Pak BSP dan Rekans ysh, Oh, '73 juga. Betul Pak, soal cara pandang atau yang saya sebut Persepsi. Makanya saya refer judul artikel "Lexus and Olive Tree", yang memetaforakan tujuan mengejar pertumbuhan, globalisasi vs kebutuhan pada identitas lokal yang perlu diserasikan. Tidak gampang memang. Pak Eka, soal standar, Anda menyebut juga standar perumahan untuk bisa menarik orang asing. Apa tidak kejauhan tuh. Lha kalau standarnya ditingkatkan, apa penghuni kampung tidak jadi melanggar standar? Bukan standar tapi bantuan agar mayoritas rakyat memenuhi standar yang sudah ada yang mereka perlukan. Soal bagi orang asing/mampu kan ada buku Arsitektur Standard, yang semua arsitek harus tahu, apalagi developer yang mau jualan. Pak BSP, menyangkut standar dan pengatiuran, baca Kompas hari ini saya jadi prihatin, kenapa ada Peraturan yang mengaharuskan semua petani minta Izin resmi dari Pemda untuk menentukan jenis tanaman yang akan ditanamnya (?). Salam, Risfan Munir
--- On Sun, 4/18/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Fwd: Priok dan Standar To: [email protected] Date: Sunday, April 18, 2010, 11:33 PM Pak Eka Dj, rekan referensier ysh. Membaca pertasnyaan pak Eka ... kembali saya sangat khawatir. Pada saat kita bicara standar internasional ... pada saat kita menggunakan teori-teori internasional ... pada saat itulah kita berhadapan dengan sebuah keniscayaan tentang keamburadulan penanganan masalah tersebut. Saya tidak mengharamkan kita mendalami permasalahan dengan penggunaan teori-teori dan konsep yang dibangun dari struktur pemikiran barat (standardisasi, efisiensi, ekonomi dlsb) .... saat sekarang itulagh kekisruhan yang terjadi ... karena rakyat dibawah ... bebnar2 yang dibawah ... bahasanya adalah kepercayaan ... bahasanya adalah ke taqlidan ... bahasanya adalah total loyality terhadap value yang dia pegang. Akibatnya .... benturan ini. Kebetulan saya tahu kejadian di priok itu penyebabnya apa. Karena salah satu pemimpibn proyek "pembangunan peti kemas" tersebut adalah teman angkatan 73 ITB. Pendekatannya adalah sangat struktural. Memang dia mendalami budaya ... tetapi sekali lagi budaya yang struktural dengan pendekatan rasio didepan. Ini yang mengakibatkan semua terjadi. Saya tidak menyalahkan dia ... tetapi memang para ahli teknik dan yang mengaku ahli teknik cenderung menggunakan pendekatan tersebut .... Artinya ... bila kita bicara dengan pendekatan struktural dan fungsional ... maka yang muncul adalah sebuah kekisruhan. Karena dimasyarakat ... hal itu tidak dikenal. Salam bambang sp ps. maaf kalau ini dianggap memindahkan topik masalah ...... saya tidak akan berhenti untuk meneriakkan bahwa sudah saatnya kita menukik dengan berpegang pada BUDAYA SENDIRI DENGAN PEMAHAMAN DAN CARA PANDANG KITA.

