FYI.
Maaf jika terjadi penerimaan ganda.

Salam,
ryz

----- Original Message ----- 
From: Iwan Pirous 
To: IKA-UI ; antropologi departemen ; Puska Antrop ; Yunita Winarto ; FKAI 
Milis 
Sent: Friday, July 23, 2010 12:10 AM
Subject: [IKA-UI] Rumusan Seminar Re-invensi Antropologi, Cisarua 2010


  

SEJAUH MANA REINVENSI ANTROPOLOGI?

Dari tujuh tema yaitu:

<!--[if !supportLists]-->1.       <!--[endif]-->Pembangunan Hukum di Indonesia

<!--[if !supportLists]-->2.       <!--[endif]-->Otonomi Lokal dan Ketahanan 
Nasional

<!--[if !supportLists]-->3.       <!--[endif]-->Antropologi, Pendidikan, dan 
Karakter Bangsa

<!--[if !supportLists]-->4.       <!--[endif]-->Agama, Etnisitas dan 
Multikulturalisme

<!--[if !supportLists]-->5.       <!--[endif]-->Gender, dan Migrasi Global

<!--[if !supportLists]-->6.       <!--[endif]-->Kemiskinan dan Pemberdayaan 
Masyarakat

<!--[if !supportLists]-->7.       <!--[endif]-->Lingkungan Hidup dan Sumberdaya 
Alam



Kita dapat menemukan kegelisahan akademik teman-teman dalam menggeluti  
fenomena kehidupan yang terjadi dalam kapasitas sebagai antropolog. Wacana yang 
berkembang dalam makalah dan diskusi menggambarkan adanya friksi yang semakin 
keras di antara kelompok  sipil, negara, adat, kepentingan bisnis dalam 
memperebutkan dan menguasai sumberdaya. Friksi ini diperkirakan semakin 
mengeras dan mengakibatkan yang menunjukkan krisis yang meluas dalam kehidupan 
masyarakat kita.  

Juga kita melihat betapa landscape etnografis kita telah menjelma menjadi 
semakin kaya dan memperlihatkan ciri khas: migrasi intensif dan ekstensif, 
menguatnya kapitalisme mutakhir, pengentalan dan resistensi identitas, adanya 
pertentangan kelas sosial yang semakin terbuka, intervensi negara, parpol, dan 
organisasi non-pemerintah.  

Ada  kegalauan dalam hal bentuk kontribusi yang tepat sebagai antropolog.  
Antropologi memang perlu berkontribusi, tapi kontribusi dalam bentuk seperti 
apa yang dibutuhkan sekarang?  Antropolog memang dituntut untuk pandai membaca 
masyarakat, tapi apakah kita sudah membaca dengan benar? Kegalauan ini menuntut 
kita untuk mengkritisi diri.

Dalam berbagai tema yang disajikan terlihat adanya gairah kawan-kawan untuk 
tanpa tanggung-tanggung terjun menjadi intelektual yang memfasilitasi dan 
mengadvokasi pemberdayaan komunitas.  Di sisi lain,  berpikir diluar 
kotak-kotak ideologis keilmiahan kita tidak mudah.  Masih saja kita terjebak 
dalam cara-cara yang pernah kita pikir tepat, padahal sesungguhnya merupakan 
daur ulang periode sebelumnya.

Dalam dua hari perdebatan, ada tiga peta yang hadir:

<!--[if !supportLists]-->1.       <!--[endif]-->Wacana esensialis tentang 
karakter budaya ideal, kearifan lokal, sebagai suatu yang menjadi titik sentral 
bergerak sebagai antropolog.

<!--[if !supportLists]-->2.       <!--[endif]-->Wacana  dialogis tentang 
hubungan inter-kultural, antar-perbedaan, dan pentingnya hak-hak berbudaya 
sebagai titik sentral antropolog.

<!--[if !supportLists]-->3.       <!--[endif]-->Wacana aktivisme yang 
membumikan teori-teori menjadi akal sehat untuk untuk melakukan transformasi 
sosial.



 Langkah ke depan

Reinvensi antropologi saat ini adalah membuatnya menjadi lebih kritikal 
termasuk mampu untuk lebih memberdayakan diri sendiri dan orang lain. 
Antropologi ditantang bukan berdebat-tulis, tapi menulis utk menimbulkan aksi. 
Antropologi punya kesempatan untuk melakukan ruang sadar diri dengan melakukan 
refleksi. 

Kita perlu lebih sering duduk bersama dan saling berbagi pengalaman dengan 
suasana terbuka dan siap menerima kritik dari orang lain. 

Perlu memilih paradigma (teori dan metodologi)  karena akan berkonsekuensi pada 
posisi antropolog dalam profesi dan komunitasnya. Pilih dulu posisi paradigma, 
baru kemudian kerja.

Antropologi punya kemampuan spesial memahami diferensiasi, tapi  ini tidak akan 
ada manfaatnya kalau kita tidak dapat menempatkan diri dalam dinamika 
keberagaman yang kita hadapi sebagai kegiatan reflektif yang harus dilakukan 
terus-menerus.



Cisarua, 22 Juli 2010



Tim Perumus Seminar Antropologi Terapan "Antropologi dalam Lintasan Pembangunan 
Indonesia",

Seminar Nasional Antropologi 2010

Ketua Perumus: Iwan Tjitradjaja

Anggota Perumus: 

<!--[if !supportLists]-->-          <!--[endif]-->Ruddy Agusyanto

<!--[if !supportLists]-->-          <!--[endif]-->Yulizar Syafri

<!--[if !supportLists]-->-          <!--[endif]-->Iwan Pirous

<!--[if !supportLists]-->-          <!--[endif]-->Irwan Martua

<!--[if !supportLists]-->-          <!--[endif]-->Haswinar Arifin

<!--[if !supportLists]-->-          <!--[endif]-->Nursyirwan Effendi

<!--[if !supportLists]-->-          <!--[endif]-->Fikarwin Zuska

-- 
Iwan Meulia Pirous
Puska Antropologi FISIP-UI
--------------------------------------------------
Twitter: http://twitter.com/meulia
Blog: http://iwan.pirous.com
PGP Public Key: http://tinyurl.com/iwanPGP


Kirim email ke