Brur Irwan, bisa ngga feeder road tsb dikembangkan tdk eklusive, tetapi kpd 
umum dgn standar yg sama?
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Irwan Prasetyo <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 20 Jul 2010 16:39:32 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: Bls [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja

Wah, Ya Pak, berarti pas dong apresiasi saya kepada beliau yang sekarang
di Sentul City.

Semoga cara public-private participation ini bisa mengurangi sistem
setoran angkutan umum yang ada di Indonesia ini.

Memang seperti kata beliau pergerakan para pekerja masih berorientasi ke
tengah kota (e.g Jl. Sudirman, Blok M) karena Business  masih berorientasi
kesana (Alasannya : brand image?). Walaupun demikian beberapa kantor
Perusahaan besar sudah berlokasi di Jakarta Outer Ring Road (tapi tetap
saja JAKARTA :) kenapa ngga di Sentul, BSD, Cikarang, gitu kan ya?

Terima kasih Pak Bambang dan Rekans

Irwan Pras



Mas Irwan ysh,

Konsep bus khusus dr real estate besar tsb mrpk konsepnya mas Harie Ganie
n friend. Itu waktu BSD
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: Irwan Prasetyo <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 20 Jul 2010 16:02:30
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: Bls [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja

Ysh Rekan2 Ysh, Mas Ganie,

Saya sangat mengapresiasi kawasan permukiman swasta yang menyediakan
pelayanan feeder bus ke dalam kota itu.  Kota Wisata, Citragrand, Sentul,
Kemang Pratama dan lain-lainnya itu.  Saya jadi bisa tidur, tanpa terlalu
memperdulikan kemacetan.  Pengadaan dan pengelolaan bus ini tentunya dari
subsidi  Pengelola Kawasan ditambah revenuenya, termasuk membayar gaji
supir. Bus ini hanya menaik-turunkan penumpang di titik-titik tertentu.
Mirip Trans Jakarta dan Bus DAMRI Airport lah.

Berbeda dengan kendaraan umum seperti bus umum, angkot dan lain-lain
dengan sistem kejar setoran.  Bisa kita lihat supir angkot yang matanya
jelalatan ngejar penumpang, meliuk-liuk kanan kiri. Mana penumpangnya
juga
naik di sembarang tempat, bahkan di tengah perempatan. Kacau balau.

Sistem setoran menurut saya biang keladi kesemrawutan manajemen angkutan
umum di kota-kota menengah besar.  Dan Departemen Perhubungan memang
menganggap sistem setoran angkutan umum ini adalah penyumbang lapangan
kerja yang terbesar. Nah lalu bagaimana? Apa iya kita harus "stuck"
dengan
opsi ini? Untuk kota kecil atau taxi sistem setoran memang masih
digunakan. Tapi kalau skala pelayanan semakin besar tentu perlu
dipikirkan
cara manajemen yang lain, yang bisa dikendalikan.

Busway menurut saya, the best we can do right now, tapi perlu selalu
ditingkatkan. Menurut saya tarif sekarang yang "flat" kesemua jarak itu
kemurahan (lebih baik dijelaskan saja kalau dengan tarif sekarang ini
tidak cukup bayar pemeliharaannya, secara politis memang pahit tapi musti
bagaimana? memang cape deh)

Wassalam

Irwan Pras.











Rekan2 ysh,
Kalau ngomong soal kemacetan jkt rasanya lebih tepat kita dengar cerita
p'bambang sp  yg dulu ikut membidani masterplan jabotabek..sdh konsisten
nggak pihak2 terkait menjalankannya?

klo nggak salah counter magnet maunya utk menahan urbanisasi ke jkt dg
mengembangkan growth centers baru yg juga menampung fungsi2 kota yg di
keluarkan dr jkt mis;industri,perguruan tinggi,permukiman,dll

Skrg ini serpong/cikarang/depok/cibubur dg  'lokomotif/embrionya' dr
private sector sdh mengimplementasikan konsep tsb...tapi jkt yg sdh di
bantu malah tetap tancap  gas nggak mau ketinggalan membangun 'gula2'
berupa  superblok2(permukiman/komersial), jadinya  transportasi
jkt-botabek tetap tinggi..siapa yg salah nich?.. _

Hari g
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: hengky abiyoso <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 19 Jul 2010 23:51:47
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re:Bls [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja

Matur sembah nuwun kpd pak SW utk paring komentarnya .....pula kpd mas
BTS utk  komentarnya jg (....debat panjang antar kita yg belum selesai
ya?  :-).... ......ayo ayo ayo yg lainnya ditunggu juga komentarnya
.....ayo ayo ayo........

--- On Mon, 7/19/10, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:


From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
To: [email protected]
Date: Monday, July 19, 2010, 11:18 PM


 








Dear referensiers
 
Membaca ulasan Pak Aby sepertinya kemacetan itu dikarenakan aglomerasi
atau adanya magnet yang kuat sehingga terjadi urbanisasi besar-besaran di
Jabodetabek. Logika yang tepat bila dikembangkan countermagnet, maka
kemacetan di Jabodetabek itu bisa dikurangi dan diurai. Dengan logika
yang
sama pula bahwa munculnya countermagnet akan melahirkan kemacetan baru.
Dengan demikian konsep pengembangan countermagnet sama saja dengan
"memindahkan" kemacetan. Memperluas pengembangan countermagnet, bukankah
sama saja "memeratakan" kemacetan?
 
Kemacetan lalu lintas di kota-kota metro sering tak bisa dihindari. Tapi
memang tidak separah Jakarta. Bangkok dulu macetnya...ya ampuunn, tetapi
sekarang tidak lagi dan Bangkok tetap kota prima, tanpa ada konsep
countermagnet. Juga kota-kota metro di negara-negara lain  tidak harus
macet seperti Jakarta ini tanpa harus ada pengembangan countermagnet.
 
