Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku ...
http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0503/13/090851.htm


Jakarta, Kompas

MENDAPATKAN pendidikan yang baik untuk anak adalah keinginan setiap
orangtua. Bermacam-macam jenis sekolah tumbuh bagai jamur di musim
penghujan. Semua mengiklankan diri sebagai sekolah dengan beragam
nilai plus agar dipilih orangtua bagi anaknya.

Ada yang memakai bahasa asing, menyediakan beragam aktivitas di luar
kelas, menggunakan gedung bertingkat dengan ruangan ber-AC, hingga
sekolah yang mengklaim diri menggabungkan kurikulum luar negeri dan
kurikulum berbasis kompetensi dari Departemen Pendidikan Nasional.

Apa pun yang ditawarkan sekolah-sekolah itu, ternyata tidak bisa
memenuhi keinginan semua orangtua. Sampai saat ini masih banyak kritik
yang terlontar tidak saja dari orangtua, tetapi juga masyarakat,
pemerhati pendidikan, hingga pemilik lapangan pekerjaan.

Namun, semua kritik itu seperti angin, berlalu begitu saja. Tidak ada
perubahan berarti. Sebagian orangtua lalu mencari alternatif
pendidikan. Salah satunya dengan bersekolah di rumah (homeschooling).

"Saya termasuk orangtua yang tidak puas dengan sistem pendidikan kita.
Sudah berapa banyak sekolah yang saya datangi, hingga yang
internasional, ternyata tidak memuaskan juga. Akhirnya saya putuskan
untuk mengajar sendiri anak-anak saya," kata Wanti Wowor (39), ibu
empat anak.

Wanti memiliki banyak alasan memutuskan mengeluarkan anak-anak dari
sekolah umum.

Pertama, dia merasa sistem pendidikan di sekolah hanya mengejar nilai
rapor. Sedangkan keterampilan hidup dan bersosialisasi tidak
diajarkan. Seorang anak dilihat berdasarkan nilai ulangan yang
didapat, bukan kemampuan diri secara keseluruhan. Kondisi ini dapat
mendorong anak (atau orangtua) mencontek dan membeli ijazah palsu.

"Anak pertama saya, Fini, memerlukan waktu sedikit lebih lama
dibandingkan Fina, adiknya, untuk memahami sebuah persoalan. Hal ini
bukan berarti Fini tidak pandai, tetapi dia memerlukan waktu atau cara
lain untuk mengerti hal baru. Ini yang sering tidak dipahami guru.
Guru tidak sempat memberi perhatian kepada murid satu per satu karena
yang jadi tanggung jawabnya banyak sekali," ungkap Wanti menjelaskan.

Kedua, dalam hal pergaulan banyak murid yang mencari identitas dari
teman, bukan pada diri sendiri. "Banyak murid yang terjebak, dia harus
mempunyai barang yang sama dengan temannya agar diterima pergaulan,
atau biar dibilang keren oleh teman. Ini kan tidak benar. Identitas
kok ditentukan teman, bukan diri sendiri. Ini baru barang, bagaimana
dengan narkoba," ujar Wanti.

Dia juga melihat orang belajar karena kebiasaan masyarakat, bukan
keinginan atau kesadaran dari diri. Misalnya, sehabis SD harus
dilanjutkan SMP, lalu SMA, terus kuliah. Banyak orangtua yang sudah
menyadari kelebihan anaknya, namun anak tetap harus menempuh semua
jenjang pendidikan formal. Sedangkan eksplorasi pada kelebihan anak
agak diabaikan karena memandang pendidikan formal lebih penting.
Akibatnya, anak tidak merasa senang bersekolah karena dia tidak tahu
tujuan belajar di sekolah.

Joseph Tjoandi (46), ayah empat anak yang juga menyekolahkan anaknya
di rumah, merasa prihatin ketika melihat anaknya setiap hari pulang
membawa kertas ulangan. "Anak saya belajar terus karena akan ulangan.
Belajar itu harus sesuatu yang menyenangkan, bukan beban karena besok
ulangan. Anak saya tampak tertekan karena setiap hari ulangan bisa
lebih dari dua, masih ditambah PR seabrek-abrek. Hidup seperti tidak
menyenangkan bagi dia," kata Joseph yang semula sempat ragu karena
memiliki empat anak dan si bungsu masih bayi.

Sempat juga terpikir oleh Wanti mengirim anaknya bersekolah di luar
negeri. Namun, dia khawatir jika anak berusia dini dikirim ke luar
negeri, jati dirinya sebagai orang Indonesia tidak tumbuh. Dia tidak
akan mengenal dan bisa jadi tak mau kembali ke Indonesia.

