Pak H. Aby ysh, untuk setiap kalimat yang bapak sampaikan, saya hanya
menyambung dengan "... ngge ... ngge ...". Baik sekali bapak telah
mengkaitkan pembicaraan kita, sehingga sebenarnya kita bisa masuk ke dalam
skim yang lebih dalam. Marvin Harris (2001) telah menstrukturkan 'sejarah
manusia' ini ke dalam terminologi modern, yang coba saya kembangkan sedikit.
Bila orang Singapura itu berbicara tentang kekayaan alam Indonesia, maka
'lingkungan' sebenarnya adalah basis sosiokultural kita. Sabda
alam<http://www.youtube.com/watch?v=DY_wv2clu58>-nya
mewartakan pembatasan usaha-usaha manusia yang dapat dilakukan. Walaupun ada
sudut pandang lain yang menyebutkan lingkungan adalah sumber dari segala
sumber energi dan raw materials. Energi dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan
biologis manusia. Namun lingkungan memiliki pembatasan dan keterbatasan,
yang acap diatasi melalui teknologi. Sekali kita bisa mengatasi 'kendala
lingkungan' itu, maka kita tidak akan bisa kembali ke alam.
Infrastruktur bagi manusia adalah tindakan praktis dalam mengolah sumber
daya, terdiri dari teknologi (mode of production, Marx) dan populasi (mode
of reproduction, Malthus). Suprastrukturnya adalah tingkah laku dan mental.
Pengembangan umkm sebenarnya membina struktur masyarakat dalam
kelompok-kelompok kecil dan banyak untuk berkarya infrastruktur secara
efektif dan efisien, sesuai dengan batas-batas yang mampu disediakan oleh
lingkungan. Sehingga pandangan Prof. Eko bisa relevan: "kita harus
mengglobal, dengan semangat regional, berbasis sumber daya lokal".
Penancapan 'the world's view' adalah kerja suprastruktur untuk mengembangkan
prilaku dan mental masyarakat. Sehingga sesuai dengan pendapat Pak Aby,
pengembangan umkm merupakan kerja multisektor. Dimana lagi akan dijelaskan
hal ini kalau bukan di buku-buku rencana.
Sedikit mengenai la pensée bourgeoise, sebenarnya memerlukan 'role of
elites'. Harris menyebutkan, "... But it is not the simple calculation of
the greatest good for the greatest number of people that accounts for
sociocultural change ... Many changes are more satisfying to some members of
society than to others ...". Karena Marx telah menegaskan, "... The ideas of
the ruling class in each epoch are the ruling ideas ...". Kaum elite mampu
mendorong secara langsung perubahan ekonomi dan politik, apalagi yang
mendukung posisinya. Kedudukan kaum elite ini sangat strategis dalam ruang,
karena dapat melakukan perubahan-perubahan. Saya kira segitu saja tafsirnya
pak.
Ajakan Pak Risfan untuk turun ke bumi sangat menarik, terlebih Pak Rofiq
sepertinya ingin menunjukkan 'sesuatu' kepada kita. Bila ada Pak Nuzul dkk,
pasti lebih menarik. Saya berharap nanti Pak Aby bisa ikutan juga, kita naik
kereta api saja pak, jadi dari sekarang sudah ngapalin stasiun
balapan<http://www.youtube.com/watch?v=bcxTEFj_ecQ&feature=related>.
Malam-malamnya kita cari duren lampung, susu boyolali, dan bubur ceker.
Salam.

-ekadj


2010/5/27 hengky abiyoso <[email protected]>

>
>
>   Rekan H. Ekadj dan Milisters ysh,
>
> Acara periodik kopidarat ya tentu saja selalu bagus …kita bisa saling jumpa
>  ….bisa diskusi lsg….bisa makan2 bareng malah nonton bareng dsb …..
