Dari kamar sebelah. Agak terkait dengan posting saya soal 'Bahaya sebuah 
paradigma bagi Papua' sebelum ini. Mohon maaf jika terjadi penerimaan ganda.

salam,
ryz

----- Original Message ----- 
From: [email protected] 
To: [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] 
Sent: Wednesday, August 18, 2010 3:46 AM
Subject: [AMAN] Siaran Pers: Kematian wartawan membayangi peluncuran proyek 
pangan Papua


  
Siaran Pers
Kematian wartawan membayangi peluncuran proyek pangan Papua
11 Agustus 2010 - Tewasnya seorang wartawan setempat menambah kekuatiran
terkait dengan proyek raksasa perkebunan tanaman pangan yang diresmikan
hari ini di Merauke oleh Menteri Pertanian Indonesia.

Tapol dan Down To Earth, - kampanye internasional untuk lingkungan hidup
yang berkeadilan di Indonesia - , menyerukan agar dilakukan moratorium
terhadap proyek pangan yang bertajuk MIFEE (Merauke Integrated Food and
Energy Estate) ini hingga proses penilaian mandiri akan dampak proyek
terhadap faktor politik, ekonomi, sosial budaya dan gender telah tuntas
dilakukan.

Kematian wartawan Ardiansyah Matra'is yang mencurigakan pada akhir bulan
Juli lalu, yang sebelumnya telah menerima sejumlah ancaman, terkait dengan
liputan yang dibuatnya tentang pemilihan kepala daerah (bupati) Merauke
yang berlangsung awal Agustus ini.

Selain Ardiansyah, sejumlah wartawan setempat lainnya juga menerima
ancaman sejenis yang tampaknya merupakan upaya sistematis untuk membungkam
kebebasan berpendapat menjelang pemilukada. Johannes Gluba-Gebze, bupati
yang sedang menjabat, berperan besar dalam perencanaan dan promosi proyek
pangan tersebut.

"Dampak buruk yang mungkin dari MIFEE bagi masyarakat setempat adalah
besar sekali sehingga proyek ini perlu dilakukan secara transparan
sepenuhnya dan bertanggung-gugat (akuntabel). Perlu ada media yang bebas
bersuara untuk memastikan pengawasan yang demokratis atas proyek ini,"
kata TAPOL dan Down To Earth yang terus memantau proyek tersebut.

"Ambisi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk 'memberi makan rakyat
Indonesia setelah itu dunia' bisa jadi mengorbankan banyak rakyat Papua.
Hal ini dapat menambah frustrasi yang meluas akibat kurangnya otonomi
politik, sosial dan ekonomi di Papua," tambah kedua organisasi tersebut.

Proyek ini kemungkinan akan mendorong peminggiran masyarakat adat Papua
dengan mengambil tanah dan sumber daya yang mereka miliki dan merupakan
sumber penghidupan mereka. Selain itu mungkin juga akan memperburuk
masalah HAM yang ada selama ini dan mempercepat perusakan lingkungan dan
penggundulan hutan.

TAPOL dan Down To Earth mengingatkan, "Penambahan pasukan keamanan yang
kemungkinan akan terkait dengan pelaksanaan MIFEE juga akan meningkatkan
ketegangan dan kerentanan masyarakat Papua, terutama karena Kopassus yang
dikenal kejam juga beroperasi di kawasan tersebut."

Latar belakang dan masalah. MIFEE adalah sebuah gabungan perkebunan
komersial yang direncanakan akan mencakup wilayah seluas 1,6 juta hektare.
Proyek ini dipromosikan sebagai cara untuk menstabilkan ketahanan pangan
Indonesia. MIFEE mendapat dukungan pemerintah Indonesia dan Merauke telah
ditetapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus untuk menarik investasi sebesar
US$8,6 milyar yang dibutuhkan proyek tersebut. Tigapuluh lebih investor
dari Indonesia, Jepang, Cina, Singapura, Korea and Timur Tengah telah
menyatakan minat untuk berinvestasi di MIFEE(1). Keterlibatan mereka
tampaknya merupakan bagian dari suatu kecenderungan global untuk mencari
keuntungan dengan cara membeli tanah di luar negeri bagi produksi pangan.

