Rekan H. Ekadj ysh, Maaf hanya lanjut sedikit saja dan hanya ttg masalah bahasa saja, ……. Kalau yg anda maksud dgn ‘ngge’ adalah ‘iya’ …….kalau boleh saya sampaikan sedikit tips ……brkali yg lebih tepat dari kata ‘ngge’ adlh ‘enggih’ atau ‘nggih’ (tapi bisa juga ‘ngge’ itu adlh kosa kata dari salahsatu dialek anak suku bahasa jawa daerah tertentu yg saya belum tahu) ……dan sementara itu krn berkait dgn selera keindahan (dan bukan perusakan) bahasa ……..sptnya ada ‘urutan kehalusan’ bahasa dari kata tsb ialah pertama yg cukup halus adlh ‘inggih’ ….. atau kalau mau lbh sgt halus lagi dari itu adalah brkali ‘nuwun inggih’ …..lalu dibawahnya ‘inggih’ dan yg cukup egaliter ya ‘enggih’ atau ‘nggih’ itu tadi ……. Kalau ada umur panjang mudah2an saya bisa turut acara jumpa Solo itu …...dan kalau utk acara kuliner malam hari ……krn masa kecil agak spt vegetarian …..rasanya utk rencana acara anda nyari susu boyolali dan bubur ceker saya hanya nganterin saja …….tapi utk duren lampung sih oke ya?..........salam, aby --- On Thu, 5/27/10, - ekadj <[email protected]> wrote:
From: - ekadj <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: (2) Dari Omongan Org Singapura ke La Pensée Bourgeoise ke Jumpa Solo To: [email protected] Date: Thursday, May 27, 2010, 6:58 AM Pak H. Aby ysh, untuk setiap kalimat yang bapak sampaikan, saya hanya menyambung dengan "... ngge ... ngge ...". Baik sekali bapak telah mengkaitkan pembicaraan kita, sehingga sebenarnya kita bisa masuk ke dalam skim yang lebih dalam. Marvin Harris (2001) telah menstrukturkan 'sejarah manusia' ini ke dalam terminologi modern, yang coba saya kembangkan sedikit. Bila orang Singapura itu berbicara tentang kekayaan alam Indonesia, maka 'lingkungan' sebenarnya adalah basis sosiokultural kita. Sabda alam-nya mewartakan pembatasan usaha-usaha manusia yang dapat dilakukan. Walaupun ada sudut pandang lain yang menyebutkan lingkungan adalah sumber dari segala sumber energi dan raw materials. Energi dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan biologis manusia. Namun lingkungan memiliki pembatasan dan keterbatasan, yang acap diatasi melalui teknologi. Sekali kita bisa mengatasi 'kendala lingkungan' itu, maka kita tidak akan bisa kembali ke alam. Infrastruktur bagi manusia adalah tindakan praktis dalam mengolah sumber daya, terdiri dari teknologi (mode of production, Marx) dan populasi (mode of reproduction, Malthus). Suprastrukturnya adalah tingkah laku dan mental. Pengembangan umkm sebenarnya membina struktur masyarakat dalam kelompok-kelompok kecil dan banyak untuk berkarya infrastruktur secara efektif dan efisien, sesuai dengan batas-batas yang mampu disediakan oleh lingkungan. Sehingga pandangan Prof. Eko bisa relevan: "kita harus mengglobal, dengan semangat regional, berbasis sumber daya lokal". Penancapan 'the world's view' adalah kerja suprastruktur untuk mengembangkan prilaku dan mental masyarakat. Sehingga sesuai dengan pendapat Pak Aby, pengembangan umkm merupakan kerja multisektor. Dimana lagi akan dijelaskan hal ini kalau bukan di buku-buku rencana. Sedikit mengenai la pensée bourgeoise, sebenarnya memerlukan 'role of elites'. Harris menyebutkan, "... But it is not the simple calculation of the greatest good for the greatest number of people that accounts for sociocultural change ... Many changes are more satisfying to some members of society than