> kemudian pula mendiskusikan masalah kelas borjuis/ kelas menengah atas
> ..…bisnis …keruangan  …...nilai lokal, tradisional dan pasar …. ya tentu
> saja bagus juga …..aplg mendiskusikannya bersama Walkot Djokowi ….aplg
> makan2 bareng Djokowi ……ya tentu  itu jg bukan perkara kesempatan mudah  spt
> bagi saya yg org kecil……..
>
> Mas Dodo yg piyantun Solo boleh jadi kebetulan dinas kesana atau jangan2
> malah beliau sdg ambil libur panjang  plg kampung…….utk mas Djarot tinggal
> masalah ¾  jam dari Jogya ….pak Aunur mungkin jg kebetulan ada jadwal
> rencana kesana …..ato mungkin memang senang bener dgn kota Solo dan ini
> itunya ….  ditambah rekan H.Ekadj aplg kalau pak Risfan hadir juga
> ….setdknya sdh ada 5 milisters senior  yg ngumpul ……jadi maka ya silahkan
> saja ……tentu kita bisa dpt oleh2 cerita serunya……..
>
> Namun lain drpd itu …….apa  yg sgt menarik bagi saya dari semua itu ...yg
> lalu menjadi 'cikalbakal' diskusi panjang ini .....adlh justru kalimat dari
> Prof.  Eko Budiarjo yg terus diingat2  oleh rekan Sarif (menurut istilah
> beliau   'menancap' di otak  beliau)  yg l/k bunyinya  "*Kita harus
> mengglobal dengan semangat regional**  berbasis sumberdaya lokal”….. *yg  oleh
> rekan Sarif  rupanya lalu yg lebih diingat adalah  masalah memulai dari  
> ‘lokal’nya
> ……dan  ttg masalah   ‘mengglobalnya ‘  entah memperoleh perhatiannya yg
> sama atau tidak ..saya kurang tahu ……
>
> Namun  yg lbh jelas lagi ……bagi PWK/ planologi/ teknik penataan ruang
> ……mencerna kalimat prof Eko Budiarjo itu  …….menurut hemat saya  memulai
> menaruh  perhatiannya justru perlu  lbh pada ‘mengglobal’nya itu dulu………
>
> Kenapa begitu ………alasan saya sebenarnya sederhana saja …..ialah  bhw bila
> kita mulai dgn ‘berpikir global’nya ……. Setidaknya kita perlu  (terpaksa)
> berpikir ttg multisektor 2 yg amat sangat luas ….…dan sementara itu ….. yg
> sdh jelas terjadi  kini ……ketika rekan Sarif memulainya dgn ‘menggali
> sumberdaya lokal’ ….. maka tak usah jauh2 …..yg terbukti telah terjadi  
> didiskusi
> milis kita ini  adlh …bhw sampai hari ini yg ‘berhasil’  kita diskusikan
> adlh lbh tentang  semacam satu monosektoralitas …..ialah ttg sektor UKM  
> ……..yg
> tentu samasekali bukan maksud saya meremehkan sektor itu …….yg lalu diskusi
> sedikit bergeser ke masalah budaya ekonomi kelas borjuis kita yg lagi2 juga
> masih diseputar masalah UKM……..dan utk lbh sregnya lagi lalu rekan Aunur
> mengusulkan kopi darat itu  yg agr lbh mantap lalu ngajaknya ke Solo
> ketempatnya Walkot Jokowi……..
