Ass. Yth p ATA. Sy sependapat dgn bpk. Tidak ada keraguan, pandangan yg sangat komprehensif. Terimakasih responnya.
Wss. Rdd Sent from my iPad On Aug 15, 2010, at 8:48 PM, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote: Pak Denny ysh, Sayembara memang dapat menjadi sarana pemicu lahirnya gagasan-gagasan baru. Namun sayembara tidak cukup menjadi dasar pembangunan suatu wilayah, termasuk wilayah Banjarmasin dan sekitarnya. Sebagai wilayah yang berbasis perairan, kualitas dan fungsi sungai-sungai di wilayah tersebut perlu didalami untuk dikembangkan secara terpadu, bukan saja dalam khasanah perencanaan namun hingga operasionalisasinya. Sebagai contoh Balikpapan dan kabupaten-kabupaten disekitarnya telah bersama-sama menyusun sekian banyak daerah aliran sungai yang dikelola dalam rencana strategisnya. Setiap DAS memiliki masalah maupun potensi yang tidak sama terhadap bagian dari masing-masing wilayah tersebut. tersebut seharusnya mampu mengupayakan perkembangan kualitas perairan dan tepian daratnya agar seimbang di kedua sisinya walau berbeda pengelola adminstrasinya, seklaigus mengendalikan perkembangan pemanfaatannya dan menjaga kelestarian lingkungan maupun perkembangan populasi spesies langka di hutan dan perairan setempat. Yang belum tampak mungkin adalah perencanaan keberadaan pusat biodiversitas spesies setempat, baik keruangan maupun dalam rencana pembangunannya. Juga perencanaan "interfacing" antara kondisi sekarang hingga tercapai kondisi "ideal" belum tersentuh. Rencana ini baik bila dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan alam, buatan dan kehidupan spesies dan masyarakat yang hidup bersamanya. Namun demikian berbagai kajian dan rencana sebelumnya tersebut menjadi kurang bermanfaat apabila pelaksanaan pembangunannya tidak lagi mengacu kepada konsep pemikiran terpadu tersebut. Apalagi bila tidak ada mekanisme dan kelompok pemroses yang mampu menyinambungkan dan meningkatkan kualitas hidup yang ingin dicapai tanpa diganggu oleh proses pilkada, kepentingan penguasa baru (apapun posisinya), ataupun perubahan nilai bersama perubahan kegiatan ekonomi yang sering lebih "mengkilap" daripada kearifan awal yang ingin diperjuangkan semula. Sungai Barito sendiri masih digunakan untuk menghubungkan antara Banjarmasin dengan Muaratewe, walau lewat air memerlukan waktu hingga dua hari dua malam, padahal lewat darat telah dapat dicapai hanya sekitar 4-5 jam. Perlu dikaji lagi bagaimana mengelola sarana transportasi yang akan dikembangkan serta konsekuensi terhadap dampak perkembangannya masing-masing moda transportasi terhadap kualitas kawasan yang dilaluinya serta keberlanjutan perkembangan yang ingin dipertahankan. Dalam hal ini jenis sarana pergerakan maupun pengelolaannya perlu sebagai pendukung pembangunan, bukan justru melahirkan masalah baru di sekitar perairan ataupun ditepi jalan baru yang melalaui berbagai fungsi kawasan. Salam, ATA 2010/8/15 Indra Budiman Syamwil <[email protected]> Pak Denny, Sayembara memang bukanlah patokan, karena kebetulan saya no 2 dengan pendekatan pengembangan sosio ekonomi dan ekologis masy sungai, sedangkan prof. dari leuven itu no 3, yang. Sungguhpun demikian sayembara adalah sebagian kecil penelitian panjang IPB dan unit penelitian mereka adalah kelompok tetangga sungai, dan house hold jadi belum pakai skala. Dan memang konsentrasi kepada inti masalah yaitu hidrologi dan perekonomian air. Salam, Indra B Syamwil > Lomba international trsebut msh belum disertai dgn peneletian yg dalam. > Peseta lbh diajak pad a aspek urban disain dn memilih mana yg akn sebagai > usulan proyeknya. Jadi ya msh bersifat utopia. Prinsip2 urban planning > apalagi transport planning and development (baca engineering) nya hampir > tdak ada. Kalau tidak salah profesor dari Belgia itu (juara 2 atau 3 ya) > membuat disainnya dengan membuat dam