Cepet selesai atuh pak Fajar.......
Almamater menunggu. Apa nyonya di Kota Kincir sdh selsai juga.... .? Salam utk 
kelrga Dan teman2.

Wes.
Deni boy

Sent from my iPad

On Aug 14, 2010, at 12:51 AM, <[email protected]> wrote:

Hue he he he he......
Responnya telak juga tuh ha ha ha ha...
Jangan ngomong soal sekolah atuh, Pak... bikin setres aja hua ha ha ha...
ngomong-ngomong, itu tadi tulisan saya belom selesai, Om....
 
Maksudnya saya mau ngomong gini...:
 
Pak Haji EkaDj ysh,
 
Mimpi Pak Eka agar suatu saat Banjarmasin (dan saya rasa juga kota-kota air di 
Kalimantan, Sumatera dan Papua) bisa menjadi seperti kota-kota air di Eropa, 
juga merupakan suatu mimpi buat saya... 

Tapi kalau diperhatikan lebih lanjut, keberhasilan kota-kota air seperti 
Rotterdam dan Antwerpen, tidak hanya terjadi karena keberhasilan kota-kota itu 
sendiri saja. Keberhasilan kota-kota ini sangat berkaitan dengan keberhasilan 
kota-kota lain di bagian hulunya. Contohnya keberhasilan Rotterdam yang sangat 
berkaitan dengan keberhasilan Koln, Dusseldorf dan bahkan kalau saya ngak salah 
juga dengan keberhasilan Stutgart.
 
Kota-kota di bagian hulu ini berhasil menjadi kota-kota industri dengan 
memanfaatkan ketersediaan batubara di sekitarnya (sebagai sumber energi) dan 
sungai sebagai sumber air (yang sangat dibutuhkan untuk mengubah batubara jadi 
energi, dan juga bagi besi dan baja, misalnya) serta sebagai "jalan air" untuk 
transportasi industrinya. Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah 
kota-kota industri pedalaman ini memenfaatkan ketersediaan sumber energi di 
sekitarnya untuk membangun aktivitas industri.
 
Saya khawatir apabila hal tsb terjadi berbeda dengan kondisi yang ada di negara 
kita, khususnya di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Kelihatannya kita masih 
menggunakan paradigma eksploitasi di dalam pemanfatan sumber-sumber daya energi 
maupun sumber daya alam lain. Artinya sumber-sumber daya tadi diambil untuk 
kemudian langsung ditransportasilan ke luar wilayah, bahkan langsung diekspor. 
Berbeda dengan yang terjadi di Koln atau Dusseldorf, sumber daya yang ada 
diambil untuk digunakan bagi pembangunan aktivitas setempat.
 
Jadi, Pak Eka, sebelum bermimpi untuk melihat kota-kota air di Indonesia bisa 
menjadi seperti kota-kota air di Eropa, terlebih dulu saya bermimpi agar suatu 
saat pemanfaatan sumber-sumber daya energi dan sumber-sumber daya alam lain di 
Indonesia bisa seperti yang terjadi di Koln, Dusseldorf, atau Stutgart, Pak... 
Agar sumber-sumber daya alam tersebut diambil untuk digunakan sebagai sumber 
daya penggerak aktivitas wilayah setempat dan tidak hanya sekeda diambil untuk 
langsung ditransportasikan ke wilayah lain.. Dengan begitu, suatu saat saya 
harap mimpi Pak Ekja dan saya agar Banjarmasin dan kota-kota air lain di 
Kalimantan, Papua dan Sumatera bisa seperti kota-kota air di Eropa....
 
Bisa nggak ya.....?
 
Salam,
 
Fadjar Undip 
 
 


--- En date de : Sam 14.8.10, - ekadj <[email protected]> a écrit :

De: - ekadj <[email protected]>
Objet: Re: [referensi] Banjarmasin
À: [email protected]
Date: Samedi 14 août 2010, 0h01

 
Amin ya Rob! Tapi para pakarnya masih belum selesai-selesai juga sekolahnya ... 
hehehe.

