Rekan  Risfan Munir yang baik, 
Trims atas tgpnya ……kalau anda tangkap bhw wacananya kok kenapa  spt ‘dibatasi 
kota yg dibuat oleh pemeritah’ ……pdhal banyak kota (newtown) yg dibuat oleh 
swasta dan masyarakat  ……saya ingin jelaskan bhw dgn sengaja mengambil  judul 
dari thread ini adalah ttg ‘PWK/ Planologi sbg enjinering penataan dan 
pembentukan ruang’ ……saya ingin kemukakan lbh tentang sisi idealisme ‘murni’ 
dan pengabdian mulia dari sains  PWK/ planologi/ penataan ruang dlm hal 
enjinering penataan dan pembentukan ruang (kota) ……yg manfaat mulianya serta 
nilai strategisnya akan jauh lbh terlihat dan dpt lbh dihargai oleh masyarakat 
luas bahkan kalangan pemerintah sendiri  (dari sektor non-planologi)…..….
Banyak kota2 baru memang benar dibuat oleh swasta …….namun yg lbh menonjol 
didalamnya adlh misi dan warna bisnis serta  komersialisme  yg sering kelewatan 
 ……bahkan masih bagus kalau lokasi2 yg dipilih bukanlah lokasi2 yg berpotensi 
menimbulkan kemarahan/ hujatan publik atau masyarakat ilmiah lain spt lokasi2 
pd sawah2 yg subur ….. atau lokasi2 yg selalu mendekati kota2 besar shg disitu 
tak pernah diperlukan banyak usaha keras utk membentuk aglomerasi maupun teknik 
mobilisasi/ migrasi SDM yg rumit maupun juga tak akan pernah mengubah 
ketimpangan  keruangan  secara nasional yg kronis itu……… 
Atau dgn kata lain yg lbh menonjol dari kiprah dan peran  swasta dlm hal ini   
adalah  ……..bukannya idealisme pengabdian dan pengorbanan (pemikiran rumit dan 
kerja keras) keruangan  ……namun  yg terjadi adlh pada hakekatnya aktivitas 
businessman atau industrialis macem  Ciputra dkknya  dari REI ……yg sebenarnya 
hanya sok ‘mlanner’ dan sering dgn seenak seleranya sendiri …….yg hasilnya dari 
itu serta sumbangannya dari sisi idealisme pembentukan sistem kota2 kita secara 
nasional yg terintegrasi  terlalu sering masih amat jauh dari harapan…….. 
Proyek perumnas Depok atau Klender yg dikembangkan oleh pemerintah jelas 
memiliki juga sisi idealismenya, spt bhw itu adalah bagian dari pioneering dan 
percontohan proyek perumahan murah dan less commercialized  (krn 
diselenggarakan oleh BUMN Perumnas, BTN dll) disuburban kota metropolitan 
……..yg dari sisi sosial, arsitektural  dan dari banyak sisi pandang lainnya ia 
cukuplah ideal …….namun dari sisi tingkat kesulitan enjinering penataan/ 
pembentukan ruang  ia belumlah menunjukkan ‘kebolehannya’ pd tingkat 
kesulitannya yg tinggi…….
Bhw unsur pembentukan kota adalah  (1) tapak/ ruang …(2) manusia…dan (3) 
aktivitas …….Depok dan Klender (serta replikasinya diseluruh Indonesia) maaf …… 
dari sisi pandang ‘kerumitan’ aspek teknis enjinering ruang …..ia hanyalah baru 
sebatas repot  mengorganize ‘ruang’ saja…. Yg dgn memilih lokasinya yg hanya 
amat dekat disebelah kota metropolitan ibukota (lalu ia ‘hanya’ menjadi proyek 
suburbans) …..Depok dan Klender tak perlu mengorganize atau memobilize unsur no 
(2) ialah ‘manusia’  …..agar mau bersusahpayah datang ke Depok/ Klender ….. krn 
dari Jkt saja daftar peminatnya sudah membludak ……
Kemudian juga …..lalu sekali lagi enjinering ruang dlm hal ini juga samasekali 
tak perlu berpusing2 utk  mengcreate  unsur no (3) ialah ‘activities’  ……oleh 
krn dari daftar peminat yg seabreg itu dlm seleksi KPR telah dipersyaratkan utk 
mrk harus memiliki penghasilan yg cukup ……yg dgn kata lain  sama saja mereka 
tlh memiliki activities/ earnings ……hingga planner dlm hal ini tak perlu 
berpusing2 memikirkan membuat ‘leading activities’ baru apa di Depok/ Klender 
utk sbg kreasi calon sumber pekerjaan/ penghasilan penduduknya kotanya….......  
Sedikit (atau jauh) berbeda …sejarah idealisme pembentukan kota Batam  (kini 
metropolitan) memiliki tingkat kesulitannya  serta warna  sumbangan 
pengembangan regional yg jauh berbeda dibanding sejarah pengembangan Depok/ 
Klender (yg satu Jawa/ Jkt sentrisme, yg satunya lagi  jauh dari Jawa  dan 
mulai menampakkan warna  regional development beneran)  ………namun satu hal yg 
boleh dibuat patokan dari keduanya adlh …….bhw kedua macam proyek pengembangan 
keruangan ini sama2 menggelayut/ menggelendot pd dinamika kota (amat)  besar yg 
telah ada didekatnya …dlm hal ini adlh Jkt dan Singapore …….yg utk lbh jelasnya 
…….tingkat kerumitan enjinering pembentukan ruang kota di Batam jadi tertolong 
banyak oleh keberadaan dan kebesaran kota Singapore……….
Kasarnya Batam nyaris hanya menyediakan ruang, RDTR dan payung2 hukumnya 
saja……dan selebihnya unsur (2) manusia (SDM kelas kreatif sbg pioneer penggerak 
investasi, dan kelas UMR)  …..tlh akan banyak dipasok dari Singapore (dan yg 
pekerja kelas UMR akan datang dari segala pelosok penjuru tanah air) …. dan (3) 
aktivitas  ….selain dari Singapore dan negara lain …. Dan dari pihak kita 
utamanya adlh Pertamina sbg leading industries kita  di Indonesia kala itu 
(maka kita masih akan harus dan belum pernah mengembangk an kota dgn tingkat  
kesulitan melebihi Batam) ….………
Dari  swasta tentu ada saja  satu dua yg dpt dipetik menjadi pelajaran dan 
sumbangan bagi kepustakaan enjinering ruang kita ……tapi pd umumnya dari pola 
pikir komersial swasta yg kelewat menonjol dan idealismenya sering seenak 
pusernya sendiri ….…tak banyak sumbangan berharga enjinering ruang yg dpt 
dipersembahkan  oleh mrk pd  khasanah kepustakaan enjinering ruang negeri kita 
……utamanya utk pengembangan kawasan tertinggal …….dan kembali lagi ……yg saya 
maksudkan dgn wacana menyangkut PWK adalah wacana  idealisme ‘murni’ 
pengembangan ruang kota yg menyangkut lembaga pendidikan keruangan dan lembaga 
pemerintah dibidang keruangan maupun juga kelompok masyarakat yg masih berpikir 
ttg idealisme pembangunan  dan less commercialized….…krn asumsi saya ketiganya  
masih diharapkan dpt muncul idealismenya dan amat  kurang komersialismenya 
(kecuali sdh menyatakan sebaliknya)  …….hingga dgn demikian saya berharap 
khasanah
 wacana enjinering ruang kita memang benar2 diperkaya…….  salam,
aby