Menurut buku yang saya pahami, kemacetan itu bukan tataran makro, tapi
tataran mikro saja, atau itu masalah manajemen saja. Walaupun begitu,
mengurai kemacetan tidaklah gampang, ... banyak faktor. Untuk itu perlu
diurai satu persatu dan diselesaikan secara bertahap. Ini bukan soal
gebleg,..bukan soal suka ngeles, ..juga bukan soal omong doang.... Perlu
kerja sama banyak pihak,...juga partsipasi/kesadara n masyarakat
tentunya.
 
Apakah Anda-anda semua sudah mulai "bike to work", "walk to work", naik
angkutan umum....... Itu semua sangat membantu mengurangi kemacetan ini.
Ayolah!
 
Thanks. CU. BTS.
 
 
 


--- Pada Sel, 20/7/10, SUWARDJOKO WARPANI <swarp...@yahoo. com> menulis:


Dari: SUWARDJOKO WARPANI <swarp...@yahoo. com>
Judul: Re: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
Tanggal: Selasa, 20 Juli, 2010, 1:14 AM


 


Setuju bung Aby. Itulah enaknya menjadi anggota DPR. Meskipun tak paham
apa itu angkutan apa itu lalu-lintas, asal kritiknya meriah. Bukankah
fasilitas sudah mewah dan gaji wah ? Maka, jawabannya pun sekelas
martabak. Pada hemat saya, selama koordinasi perencanaan dan penanganan
masalah hanya sebatas pertemuan bibir atas dan bawah, selama itu pula
kemacetan akan tetap tak teratasi. Apalagi rencana jangka panjang tak
pernah teripikirkan karena terbelenggu masa jabatan. Ma'af tak pernah
ikut
omong, ini hanya ledakan kesebalan.

 WASSALAM


"SW"






From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
To: referensi <refere...@yahoogrou ps.com>
Sent: Mon, July 19, 2010 10:14:12 PM
Subject: [referensi] Re: Kemacetan Jkt : DPR - Gub DKI Sama Saja

 






Milisters ysh,

Saat ini DPR dan Gub DKI saling melakukan kritik …yg dimulai dengan
‘serangan’ DPR yg katakan Gub DKI tak kunjung mampu atasi kemacetan
Jkt – sesuatu yg menurut DPR kenapa dulu dijanjikan oleh Foke sewaktu
kampanye pilgub waktu itu ……yg lalu Gub DKI menyerang balik dgn
katakan DPR hanya bisa ngomong doang dan “…mengatasi kemacetan Jkt
itu
tak semudah bikin martabak bung…� ….begitu serangan balik dari Gub
DKI kpd DPR……



Kalau menurut saya ....saya pikir kedua pihak sama2 saja brengseknya atau
kalau mau lbh kasar ya kedua pihak sama2 geblegnya  ……DPR mengira
kemacetan itu dpt diselesaikan sendiri oleh Jkt dan krn itu dgn sederhana
lalu ia  dipandang mrpkn tgjwb Gub DKI ……sementara itu para Gub DKI
(termasuk juga para cagub) umumnya jg bersikap arogan dgn selalu
memandang
kemacetan Jkt memang dpt diselesaikan hanya oleh Jkt sendiri saja
……dan tak diperlukan peran kota2 lain spt ttg perlunya dikembangkan
countermagnet city atau pengembangan kota besar lain serta penyemaian
industri memimpin disana utk membagi arus urbanisasi dan migrasi yg saat
ini terbanyak menyerbu kota Jkt/ Jabodetabek……



Bhw DPR ‘memikirkan’ kemacetan Jkt …itu samasekali tdklah salah
….krn apa2 yg menjadi masalah serius bagi masyarakat,  bangsa dan
negara tentu itu termasuk dlm lingkup pemikiran pd umumnya
negarawan…..baik eksekutif maupun legislatif ……       Yg 
lalu menjadi tidak pas adlh kalau DPR lalu berpikir menyederhanakan
masalah dgn mengira masalah kemacetan Jkt dpt diselesaikan di Jkt dan
sendirian oleh Jkt (dan tentu lalu dlm pandangan DPR kambingnya hitamnya
ya tdk lain adlh Gub DKI atau dlm hal ini Foke itu) ……..



Baik pihak DPR maupn Gub DKI maupun banyak pihak yg lain (termasuk DJPR)
masih sangat kurang berpikir bhw kemacetan adlh bagian sebab dari
urbanisasi dan migrasi yg terbesar menyerbu Jabodetabek dan berpusatnya
industrialisasi maupun juga lokasi2 industri nasional memimpin di
Jabodetabek maupun banyak jenis foot loose industries yg berlokasi
‘memusat’ di Jawa ……dan mrk belum pada mau berpikir ttg perlunya
mengembangkan countermagnet city to Jkt dgn inisiasi berupa penyemaian
industri memimpin spd industri spd motor kita yg sampai 6,5 juta unit per
tahun  dan ke-3 terbesar dunia …….yg kenapa ia hrs seluruhnya
diproses hanya disepanjang koridor Cikampek-Krawang- Bekasi  …..dan
bukannya 1/8 bagiannya saja misalnya disuruh memproses di calon
countermagnet city di KTI misalnya .....yg dgn itu akan menumbuhkan
dampak2 ganda yg luas diberbagai sektor ..dan pd saatnya akan dpt
mempengaruhi arus migrasi dan urbanisasi yg menyerbu Jabodetabek
 .......salam,



aby

 

 
 


















Kirim email ke