nice writing :)
kalo saya lagi belajar mensugesti diri sendiri. berpikir dan
berperasaan positif -katanya- punya efek yang sangat dahsyat. mau tau
rasanya? sok..dicoba aja :D

oya, ada sedikit oleh2.. smg bermanfaat :)

***
JADI TUKANG AMPLAS


Bismillah…

Alhamdulillah.
Baru terasa syukurnya setelah merasakan dinamika hubungan
interpersonal dengan beberapa teman. Biasa, apalagi penyebabnya kalau
bukan lidah, si organ yang katanya tak bertulang tapi lebih tajam dari
pedang… *haiyyah…*
Hehe…

Seperti biasa, kalau udah gak suka sama orang, aku lebih suka
ngejauhin. Beda sama kalau aku ngomel-ngomel, itu tandanya aku masih
baik. Maksudnya, marahnya gak sungguh-sungguh. Paling reda bentaran
aja. Tapi kalau udah nyakitin banget, aku lebih suka memilih diam.
Membiarkan lawan merenung. Sukur-sukur kalau dia nyadar. Kalau enggak
ya sudah. "Nasibmu, nak," deh…

Jelek ya.
Karena orang jadi gak tau masalahnya apa, atau kesalahannya dimana.
Dan tentu saja permasalahan tidak akan selesai (padahal aku tau
banget, betapa gak enaknya digituin. Pantes aja Ka'ab bin Malik
uring-uringan banget waktu didiemin Nabi Saw dan seluruh penduduk
Makkah karena gak berangkat perang karena malas…)

Kadang aku berpikir…
Benar sekali, bahwa luka yang kita tanamkan pada orang lain itu,
ibarat paku yang kita tancapkan di pagar hatinya. Bisa dicabut, tapi
bekasnya tidak bisa hilang.
Forgiven but unforgotten, kata The Corrs.

Kemarin-kemarin aku masih kekeuh dengan prinsip itu.
Aku bisa memaafkan. Tapi tentu saja lukanya tetap tak bisa hilang.
Membekas.
Dan aku tidak pernah tahu (atau tidak mau tau?), sampai kapan bekasnya
hinggap di jiwa.
Jadi better jauh-jauh aja, dan aku menganggap orang itu gak pernah ada.
Perilaku operasionalnya bisa dengan mendelete nama orang itu dari
hp-ku, list YM, dan sebagainya. Pokoknya anggap aja orang itu gak
pernah ada dalam kehidupan ini.

Baru deh, setelah banyak belajar dan baca-baca sekian banyak buku (The
Secret dan Quantum Ikhlas, terutama), pikiranku jadi terbuka.
Kesal emang iya, tapi memelihara kesal sama dengan membebani diriku
sendiri. Energinya negatif semua. Dan benar, kalau pake hukum
tarik-menarik, sesuatu yang negatif hanya akan menarik hal-hal negatif
pula.

Udah mana jadi capek karena mangkel, bawaannya juga gak tenang aja
karena ada hal yang belum tuntas selesai.
Dan sesungguhnya, aku hanya me-repress kenangan buruk itu ke alam
bawah sadar, tidak menyelesaikannya. Artinya, suatu saat pasti akan
meletup lagi, karena mendiamkannya sama dengan menimbun gundukan bom
waktu yang bersiap meledak jika masanya tiba suatu ketika.

Alhamdulillah…
Pada akhirnya aku bersyukur, karena sudah bisa menterapi diri sendiri
sekarang.
Kuncinya cuma 2 ini nih : pikiran dan perasaan positif.

Seperti kemarin-kemarin misalnya, ketika lagi BT sama seseorang karena
sikapnya yang kuanggap kurang berkenan di hati.
Karena BT dan males ngomong lagi, melintaslah niat mau ngejauhin tu
orang. Siap-siap nih men-delete berbagai hal yang tersangkut-paut: ya
YM, nomor hp, juga link blog…

Tapi aku inget-inget lagi…

Paku sudah menancap dan bekasnya sudah tertanam.
Tapi bekas itu kan bisa diamplas.
Dua hari sebelumnya aku juga sudah bisa mengamplas bekas paku di
hatiku waktu ada seseorang yang juga nyakitin aku dengan kata-katanya.
Jadi kenapa sekarang aku harus melihara rasa sakit hati itu lagi?
Kemarin-kemarin aku bisa kok, jadi pasti sekarang aku juga bisa!!!