2010/8/13 <[email protected]>
 
Pak Haji EkaDj ysh,
 

Mimpi Pak Eka agar suatu saat Banjarmasin (dan saya rasa juga kota-kota air di 
Kalimantan, Sumatera dan Papua) bisa menjadi seperti kota-kota air di Eropa
 
 


--- En date de : Ven 13.8.10, - ekadj <[email protected]> a écrit :

De: - ekadj <[email protected]>
Objet: Re: [referensi] Banjarmasin
À: [email protected]
Date: Vendredi 13 août 2010, 22h13


 
Pak ATA dan Referensiers ysh. Terima kasih pak atas cerita perjalanannya, pasti 
menarik dan menuai banyak kisah apalagi dalam rombongan besar. Studi ekskursi 
seperti ini perlu dikembangkan ke wilayah-wilayah yang jauh dan asing, untuk 
menambah pengalaman dan pengetahuan praktis.
Dari kisah bapak saya jadi bernostalgia pada era pertengahan 1990an, ketika 
kehidupan sudah terasa masam, dan akhirnya membantu konsultan lokal selama 
sekitar 3 tahun. Sempat menjelajahi beberapa tempat. Begitu pun di milis ini 
ada beberapa rekan yang sempat lama di sana, seperti mungkin Pak Rempu di Batu 
Licin, juga ada Dr. Hary yang bertugas di Pemkab Banjar Baru, kalau AndiS 
kolega bapak di UI kan berasal dari sana. Mudah-mudahan ada tambahan informasi 
yang kita perlukan.
Dulu baru dimulai era penambangan rakyat batubara, yang berbentuk singkapan 
memanjang seperti bulan sabit, sehingga mendatangkan berkah ekonomi yang 
meluas. Jadi kelebihan Kalimantan selain earthquake-proof juga ketersediaan 
energi yang luar biasa. Selain tentunya: lokasinya persis di tengah-tengah 
Indonesia.
Saya dulu menaksir suatu lokasi di utara Banjarmasin, posisinya di tepi Sungai 
Barito. Kalau ini dikembangkan, mungkin sangat mirip dengan model kota-kota 
Eropah, seperti Rotterdam dan Antwerpen. Pelabuhan bisa masuk jauh ke dalam di 
sepanjang sungai, dan berpotensi menjadi pelabuhan terpanjang di dunia. Sambil 
tentunya memperhatikan kearifan lokal.
Sementara demikian pak. Salam.
 
-ekadj
2010/8/13 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
 
Pak Uton ysh,

Wah, saya di tembak langsung suruh jawab...he he he

Tapi saya coba menyampaikan realitas yang saya temui hingga saat ini:
Banjarmasin memang bukan daerah gempa dan juga tidak potensial menerima ancaman 
Tsunami. Kenaikan muka air selama ini lebih karena air sungai Barito dan sungai 
Martapura pasang, akibat kiriman dari hulu sungai. Dalam tiga kali kunjungan 
selama tiga dekade tersebut, tampaknya kenaikan muka air belum pernah sampai 
melimpah jauh ke daratan. 

Sebaliknya, Banjarmasin di masa lalu cenderung didominasi rawa-rawa. Peta kota 
Banjarmasin sekitar tiga dekade lalu (waktu mengerjakan renstra pengembangan 
Kabupaten Banjar) masih jelas menunjukkan sifat "kota air" tersebut, sehingga 
sebagian besar bangunan permukiman waktu itu masih didominasi rumah panggung 
yang pada musim basah berada di atas air. Oleh sebab itu walau belum musim 
hujan namun permukaan air di saluran kota tidak terlalu berbeda dengan 
permukaan tanah setempat. 

Tanahnya relatif datar dan perlu diuji ketersediaan air bersih ataupun saluran 
air hujan untuk suatu kota besar dan luas di masa mendatang.  Pada umumnya 
dahulu sumber daya kayu untuk konstruksi cukup, namun sukar memperoleh batuan, 
sehingga perlu mendatangkan dari luar. Pada tahap awal dahulu pembuatan jalan 
raya dilakukan dengan mengurug dengan batu kapur di rawa-rawa setempat. 

Permasalahan alami tersebut yang menyebabkan semula rencana ibukota Kalimantan 
Selatan akan dipindah ke Banjarbaru yang lebih tinggi permukaan tanahnya di 
pedalaman. Namun setelah tiga dekade, tampaknya Banjarmasin, Banjar Baru dan 
Martapura cenderung akan menjadi satu kota besar, dimana pembangunan berbasis 
daratan semakin dominan. Sayangnya kota tersebut kurang memiliki tata ruang 
awal yang cukup jelas/sistematis, serta ruang publik yang efektif. 

Untuk skala kota sedang, Banjar telah mengembangkan pusat kota (disekitar 
mesjid lama dan kantor walikota) yang cukup unik. Kedua tepi sungai Martapura 
di muka kantor walikota telah mulai ditata untuk rekreasi warga kota, promenade 
menghadap sungai, antar dua jembatan bersih dari bangunan di perairan, suatu 
ciri riverfront city, cukup potensial untuk acara-acara perayaan berbasis 
perairan di pusat kota. Penduduk Banjar sendiri hingga kini masih termasuk 
warga negara yang ramah.
 