Melihat risiko yang menurut Wanti sangat mahal harganya, dia banting
setir. Tahun 1992 Wanti mengeluarkan semua anaknya dari sekolah dan
memutuskan mengajar sendiri anak-anaknya di rumah.

"Bersekolah di rumah banyak dilakukan di AS (Amerika Serikat). Di sana
juga sudah tersedia kurikulum untuk itu. Kebetulan saya mempunyai
banyak teman di AS yang membantu mengirimkan silabus dan
buku-bukunya," kata Wanti yang mengaku gemar mengajar.

Walau banyak tahu tentang bersekolah di rumah, Wanti perlu dua tahun
untuk mempersiapkan diri. Dia juga harus siap menghadapi keluarga yang
tentu menentangnya. "Saya sampai dikatakan gila oleh suami saya.
Katanya, saya mempertaruhkan masa depan anak-anak," kenang Wanti.

Wanti sadar keputusannya mengandung konsekuensi berat. Dia harus mau
capek belajar lagi, karena bersekolah di rumah berarti bukan anaknya
saja yang belajar, tetapi justru orangtua yang harus banyak belajar.

Helen Ongko (44), salah seorang ibu yang mendidik anaknya dengan
bersekolah di rumah, sampai harus ke Singapura dan Malaysia mengikuti
seminar tentang hal ini. Dia ingin benar-benar mantap, baru mengambil
keputusan. "Kebetulan waktu itu kondisi ekonomi sedang krisis sehingga
kami banyak di rumah. Eh, ternyata enak ya belajar bersama di rumah,"
kata Helen yang mulai mulai mengajar anak di rumah tahun 2000.

Bukan hal mudah bagi Helen ketika mengajak anaknya bersekolah di
rumah. Putra pertamanya, Joey Ongko (14), menolak keluar dari sekolah
karena dia takut kehilangan teman-temannya. Helen harus menjawab tiga
pertanyaan yang dikeluarkan Joey agar dia mau bergabung.

"Pertanyaannya adalah bagaimana Mama bisa tahan mengajar kami kalau
selama ini baru belajar dua jam saja Mama sudah marah-marah. Kedua,
jika Mama-Papa mengajar kami, siapa yang mencari uang? Ketiga, kalau
ada apa-apa dengan Mama-Papa, siapa yang akan mengajar kami?" tutur
Helen menirukan pertanyaan anaknya.

"Pertanyaan yang sulit. Saya sampai minta ditunda satu hari untuk
menjawab itu. Lalu, saya katakan padanya, justru dengan bersekolah di
rumah Mama mempersiapkan kamu dan adik-adik untuk mandiri. Jika suatu
ketika Mama-Papa tidak ada, kalian sudah tahu apa yang harus
dikerjakan, lebih mandiri. Mendengar jawaban itu, dia menerima.
Setelah mengajar sendiri di rumah, ternyata saya jadi lebih sabar,"
ungkap Helen.

PERTAMA kali menjalani bersekolah di rumah, Helen tidak merasa
kesulitan. Dia ajak ketiga anaknya membaca biografi Abraham Lincoln,
lalu mereka berdiskusi dengan topik mengapa Abraham Lincoln bisa
menjadi orang hebat.

"Dari sana mereka lihat, untuk menjadi orang hebat dia harus menjadi
orang yang jujur dan turun ke bawah membela kepentingan orang lain.
Selesai satu buku, kami membaca buku yang lain," cerita Helen yang
bekerja sebagai pengacara.

Untuk pelajaran matematika, semula anak-anaknya tidak tertarik. Helen
mencari akal dengan bermain perang-perangan yang memang disukai
anaknya. Dalam perang, untuk bisa menang jumlah tentaranya harus
banyak. Kalau bisa, lebih banyak dari musuh. Untuk tahu apakah
tentaranya sudah banyak atau belum, dia mesti menghitung. Dari
permainan ini anak-anaknya bisa mengerti tujuan belajar matematika.

Wanti, karena telah melihat praktik bersekolah di rumah ketika berada
di AS, mempunyai materi yang siap pakai. Dia datangkan kurikulum dan
buku-buku dari AS yang memang ditujukan untuk belajar mandiri di
rumah. Kemudian, dia ubah sebuah kamar menjadi ruang kelas.

"Saya duduk di tengah, lalu dua anak di samping kiri, dan dua anak
lagi di samping kanan. Buku-buku yang menunjang pelajaran saya
letakkan di rak dinding. Buku-buku itu dipakai untuk membedah sebuah
masalah, lalu kami diskusikan bersama. Mereka juga bisa membuka
internet untuk mencari bahan yang diperlukan," kata Wanti.

