Untuk Harya, aksi kekerasan cukup meningkat sejak tragedi 1998. Pada tahun 2001 ada 1 orang yang meninggal karena tawuran. Tahun 2002 tawuran sudah menggunakan bom molotov. Demikian seterusnya sampai sekitar 2006. Sejak saat itu sampai sekarang isu tawuran sudah beralih menjadi perkelahian, terutama karena masalah pribadi, jadi bukan masalah kelompok.
Untuk Pak BTS, untuk ITB mahasiswanya sudah jinak sejak 1990-an. Selain itu pembangunan di lapangan bola dan relokasi ke Babakan Siliwangi terbukti sangat efektif mencegah tawuran. Mungkin tinggal lapangan basket yang bisa menjadi media untuk itu. Pada 12 April 1989 saya bisa kumpulkan 5.000 orang dalam 1 jam di situ. Kiat ITB bisa tanya ke Pak Boy, atau perlu penelitian khusus tentang itu. Untuk kampus UI dan UGM, disain kampus yang leluasa dan banyak ruang publik, sepertinya juga mencegah tawuran. Untuk IPB kurang tahu, mungkin terbantu karena sering hujan, makanya adem-adem saja. Hehehe. Sesuai hasil penelitian: penataan ruang mempengaruhi pola interaksi. Kalau ini berlaku umum, bisa menjadi grand theory, hehehe, apalagi bila digunakan untuk pemindahan ibukota. Sebentar saya kirim penelitiannya via japri. Salam. -ekadj 2010/9/6 Bambang Tata Samiadji <[email protected]> > > > Pak Eka,perlu juga diteliti penataan ruang kampus ITB, UI, IPB, > UGM,...koq nggak pernah tawuran? Bandingkan dengan kampus di Grogol,... > apakah betul ada korelasi? > > Thanks. CU. BTS. > > --- Pada *Ming, 5/9/10, - ekadj <[email protected]>* menulis: > > > Dari: - ekadj <[email protected]> > > Judul: Re: [referensi] simbol ibukota negara > Kepada: [email protected] > Tanggal: Minggu, 5 September, 2010, 5:06 PM > > > > Referensiers ysh. Belum lama ini saya sempat melakukan penelitian kecil > mengenai pola interaksi mahasiswa di sebuah PTS bilangan Grogol. Ada tradisi > mahasiswa tahunan yaitu tawuran, namun sejak 3 tahun terakhir ini tradisi > itu menghilang. > Saya mengamati adanya pengaruh pembangunan gedung baru dan penataan kawasan > kampus, yang mempengaruhi pola interaksi mahasiswa ini, sehingga friksi > antar mahasiswa menjadi tereduksi. Satu kesimpulan yang saya hasilkan: > penataan ruang yang tepat mampu mempengaruhi pola interaksi manusia di > dalamnya. > Bagi yang berminat dengan artikel penelitian ini, dapat menghubungi saya > via japri. > Salam. > > -ekadj > > 2010/9/5 Djarot Purbadi > <[email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > > > Dear Sahabats, > > Menurut saya, Jakarta kita masalalukan dalam pikiran sebenarnya menunjukkan > bahwa segala sesuatu masih berpusat di Jakarta atau Jawa, maka ini juga > mengindikasikan pembangunan kita masih saja terpusat di Jakarta dan Jawa. > Indikasi lain, nyuwun sewu dan nyuwun duka sebab harus jujur, jika persoalan > mudik masih menjadi masalah nasional juga menunjukkan kesejahteraan yang > adil belum merata di negeri kita. Orang boleh bangga tentang fenomena mudik > ini, tetapi pada sisi lain (yang perlu kita lihat secara kritis dan jernih) > ada model matematis yang menunjukkan ketimpangan struktural pusat-daerah > yang tidak pernah ditangani secara mendasar !!! Jadi, kita masih jalan di > tempat. Idealnya, orang tidak perlu mudik massal karena mudah mendapatkan > pekerjaan di dekat rumahnya. Ini bisa karena faktanya magnit Jakarta begitu > kuat, juga karena persepsi orang jika ke Jakarta adalah hebat. > > Teman saya Agusmie orang Wonosari, tinggal di dekat perumahan-perumahan > Jogja dan merasa cukup karena ya memang hanya bisa bakul mie, maka dia > memutuskan tidak pelu migrasi ke Jakarta (bisa dibaca di > http://eloknogotirto.wordpress.com). Ada mindset dari generasi ke generasi > yang mengagungkan Jakarta, sehingga sebelum lulus studi pun Jakarta sudah > ada dalam benaknya, Kenapa tidak punya angan-angan bekerja di Jayapura, > Merauke, Manokwari, Manado, Pontianak atau tempat lain yang jauh karena di > sana juga masih Indonesia ? ya karena di sana-sana tidak ada daya tariknya, > mau cari penyakit (malaria) atau setor nyawa karena tidak aman !!! > > Maaf ini pendapat saya, orang yang lahir di Jogja, sekolah di Jogja, > bekerja di Jogja, jadi ya sempit pandangannya... meskipun saya pernah > tinggal di Biak selama 2 tahun dan riset di Timor sekitar 6 minggu tidak > urut waktunya.... > > > Salam, > > Djarot Purbadi > (Neon Kaenbaun) > > --- On *Sun, 9/5/10, > [email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > <[email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > >* wrote: > > > From: > [email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>< > [email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>> > > > Subject: Re: [referensi] simbol ibukota negara > To: > [email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > Date: Sunday, September 5, 2010, 11:37 AM > > > > Bagus juga Mas Djarot. Saya mau jadi 'dayohnya...' > Kalau niatnya mau buat kerajaan baru..tentu alasan dan ratusan rujukan bisa > dibuat, disarankan, disuarakan dan diilmiahkan. Yang