Sayang ruang kota yang tersedia tidak cukup potensial untuk menjadi bagian 
utama suatu kota yang lebih besar, apalagi ibu kota negara. Mungkin Bajarmasin 
masih lebih cocok bila dikembangkan sebagai kota wisata, dengan obyek kehidupan 
perairan, disamping kerajinan intannya dan akses ke kehidupan etnik Dayak di 
pedalaman. 

Secara fisik, kalau mau dijadikan ibu kota, mungkin perlu penataan khusus di 
dataran yang masih terbuka dan lebih tinggi, diantara Banjarmasin, BanjarBaru, 
Martapura, atau hingga Pleihari...ke arah pusat rekreasi di pantai Timur 
Kalimantan Selatan ?. Jadi ..secara horisontal (permukaan lahan yang tampak) 
masih ada peluang, walaupun bukan di Banjarmasin sekarang. Artinya, dapat 
dikembangkan sistem kota-kota yang memiliki fungsi utama (kawasan baru) sebagai 
pusat dan sub-sub pusat (ex-kota-kota lama) dengan fungsi-fungsi pendukung yang 
khas (Arsitek kan selalu mungkin menggagas suatu lingkungan fisik baru, ya kan 
Mas Djarot?). 

Saya sendiri belum memperoleh informasi mengenai kondisi di dalam tanah, paling 
kurang daya dukung untuk bangunan tinggi. Yang terduga adalah bahwa kalau mau 
dikembangkan, harus ada kemampuan untuk mengolah unsur kota (subway, sanitasi, 
dll) dalam tanah yang cenderung bersahabat dengan air. 

Namun kalau mau dikembangkan menjadi kota ideal...harus jauh-jauh hari 
penggunaan lahan-lahan terbuka dan perairan yang ada dicegah jangan sampai 
terburu di jadikan perumahan, toko dll model Jakarta....Sebaliknya perlu 
dirancang plot-plot untuk taman-taman (hijau terbuka, hutan kota, dll) dan 
danau-danau tengeran kota (misalnya Hanoi), yang sekarang tampaknya belum 
menjadi perhatian pengelola kota setempat. 

Begitu pak...?

ATA

 

 





2010/8/13 Uton Rustan <[email protected]>

 
p ATA, nimbrung apakah Banjarmasin bisa jadi pilihan alternatif ibukota NKRI ?? 
Jangan pake kriteria yg muluk-muluk, cukup liveable saja sg daya dukung 
lingkungan yg sustainable.

--- On Fri, 13/8/10, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Banjarmasin
To: [email protected]
Date: Friday, 13 August, 2010, 8:14 AM


 
Betul pak Eka ysh, 
peserta ekskursi sekitar 40-an mahasiswa. Setiap tahun kegiatan ekskursi 
merupakan inisiatif mahasiswa sesuai dengan perkembangan minat mereka. Kami 
berempat hanya sebagai nara sumber. Kali ini ekskursi menelusuri permukiman di 
atas perairan sungai (rumah panggung dan terapung), selain merekam sisa-sisa 
rumah Banjr. Semula mahasiswa ingin mempelajari rumah lanting sebagai realita 
permukiman masyarakat Banjar.

Mengenai pendekatan fenomenologis (seperti yang pernah diungkapkan oleh mas 
Djarot) sesungguhnya sudah hampir satu dekade diintroduksi diantara dan 
dijadikan salah satu pendekatan kajian civitas academica di Departemen 
Arsitektur UI. 

Sebelum tahun ini, ekskursi ke luar daerah umumnya mempelajari kehidupan 
masyarakat dan tempat hidupnya berupa permukiman etnik di pedalaman. Sedangkan 
ekskursi jangka pendek di kota umumnya berkaitan dengan rancangan, proses dan 
teknologi bangunan moderen/komplek baru perkotaan.

Di Departemen Arsitektur (S1 dan S2) baru dua tahun terakhir mata ajaran 
arsitektur di kawasan pesisir diperkenalkan, setahun lalu permukiman di 
perairan serta studio bersama (arsitektur, sejarah, perkotaan, teknologi 
bangunan) mempelajari hingga menggagas pengembangan kawasan kota pesisir yang 
diduga akan terkena dampak perubahan iklim. Sedangkan di PK Pengembangan 
Perkotaan (S2) Pasca Sarjana sejak dua tahun lalu dibuka MK Pengembangan 
perkotaan di kawasan kepulauan. Sedangkan di PS Ilmu Lingkungan (S2 dan S3) 
topik-topik berkaitan dengan lingkungan pesisir dan kepulauan kecil telah mulai 
dipilih sebagai judul tesis maupun disertasi peserta program. 