Setelah berpikir begitu, aku memejamkan mata.
Menarik nafas dalam-dalam, menyertakan seluruh pikiran dan hati, serta
berujar pada diri sendiri dengan lembut sambil tersenyum,

"Aku tidak kesal. Aku baik-baik aja... Aku dan si itu baik-baik aja…
Aku gak kesal sama dia… Dia cuma mau mengingatkan... Dan aku bersyukur
sudah diingatkan… Aku bersyukur sudah diingatkan… Kami akan tetap
baik-baik saja… Aku orang yang pemaaf… Aku orang yang menyenangkan…
Aku bukan orang yang cepat marah… Aku bisa menerima kritik dan masukan
dengan dada lapang… Aku bisa mengamplas sakit hatiku… Aku gak marah
sama dia… Aku baik-baik aja... Aku dan dia juga akan baik-baik aja…"

Lalu aku buka mata. Dan aku bisa merasakan perasaanku lebih baik dari
sebelumnya.
Seperti ada gumpalan yang terangkat dari dadaku.
Ringan…

Kalian tahu tidak?

Kata buku "How You Feel Is Up To You", perasaan dan pikiran kita itu
ibarat tombol listrik yang bisa dipencet "on/off"-nya kapan aja. Jadi
kalau sudah mulai negatif, tinggal pencet tombol yang positif dan
semua akan berbalik.

Awalnya emang susah, apalagi buat aku, orang yang derajat `feeling'
dibanding `thinking'-nya tinggi. Apa-apa dominannya pake perasaan.
Tapi bisa kok dicoba. Dan emang harus dilatih terus.
Gak mudah, tapi bisa!
Caranya ya seperti yang aku lakukan di atas, cukup dengan mensugesti
diri sendiri.

Aku tidak tahu apakah cara ini ampuh untuk kalian.
Tetapi banyak buku bilang, begitu banyak orang terbantu mengatasi
perasaan dan pikiran negatifnya dengan cara ini. Karena prinsipnya
satu hal ini ini: pikiran dan perasaanmu akan menarik apa yang sama
dengan apa yang kamu pikirkan dan rasakan.

So, teruslah berpikir dan berperasaan positif supaya semesta menarik
hal yang positif juga untuk dirimu.
Untuk lebih jelasnya, aku rekomendasikan baca buku The Secret karya
Rhonda Byrne atau Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu aja, ya 

Ok, I am fine and I always be fine.
Mari berdamai dengan diri sendiri…
^_^


Wed, 19.09.07; 13:11 wib.
-masihBelajarMenjadiPositifSetiapHari:)
taken from: http://fathiana.blogspot.com





