53 Negara Bentuk "Infrastructure Fund", Asing Siap Garap Megaproyek RI 

[JAKARTA/ Suara Pembaruan] Investor asing sangat tertarik menggarap sejumlah 
megaproyek yang tengah ditawarkan Pemerintah Indonesia dalam acara 
Infrastructure Development 2010. Mereka menilai, iklim investasi dinilai 
semakin kondusif di Tanah Air. Salah satu di antara megaproyek itu adalah 
Jembatan Selat Sunda (JSS) yang 
diperkirakan menelan investasi senilai US$ 10 miliar. Demikian rangkuman 
wawancara dengan Presiden Direktur PT Bangun Graha Sejahtera Mulia (BSM) Agung 
Prabowo, Presiden Direktur PT Indika Energy Tbk Arsjad Rasjid, Executive Vice 
Chairman MEC Holdings Madhu Koneru, dan Vice President Intel Corporation John 
Davies di Jakarta, Kamis (15/4). Mereka menyatakan minatnya menggarap proyek 
JSS yang juga melibatkan Pemda Lampung-Banten dan Artha Graha Network. 
Agung Prabowo mengatakan, pengusaha Tiongkok lebih serius dibanding investor 
lainnya. Pembangunan JSS diperkirakan membutuhkan dana sekitar US$ 10 miliar. 
Pembangunan proyek akan dimulai tahun 2012 dan ditargetkan selesai pada 2017. 
Luas/panjang proyek ini mencapai sekitar 29 kilometer (km). Madhu Koneru 
menjelaskan, dukungan pemerintah sangat signifikan untuk merealisasikan 
berbagai proyek yang sedang ditawarkan. Pemerintah harus memahami nilai dan 
manfaat yang timbul dari hasil pembangunan proyek di berbagai daerah. Madhu 
mengungkapkan, MEC berencana membangun fasilitas industri terpadu di Kalimantan 
Timur. Sementara itu, John Davies mengakui, iklim investasi Indonesia semakin 
membaik. Hal itu ditandai berbagai perbaikan regulasi yang terkait dengan 
kondisi politik, keamanan, dan ekonomi. 
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menawarkan sebanyak 42 proyek infrastruktur 
senilai Rp 157 triliun. Ke-42 proyek itu mencakup 30 proyek jalan tol, 10 
proyek air minum, dan dua proyek pengolahan sanitasi, serta limbah. Dalam 
Konferensi dan Pameran Infrastructure Asia 2010, empat megaproyek infrastruktur 
senilai lebih dari US$ 5 miliar siap ditawarkan lewat kerja sama pemerintah 
swasta (KPS) atau public private partnership/PPP)."Target dari acara 
Infrastructure Asia ini adalah mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia telah 
siap menerapkan public private partnership. Pola kerja sama ini sudah menjadi 
perhatian Presiden, Wakil Presiden, dan semua pemangku kepentingan 
(stakeholders)," jelas Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas Dedy Supriadi 
Priatna. Ia menjelaskan, keempat proyek tersebut meliputi pembangunan jalur rel 
kereta api untuk batu bara di Kalteng senilai US$ 1 miliar, power plant di 
Jateng sebesar US$ 3 miliar, dan pembangkit listrik olahan sampah US$ 240 juta 
di Jabar. Proyek lain terdapat di Jatim, yakni water supply air bersih di 
Umbulan sebesar US$ 1 miliar. 
Pendanaan 
Terkait dengan pendanaan, sebanyak 53 negara kawasan Asia Pasifik anggota 
United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific 
(Unescap) sepakat membentuk pendanaan bersama atau infrastructure fund. Ketua 
Panitia Pelaksana Asia Pasific Ministerial Conference (APMC) 2010 Bastary 
Pandji mengungkapkan, gagasan pembentukan infrastructure fund di tingkat komite 
senior (dirjen) sudah bulat. "Pada 17 April 2010 akan disepakati di tingkat 
menteri yang kemudian dilanjutkan pembentukan task force untuk merealisasikan 
ide itu," katanya. Menurut Bastary yang juga Direktur Pengembangan Kerjasama 
Pemerintah Swasta (KPS) Bappenas itu, forum Unescap juga menargetkan 
keberhasilan pembentukan asosiasi atau kesepakatan bersama mengenai bidang 
infrastruktur di Asia Pasifik. [ID/H-12] 
  
 


      

Kirim email ke