Ysh Rekan2 Ysh, Mas Ganie, Saya sangat mengapresiasi kawasan permukiman swasta yang menyediakan pelayanan feeder bus ke dalam kota itu. Kota Wisata, Citragrand, Sentul, Kemang Pratama dan lain-lainnya itu. Saya jadi bisa tidur, tanpa terlalu memperdulikan kemacetan. Pengadaan dan pengelolaan bus ini tentunya dari subsidi Pengelola Kawasan ditambah revenuenya, termasuk membayar gaji supir. Bus ini hanya menaik-turunkan penumpang di titik-titik tertentu. Mirip Trans Jakarta dan Bus DAMRI Airport lah.
Berbeda dengan kendaraan umum seperti bus umum, angkot dan lain-lain dengan sistem kejar setoran. Bisa kita lihat supir angkot yang matanya jelalatan ngejar penumpang, meliuk-liuk kanan kiri. Mana penumpangnya juga naik di sembarang tempat, bahkan di tengah perempatan. Kacau balau. Sistem setoran menurut saya biang keladi kesemrawutan manajemen angkutan umum di kota-kota menengah besar. Dan Departemen Perhubungan memang menganggap sistem setoran angkutan umum ini adalah penyumbang lapangan kerja yang terbesar. Nah lalu bagaimana? Apa iya kita harus "stuck" dengan opsi ini? Untuk kota kecil atau taxi sistem setoran memang masih digunakan. Tapi kalau skala pelayanan semakin besar tentu perlu dipikirkan cara manajemen yang lain, yang bisa dikendalikan. Busway menurut saya, the best we can do right now, tapi perlu selalu ditingkatkan. Menurut saya tarif sekarang yang "flat" kesemua jarak itu kemurahan (lebih baik dijelaskan saja kalau dengan tarif sekarang ini tidak cukup bayar pemeliharaannya, secara politis memang pahit tapi musti bagaimana? memang cape deh) Wassalam Irwan Pras. Rekan2 ysh, Kalau ngomong soal kemacetan jkt rasanya lebih tepat kita dengar cerita p'bambang sp yg dulu ikut membidani masterplan jabotabek..sdh konsisten nggak pihak2 terkait menjalankannya? klo nggak salah counter magnet maunya utk menahan urbanisasi ke jkt dg mengembangkan growth centers baru yg juga menampung fungsi2 kota yg di keluarkan dr jkt mis;industri,perguruan tinggi,permukiman,dll Skrg ini serpong/cikarang/depok/cibubur dg 'lokomotif/embrionya' dr private sector sdh mengimplementasikan konsep tsb...tapi jkt yg sdh di bantu malah tetap tancap gas nggak mau ketinggalan membangun 'gula2' berupa superblok2(permukiman/komersial), jadinya transportasi jkt-botabek tetap tinggi..siapa yg salah nich?.. _ Hari g Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: hengky abiyoso <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Mon, 19 Jul 2010 23:51:47 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re:Bls [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja Matur sembah nuwun kpd pak SW utk paring komentarnya .....pula kpd mas BTS utk komentarnya jg (....debat panjang antar kita yg belum selesai ya?  :-).... ......ayo ayo ayo yg lainnya ditunggu juga komentarnya .....ayo ayo ayo........ --- On Mon, 7/19/10, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote: From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja To: [email protected] Date: Monday, July 19, 2010, 11:18 PM  Dear referensiers  Membaca ulasan Pak Aby sepertinya kemacetan itu dikarenakan aglomerasi atau adanya magnet yang kuat sehingga terjadi urbanisasi besar-besaran di Jabodetabek. Logika yang tepat bila dikembangkan countermagnet, maka kemacetan di Jabodetabek itu bisa dikurangi dan diurai. Dengan logika yang sama pula bahwa munculnya countermagnet akan melahirkan kemacetan baru. Dengan demikian konsep pengembangan countermagnet sama saja dengan "memindahkan" kemacetan. Memperluas pengembangan countermagnet, bukankah sama saja "memeratakan" kemacetan?  Kemacetan lalu lintas di kota-kota metro sering tak bisa dihindari. Tapi memang tidak separah Jakarta. Bangkok dulu macetnya...ya ampuunn, tetapi sekarang tidak lagi dan Bangkok tetap kota prima, tanpa ada konsep countermagnet. Juga kota-kota metro di negara-negara lain tidak harus macet seperti Jakarta ini tanpa harus ada pengembangan countermagnet.  