--- In [email protected], endah sriredjeki <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Seru sekali membacanya , mbak......
> Saya dulu hobi banget baca artikel psikologi dalam rangka belajar
> bagaimana mengenal dan mendevelop karakter diri sendiri.
> Namanya juga hobi, jadi seperti menu sehari-hari gitu ....
> Saya mengibaratkan di dalam diri  kita tuh ada ular naga lengkap
dengan semburan apinya (hi..hi...mirip film kartun kali..)
> Kalo kita tidak pandai2 menjinakkan si ular naga tadi, maka bisa
jatuh korban !!
> Si ular naga akan menyemburkan api ke orang-orang di sekitar kita,
bisa teman/kolega, murid/mahasiswa, anak sendiri, bahkan suami/istri
....!!!
> Waduuh, bayangkan betapa menyesalnya kita setelah api tadi membakar
semuanya .....
> Saya punyai trik untuk belajar menjinakkan si ular naga tadi, begini :
> di kamar saya ada lemari pakaian dengan cermin besar yang bisa
menampilkan bayangan saya dari kaki hingga ubun2.
> Nah, ketika suntuk pulang kerja atau pas punya masalah ...
> saya langsung masuk kamar dan berdiri di depan cermin. 
> Saya tumpahkan semua uneg2, amarah, kesel, judheg, dan kawan2nya ke
bayangan di cermin. Pake menudingkan tangan, menghentakkan kaki,
menjulurkan lidah, menjambak rambut sendiri and so on, but..keep
silent !!!
> (ngga pake lempar kaleng, looo....noisy banget )
> 
> Kalo ingat lucu banget gitu, kaya main acting
> Setelah tumpah ruah, kemudian berlanjut dengan nulis di diary ....
> Kalo itu masalah pekerjaan/studi, maka saya susun  time table 
penyelesaiannya  dan kemudian disiplin untuk melaksanakannya.  
> Tapi kalo masalah pribadi, saya coba sinergikan otak kanan, kiri dan
qalbu.  
> Dan tidak kalah penting adalah berbisik-bisik sama Allah setiap saat. 
> Kita punya fasilitas koneksi langsung dengan Allah dan bebas biaya
tanpa hambatan.  Namun, kadang kita tidak memaksimalkan fasilitas
tersebut.
> Jangan lupa : Allah sangat dekat dengan keinginan hambaNya.
>  
> Memang perlu latihan, karena hidup adalah proses.
> Yang penting adalah SEMANGAT untuk BERUBAH menjadi lebih baik lagi.
> 
> Salam hangat,
> 
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> sinthionk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                
> Amarah vs Amalan  
>   (Menang mana neh?!)
>   by SinthionK
>   
>  
>   "Individu harus mampu mengendalikan kemarahan sebelum
> kemarahan itu  yang mengendalikan hidupnya"  
>   (Marah Itu Wajar_Sismanto)
>   
>  
>  Seorang dermawan selalu memberikan sedekah kepada orang-orang tidak
mampu disekitarnya, dan dia selalu menugaskan anaknya untuk mendata
siapa-siapa saja yang pantas untuk mendapatkan sedekah. Suatu saat
sang ayah marah kepada si fulan, saat sang anak mengetahui hal itu,
dia langsung menghapus nama fulan dalam daftar orang tidak mampu yang
akan diberi sedekah.
>   
>  
>  Saat sang ayah memeriksa daftar, terlihat dahinya berkerut,
Â"Kenapa tidak ada nama si fulan di dalam daftar ini?Â"
>  Seketika sang anak menjawab, Â"Bukankah ayah marah kepadanya?Â"
>  Â"Anakku... Aku tidak melibatkan amarah dalam melakukan segala
amalankuÂ"
>   ***
>   
>  
>  Sebuah kisah yang aku dengar dari stasiun radio ini aku beri judul
amarah vs amalan. Salah satu kisah dari sekian banyak kisah yang
dikisahkan dengan penuh penghayatan, kisah yang masuk ke dalam lubang
telingaku dan menembus ke dalam hati---alhamdulillah---memberiku
renungan bermakna.
>   
>  
>   
>  
>  Kisah inspiratif yang sangat menonjok, menonjok aku si
manusia-lahar-gunung-yang-suka-meletus-letus. Dan sudah menjadi hal
Â'wajarÂ', kesulitanku mengendalikan emosi seringkali berdampak kepada
segala aktivitasku.   
>   
>  
>  Sedikit mengutip sebuah kalimat dari artikel yang berjudul Marah
Itu Wajar_Sismanto,
>  Â"Namun di sisi lain tentu saja dituntut cara-cara yang
> tepat untuk mengungkapkan kemarahan tersebut sebab jika tidak maka hal
> itu bisa merusak sendi-sendi kehidupan yang mungkin sudah tertata
> dengan baik.Â"
>   
>  
>  Nah, disitulah permasalahan yang seringkali  menimpaku,
pengekspresian amarahku sering masuk ke area tidak tepat---untuk
tulisan di sini sebut aja ngamuk (Bahasa Jawanya marah)---
>   
>  
>  Pernah, saat emosiku mulai menyembur, aku mendekam di kamar sambil
melempar-lempar botol minuman ke pojok dinding dengan penuh emosi.
Suaranya keras yang dihasilkan lemparan botol itu membuat abahku
Â'berkunjungÂ' ke kamar,  
>  Â"Ono opo iki? Lek ngamuk ngomong ae gak usah balang-balang
botol,Â" katanya dengan tenang.
>  (Ada apa ini? Kalau marah bicara aja, gak usah lembar-lembar botol)
