Kerabats yb., Terkait dengan pertanyaan Pak ATA soal pemaknaan kita dalam diskusi dentang paradigma, fenomena, dsb., berikut saya seberangkan sebuah diskusi tentang paradigama di milis tetangga. Mudah-mudahan berkenan.
Bagi yang berminat dengan makalah Prof. Heddy dimaksud, sila hubungi saya via japri. Salam, ryz ----- Original Message ----- From: ahimsa putra To: [email protected] Sent: Friday, August 27, 2010 5:14 PM Subject: Re: Bls: [IKA-UI] Soal Paradigma & Ethnoscience [1 Attachment] [Attachment(s) from ahimsa putra included below] Terimakasih mas Aryo... Kerabat-kerabat tercinta, karena ada permintaan mas Aryo (yang menurut saya permintaan yang bermanfaat..) maka berikut saya lampirkan makalah ceramah saya tentang paradigma di Kedubes Cairo tahun lalu. Siapa saja boleh mengutip apa yang ada di situ, tapi harus dengan menyebutkan sumbernya, yaitu makalah saya tersebut. Pesan ini saya sampaikan, karena sekarang banyak sekali terjadi plagiat....mudah-mudahan tidak ada yang mencuri ide yang ada dalam makalah saya ini. Silahkan membacanya dengan kritis...tetapi dengan sikap yang jujur...artinya, kalau sepakat dan menganggap pendapat saya baik atau bagus..ya dinyatakan secara eksplisit, seperti juga halnya ketika tidak sepakat dan menganggap pendapat saya tidak tepat... Perlu juga saya sampaikan, bahwa makalah ini sekarang sedang saya kembangkan menjadi sebuah buku. Mudah-mudahan tahun ini bisa selesai. Sekarang sudah 80%... Nah, sebagai pengantar juga..berikut adalah sekelumit kisah di balik pemikiran saya tentang paradigma. Terus-terang saya sepakat dengan pandangan Kuhn tentang revolusi ilmu sebagai pergantian paradigma, sayangnya konsepsi Kuhn tentang paradigma belum matang sekali. Kritik dari Masterman terhadap pandangan Kuhn tentang paradigma cukup telak, tetapi ada juga melesetnya. Banyak ilmuwan Barat berbicara tentang paradigma, tetapi sangat sedikit (setahu saya tidak lebih dari 10 orang), yang berbicara tentang unsur paradigma. itupun tidak sangat mendalam. akibatnya, paradigma sebagai sebuah kerangka berfikir tidak dapat betul-betul dipahami. banyak orang menggunakan istilah paradigma, tetapi dengan isi kepala yang berbeda-beda. Selain itu, Kuhn lebih banyak berbicara mengenai paradigma dalam ilmu alam, karena ilmu-ilmu sosial-budaya dipandangnya belum sampai pada tataran paradigma (dalam hal ini Kuhn jelas keliru, karena dia tidak banyak tahu tentang ilmu sosial-budaya). Nah, saya mencoba membangun sebuah gambaran tentang paradigma yang ada dalam antropologi (atau bisa juga ilmu sosial-budaya pada umumnya) yang terdiri dari sejumlah unsur. Ada sembilan unsur di situ (ketika saya pertama kali merumuskan ini, saya mulai dengan 6 unsur, kemudian menjadi 7, dan akhirnya menjadi 9). Jadi sembilan unsur ini merupakan hasil perenungan saya mengenai paradigma selama kira-kira sepuluh tahun lebih...saya memulainya di tahun 1997. Ketika saya merasa sudah mantap dengan 9 unsur ini, saya lontarkan kerangka paradigma yang saya buat ini pertama kali dalam pidato pengukuhan saya sebagai gurubesar antropologi di hadapan Majelis Guru Besar UGM. Judul pidato saya adalah "Paradigma dan Revolusi Ilmu dalam Antropologi Budaya: Sketsa Beberapa Episode" Itulah paparan sedikit mengenai latarbelakang pengembangan konsepsi paradigma yang saya lakukan. mudah-mudahan bermanfaat, dan dapat menambah pemahaman tentang sejarah dari konsepsi saya mengenai paradigma... kalau ada yang salah dengan attachmentnya, harap saya diberitahu...saya gap tek dalam soal posting-postingan tulisan begini.. salam antrop h.s.ahimsa-putra ----- Original Message ----- From: bambang widianto To: Alumni AntropologiUI Sent: Friday, August 27, 2010 11:35 AM Subject: RE: [IKA-UI] Soal Paradigma & Ethnoscience Saya tertarik dengan gagasan "bagi-bagi"-nya mas Laksono. Secara praktisnya saya lihat saat ini pemikiran pembangunan di Indonesia masih tidak lepas dari keyakinan di jaman orba yang membenarkan suatu pola perencanaan yang "bagi-bagi" atau alokatif. JIka dilihat, perencanaan adalah penyusunan sejumlah keputusan yang akan dilaksanakan dimasa depan terhadap suatu obyek. Sasaran dibagi bagi dan hak-tanggungjawab juga dibagibagi, dan seterusnya dibag-bagi dan disini ada kemungkinan menjadi diskriminatif. John Friedmann (1987) menyebutkan mengenai tipologi perencanaan pada yang alokatif, inovatif, prktek perencanaan radikal