“….Soalnya kembali ke pertnyaan pokok, apa alasan utamanya?? Penyebaran
pembangunan ekonomi atau solusi kemacetan jakarta? Dua2nya kok buat saya masih
kurang kuat……”
Terbatas pd menjawab konteks pertanyaan ini …….alasan pemindahan ibukota negara
sbg tempat kedudukan pemerintah pusat jawabnya samasekali bukan satu dari
arahan dua sodoran pertanyaan diatas (1. Pembangunan ekonomi, 2. solusi
kemacetan Jkt) …..tapi (rasanya) memang krn kebutuhan pemerintah pusat sendiri
utk memisahkan diri (menjauhkan diri, tak mau terlibat/ terjebak) dari
kemacetan Jkt yg semakin runyam …..dan semakin banyak mengganggu kelancaran
‘kegiatan2 kerja sehari2 dari pemerintah pusat’…..
Yg jelas presiden SBY sendiri sbg presiden pernah setidaknya 2 kali hrs keluar
dari mobil krn terjebak macet dan pindah naik ke sepeda motor (1. Di jl. Gatot
Subroto, 2.di Sentul waktu mau menghadiri acara balap), belum lagi peristiwa/
kejadian2 lainnya spt : iring2an dari Cikeas saat memasuki jln tol pernah
menyebabkan kecelakaan beruntun dan korban jiwa krn arus kendaraan di jalan
tol dihentikan oleh pengatur lalulintas ….belum lagi ada (surat pembaca) warga
yg merasa pernah diperlakukan kasar/ dizalimi oleh paspampres saat diseputar
gerbang tol ….belum lagi pernah jg menteri Sosial krn terjebak macet di Mampang
dan hrs menguber waktu sidang kabinet maka sopirnya mengambil inisiatip masuk
kejalur busway …lalu menuai kritik masyarakat … lalu Mensos (yg pdhal nggak
nyuruh dan hanya ‘terbawa’ sopir masuk jalur busway) mendatangi Polsek Mampang
meminta ditilang…..
Yg gak pernah diekspos di media dan tak akan pernah menjadi berita menonjol
adlh bhw banyak acara2 seperti seminar dan rapat dari berbagai kalangan baik
pemerintah maupun swasta setiap hari molor dari jadwal krn banyak pesertanya yg
terjebak macet………
Kalau mau mencari2 kaitan dgn ‘alasan penyebaran pembangunan ekonomi’ …..walau
hampir pasti industri2 tak akan semua mengikuti pindah kekota yg sama dari
ibukota baru (hanya industri2 tertentu saja spt jasa konsultan dn semacamnya yg
entah pindah atau tumbuh baru) …tapi Brasilia misalnya yg pd thn 1960 resmi
menjadi ibukota yg baru dari Brazil dan penduduk awalnya hanya 140.000
jiwa….kini berpenduduk 3.6 juta jiwa dan menjadi kota ke-4 terbesar di Brazil…….
Soal solusi kemacetan Jkt terlepas dari acara pemindahan ibukota …tentu ada 2
langkah utamanya (intra dan extra) yg perlu dilakukan (intra : a.l. perluasan
scr besar2an pembangunan MRT, keluar : mewacanakan pengembangan kota
countermagnet utk meredakan keperkasaan Jkt) …..krn sebab dari kemacetan itu
sendiri adlh jg tak sendirian hanya sebab2 lokal/ sebab eksplisit spt semakin
banyaknya kendaran pribadi dan semakin tak memadainya pelayanan angkutan
masssal …..namun ada sebab nasional implisit yg sgt fundamental (peta
favoritisme migrasi/ urbanisasi nasional dan angka kelahiran penduduk yg tak
rendah)………
Dgn kepindahan ibukota keluar dr Jkt ……Jkt akan memasuki babak kedua/ babak
selanjutnya ‘wacana dan visi mengatasi kemacetan Jkt’……ialah setidaknya sejak
itu tak akan lg pernah menyertakan visi kuno ‘pusat pemerintahan sbg sebab
utama’ ……dan boleh jadi pemahaman2 ttg ‘Jkt sbg kota primat tanpa tandingan’
akan semakin dalam dan meluas sbg pemahaman masyarakat …..…dan tinggallah kita
menunggu saatnya …..dimana akan muncul kesadaran baru yg meluas ttg perlunya
mengembangkan ‘kota primat tandingan’ ……… krn pemahaman yg meningkat bhw sebab
dari kemacetan Jkt adlh juga utamanya krn ‘pemusatan industri’ …yg itu membawa
dampak berupa ‘pemusatan favoritisme arus utama urbanisasi/ migrasi nasional’
kita ……..salam,
aby