tanggul membelah Kota dan memotong > sungai barito, maksudnya utk mencegah banjir, Tanpa atau belum > mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, aksesibilitas, engineering, > planologis, atau bahkan lingkungan itu sendiri secara dalam (walau untuk > mncegah banjir). Tapi sebagai ide awl yg langka dan berani khususnya dalam > urban disain ya bolehlah. Sayembara ini memang diikuti oleh psesrta dari > berbagai negara jg (terutama para arsitek). Jurinyapun dari berbagai > negara, diketuai oleh arsitek dari Malasia. > Mohon maaf, saya agak sedikit tahu karena kebetulan saja sy ikut jadi > salah satu jurinya. > > Wasserstein > Rdd. > > Sorry mash gatek, ngetiknya salah melulu, Dan program iPadnya belum di set > normal.. Ngetiknya suka ngaa mau diatur japaaln sendiri..ngetiknya > sendiri... > > > Sent from my iPa > > On Aug 14, 2010, at 4:20 AM, "Indra Budiman Syamwil" > <[email protected]> wrote: > > Pak Eka dan rekan rekan, > > Dua tahun yang lalu IPB melakukan studi yang cukup mendalam tentang Kota > Banjarmasin dan membuat semacam pendekatan sedikit kombinasi bottom up > dengan menyelamatkan terlebih dahulu masyarakat yang berada di pinggir > sungai. Mereka mendatakan secara rinci kondisi sosio ekonomi, kultur, > hidrologi dan sanitasi wilayah pinggir sungai. Ada sayembara internasional > yang diikuti beberapa negara termasuk seorang Professor dari Leuven untuk > menangani kota sungai seperti Banjarmasin. > Mudah-mudahan rencana ini dilaksanakan secara bertahap mungkin dengan > cara mengkombinasikan program pemerintah dan pembangunan masyarakat > sungai dan masyarakat pengguna air di sana. Tumpukan batubara dan sawmill > di waterfront kota perlahan akan dipindah ke seberang, pelabuhan Trisakti > akan dibenahi. > Saya kok masih punya harapan kota Banjarmasin perlahan akan berhasil > membenahi kehidupan sungainya. > > Salam, > Indra B Syamwil > >> Amin ya Rob! Tapi para pakarnya masih belum selesai-selesai juga >> sekolahnya >> ... hehehe. >> >> 2010/8/13 <[email protected]> >> >>> >>> >>> Pak Haji EkaDj ysh, >>> >>> >>> Mimpi Pak Eka agar suatu saat Banjarmasin (dan saya rasa juga kota-kota >>> air >>> di Kalimantan, Sumatera dan Papua) bisa menjadi seperti kota-kota air >>> di >>> Eropa >>> >>> >>> >>> >>> --- En date de : *Ven 13.8.10, - ekadj <[email protected]>* a écrit : >>> >>> >>> De: - ekadj <[email protected]> >>> Objet: Re: [referensi] Banjarmasin >>> À: [email protected] >>> Date: Vendredi 13 août 2010, 22h13 >>> >>> >>> >>> Pak ATA dan Referensiers ysh. Terima kasih pak atas cerita >>> perjalanannya, >>> pasti menarik dan menuai banyak kisah apalagi dalam rombongan besar. >>> Studi >>> ekskursi seperti ini perlu dikembangkan ke wilayah-wilayah yang jauh >>> dan >>> asing, untuk menambah pengalaman dan pengetahuan praktis. >>> Dari kisah bapak saya jadi bernostalgia pada era pertengahan 1990an, >>> ketika >>> kehidupan sudah terasa masam, dan akhirnya membantu konsultan lokal >>> selama >>> sekitar 3 tahun. Sempat menjelajahi beberapa tempat. Begitu pun di >>> milis >>> ini >>> ada beberapa rekan yang sempat lama di sana, seperti mungkin Pak Rempu >>> di >>> Batu Licin, juga ada Dr. Hary yang bertugas di Pemkab Banjar Baru, >>> kalau >>> AndiS kolega bapak di UI kan berasal dari sana. Mudah-mudahan ada >>> tambahan >>> informasi yang kita perlukan. >>> Dulu baru dimulai era penambangan rakyat batubara, yang berbentuk >>> singkapan >>> memanjang seperti bulan sabit, sehingga mendatangkan berkah ekonomi >>> yang >>> meluas. Jadi kelebihan Kalimantan selain earthquake-proof juga >>> ketersediaan >>> energi <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7306> yang luar >>> biasa. Selain tentunya: lokasinya persis di tengah-tengah Indonesia. >>> Saya dulu menaksir suatu lokasi di >>> utara<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7287>Banjarmasin, >>> posisinya