Milisters ysh,
Walau jarang disentuh oleh banyak milisters …dan daripada tidak samasekali (krn 
sepertinya banyak yg lbh asyik ngerumpiin masalah2 lain non-keruangan/ termasuk 
saya juga disitu :-))……..)
 ….namun sungguh asyik membayangkan mimpi pengembangan kota2 menengah di 
Indonesia kala ada satu dua yg mengemukakannya..…..  
Ya walaupun mimpi  pengembangannya itu tak semata murni krn telah secara umum 
muncul greget pd masyarakat planners indonesia utk selalu ingin mengembangkan 
sistem kota2 utama  agar secara umum dpt menjadi lbh dinamis …dan kali ini 
kebetulan dikaitkan dgn pertanyaan ttg kemungkinan jadi lokasi baru ibukota 
negeri  ………namun setidaknya ini sdh menjadi bagian utama dari upaya  
terusmenerus menegakkan issue keruangan yg menjadi ciri khas pembahasan dimilis 
ini………
Memindahkan ibukota negeri kelokasi amat dekat dari ibukota lama (spt dari Jkt 
ke Jonggol) akan segera mengingatkan kita pada kasus Putrajaya, Malaysia ……dan 
sebaliknya memindahkan ibukota negeri nun jauh ketengah hutan amat menjauh dari 
ibukota lama (tapi tak dirawa2 tepi sungai) …..segera membawa ingatan kita pd 
pengalaman Brazil dalam memindahkan ibukotanya ke Brasilia ………dimana keduanya 
bolehlah dikata sbg berhasil….…
Sebenarnya akan sangat baik kalau kita selalu dgn amat sering mewacanakan  
teknik pengembangan kota-kota menengah dan kota besar diluar Jawa agar  dpt 
menjadi kota2 yg secara eksosbudlinghankamkum mampu meningkatkan kesejahteraan  
eksosbud komunitas, bangsa dan negara ……… tapi memang situasinya spt menjadi 
aneh ketika kita akan coba dengan wacana2 demikian….…..
Setidaknya akan ada yg mengejek itu mimpi dan utopia …..ada juga malahan 
seorang guru besar dari kiblat pengajaran planologi yg  sekitar 1 atau 2 dekade 
lalu  saya dapatkan dulu (di Kompas) berpandangan bahwa perkembangan kota 
metropolitan Jakarta amat merisaukan …..yg itu bisa saja diartikan secara 
mendua oleh para mahasiswanya  dan masyarakat luas….spt bahwa pertama 
pengembangan kota metropolitan itu tdk merisaukan …..namun perkembangan Jkt sbg 
kota primat tanpa tandinganlah yg merisaukan ……atau bisa juga diartikan bhw Jkt 
atau bukan …pokoknya asalkan yg namanya kota metropolitan itu arah 
perkembangannya merisaukan ………
Tak kurang  masih pada sekitar dekade yg sama dgn itu …seorang (kini) guru 
besar sosiologi (masih dari lingkungannya prof ATA juga)  malah mengatakan bhw 
yg namanya kota metropolitan itu adlh ‘kota yg kecelakaan’ ……seakan ia mau 
mengatakan bhw kota yg gak celaka itu ya adalah kota2 kecil dan menengah ……nah 
pandangan2 demikian inilah yg bisa dikata repot utk bangsa dan negara  juga 
mahasiswa jadi berpandangan bias……..terutama dikaitkan dgn upaya 
mensejahterakan eksosbud bangsa dan negara namun  dgn cara ingin menghindari 
pengembangan kota2 besar dan metropolitan……..



      

Kirim email ke