Rekans ysh,
 
Mungkin agar jernih, tidak terbawa emosi, perlu membedakan antara kasus BENTROK 
petugas dengan massa beringas, dengan masalah KONFLIK dalam kebijakan publik di 
belakangnya.
 
Soal BENTROK, tentu ada proses hukumnya. Tapi diskusi untuk mengambil hikmah 
dalam pembangunan kota mungkin menyangkut KONFLIK kepentingan dibalik itu 
semua, yang kadang timbul karena beda kepentingan yang tak terselesaikan, 
karena komunikasi tidak jalan, akibatnya massa dan petugas jadi bentrok. 
 
Yang berkonflik bisa antara Pembangun dengan Publik, juga bagaimana posisi 
Pemda dalam hal itu. Dengan demikian bisa lebih tidak emosional melihat 
keberpihakan dalam proses perencanaan, pengambilan keputusan, dan eksekusi 
serta pengendaliannya. Termasuk transparansi dan akuntabilitasnya.
 
Mungkin untuk pembangunan perkotaan, terutama pada kawasan/lokasi tertentu, 
perlu DRR (disaster risk reduction)  diterapkan, supaya jauh hari ada 
pengelolaan risikon. Karena bencana pengertiannya bukan hanya dari faktor alam, 
tetapi juga sosial-politik (riot, dst).
 
Salam,
Risfan Munir
www.management-cafe.blogspot.com
 
 
 
 
--- On Sun, 4/18/10, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:


From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [referensi] Trs: Mbak Priuk : Situsnya ataukah MbakPriuknya?
To: [email protected]
Date: Sunday, April 18, 2010, 10:28 PM


  




Itu lah yg saya maksud hipotetis.. Pelindo tentunya ketika mempromosikan Master 
Plan perluasan pelabuhan tidak akan menyebutkan manfaat finansial yg lebih 
real.. bagi perusahaan..
Dari mega-projek- 2 infrastruktur (padat-konstruksi) distribusi manfaat tidak 
langsung juga sangat tidak merata.. yg menikmati Waduk KedungOmbo bukan mereka 
yg tergusur.
Warga Priok sudah turun temurun tinggal disitu, selama ini paling setia 
menghirup asap knalpot truck dan kapal.. sudah pasti bukan mereka yg paling 
menikmati.


-K-




2010/4/18 Rachmad M <rachm...@yahoo. com>


  



Satpol Pamong Praja yang hanya bersenjatakan pentungan dan tameng harus 
menghadapi masyarakat bringas yang bersenjata Celurit, golok, tombak, batu etc ?

Sebagai orang yang pernah tinggal di keindahan jalan Sanpor (Nama ini berasal 
dari kata yang diberikan oleh orang Belanda untuk tempat peristirahatan 
dipinggir pantai : 'zandpoort') Ya harus rela saja kalau kemudian dijadikan 
Pelabuhan Peti Kemas :-)

Untuk kepentingan siapa ? Saya pikir setiap unit usaha yang ada, tidak ada yang 
ditujukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Semua unit usaha yang ada 
ditujukan untuk melayani pihak lainnya.Termasuk didalamnya adalah upaya Pelindo 
untuk memperlancar arus barang dan peningkatan kapasitasnya. Secara langsung 
atau tidak, kitalah penikmat kelancaran arus barang di pelabuhan peti kemas 
tersebut.

Salam

RM


--- In refere...@yahoogrou ps.com, "Harya Setyaka" <harya.setyaka@ ...> wrote:
>
> 
> 
> Sangat mudah berpendapat mengenai menggusur makam demi kepentingan yg 'lebih 
> luas' ketika makam tersebut bukan makam leluhur kita.. Sehingga makam 
> tersebut menjadi kepentingan the Others.
> 
> Memperluas pelabuhan itu kepentingan luasnya siapa?
> Masih hipotetis, tapi yg jelas manfaat finansial dinikmati Pelindo.
> 
> Bagi Pelindo, tanah makam tsb tidak lebih dari aset yg ketika dikuasai bisa 
> menghasilkan manfaat ekonomi.
> Masyarakat setempat, nilai sentimental sepetak lahan makam sangat melekat 
> pada identitas dan religiusitas mereka.. bagaimana cara mem-banderol nya?
> 
> 
> Masih ingat ketika makam Ade Irma Suryani di Blok-P, Keb.Baru hendak digusur 
> untuk Kantor Walikota JakSel yg baru?
> Apakah terwujud selama Jenderal Besar AH Nasution masih hidup?
> 
> Rakyat kecil peziarah Kompleks Makam Mbah Priuk (bukan hanya Mbah Priuk yg 
> dimakamkan disana, tapi juga orang lain) tidak menyandang Lima-Bintang di 
> pundaknya.. Tidak ada yg segan pada mereka.
> Yg jelas semua segan pada kumpulan massa beringas bersenjata ala-kadarnya. .
> 
> Salam,
> -K-
> 
> 
> 







      

Kirim email ke