Dear Sahabats, Ketika saya renungkan diskusi dengan tema pemindahan ibukota, saya merasa kita sudah melihat Jakarta saat ini sebagai monumen masalalu. Pergantian rezim selalu ada kecenderungan ingin membangun monumen untuk dirinya sendiri, termasuk merusak monumen rezim sebelumnya. Apakah ada yang salah dalam jiwa kita sebagai bangsa ??? Kotagede menjadi kota suci bagi kraton Solo dan Yogyakarta karena ada tali jiwa dalam silsilah kerajaan masa lalu, maka Kotagede masih menyimpan spirit masa lalu bagi kedua kerajaan itu, meskipun bukan ibukota lagi. Jakarta kini sudah menjadi masa lalu, ketika kita diskusikan, dan ibukota di masa depan juga belum jelas !!!
Kadang aku merenungkan diskusi kita yang antusias itu. Pertanyaanku: apakah perilaku ini bukan sebuah langkah aneh, seperti digambarkan dalam lagu Jawa: e dayohe teka e, e gelar na klasa e, e klasane bedah e, e tambalen jadah e, e jadahe mambu e, e pakakno asu e, e asune turu e, e buwangen kali e, e e e e bubar wae e e e Lagu itu mengandung pesan dan mengingatkan, kita sudah "menyerah" mengatasi problema yang dihadapi karena tidak fokus menghadapinya. Ketika ada tamu datang, konsentrasi kita ke tikar, dan seterusnya berpindah-pindah, sehingga dayohe atau tamunya tetap ada di depan pintu, tidak pernah kita minta dia masuk ke rumah.... Salam, Djarot Purbadi (Neon Kaenbaun) --- On Sun, 9/5/10, - ekadj <[email protected]> wrote: From: - ekadj <[email protected]> Subject: [referensi] simbol ibukota negara To: [email protected] Date: Sunday, September 5, 2010, 12:55 AM Referensiers ysh, sungguh menarik topik (baru) ini. Pertanyaan Bu Nita sungguh sangat mendasar: bagaimana nasib 'simbol-simbol' ibukota negara itu? Saya tertarik untuk mengulas sedikit, selain pernah mendapat clue dari Pak Wawo. Formasi dua istana yang saat ini berhadapan dapatkah kira-kira dijelaskan, termasuk sebenarnya mencerminkan sistem kenegaraan yang kita anut? Bukankah seharusnya Wapres berdampingan dengan Pres? Formasi yang ada sekarang ini sepertinya hanya cocok untuk era Orde Lama, ketika Boeng Hatta masih menjadi Wapres. Coba kita pelajari sedikit konsep Putrajaya. Istana PM terletak di ujung koridor pada tanah tinggi, sementara di ujung koridor yang satunya adalah Convention Center, yang cukup melambangkan obsesi Malaysia untuk menjadi salah satu pusat dunia. Kedua titik pembentuk koridor ini masing-masing memiliki pemandangan yang sangat luas dan bagus. Saya kira dua titik ini yang menjadi simbol dominan Puterajaya. Mudah-mudahan Pak Koes mau mengulas lebih lanjut. Kembali ke sekitar Lapangan Merdeka, 'tanda' apa kira-kira yang bisa menginspirasi Indonesia Jaya? Untuk pertahanan dan pengamanan internal (+garnizun), untuk asumsi 100 ribu warga, diperlukan sekitar 5 pasukan segelar sepapan (divisi), jadi Cilangkap belum perlu pindah, dan kita masih madani. Kondisi sekarang: 60-70%(?) kekuatan TNI numpuk di Jakarta dsk. Senang bila Prof Deden sudah mulai mengumpulkan bahan-bahan terkait, mudah-mudahan bisa berkolaborasi dengan Pak Wilmar dkk. Sementara demikian dulu. Salam. -ekadj 2010/9/4 nita <[email protected]> Numpang nimbrung, Kalau ibukota neg dipindahkan, 2 istana di jl merdeka bagusnya dijadikan apa ya??? Ibukota neg pindah, haruskan mabes tni ikut pindah?? Salam, Nita

