Memang beruntung bagi yang memiliki sahabat baik sebanyak pak Acep. Dan terima kasih juga sudah sharing mengenai "how to be a good fellas n make good relationship".
Kalau boleh menambahkan, ada orang yang temannya banyak tapi susah mendapatkan sahabat, karena kondisi. Misalnya : 1. Sering pindah-pindah tempat tinggal atau tinggal tidak menetap di satu tempat. 5 tahun di Jakarta, 2 tahun di California, 6 bulan di Vancouver, 3 tahun di Tokyo, 1 tahun di Bandung, etc... Nah, biasanya susah dapat "sahabat" karena untuk menjadi sahabat dari status teman biasa, kita perlu pendekatan dan pendalaman karakter satu sama lain yang membutuhkan waktu dan jumlah pertemuan. Kalau tempat tinggalnya tidak menetap, pada akhirnya orang yg kita anggap sahabat jadi jauh. Sehingga ada kekhawatiran utk memulai persahabatan lagi sama org lain di lingkungan baru kita, jangan-2 kita bakal kehilangan sahabat lagi. 2. Bagi orang-2 yg sibuk pekerjaannya apalagi yang tinggal di ibu kota, kecenderungan kurang waktu untuk sosialisasi mendalam. Sudah terlalu capek bekerja hari-harinya, shingga malas untuk pergi ketemu orang, maunya cepat pulang dan istirahat. Makanya banyak orang bilang org-2 metropolitan tuh cenderung keliatan individualis. Abis, memang ga ada waktu sih buat mikirin org lain lbh dalam, sedangkan waktu buat kita sendiri aja masih ditawar-tawar oleh kerjaan Apa lagi ya...? Pokoknya walau tidak punya banyak sahabat, saya pribadi beruntung memiliki 1 keluarga yang saya anggap saat ini sahabat saya. Kebetulan saya kost di rumah mereka, jadi mau ga mau tiap hari ketemu muka dan akhirnya akrab banget seperti keluarga sendiri. Soalnya saya adalah tipikal orang yang kena 2 kondisi spt di atas td. hehehe... Sahabat bisa membuat kita jadi manusia yang lebih baik, namun bisa juga membuat kita jadi manusia yang buruk/merugikan orang lain. Kadang aga takut utk membina persahabatan lbh dalam lagi sama seseorg. Berhubung saya pribadi punya trauma tentang persahabatan, karena saya sering sekali dipertemukan oleh orang-2 yang munafik. Mungkin itu saja dari saya. Hv a nice long weekend! ICA --- In [email protected], "Acep Sudrazat" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup ini adalah memiliki > begitu banyak sahabat. Mungkin terkesan amat klise namun ijinkanlah saya > berbagai cerita tentang pengaruh para sahabat saya. > > Mereka tidak hanya membuat saya makin baik dari hari ke hari tetapi > senantiasa menyemangati saya ketika saya sedang patah semangat. Tak > terbayangkan apa jadinya hidup ini tanpa mereka. Saat-saat senang, bisa kami > nikmati bersama sehingga kegembiraan itu berlipat ganda nilainya. Begitu pun > saat-saat susah, kami saling berbagi, saling memberi semangat dan saling > mendoakan sehingga beban hidup pun berkurang beratnya. > > Sahabat-sahabat saya sangat mempengaruhi pola pikir saya. Sebagian dari > mereka bahkan usianya jauh di atas saya. Itulah yang terkadang membuat > sebagian orang terkadang mencap saya terlalu cepat dewasa. > > Bagi saya, itu sah-sah saja. "Lagipula tak ada salahnya kita lebih cepat > dewasa daripada terlambat dewasa," begitu nasihat seorang sahabat saya. > > Sahabat-sahabat saya membuat saya lebih bergairah dalam mengarungi hidup > ini. Jelas sekali bagi saya kalau kesuksesan hidup sangat tergantung pada > bantuan dan dukungan orang lain, terutama mereka yang paling dekat dengan > kita (baca: sahabat). Itulah sebabnya pakar hubungan antar manusia, Les > Giblin pernah mengatakan 90 persen kegagagalan dalam kehidupan seseorang > adalah karena gagal dalam membina hubungan baik dengan orang lain. Sebuah > penelitian bahkan mengatakan kalau kesuksesan seorang salesman 85 persen > ditentukan oleh kemampuan berhubungan baik dengan orang lain ( people > knowledge) dan hanya 15 persen ditentukan oleh pengetahuan tentang produk > (product knowledge). > > Meski pun hampir semua dari kita menyadari bahwa kita perlu orang lain toh > tetap saja terkadang kita bertingkah sebaliknya. Tampaknya benar bahwa > setiap manusia cenderung egois, lebih tertarik kepada dirinya sendiri > dibandingkan orang lain. Setiap orang ingin merasa dirinya penting, berharga > dan punya nilai. Inilah yang membuat kita terkadang susah membina sebuah > persahabatan. Tidak berlebihan kiranya kalau