to others ...". Karena Marx telah menegaskan, "... The ideas of the ruling class in each epoch are the ruling ideas ...". Kaum elite mampu mendorong secara langsung perubahan ekonomi dan politik, apalagi yang mendukung posisinya. Kedudukan kaum elite ini sangat strategis dalam ruang, karena dapat melakukan perubahan-perubahan . Saya kira segitu saja tafsirnya pak. Ajakan Pak Risfan untuk turun ke bumi sangat menarik, terlebih Pak Rofiq sepertinya ingin menunjukkan 'sesuatu' kepada kita. Bila ada Pak Nuzul dkk, pasti lebih menarik. Saya berharap nanti Pak Aby bisa ikutan juga, kita naik kereta api saja pak, jadi dari sekarang sudah ngapalin stasiun balapan. Malam-malamnya kita cari duren lampung, susu boyolali, dan bubur ceker. Salam. -ekadj 2010/5/27 hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Rekan H. Ekadj dan Milisters ysh, Acara periodik kopidarat ya tentu saja selalu bagus …kita bisa saling jumpa ….bisa diskusi lsg….bisa makan2 bareng malah nonton bareng dsb ….. kemudian pula mendiskusikan masalah kelas borjuis/ kelas menengah atas ..…bisnis …keruangan …...nilai lokal, tradisional dan pasar …. ya tentu saja bagus juga …..aplg mendiskusikannya bersama Walkot Djokowi ….aplg makan2 bareng Djokowi ……ya tentu itu jg bukan perkara kesempatan mudah spt bagi saya yg org kecil…….. Mas Dodo yg piyantun Solo boleh jadi kebetulan dinas kesana atau jangan2 malah beliau sdg ambil libur panjang plg kampung…….utk mas Djarot tinggal masalah ¾ jam dari Jogya ….pak Aunur mungkin jg kebetulan ada jadwal rencana kesana …..ato mungkin memang senang bener dgn kota Solo dan ini itunya …. ditambah rekan H.Ekadj aplg kalau pak Risfan hadir juga ….setdknya sdh ada 5 milisters senior yg ngumpul ……jadi maka ya silahkan saja ……tentu kita bisa dpt oleh2 cerita serunya…….. Namun lain drpd itu …….apa yg sgt menarik bagi saya dari semua itu ...yg lalu menjadi 'cikalbakal' diskusi panjang ini .....adlh justru kalimat dari Prof. Eko Budiarjo yg terus diingat2 oleh rekan Sarif (menurut istilah beliau 'menancap' di otak beliau) yg l/k bunyinya "Kita harus mengglobal dengan semangat regional berbasis sumberdaya lokal”….. yg oleh rekan Sarif rupanya lalu yg lebih diingat adalah masalah memulai dari ‘lokal’nya ……dan ttg masalah ‘mengglobalnya ‘ entah memperoleh perhatiannya yg sama atau tidak ..saya kurang tahu …… Namun yg lbh jelas lagi ……bagi PWK/ planologi/ teknik penataan ruang ……mencerna kalimat prof Eko Budiarjo itu …….menurut hemat saya memulai menaruh perhatiannya justru perlu lbh pada ‘mengglobal’nya itu dulu……… Kenapa begitu ………alasan saya sebenarnya sederhana saja …..ialah bhw bila kita mulai dgn ‘berpikir global’nya ……. Setidaknya kita perlu (terpaksa) berpikir ttg multisektor 2 yg amat sangat luas ….…dan sementara itu ….. yg sdh jelas terjadi kini ……ketika rekan Sarif memulainya dgn ‘menggali sumberdaya lokal’ ….. maka tak usah jauh2 …..yg terbukti telah terjadi didiskusi milis kita ini adlh …bhw sampai hari ini yg ‘berhasil’ kita diskusikan adlh lbh tentang semacam satu monosektoralitas …..ialah ttg sektor UKM ……..yg tentu samasekali bukan maksud saya meremehkan sektor itu …….yg lalu diskusi sedikit bergeser ke masalah budaya ekonomi kelas borjuis kita yg lagi2 juga masih diseputar masalah UKM……..dan utk lbh sregnya lagi lalu rekan Aunur mengusulkan kopi darat itu yg agr lbh mantap lalu ngajaknya ke Solo ketempatnya