--- On Thu, 5/6/10, Risfan M <[email protected]> wrote:


From: Risfan M <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: (7) PWK/ Planologi Sbg Enjinering Penataan dan 
Pembentukan Ruang
To: [email protected]
Date: Thursday, May 6, 2010, 6:28 PM


  








Rekans ysh,
 
Banyak toh kota (newtown) yang dibuat sawasta dan masyarakat, baik yang sejak 
awal disebut "kota", maupun kumpulan pembangunan perumahan, terencana atau 
spontan, yang jadi kota. Mengapa kok kelihatannya wacananya dibatasi "kota yang 
dibuat oleh pemerintah" (yang notabene sejak merdeka baru Depok).
 
Salam,
Risfan Munir
Blog: Ekonomi Kota dan Tanah Perkotaan
 
 
 


--- On Thu, 5/6/10, isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> wrote:


From: isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com>
Subject: Re: [referensi] Re: (7) PWK/ Planologi Sbg Enjinering Penataan dan 
Pembentukan Ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, May 6, 2010, 7:35 PM


  

Boleh2 aja, tapi bangun Tigaraksa ibukota Kab. Tangerang susah ya! 
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> 
Date: Fri, 7 May 2010 07:22:40 +0700
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [referensi] Re: (7) PWK/ Planologi Sbg Enjinering Penataan dan 
Pembentukan Ruang

  

Eyang Aby ysh,

dengan adanya jembatan Suramadu, belakangan ini ada pertanyaan spekulatif:

"Bagaimana kalau metropolitan / kota besar / ibukota baru Indonesia 
dikembangkan di tepi laut dalam di ujung Timur Pulau Madura ?"