di tepi Sungai Barito. Kalau ini dikembangkan, >>> mungkin sangat mirip dengan model kota-kota Eropah, seperti >>> Rotterdam<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1637>dan >>> Antwerpen. Pelabuhan bisa masuk jauh ke dalam di sepanjang sungai, dan >>> berpotensi menjadi pelabuhan terpanjang di dunia. Sambil tentunya >>> memperhatikan kearifan >>> lokal<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3357> >>> . >>> Sementara demikian pak. Salam. >>> >>> -ekadj >>> 2010/8/13 abimanyu takdir alamsyah >>> <[email protected]<http://fr.mc768.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> >>> > >>> >>> >>> Pak Uton ysh, >>> >>> Wah, saya di tembak langsung suruh jawab...he he he >>> >>> Tapi saya coba menyampaikan realitas yang saya temui hingga saat ini: >>> Banjarmasin memang bukan daerah gempa dan juga tidak potensial menerima >>> ancaman Tsunami. Kenaikan muka air selama ini lebih karena air sungai >>> Barito >>> dan sungai Martapura pasang, akibat kiriman dari hulu sungai. Dalam >>> tiga >>> kali kunjungan selama tiga dekade tersebut, tampaknya kenaikan muka air >>> belum pernah sampai melimpah jauh ke daratan. >>> >>> Sebaliknya, Banjarmasin di masa lalu cenderung didominasi rawa-rawa. >>> Peta >>> kota Banjarmasin sekitar tiga dekade lalu (waktu mengerjakan renstra >>> pengembangan Kabupaten Banjar) masih jelas menunjukkan sifat "kota air" >>> tersebut, sehingga sebagian besar bangunan permukiman waktu itu masih >>> didominasi rumah panggung yang pada musim basah berada di atas air. >>> Oleh >>> sebab itu walau belum musim hujan namun permukaan air di saluran kota >>> tidak >>> terlalu berbeda dengan permukaan tanah setempat. >>> >>> Tanahnya relatif datar dan perlu diuji ketersediaan air bersih ataupun >>> saluran air hujan untuk suatu kota besar dan luas di masa mendatang. >>> Pada >>> umumnya dahulu sumber daya kayu untuk konstruksi cukup, namun sukar >>> memperoleh batuan, sehingga perlu mendatangkan dari luar. Pada tahap >>> awal >>> dahulu pembuatan jalan raya dilakukan dengan mengurug dengan batu kapur >>> di >>> rawa-rawa setempat. >>> >>> Permasalahan alami tersebut yang menyebabkan semula rencana ibukota >>> Kalimantan Selatan akan dipindah ke Banjarbaru yang lebih tinggi >>> permukaan >>> tanahnya di pedalaman. Namun setelah tiga dekade, tampaknya >>> Banjarmasin, >>> Banjar Baru dan Martapura cenderung akan menjadi satu kota besar, >>> dimana >>> pembangunan berbasis daratan semakin dominan. Sayangnya kota tersebut >>> kurang >>> memiliki tata ruang awal yang cukup jelas/sistematis, serta ruang >>> publik >>> yang efektif. >>> >>> Untuk skala kota sedang, Banjar telah mengembangkan pusat kota >>> (disekitar >>> mesjid lama dan kantor walikota) yang cukup unik. Kedua tepi sungai >>> Martapura di muka kantor walikota telah mulai ditata untuk rekreasi >>> warga >>> kota, promenade menghadap sungai, antar dua jembatan bersih dari >>> bangunan di >>> perairan, suatu ciri riverfront city, cukup potensial untuk acara-acara >>> perayaan berbasis perairan di pusat kota. Penduduk Banjar sendiri >>> hingga >>> kini masih termasuk warga negara yang ramah. >>> >>> Sayang ruang kota yang tersedia tidak cukup potensial untuk menjadi >>> bagian >>> utama suatu kota yang lebih besar, apalagi ibu kota negara. Mungkin >>> Bajarmasin masih lebih cocok bila dikembangkan sebagai kota wisata, >>> dengan >>> obyek kehidupan perairan, disamping kerajinan intannya dan akses ke >>> kehidupan etnik Dayak di pedalaman. >>> >>> Secara fisik, kalau mau dijadikan ibu kota, mungkin perlu penataan >>> khusus >>> di dataran yang masih terbuka dan lebih tinggi, diantara Banjarmasin, >>> BanjarBaru, Martapura, atau hingga Pleihari...ke arah pusat rekreasi di >>> pantai Timur Kalimantan Selatan ?. Jadi ..secara horisontal (permukaan >>> lahan >>> yang ta