Menurut buku yang saya pahami, kemacetan itu bukan tataran makro, tapi tataran mikro saja, atau itu masalah manajemen saja. Walaupun begitu, mengurai kemacetan tidaklah gampang, ... banyak faktor. Untuk itu perlu diurai satu persatu dan diselesaikan secara bertahap. Ini bukan soal gebleg,..bukan soal suka ngeles, ..juga bukan soal omong doang.... Perlu kerja sama banyak pihak,...juga partsipasi/kesadara n masyarakat tentunya.  Apakah Anda-anda semua sudah mulai "bike to work", "walk to work", naik angkutan umum....... Itu semua sangat membantu mengurangi kemacetan ini. Ayolah!  Thanks. CU. BTS.    --- Pada Sel, 20/7/10, SUWARDJOKO WARPANI <swarp...@yahoo. com> menulis: Dari: SUWARDJOKO WARPANI <swarp...@yahoo. com> Judul: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja Kepada: refere...@yahoogrou ps.com Tanggal: Selasa, 20 Juli, 2010, 1:14 AM  Setuju bung Aby. Itulah enaknya menjadi anggota DPR. Meskipun tak paham apa itu angkutan apa itu lalu-lintas, asal kritiknya meriah. Bukankah fasilitas sudah mewah dan gaji wah ? Maka, jawabannya pun sekelas martabak. Pada hemat saya, selama koordinasi perencanaan dan penanganan masalah hanya sebatas pertemuan bibir atas dan bawah, selama itu pula kemacetan akan tetap tak teratasi. Apalagi rencana jangka panjang tak pernah teripikirkan karena terbelenggu masa jabatan. Ma'af tak pernah ikut omong, ini hanya ledakan kesebalan.  WASSALAM "SW" From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> To: referensi <refere...@yahoogrou ps.com> Sent: Mon, July 19, 2010 10:14:12 PM Subject: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja  Milisters ysh, Saat ini DPR dan Gub DKI saling melakukan kritik â¦yg dimulai dengan âseranganâ DPR yg katakan Gub DKI tak kunjung mampu atasi kemacetan Jkt â sesuatu yg menurut DPR kenapa dulu dijanjikan oleh Foke sewaktu kampanye pilgub waktu itu â¦â¦yg lalu Gub DKI menyerang balik dgn katakan DPR hanya bisa ngomong doang dan ââ¦mengatasi kemacetan Jkt itu tak semudah bikin martabak bungâ¦â â¦.begitu serangan balik dari Gub DKI kpd DPRâ¦â¦ Kalau menurut saya ....saya pikir kedua pihak sama2 saja brengseknya atau kalau mau lbh kasar ya kedua pihak sama2 geblegnya  â¦â¦DPR mengira kemacetan itu dpt diselesaikan sendiri oleh Jkt dan krn itu dgn sederhana lalu ia  dipandang mrpkn tgjwb Gub DKI â¦â¦sementara itu para Gub DKI (termasuk juga para cagub) umumnya jg bersikap arogan dgn selalu memandang kemacetan Jkt memang dpt diselesaikan hanya oleh Jkt sendiri saja â¦â¦dan tak diperlukan peran kota2 lain spt ttg perlunya dikembangkan countermagnet city atau pengembangan kota besar lain serta penyemaian industri memimpin disana utk membagi arus urbanisasi dan migrasi yg saat ini terbanyak menyerbu kota Jkt/ Jabodetabekâ¦â¦ Bhw DPR âmemikirkanâ kemacetan Jkt â¦itu samasekali tdklah salah â¦.krn apa2 yg menjadi masalah serius bagi masyarakat,  bangsa dan negara tentu itu termasuk dlm lingkup pemikiran pd umumnya negarawanâ¦..baik eksekutif maupun legislatif â¦â¦Â      Yg lalu menjadi tidak pas adlh kalau DPR lalu berpikir menyederhanakan masalah dgn mengira masalah kemacetan Jkt dpt diselesaikan di Jkt dan sendirian oleh Jkt (dan tentu lalu dlm pandangan DPR kambingnya hitamnya ya tdk lain adlh Gub DKI atau dlm hal ini Foke itu) â¦â¦.. Baik pihak DPR maupn Gub DKI maupun banyak pihak yg lain (termasuk DJPR) masih sangat kurang berpikir bhw kemacetan adlh bagian sebab dari urbanisasi dan migrasi yg terbesar menyerbu Jabodetabek dan berpusatnya industrialisasi maupun juga lokasi2 industri nasional memimpin di Jabodetabek maupun banyak jenis foot loose industries yg berlokasi âmemusatâ di Jawa â¦â¦dan mrk belum pada mau berpikir ttg perlunya mengembangkan countermagnet city to Jkt dgn inisiasi berupa penyemaian industri memimpin spd industri spd motor kita yg sampai 6,5 juta unit per tahun dan ke-3 terbesar dunia â¦â¦.yg kenapa ia hrs seluruhnya diproses hanya disepanjang koridor Cikampek-Krawang- Bekasi  â¦..dan bukannya 1/8 bagiannya saja misalnya disuruh memproses di calon countermagnet city di KTI misalnya .....yg dgn itu akan menumbuhkan dampak2 ganda yg luas diberbagai sektor ..dan pd saatnya akan dpt mempengaruhi arus migrasi dan urbanisasi yg menyerbu Jabodetabek .......salam, aby   Â