Apa tanggapan eyang....? Selamat bermain teori....
(Mungkin akan lahir tanggapan analitis kritis positif yang bermanfaat berkaitan 
dengan perhatian rekans penggemar keruangan di referensi)

Salam,
ATA



2010/5/6 hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>


  








Milisters ysh, 

Bhw sbg suatu jenis macam teknologi,  PWK selain dpt menjadi norma tata ruang 
dan regulator serta  menjadi undang2 atau peraturan  ...namun  jangan lupa 
….iapun dpt menjadi produk2  konkrit yg berguna dan mendukung kesejahteraan 
manusia .......... 

Karenanya PWK memang seharusnya dapat pula memaparkan rentang variasi produk2 
(konkrit) teknologinya itu .......dimana masing2 dpt dgn jelas ditunjukkan apa 
manfaatnya dan kapan serta dimana  ia perlu dipakai..... .... 

Untuk itu tentu baik diketahui  danpada sisi lain ia perlu diinventori 
........apa saja semua masalah keruangan nasional kita itu ......dan perlu 
diketahui kurang lebih apa obatnya bagi masing2 kasusnya itu........ 

Masalah keruangan tidaklah sekedar penyakit  kasus perkasus  spt penyakit 
kedokteran  atau penyaklit gangguan mesin....... .atau sebaliknya ……masalah 
keruangan dpt dikatakan tak kalah rumit dgn masalah kedokteran atau 
kesehatan….. . 


Selain masalah2 yg bersifat amat lokal …..  Ia bisa juga merupakan masalah  
regional yg lbh luas ……atau bahkan  masalah secara nasional  yg jelas lbh luas 
lagi  (bahkan masalah rencana terusan Kra di Thailand  bisa memiliki dampak 
internasional) ........sehingga pemecahan masalah2 keruangan tentu saja bisa 
dilakukan baik  secara  kasus per kasus  ....namun juga tak aneh pula bila  ia 
perlu diselesaikan pada tingkat  nasional.... ...... 

Bhw  sbg contoh …teknologi mesin penggerak dpt  menyajikan  produk2 wide range  
secara konkrit spt mesin2 penggerak berkekuatan sejak dari ¼  PK sampai ribuan 
PK …….atau teknik sipil dpt menyajikan produk konkrit berupa balok beton dengan 
bentang dari 1 meter sampai 1500meter misalnya ……dan itu menimbulkan pengakuan 
publik tentang manfaatnya yg strategis dan nyata …….mengapa PWK tak berbuat 
serupa .....dan hanya merasa puas dgn produk2 ‘abstrak‘ (pinjam istilahnya mas 
Marco Kusumawijaya)  dan pasif spt site plan atau peraturan zonasi saja?....... 
.padahal kita mengerti  bhw 85% wilayah kita dpt dikatakan ‘tertinggal’  dan 
paradigma penataan ruangnya bukanlah ‘pengendalian’ …..namun adalah  
‘penggalakan’ …..… 

 Bgmnpun produk konkrit dari PWK tak lain tak bukan adalah  (pengembangan) 
‘kota’2…….ialah ‘trilogi’  atau 3-in-1 dari  (1) tapak/ ruang ….(2) manusia 
…dan (3) aktivitasnya …. dan wilayah tertinggal butuh produk keruangan konkrit 
berupa kota2 …lbh daripada sekedar produk normatip pasip  berupa peraturan 
zonasi dan siteplan/ RDTR …..…. salam, 

aby   

  

On 23 March 2010 aby wrote : 
Re: (6) PWK/ Planologi Sbg Enjinering Penataan dan Pembentukan Ruang 
  
