Sudah sangat lama, kita dipasung dalam dua kekuatan besar sudut pandang tentang 
takdir atau nasib.  Kekuatan besar pertama adalah sudut pandang pribadi-pribadi 
yang berkeyakinan bahwa nasib kita ditentukan oleh upaya kita.  Kekuatan besar 
kedua adalah sudut pandang pribadi-pribadi yang berkeyakinan bahwa nasib kita 
ditentukan oleh Yang Maha Menghendaki.  Yang manakah sudut padang Anda?

Salah satu kelemahan banyak pribadi, adalah menarik diri kepada salah satu 
kekuatan yang ada sehingga melihat kekuatan-kekuatan itu seolah-olah dua hal 
yang saling melemahkan atau bertentangan.  Dengan demikian, sering kali kita 
tidak dapat melepaskan diri dari kerangka pandang yang akan menyebabkan kita 
hanya memiliki satu pilihan serta sempitnya sudut pandang.  Padahal, jika kita 
ingin lebih melihat wujud utuh sebuah benda, luas sudut pandang kita sangat 
menentukan kedekatan pengetahuan kita dengan kenyataan hakikatnya.  Dalam 
ilustrasi populer, seorang yang melihat gajah dari jarak yang cukup, akan mampu 
melihat belalai, ekor, kaki, perut dan kuping sebagai kesatuan; bukannya 
sebagai satu-satunya ciri untuk gajah yang dapat dipertentangkan.

..........

Hanya ada dua, nasib baik atau nasib buruk

Sebetulnya, hanya ada dua nasib yang berpotensi terjadi pada sebuah pribadi, 
yaitu nasib baik atau nasib buruk.  Sebuah pribadi, hanya mendapatkan salah 
satunya dalam sebuah penggalan waktu di dunia, atau saat di ujung perjalanan 
hidupnya serta kondisi final di alam yang kekal nanti.  Apakah ada nasib yang 
tengah-tengah atau netral?  Sebagai sebuah sangkaan tak berdasar, mungkin 
dimaklumi untuk meyakini adanya nasib selain nasib baik dan nasib buruk.  Namun 
jika pijakan kokoh berpendapat yang dijadikan pilihan, maka hanya ada nasib 
baik dan nasib buruk.  Itulah sebabnya, hanya ada untung dan rugi.  Kondisi 
impas sendiri bukanlah netral, melainkan bentuk terendah dari kondisi untung.  
Bukankah selalu ada alasan baik untuk tidak melikuidasi usaha yang impas?

Jadi, orang beruntung adalah orang yang bernasib baik.  Sedangkan orang merugi 
adalah orang yang bernasib buruk.  Orang beruntung berlabuh di surga.  Orang 
merugi berlabuh di neraka. Al 'Araf?  Tempat tinggi itu hanya tempat singgah 
sementara, sebelum mereka berhak masuk ke surga berdasarkan skala prioritas 
kemuliaan (QS 7 : 46).  Ingat, impas itu bukan tak bernilai melainkan bentuk 
terendah dari kondisi untung.

Kebaikan dan Keburukan, sudah ada dan telah ditetapkan

Sebagai sebuah kata yang merujuk pada benda, maka kebaikan dan keburukan adalah 
telah ada dan telah ditetapkan.  Telah ditetapkan bahwa syaitan itu keburukan.  
Telah ditetapkan bahwa para nabi dan malaikat itu kebaikan.  Telah ada dan 
ditetapkan bahwa surga itu kebaikan dan neraka itu keburukan.  Telah ditetapkan 
husnul khatimah itu kebaikan dan syu'ul khatimah itu keburukan.  Telah 
ditetapkan kebenaran itu kebaikan, dan tipu muslihat itu keburukan.  Telah dan 
akan senantiasa diilhamkan, kebaikan (taqwa) dan keburukan (fujur) - (QS 91 : 
8). Telah ditetapkan jalan kebaikan (Dienul Islam) dan jalan keburukan (dien 
ghair Islam).

