Tul betuul ... Sepakbola Eropa masih acap ternoda tingkah hooligans & tifosi.
Although, yg jadi gang di LA itu kebanyakan non-Bule, atau euphemisme nya: "people of color". Sejarah USA juga tidak bersih dari tindakan kekerasan kolektif.. dan.. selalu ada elemen etnis. Di Indonesia.. laah.. anak SMA tawuran (terutama Jakarta 1990an), Mahasiswa tawuran bahkan di-rutin-kan, tiap kali wisudaaan tawur dan bangga pulak... warga juga tawuran (terakhir di Manggarai tahun lalu).. eeh... antar instansi bersenjata juga tawuran.. masih ingat Linud vs. Brimob di Binjai, 2002? Salam, -K- 2010/4/14 risfano <[email protected]> > > > Rekans ysh, > > Barat yang mana Pak Ukon, Pak BTS yang gak kenal kerusuhan? Hooliganism kan > rutin tiap tahun bikin rusuh di turnamen Eropa. Kerusuhan di LA, > tembak-menembak yang hampir rutin di beberapa metropolitan, sampai gas > beracun di Jepang, dst. > > Lalu apa sebabnya? Urbanisasi dan ketimpangan kesejahteraan, pengangguran > (tak kentara)? Suara yang tak pernah didengar? > Jujur saja bagaimana plotting "kawasan padat" itu peta RTRW, adakah > petrencana mengakui kehadiran kaum informal, atau yang mampu beli/sewa tanah > (formal) saja? Bagaimana transisi (darurat)nya mengingat kondisi sosial > ekonomi masyarakat kita masih harus migrasi ke kota-kota tanpa bekal? > Dalam diskusi Disaster Risk Reduction (DRR) sebetulnya risiko konflik > sosial ini sudah masuk agenda Pengelolaan Kota juga. Sehingga layak > dipikirkan Action Plan untuk mengantisipasi sebelum kasus terjadi, sert > diadopsi ke rencana. Mungkinkah? > > Salam, > Risfan Munir > > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, "ukonisme" > <ukon...@...> wrote: > > > > Rekans, > > Kekerasan massal sesungguhnya sudah sangat kerap terjadi. Ada rusuh > antarsuporter sepakbola, bentrok antar warga kampung, bentrok antar ormas, > dan terakhir rusuh priok yg melibatkan satpol pp dan masyarakat. Sungguh > memprihatinkan. > > > > Saya jadi berpikir jangan2 kebiasaan rusuh massal ini ada sedikit andil > dari budaya kita yg komunal. Di masyarakat yg cenderung individualistis > seperti di barat, masyarakatnya lebih taat hukum dan takut melanggar aturan > karena mungkin ngerasa tak punya beking. Sedangkan di masyarakat komunal > karena ngerasa banyak temen, dia jadi lebih berani untuk bertindak rusuh. > > > > Mohon pencerahan dari para planolog yg antropolog. > > > > Salam. > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > > > -----Original Message----- > > From: i_gume...@... > > Date: Thu, 15 Apr 2010 01:34:28 > > To: <[email protected] <referensi%40yahoogroups.com>> > > Subject: Re: [referensi] tanjung priok > > > > Saya jadi ingat nonton video ttg pamswakarsa dimana anak2 kecil ikut > memukul dan menikam korban. Saya menontonnya di australia. Sebelumnya saya > juga menonton pengakuan dan penyelasan seseorang yg waktu mudanya ikut > pembunuh petani yang dituduh PKI. Di periok pun ada anak2 yg terlibat. > > Saya khawatir anak2 yg ikut dlm kerusuhan di tg periok akan mengalami > kegelisahan seumur hidup seperti yg dialami pemuda yg ikut membunuh petani. > > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > > > > > -----Original Message----- > > From: rachm...@... > > Date: Thu, 15 Apr 2010 01:00:46 > > To: <[email protected] <referensi%40yahoogroups.com>> > > Subject: Re: [referensi] tanjung priok > > > > Saya pikir kita juga harus menilai dari dua sisi. Satpol PP ya masyarakat > juga. Perlakuan yang buruk terhadap Satpol PP juga bisa dinilai sebagai > pelanggaran HAM oleh masyarakat kecuali satpol pp sudah dihilangkan Hak > Azasi nya. > > > > Perilaku masyarakat yang buruklah yang harus segera ditangani. > > > > Salam > > > > RM > > >