Milisters ysh, 
Walau  pd posting sblm ini saya katakan bhw utk kawasan tertinggal (85% wilayah 
nasional) diperlukan enjinering utk pembentukan bbrp kota2 besar tertentu 
(...berbarengan dgn enjinering migrasi/ memindahkan SDM unggulan ....serta jg 
enjinering penyemaian  pecahan2 kecil industri2 memimpin/ enjinering 
trans-investasi. ....) .... tdk berarti bhw itu adlh satu2nya agenda penting 
tata  ruang pembentukan kota di kawasn tertinggal.. ....... 
Sbgmn pd umumnya enjinering adalah  ilmu logik, bukan ilmu kebatinan/ ilmu 
sihir dan setiap orang dpt mempelajarinya scr transparan, dan ia memiliki ciri 
khas  transparansi mekanisme kerjanya  .... transparansi perkembangan 
teknologinya ....transparansi persentase keberhasilan/  kegagalannya ataupun 
apa bahayanya  (spt dlm penerbangan konon resiko kecelakaan adalah 1:1.000.000 
penerbangan) ........ maka  sewajarnya pulalah bhw PWKpun hrs mampu menunjukkan 
ancer2 ttg ‘berapa lama’ wktu yg dibutuhkan oleh suatu  macam teknologi PWK  
itu bekerja dan efek/ manfaatnya yg pertama mulai muncul serta  dpt dirasakan 
(sbg contoh ... dlm teknologi farmasi/ obat2an ....tingkat kecanggihan suatu 
macam obat termasuk jg dinilai dr berapa  menit sejak ia mulai masuk kedlm 
tubuh baik secara oral/  intravena lalu  diserap oleh darah dan mulai bekerja 
menunjukkan hasilnya ........jg dlm teknologi komputer ......daya kerjanyapun  
utk menilai apakah ia cepat
 atau lamban bahkan diukur  dlm persekian detik .......atau dlm teknologi 
otomotif  kemampuan gerak dinilai spt  dari keadaan diam utk mencapai kecepatan 
100km/jam  diperlukan waktu brp detik dsb)........ ... 
PWK sbgmana merupakan  bagian dari rumpun sains  ‘teknologi’ (dibidang  
keruangan)  ...iapun seharusnya  berani dgn pedenya dan menganggapnya wajar 
memamerkan kepastian hasil nyata daya kerjanya ........ Enjinering PWK utk 
kawasan tertinggal amat perlu mendemonstrasikan bgmn tak hanya merencana 
penataan  ruang kota saja (yg belakangan banyak mulai dicibir sbg kok hanya 
merencana penataannya saja ....lalu tak jelas bgmn dn kapan pembentukan 
kotanya, serta kapan dpt dirasakan manfaatnya ) .......iapun  tentu dituntut  
hrs dpt mendemonstrasikan  bgmn teknologinyapun itupun  dpt bekerja  dgn pasti  
membentuk perkembangan kota ...... dan mampu pula menunjukkan berapa cepat ia 
dpt menunjukkan hasilnya itu  mulai come into effect dan dpt dirasakan 
manfaatnya diihitung semenjak pertama teknologi  itu  diterapkan ........  
Tak berlebihan pula bila  PWK seharusnyapun dpt memamerkan pula ‘apa saja’  
rentang papar produk teknologi keruangan yg dpt dibuatnya .......tak ubahnya 
tukang las listrik jg  kalau ditanya apa yg dapat ia bikin ..... mereka   dgn 
lancar biasanya dpt katakan bhw mereka dpt membuat apa saja pekerjaan las 
.....sejak dari  mulai   tingkat  membikin kandang burung, kucing dan kelinci 
....pagar rumah , ranjang besi  sampai kepada membuat karoseri bak truk, mobil 
panser ataupun kapal tanker raksasa  ..........lalu dgn itu manusia tanpa ragu 
mulai ‘mengakui’ bhw teknologi mengelas memang ya benar amat strategis dan 
bermanfaat bagi kehidupan/ kesejahteraan manusia .......... 
Maka  begitu pulalah seharusnya dgn teknologi2 lainnya .....spt teknologi sipil 
dpt membuat gedung pencakar langit dan jembatan.... ... teknologi arsitektur 
dpt membuat hati bangga, rasa megah dan nikmat serta  betah, teknologi gigi 
palsu dpt mengatasi masalah gusi ompong  dan tentulah pd gilirannya  PWK juga 
harus  dpt menunjukkan  ........nih, suatu ruang yg bgmnpun tadinya asal 
muasalnya ... dimanapun ...toh  ia dpt  dibentuk/ diolah  menjadi  ruang yg 
nyaman, indah, dpt mendukung produktivitas dan menciptakan kesempatan kerja  
.......dpt menjadi habitat  manusia yg menyenangkan dan  tanpa merusak alam 
..........salam, 
aby











      

Kirim email ke