Pelajaran yang diberikan adalah matematika, bahasa Inggris, sejarah
dunia, sains, dan budi pekerti. Untuk matematika dan bahasa Inggris,
Wanti mengajar anak satu per satu. Sedangkan untuk pelajaran lainnya
digabungkan bersama. "Saya ambil maksimum. Untuk anak bungsu, saya
biarkan sampai seberapa jauh dia bisa menangkap," kata Wanti yang
menetapkan pukul 08.00 sampai 12.00 merupakan jam sekolah. Di luar jam
itu, anak bebas mau melakukan apa saja. Mereka bisa ikut berbagai
kursus, di mana mereka bisa bertemu teman sebaya.

Namun, tetap saja sebagian besar waktu dihabiskan bersama anggota
keluarga. "Walaupun belajar, kami sangat santai dan bergembira karena
suasananya tanpa tekanan. Hubungan keluarga pun semakin akrab," kata
Wanti.

Istri Joseph, Lilies Tjoandi, menambahkan, dengan bersekolah di rumah
dia bisa mengetahui kekuatan masing-masing anak. "Setiap anak itu
berbeda, kita tidak bisa menyamaratakan mereka seperti yang dilakukan
sekolah umum. Dengan terjun sendiri, kita tahu bagaimana mereka
sebenarnya," ungkap Lilies.

Dengan bersekolah di rumah, para orangtua juga mempunyai waktu yang
fleksibel. Mereka tidak akan pindah ke topik lain jika anak-anak belum
menguasai. Setelah anak-anak siap, baru mereka mengajukan diri untuk
ujian. Dari pengalaman mengajar di rumah, menurut Wanti, waktu belajar
anak justru lebih pendek dibandingkan sekolah umum. "Umur 16 tahun
anak-anak saya sudah selesai SMA," ujarnya.

Dalam mengerjakan bahan ujian, menurut Wanti kejujuran orangtua sangat
diuji. Apakah dia mau membiarkan anak mengerjakan sendiri atau
dibantu. "Apakah dia masih mengejar nilai bagus, atau mengajarkan
kejujuran pada anak," kata dia menegaskan.

Kertas ujian itu lalu dikirim kembali ke AS untuk dinilai, dan
mendapat sertifikat sehingga murid bisa melanjutkan ke jenjang
berikut. Sertifikat ini diakui di Indonesia sebagai lulusan dari luar
negeri. Anak-anak Wanti, Fini dan Fina, sekarang duduk pada tingkat
perguruan tinggi. Fini melanjutkan sekolah desain mode di Esmod
Jakarta, sedangkan Fina memilih Universitas Indonesia program
Internasional.

Kedua anak Wanti lainnya, Timothy (15) dan Lea (14), menjalani sistem
belajar campuran, separuh di rumah, separuh lagi di Morning Star
Academy (MSA), sekolah yang mendukung program bersekolah di rumah.
Semua orangtua murid terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di
sekolah ini. Bahkan, 90 persen guru MSA adalah orangtua murid.

BERSEKOLAH di rumah memang belum umum di Indonesia. Fini mengaku bosan
setiap kali ditanya sekolah di mana. "Ketika saya jawab homeschooling,
mereka bingung. Apa tuh? Saya harus menjelaskan terus. Dulu agak
terbeban, tetapi sekarang sudah biasa," ujar Fini.

Dia mengaku sangat berterima kasih ibunya mengambil keputusan itu
karena Fini merasa dirinya berbeda dengan teman-temannya.

"Setidaknya saya selalu mengumpulkan tugas-tugas sebelum waktu yang
ditetapkan. Sedangkan teman-teman selalu SKS-sistem kebut
semalam-dalam mengerjakan tugas. Mereka juga tidak berani bicara,
berdiskusi di kelas. Jangankan itu, bertanya saja mereka tidak berani
dan sering menyuruh saya bertanya ke dosen. Buat saya, ini aneh karena
saya dididik untuk disiplin dan berani mengemukakan pendapat," kata
Fini.

Sementara itu, pengamat pendidikan Dr Arief Rachman MpD mengatakan,
materi bersekolah di rumah sebenarnya tidak ada bedanya dengan
pendidikan di sekolah. Namun penyampaiannya yang berbeda, karena di
rumah memakai pendekatan yang lebih personal. Bersekolah di rumah
mengembalikan konsep dasar pendidikan, yakni pada keluarga, bukan
pihak lain seperti sekolah. Anak menjadi mandiri dan hubungan dengan
keluarganya harmonis.

Tetapi, bersekolah di rumah juga memerlukan tanggung jawab dan
komitmen tinggi dari orangtua. Sekali terjun, mereka tidak bisa mundur
karena sudah merasakan enaknya dekat dengan anak-anak. (Sarie
Febriane/m Clara Wresti)

Kirim email ke