Wah...seketika ketenangan beliau membuat aku malu dan menghentikan
tingkah konyolku; atau melakukan tingkah konyolku part 2, menyalakan
musik keras-keras, tapi telinga aku tutup dengan bantal; atau sikap
Â'premanÂ' aku ambil, dengan melancarkan serangan mulut langsung
kepada Â'sasaranÂ' dengan nada keras, dan lahirlah tingkah konyol part 3.
>  Itulah beberapa tingkahku Â`menanggulangiÂ' emosi di masa imut
dulu. Fiyuh....
>   
>  
>  Seiring bertambahnya umur dan masuknya aku ke masa amit,
penyikapanku terhadap emosi berbeda.  Saat aku ngamuk dengan
seseorang, aku tidak melempar-lempar botol, tidak pula menyalakan
musik keras-keras. Sikap yang aku ambil adalah tingkah konyol part 3
yang sudah termodifikasi, serangan mulut dengan perubahan nada, dari
keras menjadi sinis; atau tingkah konyol part 4
ambil-sikap-sangat-cuek; aku-gak-peduli-lagi-ma-dia;
emang-gua-pikirin-siapa-lo. (Hiks...hiks...tingkah konyolku koq tambah
banyak)
>   
>  
>  Dari tingkah konyol part 4 inilah yang sering berlanjut ke kondisi
jaga jarak dengan Â'sasaranÂ'---kayaknya part 5 neh---Bukan dalam
rangka dendam, tetapi aku selalu berpikir, Â"daripada aku semakin
emosi dan memikirkan hal-hal buruk tentang dia mending aku menyingkir
saja.Â" Dan bisa dipastilkan sikap ini sangat berdampak dengan amalan
 silaturahmiku. Jadi, bisa disimpulkan kemenangan masih ada di tangan
amarah dan amalan masih tertinggal di belakang.
>   
>  
>  Hari itu aku tidak hanya tertonjok dengan kisah Amarah vs Amalan,
sebuah bantingan menimpaku (emang smack down??). Bantingan yang
berasal dari sobat-terbaikku-sepanjang-masa yang mengingatkanku
tentang sebuah hadist, kurang lebih berisi, Â"Merugilah manusia yang
memutuskan tali silaturahmi lebih dari 3 hariÂ" Huaaaaaa....!!  
>   
>  
>  Tidak pernah hadist ini terasa begitu Â'membantingÂ' seperti saat 
ini. Karena sudah berkali-kali aku diingatkan tentang hadist ini di
setiap sesi ngamukku, tapi Â'pengingatÂ' itu hanya sekedar lewat di
kepalaku. Apakah ini menandakan hatiku sudah semakin hitam dan keras??
AstaghfirullahalÂ'adzim....
>   
>  
>  Lain sesi aku mencurahkan sikapku kepada
sobat-terbaikku-sepanjang-masa,
>  + : Â"Apa yang harus aku lakukan untuk menenangkan si emosi??Â"
>  - : Â"Ya...kendalikan si emosi, maklum dia kan suka loncat-loncatÂ"
>  + : Â"Tapi kan gak gampang, sulit euy menenangkan dia kalau sudah
bangunÂ"
>  - : Â"Niat nenangin diri gak? Coba bilang ma kepala dan hati untuk
mengingat dan meresapi sebuah hadist Â"Orang kuat, bukan orang yang
menang berkelahi, tapi orang kuat adalah orang yang bisa menahan
marah," kalau perlu ajak juga si tangan untuk menuliskannya
besar-besar di kamarmu.  Sekarang bukan saatnya mengajak mulut untuk
menggerutu, lakukan perbaikan diri sekarang juga sebelum Â'mesinÂ'mu
semakin ausÂ"
>  Â"Wow...!!Â" Batinku bersorak, saat melihat sobatku dengan 
semangat Â'menaikkanÂ'ku lagi. Dan semangat itupun mulai menjalar di
dalam tubuhku.
>  + : Â"Bismillahirahmanirahim...Oke!!Â" sambil memantapkan diri
>   - : Â"Oke beneran neh?Â"
>   + : Â"halah...iya iya...Â"
>   
>  
>  Dari sharing yang dengan begitu semangatnya dilontarkan
sobat-terbaikku-sepanjang-masa, aku bersyukur ada yang selalu
mengingatkan. Pengingat yang  tak pernah bosan mengingatkan. Sekali
lagi aku bersyukur saat kisah Amarah vs Amalan mampir ke telingaku,
dan membuatku berpikir Â"Apakah aku rela, amarah selalu memegang
bendera kemenangan sedangkan amalan harus terpuruk di pojok ruangan?Â"
>   
>  
>  Â"Semoga semangat-tahan-ngamuk ini tetap berkobar di hati. Untuk
teman-teman yang senasib, semoga semangatnya bisa menular. Semoga
amalan silaturahmi manusia di dunia tidak akan pernah terputus. Dan
terhindarlah kita semua menjadi manusia merugiÂ"
>   
>  
>  AMIIIIIIN......!!!
>   
>  
>  Rancabolang, Januari 2008
>   
>  
>   Salam,
>  Sinta yang mau bikin tulisan-tahan-ngamuk besar-besar di kamar
>   
>  
>  NB. Makasih buat Mas Sismanto atas artikel Â"Marah itu WajarÂ",
makasih untuk  sobat-terbaikku-sepanjang-masa dan teman-teman yang
selalu membantuku meredam amarah, thx for everything Â'n the best for all.
>  
> 
> "Keindahan selalu muncul saat manusia berpikir positif"
> 
> sinthionk et yahoo dot com; sinthionk et gmail dot com
> http://sinthionk.multiply.com; http://sinthionk.rezaervani.com
> YM: sinthionk
> 
>         
> 
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and  know-it-all with Yahoo! Mobile.
 Try it now.
>      
>                                
> 
>        
> ---------------------------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di
Yahoo! Answers
>


Kirim email ke