mentor saya, Pak Andrie Wongso > pernah berpesan, "Salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah merendah > di hadapan orang lain." Ya, kerendahan hati seolah menjadi "barang langka". > > Ada sebuah pepatah bijak yang kiranya bisa menjadi acuan bagaimana kita bisa > membina hubungan baik dengan orang lain: Aku pergi keluar mencari sahabat, > tak kutemukan satu pun. Aku pergi keluar untuk menjadi sahabat, kutemukan > sahabat di mana-mana. Ya, cara mencari sahabat adalah dengan menjadi sahabat > terlebih dahulu bagi orang lain. Belajarlah menghargai orang lain dan > memahami sudut pandangnya. > > Buatlah orang lain merasa nyaman ketika berada dekat kita. Salah satu cara > yang paling efektif adalah dengan belajar mendengarkan. Mendengarkan tidak > sama dengan mendengar. Mendengar hanya membutuhkan telinga tetapi > mendengarkan membutuhkan telinga, hati dan pikiran. Dale Carnegie bahkan > menegaskan, "Anda bisa memiliki lebih banyak teman dalam waktu 2 minggu > dengan menjadi pendengar yang baik daripada 2 tahun dengan berusaha membuat > orang lain tertarik kepada Anda." Itulah sebabnya Frank Tyger menyatakan > kalau persahabatan sejati terdiri dari telinga yang mau mendengarkan, hati > yang mau memahami dan tangan yang siap menolong. Terkadang saya berpikir, > kalau dalam hidup ini kita mau belajar untuk saling mendengarkan rasanya > jumlah konflik bisa kita minimalisir. > > Hal yang juga penting dalam membangun sebuah persahabatan adalah ketulusan. > Berbuat baiklah kepada orang lain semata-mata karena ia adalah manusia. > Bukan karena kita mengharapkan sesuatu darinya. > > Ketulusan memang sulit dibuktikan. Ia biasanya hanya akan terlihat seiring > perjalanan waktu. Bahkan kerap terbukti ketika yang bersangkutan telah > tiada. > > Ketulusan memang lebih mudah diucapkan dan dituliskan daripada dipraktekkan > sebab ia berasal dari lubuk hati yang paling dalam, yang hanya memberi dan > tak pernah berharap akan mendapatkan balasan. Sesungguhnya, dalam sebuah > hubungan hanya ada 2 aktivitas utama: mengambil atau memberi ( take or > give). Kalau kita senantiasa memberi apalagi dengan penuh ketulusan- cepat > atau lambat kita akan menerima balasannya meski kita sendiri barangkali > tidak pernah mengharapkannya. Itu hukum mutlak yang sulit dibantah! > > Pemberian yang saya maksudkan di sini tidak hanya berupa materi. Kita bisa > memberi waktu, perhatian bahkan senyuman kepada orang lain. Seorang sahabat > malah berujar kalau senyuman adalah lengkungan kecil yang bisa meluruskan > banyak hal. Senyuman bisa seketika mencairkan hubungan yang beku. Lagipula > untuk tersenyum kita hanya memerlukan 14 otot dibandingkan untuk cemberut > yang membutuhkan 72 otot. > > Jika ketulusan masih sulit untuk dipraktekkan, coba hayati nasihat dari > seorang Mahaguru Kebenaran, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang > perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." Kalau kita ingin > orang berlaku jujur terhadap kita, hendaklah kita yang mulai berlaku jujur > terhadap mereka. > > Selanjutnya, belajarlah menerima perbedaan yang ada. Jangan memaksakan orang > lain menjadi seperti kita. Ingatlah bahwa setiap manusia adalah unik. Dan, > seperti kata Henry Ford, "Sahabat terbaik saya adalah orang yang dapat > membuat saya menjadi yang terbaik". Bukan menjadi seperti dirinya! > > Richard Exley pernah menulis sebuah syair indah mengenai persahabatan. > "Sahabat sejati adalah orang yang mendengar dan memahami saat Anda > membagikan perasaan Anda yang terdalam. Dia mendukung pada saat Anda > berjuang; mengoreksi dengan lembut dan penuh kasih pada saat Anda berbuat > salah; serta mengampuni pada saat Anda gagal. Seorang sahabat sejati > mendorong Anda bertumbuh menuju potensi maksimal Anda. Dan yang paling > mencengangkan, dia merayakan keberhasilan Anda seperti keberhasilannya > sendiri," kata Richard. > > Ya, kehadiran sahabat akan membuat hidup kita makin bernilai. Terkadang, > tanpa disadari, kita telah memiliki semacam jaringan persahabatan yang kalau > terus-menerus kita bangun jaringan ini akan semakin bertambah luas dan kuat. > Bahkan, bukan tidak mungkin ini akan bisa menjadi sebuah jaringan bisnis > yang kokoh di kemudian hari. > > Best Regards, > > Acep Sudrazat >