Sebelum ini beberapa dari mereka juga terlibat dalam kegiatan pengembangan di 
Aceh. Sebaliknya, beberapa lulusan terselamatkan dari krisis pekerjaan dengan 
bekerja di Singapura, karena salah satu kerja praktek adalah di negara 
tersebut. 

Saya cuma mengharapkan bahwa selain melalui seminar-seminar, diskusi, 
penelitian dan pengabdian masyarakat di lapangan selama ini, generasi berikut 
ilmuwan kita dapat lebih mengenal kehidupan lain di luar masalah "kotak" 
masalah kota Jakarta atau sekadar wilayah JABODETABEK. Dengan demikian ilmunya 
dapat lebih diamalkan ke lebih banyak warga negara kita.

Mungkin baru semacam itu sumbangan kami ke negara ini.

Salam,
ATA

2010/8/6 - ekadj <[email protected]>
 
Pak ATA ysh, kelihatannya bapak bawa rombongan besar ya ..... jadi curiga nih. 
Apa sedang memeriksa sarannya Pak Djarot dan Pak Deden? List terakhir.
Cukup banyak tempat yang saya 'sentuh' di masa lampau, mulai Banjarmasin 
Tengah, Marabahan, Barabai, Kasarangan, hingga Batu Licin. Juga tentunya soto 
Banjar, ketupat Kandangan, saluang, udang galah, bingka, dll. Selamat menikmati 
perjalanan pak. Salam.
 
-ekadj
 
2010/8/6 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>

 
Pak Ekadj ysh,
saya masih di Banjarmasin dan sekitarnya.
Sedang memotifasi mahasiswa2 saya (ex-daratan metropolitan) untuk lebih 
mengenal realita kehidupan bangsanya yang lain, dari daratan, panggung, 
lanting, desa, rumah panjnag dll, agar tidak menjadi arsitek salon. semoga.
Acara ini memang tahunan, ke semua pelosok Indonesia.
Rekan-rekan dosen arsitektur bersama mahasiswa multi disiplin juga mulai 
dilibatkan. Ada yang pulang dari pulau terluar sebelah timur Natuna, Sebatik 
maupun sebelah Timur kepulauan Maluku Tenggara, selam sebulan. Ternayat mereka 
mulai menyadari bahwa sama-sama di pulau terluar masalah kemasyarakatan dan 
lingkuingan pulau-lautnya juga berbeda. Semoga generasi berikutnya ga se"cupet" 
pandangannya seperti generasi lawas saat ini.
Salam cinta Indonesia. 

ATA

2010/8/6 - ekadj <[email protected]>

 
Pak ATA, masih di Banjarmasin-kah? Sangat berbanding terbalik dengan Jakarta, 
kalau di Banjarmasin ada seribu sungai dengan sedikit jembatan, sementara di 
Jakarta ada seribu jembatan dengan sedikit sungai.
Saya sudah belasan tahun juga nggak kesana. Dulu ada mahasiswinya Pak Erwin, 
juga anggota milis ini, yang pernah meneliti rumah lanting (rumah di atas 
sungai). Mudah-mudahan masih ada, wong di Amsterdam saja masih ada.
Pengembangan konsep metropolitan (Banjarmaskuala?) saya kira dimulai sekitar 
tahun 1997, sampai sekarang. Mudah-mudahan ada yang mau kasih cerita. Juga ada 
putera Barito, seperti Bang AndiS dll. Pokoknya: RCTI Ok!
 
-ekadj
 
2010/8/5 abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
 
Kebetulan ini ketiga kalinya saya ke Kalimantan 
Selatan....nostalgia....menelusuri sungai ...
Dalam hati sedih juga....
Kalimatan yang lebih dari tigapuluh tahun lalu masih banyak berhutan primer, 
dua puluhan tahun lalu mulai menjadi padang alang-alang....
Kali ini di kotanya saya sudah kehilangan kesan berada di luar Jawa, apalagi 
Mall dan fasiloitas kota dan jasa lainnya...
Harga-harga di sini cukup tinggi, jauh dibanding dua kesempatan lalu saya 
ataupun dibandingkan di tempat biasa saya....
...."maklum, di sini banyak orang kaya pak...".
...menurut pak polisi di perairan barito...sekarang beda pak, sekarang banyak 
perusahaan industri kayu yang pindah karena kayu sudah habis...., kegiatan 
pindah....masyarakat setempat juga pindah kegiatan...."
...Apakah saya masih mengalami keresahan yang lebih besar ...bila kegiatan yang 
berskala megapolis akan masuk ke "mantan" surga lingkungan ini....?

Salam sedih....
ATA   











Kirim email ke