kemudian praktek revolusioner. Perencanaan sering dibuat dengan agenda yang menyejahterakan, tetapi juga hidden agenda. Jadi ini dibagi untuk siapa? Jika suatu kawasan seperti Papua menjadi obyek perencanaan, maka perlu dilihat ada apa dibalik itu. Secara khas lahan papua tidak cocok dibuat untuk persawahan berdasarkan pernyataan orang-orang geografi. Dulu di jaman orde baru ada rencana pembangunan pabrik kertas di daerah Merauke dengan membuka hutan bakau yang pernah disebut sebagai daerah pesisir terbesar di Asia tenggara. Rencana tersebut dibatalkan. Pertanyaan kedepan maukah kita mencari alternatif lain di luar beras sebagai sumber pangan? Ada dokter dari wilayah makmur bersedia ke tengah hutan seperti Albert Schweitzer di Afrika atau Che Guevara di Amerika Latin, mungkinkah ada antropolog Indonesia yang bergerak di praktek radikal dan revolusioner? Atau maukah asosiasi antrop Indonesia mengajukan usulan untuk menteri perencanaan. Bappenas mengumumkan rencana pembangunan tahunan melalui websitenya, penyusunan rencana tahun ini sudah dilakukan Bidakara Pancoran, tahun lalu di Kemayoran. Entah tahun depan. Heheh keliatannya dibutuhkan pemikiran dari temen temen antrop yang lain, mari kita buat masukan revolusioner atau kita buat revolusi seperti Yomo Kenyata? Salam Bambang Widianto -------------------------------------------------------------------------------- To: [email protected] From: [email protected] Date: Fri, 27 Aug 2010 06:07:41 +0700 Subject: Re: [IKA-UI] Soal Paradigma & Ethnoscience > Kata lain dari paradigma adalah model atau metafor atau kiasan. Paradigma ilmiah ya tentunya model yang mengkaitkan cabang ilmu (berpikir) tertentu pada kebenaran yang dicarinya. Nah kalau model paradigma pembangunan ya kira-kira berisi kiasan bagaimana bagi-bagi anggaran terkait dengan ideologi kemajuan yang dikhayalkan...termasuk untuk kantong pejabat pengambil keputusan (karena muatan politik dalam paradigma pembangunan). Jadi pretensi paradigma pembangunan bukan terarah pada pencarian kebenaran (baik obyektif maupun subyektif) tetapi pada terpenuhinya kepentingan-kepentingan (politik). Salam, PM Laksono well..mas, saya jangan dianggap membimbing yaa...ini berbagi pendapat di > antara > kerabat....ini share pendapat ajaa...siapapun boleh tidak > setuju...siapapun > boleh juga setuju... > > secara sederhana paradigma science dapat dikatakan sebagai kerangka > berfikir > yang digunakan untuk memahami suatu gejala secara "ilmiah" dan kemudian > membangun wacana "ilmiah" tentang gejala tersebut, dan ini tidak selalu > ada > hubungannya dengan pembangunan. contohnya adalah paradigma evolusi > kebudayaan di > awal kemunculannya. E.B.Tylor, ahli antropologi pertama di dunia, tidak > berpretensi untuk membangun masyarakat ketika dia berbicara tentang > evolusi > kebudayaan atau peradaban. Bagi dia persoalan utama adalah bagaimana > memahami > fenomena sosial-budaya yang dilihatnya, dan kemudian dapat "menjelaskan" > fenomena tersebut. > begitu pula dengan B.Malinowski ketika meneliti orang Trobriand di kawasan > pasifik. belum pernah saya mendengar bahwa Malinowski melakukan > penelitian > dengan menggunakan paradigma fungsionalisme tersebut adalah dalam rangka > membangun masyarakat Trobriand agar kemudian dapat hidup seperti orang > Inggris > di kota London. > Levi-Strauss sami mawon (sama aja..). ketika dia keluyuran di belantara > Amazone > di Amerika Selatan untuk meneliti sejumlah suku-sukubangsa Indian di situ, > dan > setelah itu dia dengan gigih dan tekun mengembangkan antropologi > struktural, > setahu saya dia tidak bermaksud sama sekali untuk membangun > suku-sukubangsa > Indian yang nasibnya begitu menyedihkan agar dapat menjadi sebuah > masyarakat > yang hidup "beradab" seperti orang Prancis di kota Paris ataupun > orang-orang > Brazil di Rio de Janeiro > paradigma evolusi kebudayaan, paradigma fungsionalisme,dan paradigma > strukturalisme di situ merupakan paradigma science, paradigma ilmu > pengetahuan, > terutama ilmu sosial-budaya, khususnya antropologi budaya. > paradigma-paradigma > tersebut -dalam konteks penelitian itu-, bukan merupakan paradigma > pembangunan. > lantas apa itu paradigma pembangunan? paradigma pembangunan adalah > kerangka > berfikir yang digunakan untuk "membangun" (yang berarti juga > mengubah) suatu > kondisi tertentu menjadi kondisi yang lain, yang dianggap