-
Aslmwrwb.
Dari milis IA-ITB. Karena BHP mensyaratkan 20% kursi untuk calon
mahasiswa cerdas miskin dari total 3000 mahasiswa baru di ITB, ternyata
tidak dapat dipenuhi oleh ITB, karena kurang mahasiswa miskin yang daftar.
Silahkan kasih tahu para ikhwah, teman2, adik2 di desa dan di kota,
bahwa jangan takut daftar ke ITB, yang penting lulus ujian, insya Allah
tidak perlu pikir biaya kuliah. Selain yang resmi 20% kursi, ada pula
gerakan2 alumni yang telah mengumpulkan banyak dana untuk beasiswa dan
biaya hidup, tetapi belum banyak tersalurkan. Kesulitan mereka adalah
mencari yang berminat dan lulus ujian masuk ke ITB.
Waslmwrwb.
Donny Hardyanto
*Mari Kita Cari 600 Siswa Cerdas Miskin untuk ITB *
*Oleh Cardiyan HIS*
* *
*/Indonesia ini memang anomali. Ternyata sulit mencari anak cerdas
miskin. Dari kewajiban ITB sebagai PTN BHP untuk menyediakan 20% untuk
calon mahasiswa cerdas miskin dari total 3.000 calon mahasiswa baru,
hanya 51 orang saja baru berhasil dijaring ITB. Perlu kampanye kreatif
dan agresif jemput bola sampai ke gang-gang becek dan ke seluruh
pelosok Indonesia . /*
Baru saja saya ditilpun Rektor ITB, Prof. Djoko Santoso. Ia ingin
meluruskan tentang tulisan saya yang dikutip ratusan blog dan mailist
yang pertama kali dimuat di mailist IA ITB berjudul; *“Kembalikan Kursi
SNMPTN 2009 kepada yang Berhak”*.
Menurut Prof. Djoko Santoso, ITB justru kesulitan untuk mencari 600
siswa lulusan SMU yang cerdas miskin. Angka *600* ini adalah bukti
kekonsistenan ITB sebagai PTN berstatus BHP yang mensyaratkan *20%* dari
total penerimaan mahasiswa baru ITB yang seluruhnya *3.000*, harus
untuk calon mahasiswa cerdas miskin.
Jumlah mahasiswa cerdas miskin ini baru berhasil dijaring sejumlah *23*
*orang* melalui *Ujian Saringan Masuk (USM) ITB 2009*. Dan *28 orang*
melalui seleksi *“Beasiswa ITB untuk Semua” 2009*. Menurut Prof. Djoko
Santoso, profil mereka adalah anak-anak rakyat Indonesia cerdas tetapi
orang tuanya miskin. Profil orang tua mereka adalah tukang bakso,
penjual nasi pinggir jalan, pemilik kios warung kecil, pembantu rumah
tangga, petani musiman, nelayan, tukang gali tanah, tukang bangunan,
sopir angkot, anak calo bisnis kelas teri, pensiunan tentara dan
polisi pangkat prajurit, anak Satpam, guru ngaji, pensiunan guru SD dan
lain-lain.
Melihat total calon mahasiswa cerdas miskin yang berhasil dijaring ITB
hanya 51 orang dari 600 orang untuk kursi yang tersedia. Maka saya
sarankan agar ITB lebih agresif lagi dan lebih kreatif lagi dalam
menginformasikan dan menggerakkan minat masyarakat untuk masuk ITB
tanpa biaya sepeser pun selama dia kuliah di ITB dan seluruh biaya hidup
ditanggung ITB sampai lulus.
Mungkin selama ini masyarakat miskin sudah takut dengar nama ITB sendiri
sebelum mereka mau mendaftar. Yang mereka tahu, ITB itu yang paling
mahal biaya formulir pendaftarannya yakni Rp. 850 ribu. Nah kalau ia
seorang pembantu berarti dia harus menyerahkan seluruh pendapatannya dua
bulan gaji untuk beli formulir seleksi masuk ITB. Belum untuk urus sana
urus sini. Pokoknya berat di ongkos. Sedangkan biaya untuk hidup
keluarga mana?
Pengalaman spesifik perjuangan dengan segala kendalanya dalam menyeleksi
USM ITB dan “Beasiswa ITB untuk Semua” 2009, ada baiknya ditulis dan
dijelaskan secara panjang lebar kepada media cetak dan elektronik lokal
maupun nasional termasuk di mailist IA ITB ini. Setidaknya ini akan
menggugah para alumni ITB yang jumlahnya puluhan ribu untuk memberikan
saran dan idenya. Syukur-syukur mau jemput bola, siapa tahu anak
pembantunya cerdas, siapa tahu anak Satpam di lingkungannya pinter;
siapa tahu anak supirnya juga otaknya moncer. Syukur-syukur ia sendiri
mau menyumbang.
Sebab menurut *Betti Alisjahbana*, yang mengkoordinasikan program
“Beasiswa ITB untuk Semua” semakin banyak pendukungnya. Setelah
kemarin, 23 Juli 2009, pak Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI berkenan
membantu penggalangan dana melalui goresan pertama di dua lukisan
seniman ITB. Maka pada 24 Juli 2009 Betti Alisjahbana mendapat
konfirmasi donasi “Beasiswa ITB untuk Semua” dari Pertamina sejumlah Rp.
1.000.000.000. Selain itu seorang alumni ITB (Haminanto Adinugraha) baru
saja menyumbangkan Rp. 100.000.000 ke pundi-pundi “Beasiswa ITB untuk
Semua”. Dengan demikian total komitmen donasi yang sudah kami dapat
adalah Rp. 4.200.000.000. Dana ini cukup untuk membiayai 42 mahasiswa
sampai lulus dari ITB. Sementara hasil seleksi untuk calon mahasiswa
cerdas miskin hanya 28 orang.
Mari kita cari sampai ke gang-gang becek, ke seluruh pelosok Nusantara,
para anak cerdas miskin yang diprioritaskan masuk ITB gratis sampai
lulus. Permintaan ITB dan para donatur hanya satu mereka yang diterima
jadi mahasiswa ITB kelak diharapkan menjadi agen perubahan di
lingkungan sosial asalnya.
[Non-text portions of this message have been removed]