>
> Mungkin juga  pendapat/ pemikiran saya ini  salah besar ……..namun kalaupun
> kita sdg membahas ‘masalah UKM’  dan  samasekali tak memulai dari yg
> ‘mengglobalnya’  juga (yg biasanya yg saya maksud ya mengembangkan kota
> metropolis  selain Jkt  ……..metropolis lain yg dinamis  …..serta
> atributnya yg paling meyakinkan ialah  pencakar langit  serta  semai
> manufaktur perkotaan  dan pengembangan/ migrasi  kelas menengah)  ……saya
> pikir  tentu masyarakat perencanaan/ PWK  tetap saja perlu memikirkan sisi
> ke-PWK-annya  ….ato kalau nggak  mau  ya setidaknya  ini perlu menjadi
> concern  utama dari “Kementerian PWK” …..ialah ttg bgmn agar  UKM bisa
> berkait  dgn pengembangan aglomerasi  ……berkait dgn dampak menggeliatnya
> peran sektor2 lainnya yg luas ……berkait dgn peran2 kelas menengah disemua
> sektor …yg kesemuanya itu saya pikir dimaksudkan agar pd lokasi2 ekonomi itu
> berkembang sektor perkotaannya  maupun kelas menengah perkotaannya  (fisik
> dan sosbud kota) ……sbrppun kecil skalanya …..lalu dgn itu dpt berkembang
> pula aspek  arsitektur kotanya ….juga aspek mikro dari arsitektur ialah  
> interior
> desain ……berkembangnya budaya gaya hidup  kelas menengahnya ….
> Berkembangnya pariwisata kota  (kuliner, museum, budaya lokal  dsb)
> ………dsb…….
>
> Sekali lagi mungkin saya salah …..namun saya pikir setidaknya UKM  toh sdh
> menjadi concern dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan,
> Kementerian Koperasi dan UKM dan perbankan serta Menko Perekonomian…… sedang
> sebaliknya mereka yg tiga ini jelas tak  bakal peduli  sedikitpun dgn
> masalah  pengembangan kota krn concern mrk bukanlah keruangan …….yg maka
> itu  tak lain tak bukan  ini  hanya akan lbh menjadi  porsi concern dari
> “Kementerian PWK” …….sehingga menurut hemat saya …..bagi masyarakat PWK
> ……mengenali masalah UKM adalah perlu dan baik sekali …...namun drpd
> memikirkannya amat lebih jauh  dan samasekali tak memikirkan ttg sektor
> modern dn manufaktur sbg kelengkapannya …. ato  aplg bila sampai
> mengalahkan aspek ‘keruangan’nya  sendiri…... saya pikir bisa jadi naif
> juga ya  rame2 pemikiran PWK yg demikian…….
>
> Semangat mengglobal  berbasis lokal itu hebat  dan benar……tapi maaf,  tak
> mungkin  dimulai hanya dgn  satu dua tiga sektor saja, tapi harus dgn
> multisektoralitas yg luas …….dan ia tak mungkin  pula dimulai  hanya dari
> satu sisi saja (lokal)  …….tapi juga perlu dari sisi nasionalnya maupun
> sentuhan2  internasionalnya (fisik maupun nonfisik)  …….krn transfer
> teknologi, transaksi global,  pengakuan internasional dsb tak mungkin
> terjadi kalau kita terlampau sibuk  ‘didlm dan kedlm negeri’  terus serta
> hanya main UKM terus……
>
> Kita masih ingat ….Habibie dan Srie Mulyani adlh aset internasional dan
> memperoleh pengakuan internasional krn karya mereka memang berkelas
> internasional ……kalau rakyat Jerman tak boleh membawa jenazah kerumah
> pribadi namun hrs ke ‘rumah duka’ ……tapi Habibie boleh ……karya Srie Mulyani
> bukanlah sekedar karya2 CEO kelas perusahaan swasta besar atau aplg menjadi
> direktur dari belasan perusahaan kecil atau direktur institut ekonomi spt
> Kwik dan lainnya …..tapi di IMF, Ketua Bappenas, Menkeu dan MenkoEkon ….dan
> jadilah mereka ‘mengglobal’……...
>
> Dan kembali lagi ke rencana kopi darat …hayo hayo silahkan yg sempat dan  yg
> bisa datang ke Solo utk sekalian bisa jumpa Walikota Jokowi …….dan saya
> mohon maaf lho bila ada yg kurang berkenan …….krn inipun hanya terpaksa saja
>  …..gara2 memenuhi  permintaan pendapat   oleh rekan H.Ekadj ……salam,
>
> aby
>
>

Kirim email ke