya 
misalnya  berpendapat bhw sama spt pantai barat AS (berkat fungsi dan 
eksistensi serta dinamika  kota primatnya LA) yg kini tak tertinggal dan bahkan 
menjadi sejajar kemajuannya dibanding pantai timurnya  (dgn kota primat 
NewYork) ........lalu yg relatif  ‘paling tertinggal’ justru lalu negara2 
bagian ditengah seperti   Kansas, Oklahoma, Nebraska, South dan North Dakota 
.........KTI harus memiliki (tak usah banyak2, cukup sebuah saja) kota industri 
manufaktur penyeimbang Jakarta .....suatu pilihan yg menurut saya strategis dan 
paling tepat krn akan mampu menyumbang kenaikan PDB secara signifikan 
........namun bisa saja menurut orang lain pikiran saya ini dinilai tak waras 
.....lalu yg dianggap benar dan tepat adlh menggenjot produksi SDA KTI yg 
melimpah spt disektor perikanan dan agribisnis (kalau orba ya menghajar hutan) 
utk agar diasumsikan segera dpt mengentaskan
 kemiskinan kaum petani dan orang desa KTI misalnya (pdhal terpencil dan 
tertinggal blm tentu miskin) sambil masa bodo bahkan memusuhi  perkembangan 
kota2 ........walau banyak fakta/ data menunjukkan bhw negara2 maju spt AS, 
Inggris atau Jepang misalnya sambil mrk berswasembada pangan dan dpt memberi 
bantuan pangan pd negara2 yg sedang ditimpa bencana ....namun menunjukkan 
sumbangan PDB dari sektor pertanian (termasuk perikanan) adlh amat  rendah 
sekali banyak dibawah angka 3% (Inggris 1%, Perancis 2.5%, Jepang 1.4%, 
Australia 4%) ...........dari industri dibawah 30%  (Inggris 26%, Perancis 
21.4%, Jepang 26.4%, Australia 26.4%) ......dan sisanya terbanyak dari sektor 
jasa alias sektor perkotaan (Inggris 72.9%, Perancis 76.1%, Jepang 72.11.4%, 
Australia 69.6%).............salam, 
aby
 
Sunday, April 11, 2010 1:49 AM
From: "Jehan Siregar" <[email protected]>
To: [email protected]
 
Mas Aby ysh,
Maaf kalau penjelasan saya terkesan campur aduk. Sebenarnya poin utama dari 
semua itu adalah seperti isu yang saya angkat pertama kali, yaitu menyangkut 
inisiatif dan peran seperti apa yang bisa menggerakkan suatu gagasan 
pembangunan wilayah. 
Jadi saya sebenarnya tidak menyinggung substansi pengembangan wilayah. 
Pada contoh Tama-center di Tokyo juga begitu, bukan membandingkan substansiya 
dengan pemb wilayah KTI. Poin yang diangkat adalah betapa spillover yang 
bermula dari inisiatif sektor publik bisa sangat efektif. Banyak kasus lain 
lagi di Jepang yang bisa kita kaji dari perspektif ini. Seperti pengembangan 
pusat baru di selatan Jepang (Fukuoka, Kyushu) sebagai pusat urbanisasi keempat 
setelah Tokyo, Osaka dan Nagoya. Yang jelas inisiatif publik jugalah yang 
menggerakkan kebangkitan kota-kota dari kehancuran akibat gempa. 
Begitu juga dengan sektor perumahan di tanah air yang masih sangat menyedihkan. 
Ketika Pak Risfan menyebut perumahan swadaya masyarakat dan swasta yang 
menunjukkan kecilnya peran pemerintah /sektor publik, justru poin saya adalah 
pentingnya peran pemerintah/sektor publik. Tapi bukan peran yang sederhana. 
Bahwa membangun sektor perumahan rakyat jauh lebih tidak sederhana ketimbang 
membangun rumah-rumah, Inilah cognitive constraint yang masih melekat di sektor 
publik perumahan di tanah air. Akhirnya Kemenpera dan Cipta Karya sebenarnya 
mengalami kebingungan dalam pembagian perannya dengan Perumnas. 
Yang membangun rumah susun itu harusnya siapa? Satker/Pimpro di Kemenpera/PUCK 
atau Perumnas? 
Padahal semuanya adalah lembaga-lembaga di sektor publik!
Kembali ke pengembangan wilayah. Kita ambil contoh lagi di Kawasan Jembatan 
Suramadu. Inisiatif pemerintah masih terlihat seperti barisan yang beserak, 
langkah kanan, kiri, mencong dsb. Mengapa? karena masih ada gap antara visi 
(yang juga belum tentu dicapai consensus) dan praktek koordinasi di lapangan. 
Apakah misalnya Kawasan Suramadu bisa dijalankan hanya dengan dibangunnya 
jembatan Suramadu oleh Binamarga? Bagaimana perencanaan dan PEMANFAATAN ruang 
di dua ujung kawasan tersebut? Bagaimana pengembangan kota dan permukimannya? 
Ini masih koordinasi di PU. Belum lagi dengan perhubungan, perindustrian, dsb. 
Bagaimana misalnya nasib pelabuhan Tanjung - Kamal yang akhirnya mati pelan2?  
Benang merah dari semua itu adalah masalah kapasitas kelembagaan termasuk 
koordinasi, yang tidak bisa lagi ditangani dengan cara-cara common sense... Apa 
maksudnya common sense? 
Misalnya, kurangnya koordinasi tidak bisa ditangani semata dengan himbauan 
seorang Menteri agar para eselon-I berkoordinasi, 
apalagi kalau antar Kementerian. Juga tidak bisa diselesaikan semata dengan 
paksaan pasal-pasal Undang-undang. Pembicaraan substansi penataan ruang maupun 
ekonomi wilayah secanggih apa-pun, tidak akan dapat diimplementasikan dengan 
baik tanpa kapasitas institusi yang memadai.  
Salam,Jehan




      

Kirim email ke