Puluhan ribu pekerja pendatang, sebagian besar dari luar Papua,
diperkirakan akan datang dan menetap di Merauke dan sekitarnya. Masyarakat
adat Papua sudah pernah merasakan dampak program transmigrasi, yang
pertama kali diterapkan pada masa penjajahan Belanda lalu dilanjutkan oleh
rezim Suharto. Pertumbuhan penduduk, perubahan demografi penduduk dan
hilangnya tanah dan sumberdaya alam akibat MIFEE dapat menimbulkan dampak
merusak yang tidak dapat diperbaiki lagi terhadap penghidupan masyarakat
setempat, terutama masyarakat adat Papua.

Gelombang besar pendatang dari luar dapat membebani fasilitas layanan umum
Merauke yang terbatas dan akan semakin meminggirkan masyarakat adat yang
sudah menjadi minoritas di tanah sendiri. Komersialisasi tanah dan
pengambilalihan tanah adat akan mengganggu penghidupan rakyat Papua dan
menghambat proses alih pengetahuan, budaya dan bahasa dari satu generasi
ke generasi berikutnya.

Kearifan setempat yang masih berlangsung berupa pengetahuan akan
batas-batas adat, hak atas tanah, tata guna lahan, aturan-aturan adat dan
berbagai macam tabu semuanya tergantung pada adanya akses ke tanah dan
penghormatan terhadap hak-hak adat atas tanah. Jika MIFEE terus
dilanjutkan, masyarakat adat akan berhadapan dengan batas-batas baru dan
tanaman pangan yang bukan tradisional seperti kelapa sawit, padi, tebu,
jagung dan kacang kedelai.

Sejumlah LSM seperti SKP-KAM, FokerLSM, SORPATOM dan juga AMAN telah
mengungkapkan penolakan keras mereka terhadap MIFEE (2). Akan tetapi,
kematian Ardiansyah Matra'is dan rangkaian teror yang dilancarkan kepada
sejumlah wartawan setempat telah menutup ruang untuk menyampaikan kritik.
Kelompok-kelompok tersebut menyampaikan keprihatinan mereka terhadap
pengawasan dan intimidasi yang ditujukan kepada LSM dan para wartawan.
Pada tahun 2009 LSM lingkungan Telapak dan LSM Inggris EIA (Environmental
Investigation Agency) menyatakan bahwa 'ada segerombolan orang pendukung
[Johannes Gluba] Gebze beroperasi di Merauke' dan mereka 'bekerjasama
dengan aparat keamanan untuk mengawasi dan mengintimidasi mereka yang
bersikap kritis di wilayah tersebut.'

Strategi pengamanan bagi MIFEE tidak jelas, begitu juga apa akibat
langsung dan tidak langsung strategi tersebut bagi masyarakat setempat
tidaklah jelas. Merauke berada di dekat perbatasan Indonesia dan Papua New
Guinea (PNG) dan sejak lama sudah merupakan daerah yang dijaga militer
secara ketat. Laporan Human Rights Watch tahun 2009 memaparkan berbagai
kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh Kopassus, yang memiliki hubungan
dekat dengan Gebze.

Di bagian lain Papua yang mengalami eksploitasi sumberdaya alam, aparat
keamanan negara biasa dipekerjakan untuk melindungi aset-aset komersial.
Bahkan di daerah-daerah tersebut semakin meruyak industri seks komersial
dan alkohol, yang dijalankan oleh pendatang atau oleh polisi dan oknum
militer sendiri. Dampak yang mungkin terhadap kesehatan penduduk juga
sudah dipaparkan oleh FokerLSM, yang melaporkan bahwa Merauke merupakan
daerah dengan angka kasus HIV/AIDS tertinggi setelah Mimika, tempat
Freeport beroperasi.

Besarnya skala MIFEE menimbulkan keprihatinan besar terhadap kondisi
lingkungan dan ekologi. Pengalihan fungsi hutan yang dilindungi menjadi
kawasan pertanian juga mungkin terjadi, walaupun Menteri Kehutanan dan
Menteri Koordinator Perekonomian menyatakan tidak akan terjadi konversi.
Deforestasi dengan ijin di Merauke yang meluas akan bertentangan dengan
komitmen pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca hingga
26% pada tahun 2020. Kenyataan ini juga mengundang pertanyaan akan
kesepakatan REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest
Degradation) bernilai milyaran dolar dengan pemerintah Norwegia yang
bertujuan untuk melindungi hutan hujan Indonesia, terutama di Papua.

SELESAI

Hubungi: Paul Barber (TAPOL) di +44 1420 80153 atau +44 7747 301 739 atau
Carolyn Marr (DTE) di +44 16977 46266

Siaran Pers asli dalam bahasa Inggris. Diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia oleh Down To Earth.



Kirim email ke