Walkot Jokowi…….. Mungkin juga pendapat/ pemikiran saya ini salah besar ……..namun kalaupun kita sdg membahas ‘masalah UKM’ dan samasekali tak memulai dari yg ‘mengglobalnya’ juga (yg biasanya yg saya maksud ya mengembangkan kota metropolis selain Jkt ……..metropolis lain yg dinamis …..serta atributnya yg paling meyakinkan ialah pencakar langit serta semai manufaktur perkotaan dan pengembangan/ migrasi kelas menengah) ……saya pikir tentu masyarakat perencanaan/ PWK tetap saja perlu memikirkan sisi ke-PWK-annya ….ato kalau nggak mau ya setidaknya ini perlu menjadi concern utama dari “Kementerian PWK” …..ialah ttg bgmn agar UKM bisa berkait dgn pengembangan aglomerasi ……berkait dgn dampak menggeliatnya peran sektor2 lainnya yg luas ……berkait dgn peran2 kelas menengah disemua sektor …yg kesemuanya itu saya pikir dimaksudkan agar pd lokasi2 ekonomi itu berkembang sektor perkotaannya maupun kelas menengah perkotaannya (fisik dan sosbud kota) ……sbrppun kecil skalanya …..lalu dgn itu dpt berkembang pula aspek arsitektur kotanya ….juga aspek mikro dari arsitektur ialah interior desain ……berkembangnya budaya gaya hidup kelas menengahnya …. Berkembangnya pariwisata kota (kuliner, museum, budaya lokal dsb) ………dsb……. Sekali lagi mungkin saya salah …..namun saya pikir setidaknya UKM toh sdh menjadi concern dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM dan perbankan serta Menko Perekonomian…… sedang sebaliknya mereka yg tiga ini jelas tak bakal peduli sedikitpun dgn masalah pengembangan kota krn concern mrk bukanlah keruangan …….yg maka itu tak lain tak bukan ini hanya akan lbh menjadi porsi concern dari “Kementerian PWK” …….sehingga menurut hemat saya …..bagi masyarakat PWK ……mengenali masalah UKM adalah perlu dan baik sekali …...namun drpd memikirkannya amat lebih jauh dan samasekali tak memikirkan ttg sektor modern dn manufaktur sbg kelengkapannya …. ato aplg bila sampai mengalahkan aspek ‘keruangan’nya sendiri…... saya pikir bisa jadi naif juga ya rame2 pemikiran PWK yg demikian……. Semangat mengglobal berbasis lokal itu hebat dan benar……tapi maaf, tak mungkin dimulai hanya dgn satu dua tiga sektor saja, tapi harus dgn multisektoralitas yg luas …….dan ia tak mungkin pula dimulai hanya dari satu sisi saja (lokal) …….tapi juga perlu dari sisi nasionalnya maupun sentuhan2 internasionalnya (fisik maupun nonfisik) …….krn transfer teknologi, transaksi global, pengakuan internasional dsb tak mungkin terjadi kalau kita terlampau sibuk ‘didlm dan kedlm negeri’ terus serta hanya main UKM terus…… Kita masih ingat ….Habibie dan Srie Mulyani adlh aset internasional dan memperoleh pengakuan internasional krn karya mereka memang berkelas internasional ……kalau rakyat Jerman tak boleh membawa jenazah kerumah pribadi namun hrs ke ‘rumah duka’ ……tapi Habibie boleh ……karya Srie Mulyani bukanlah sekedar karya2 CEO kelas perusahaan swasta besar atau aplg menjadi direktur dari belasan perusahaan kecil atau direktur institut ekonomi spt Kwik dan lainnya …..tapi di IMF, Ketua Bappenas, Menkeu dan MenkoEkon ….dan jadilah mereka ‘mengglobal’……... Dan kembali lagi ke rencana kopi darat …hayo hayo silahkan yg sempat dan yg bisa datang ke Solo utk sekalian bisa jumpa Walikota Jokowi …….dan saya mohon maaf lho bila ada yg kurang berkenan …….krn inipun hanya terpaksa saja …..gara2 memenuhi permintaan pendapat oleh rekan H.Ekadj ……salam, aby

