--- In [email protected], "sabtyawiraji" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ass.
> 
> Siapa tahu ada yang tidak tahu. Proses terjadinya kehamilan 
diawali 
> dengan bertemunya sperma dan sel telur, sperma berasal dari laki-
> laki dan sel telur dari wanita. Berarti ada dua pelaku dalam hal 
ini.
> 
> Saya kira ruang lingkup masalah ini sudah cukup jelas, situs ini 
> ditujukan untuk "korban" (atau pelaku?) KEHAMILAN DI LUAR NIKAH 
(gak 
> ada ikatan gitu lo, cuman main coblos doang. "Korban" kehamilan di 
> luar nikah yang saya maksud di sini adalah mereka-mereka yang 
> melakukan free sex, bukan kehamilan karena perkosaan. Pertanyaan 
> saya, apakah pantas mereka disebut korban? padahal mereka sendiri 
> yang sebelumnya menginginkan perbuatan zina itu. Bila ingin 
disebut 
> adil saya kira mereka bukan korban, tetapi mereka adalah pelaku 
yang 
> tidak kebagian untung. Bukan begitu kawan?
> pelaku satunya kabur, sedangkan yang pelaku yang satunya lagi 
harus 
> menanggung beban di perut. 
> 
> Apakah kehamilan di luar nikah sekarang dianggap suatu kewajaran?
> bila y, mengapa? apakah karena ini suatu pembenaran terhadap 
> terhadap hawa nafsu. Serendah itukah manusia? Bukankah manusia 
sudah 
> diberi akal oleh sang Ilah. Ataukah sebutan manusia sebagai mahluk 
> yang paling sempurna itu salah? 
> 
> Katakan TIDAK untuk kehamilan di luar nikah, itu juga berlaku bagi 
> pembenaran-pembenaran yang ada dibelakangnya, yang senantiasa 
> diboncengi oleh kondomisasi. Mau dibawa ke mana negara ini bung? 
> 
> Bagi pelaku yang sudah terlanjur hamil, saya hanya bisa 
> mengucapkan "turut berduka cita atas hilangnya akal dan kesadaran 
> sebagai mahluk Tuhan yang kepadanya kita pasti kembali.". Bagi 
> pelaku yang  melakukan zina dan belum hamil saya ucapakan, "Jangan 
> kira kondom, pil anti kehamilan, dan lain-lain, bisa menghalangi 
> anda dari siksa yang amat pedih di kehidupan nanti." Bagi mereka 
> yang bilang bahwa agama meracuni pemikiran saya ucapkan, "Sombong 
> sekali Anda, OK lah Anda tidak percaya dengan agama, tapi kita 
lihat 
> siapa yang tertawa terakhir." 
> 
> Bagi mereka yang mengagungkan kehidupan dunia saya 
ucapkan, "semoga 
> masih ada waktu untuk merenungkan kembali tujuan kita dilahirkan 
ke 
> dunia ini."
>
ok, saya setuju dgn tanggapan mas sabtyawiraji,
good















Kirim email ke