atau diyakini > lebih > baik daripada kondisi sebelumnya. paradigma ini, bisa saja "ilmiah" bisa > juga > tidak, tergantung pada siapa yang membangun. di masa kini, karena orang > yakin > akan "kehebatan" ilmu pengetahuan (karena telah dapat menjawab begitu > banyak > pertanyaan dan menyelesaikan banyak persoalan) maka untuk "membangun" > tersebut > diperlukan bantuan ilmu pengetahuan. di sinilah paradigma ilmu pengetahuan > (paradigma science) menjadi bagian dari paradigma pembangunan. sebagai > contoh, > untuk membangun masyarakat (dalam arti meningkatkan kualitas kehidupannya) > perlu > diadakan program keluarga berencana. ini adalah sebuah paradigma > pembangunan, tetapi bukan satu-satunya, karena masih ada paradigma > pembangunan > yang lain. misalnya, paradigma pembangunan pertanian, yang menekankan pada > pembangunan pertanian, bukan keluarga. jadi, ada banyak paradigma > pembangunan. > selanjutnya, program keluarga berencana dikatakan harus dapat berhasil > dengan > baik, agar masyarakat betul-betul dapat meningkat kualitas kehidupannya. > untuk > itu perlu ada pemahaman yang tepat tentang masyarakat dan budayanya. di > sinilah > diperlukan paradigma science, khususnya social science, untuk membantu > keberhasilan program keluarga berencana. di sini paradigma ilmu > pengetahuan (yang akan digunakan untuk mendukung program > KB) lantas menjadi > bagian dari paradigma pembangunan. meskipun demikian, harus selalu > diingat bahwa > paradigma science tidak selalu menjadi atau merupakan bagian dari sebuah > paradigma pembangunan. paradigma science tetap berbeda dengan paradigma > pembangunan... > > proyek MIFEE di merauke adalah sebuah proyek pembangunan, yang tentu > menggunakan > suatu kerangka berfikir tertentu, suatu paradigma tertentu. di dalamnya > tentu > ada paradigma sciencenya (tetapi maaf, saya tidak tahu apa paradigma > science > yang digunakan di situ, karena saya tidak terlibat dan bukan pencetus > proyek > MIFEE).... > > begitu mas jibriel...bedanya paradigma science dan paradigma > pembangunan...mudah-mudahan bermanfaat dan dapat dipahami dengan mudah.. > > salam antrop, > h.s.ahimsa-putra > > > > ________________________________ > From: jibriel jibriel <[email protected]> > To: [email protected] > Sent: Thu, August 26, 2010 12:04:12 AM > Subject: Re: [IKA-UI] Soal Paradigma & Ethnoscience > >  > Kerabat Bapak Ahimsa, kerabat mas Aryo dan kerabat kerabat senior > sekalian, >  Mohon maaf sebelumnya.... sebelum kita melangkah lebih jauh terhadap > usulan > dari kerabat mas aryo..kebetulan saya masih mengalami kebingungan karena > dalam > beberapa pembahasan sebelumnya antara paradigma science dan paradigma > pembangunan seakan tercampur sehingga saya bingung batas batasnya, apakah > memang > demikian?. . kiranya permohonan ini tiada lain agar saya dapat memahami > dengan > seksama diskusi selanjutnya........ > > Demikian mohon kiranya bimbingannya..... > > > --- On Wed, 8/25/10, ARYO DANUSIRI <[email protected]> wrote: > > >>From: ARYO DANUSIRI <[email protected]> >>Subject: [IKA-UI] Soal Paradigma & Ethnoscience >>To: [email protected] >>Date: Wednesday, August 25, 2010, 8:31 AM >> >> >> >>Mas Heddy yang baik, >>saya tertarik sekali untuk mengundang anda membahas secara lebih "serius" >> di >>milis ini pandangan2 anda mengenai dua keywords penting: paradigma dan >>ethnoscience. Dari berbagai statements yang anda sampaikan seputar >> keywords ini, >>saya kira penting sekali untuk kita mengeksplorasi sejarah dan >> perkembangan >>anthropology di Indonesia dan juga persoalan "pembangunan". Saya coba >> google >>beberapa karya Mas Heddy, dan saya termukan beberapa articles yang >> berkaitan >>dengan keywords ini. Sebaiknya kita mulai diskusi lewat artikel yang >> mana? Atau >>mungkin Mas Heddy punya artikel yang lebih baru? Saya mengusulkan proses >> yang >>simple: Mas Heddy memposting artikel yang bagus soal paradigma dan >> ethnoscience >>dan mungkin memberikan pengantar berkaitan dengan artikel itu. Setelah >> itu >>langsung bisa dimulai "majelis rouhah"-nya (istilah dari tradisi ba'alawi >> untuk >>kegiatan kajian kitab yang rileks pada sore hari). >> >>Semoga Mas Heddy berkenan, >> >>Salam, >>Aryo >> > > > > > Attend World Conference on Science, Education and Culture: Local Wisdom Inspiring Global Solutions. For more information, visit http://wisdom.ugm.ac.id/