belum jelas nasib > Jakarta kemudian (macet panas rusuh rungsep dll), dan takdir kota baru yg > mau dicipta. Apa nantinya akan menjiplak Jakarta, apa warnanya baru semangat > lama, apa beda banget. Jangan2 'Beti' wong yg mau mengisi tdk berubah. > Lha Jakarta, warganya boleh menuntut donk, agar perhatian kepada kotanya > tdk berkurang...yg invest tidak panik, yg mau invest tdk belok, yg sdh lama > jd penghuni tdk jd minggir,..perlu kejelasan agak segera tentang > baik-benar-syahnya nasib IBUkota lama atau stop...dayohnya sgera masuk kalau > perlu ikut bereskan kloso yg bedah dll... > Barang kali pengelolaan Jakarta sdh mulai uzur beraroma museum dan ternyata > perlu diswastakan supaya segera mencicil keluhannya...bolehkah? Salam. > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > ------------------------------ > *From: *Djarot Purbadi > <[email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>> > > *Sender: > *[email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > *Date: *Sun, 5 Sep 2010 10:28:16 +0800 (SGT) > *To: > *<[email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > *ReplyTo: > *[email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > *Subject: *Re: [referensi] simbol ibukota negara > > > Dear Sahabats, > > Ketika saya renungkan diskusi dengan tema pemindahan ibukota, saya merasa > kita sudah melihat Jakarta saat ini sebagai monumen masalalu. Pergantian > rezim selalu ada kecenderungan ingin membangun monumen untuk dirinya > sendiri, termasuk merusak monumen rezim sebelumnya. Apakah ada yang salah > dalam jiwa kita sebagai bangsa ??? Kotagede menjadi kota suci bagi kraton > Solo dan Yogyakarta karena ada tali jiwa dalam silsilah kerajaan masa lalu, > maka Kotagede masih menyimpan spirit masa lalu bagi kedua kerajaan itu, > meskipun bukan ibukota lagi. Jakarta kini sudah menjadi masa lalu, ketika > kita diskusikan, dan ibukota di masa depan juga belum jelas !!! > > Kadang aku merenungkan diskusi kita yang antusias itu. Pertanyaanku: apakah > perilaku ini bukan sebuah langkah aneh, seperti digambarkan dalam lagu Jawa: > e dayohe teka e, e gelar na klasa e, e klasane bedah e, e tambalen jadah e, > e jadahe mambu e, e pakakno asu e, e asune turu e, e buwangen kali e, e e e > e bubar wae e e e > > Lagu itu mengandung pesan dan mengingatkan, kita sudah "menyerah" mengatasi > problema yang dihadapi karena tidak fokus menghadapinya. Ketika ada tamu > datang, konsentrasi kita ke tikar, dan seterusnya berpindah-pindah, sehingga > dayohe atau tamunya tetap ada di depan pintu, tidak pernah kita minta dia > masuk ke rumah.... > > Salam, > > Djarot Purbadi > (Neon Kaenbaun) > > --- On *Sun, 9/5/10, - ekadj > <[email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > >* wrote: > > > From: - ekadj > <[email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > Subject: [referensi] simbol ibukota negara > To: > [email protected]<http://id.mc771.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > Date: Sunday, September 5, 2010, 12:55 AM > > > Referensiers ysh, sungguh menarik topik (baru) ini. Pertanyaan Bu Nita > sungguh sangat mendasar: bagaimana nasib 'simbol-simbol' ibukota negara itu? > Saya tertarik untuk mengulas sedikit, selain pernah mendapat > clue<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3861>dari Pak Wawo. > Formasi dua istana yang saat ini berhadapan dapatkah kira-kira dijelaskan, > termasuk sebenarnya mencerminkan sistem kenegaraan yang kita anut? Bukankah > seharusnya Wapres berdampingan dengan Pres? Formasi yang ada sekarang ini > sepertinya hanya cocok untuk era Orde Lama, ketika Boeng Hatta masih menjadi > Wapres. > Coba kita pelajari sedikit konsep Putrajaya. Istana PM terletak di ujung > koridor pada tanah tinggi, sementara di ujung koridor yang satunya adalah > Convention Center, yang cukup melambangkan obsesi Malaysia untuk menjadi > salah satu pusat dunia. Kedua titik pembentuk koridor ini masing-masing > memiliki pemandangan yang sangat luas dan bagus. Saya kira dua titik ini > yang menjadi simbol dominan Puterajaya. Mudah-mudahan Pak > Koes<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/10724>mau mengulas lebih > lanjut. > Kembali ke sekitar Lapangan Merdeka, 'tanda' apa kira-kira yang bisa > menginspirasi Indonesia Jaya? > Untuk pertahanan dan pengamanan internal (+garnizun), untuk asumsi 100 ribu > warga, diperlukan sekitar 5 pasukan segelar sepapan (divisi), jadi Cilangkap > belum perlu pindah, dan kita masih madani. Kondisi sekarang: 60-70%(?) > kekuatan TNI numpuk di Jakarta dsk. > Senang bila Prof Deden sudah mulai mengumpulkan bahan-bahan terkait, > mudah-mudahan bisa berkolaborasi dengan Pak Wilmar dkk. > Sementara demikian dulu. Salam. > > -ekadj > 2010/9/4 nita <[email protected]> > > > Numpang nimbrung, > Kalau ibukota neg dipindahkan, 2 istana di jl merdeka bagusnya dijadikan > apa ya??? > > Ibukota neg pindah, haruskan mabes tni ikut pindah?? > > Salam, > > Nita > > > > >