Karena sudah ditetapkan oleh Yang Maha Berkehendak, maka tidak dapat dirubah 
oleh siapa pun.  Maka adalah benar, bahwa nasib baik tidak dapat dirubah, 
seperti halnya pula nasib buruk tidak dapat dirubah, - karena nasib baik itu 
adalah kebaikan itu sendiri dan nasib buruk adalah keburukan itu sendiri.
Pertanyaannya, siapakah yang akan bernasib baik dan siapakah yang akan bernasib 
buruk?  Siapakah yang akan menjadi kebaikan, dan siapakan yang akan menjadi 
keburukan?

Pilihan Anda menentukan kualitas Anda

Salah satu ciri utama manusia adalah memiliki keistimewaan untuk memilih dengan 
bebas.  Untuk itu lah kemerdekaan menjadi hal paling asasi dari kemanusiaan.  
Bahkan untuk nasibnya sendiri, manusia diberi kebebasan untuk menentukan diri 
sendiri.  Itulah sebabnya, Yang Maha Adil menjamin kebebasan ini, yaitu 
kebebasan untuk menentukan nasib kita sendiri (QS 13 : 11). Mohon diingat, 
menentukan nasib tidak sama dengan merubah nasib.  Berubahnya 'nasib kita', 
bukan karena kita merubah nasib itu, melainkan beralihnya pilihan kita.  Kita 
akan bernasib baik jika kita memilih niat baik, peri laku baik dan perbuatan 
baik.  Kita akan bernasib buruk jika kita memilih niat buruk, perilaku buruk 
dan perbuatan buruk.  

Orang baik bernasib baik, orang buruk bernasib buruk.  Orang bernasib baik itu 
karena memilih kebaikan.  Orang bernasib buruk itu karena memilih keburukan - 
dalam hidupnya.  Karena nasib baik dan nasib buruk sudah tersedia, maka kita 
yang menentukan apakah memilih bernasib baik ataukah memilih bernasib buruk!  
Jadi, kita yang menentukan nasib kita, pilih yang baik atau pilih yang buruk.

Mohon diyakini, bahwa sistem keadilan dari Yang Maha Adil, menjamin pada setiap 
kondisi selalu tersedia dua pilihan - baik atau buruk.  Dan salah satu bentuk 
kasih sayang Yang Maha Penyayang adalah menjamin perilaku hati seseorang tidak 
dapat dilihat oleh orang lain.  Sehingga, kebebasan itu tetap senantiasa 
terpelihara, pada kondisi apa pun.  Mereka-mereka yang menyatakan tidak 
memiliki pilihan, sebenarnya tetap memiliki pilihan.  Hanya saja, keleluasaan 
hatinya disempitkan oleh keterbatasan ilmu, sempitnya sudut pandang, dangkalnya 
keyakinan atau kepentingan sesaat yang mendominasi.  

Jadi, sekarang sudah sangat jelas.
Sesosok pribadi yang ada di neraka adalah pribadi yang menjadikan pilihan dalam 
hampir keseluruhan hidupnya untuk keburukan.  Pada mereka dikatakan bernasib 
buruk.
Sesosok pribadi yang ada di surga adalah pribadi yang menjadikan pilihan dalam 
hampir keseluruhan hidupnya untuk kebaikan.  Pada mereka dikatakan bernasib 
baik.

Korupsi atau jujur, adalah masalah pilihan.  Sholat atau tidak sholat adalah 
pilihan.  Berkasih sayang atau kasar, adalah pilihan. Menaati atau mengingkari, 
adalah masalah pilihan.  Berhenti saat lampu merah atau melanggarnya, adalah 
pilihan.  Menyogok polisi atau membayar ke kas negara, adalah pilihan. Halal 
atau haram adalah masalah pilihan.  Islam atau non Islam, adalah masalah 
pilihan.  Bahkan, memercayai Yang Maha Ada atau atheis juga adalah pilihan.

NASIB ANDA DITENTUKAN OLEH PILIHAN ANDA.

maka

PILIH LAH NASIB ANDA.  PASTIKAN MEMILIH NASIB YANG BAIK.

...............

Sahabat-sahabat milis yang budiman, terima kasih atas kesediaan Anda menerima 
tulisan sederhana ini.
Semoga dapat bersanding dengan sudut pandang Anda, dalam menemani kehidupan 
Anda yang membahagiakan ini.
Mohon dibukakan pintu maaf atas segala kekhilafan.

Terima kasih


Syarif Niskala

Kirim email ke