MEMINDAHKAN SEJARAH
(renungan tahun baru hijriyah 1429 H)
Oleh : Reza Ervani
(unduh versi pdf di : http:// 
www.rezaervani.com/training/memindahkan_sejarah.pdf)


Bismilahirrahmanirrahiim


Yang Ketiga adalah Allah
Ada ayat di dalam Al Quran Al Karim yang menceritakan sepenggal dari proses 
hijrah. Sebagaimana ayat Quran, bagian yang dipaparkan tentulah bagian penting 
atau bahkan terpenting dari rangkaian proses, tanpa menghilangkan keutuhan 
kejadian secara keseluruhan.

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah 
menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya 
(dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada 
dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, 
sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada 
(Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan 
Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah 
itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Al Quran Al Karim Surah At Taubah ayat 40)


Asbab An Nuzul, atau kejadian yang melatar belakangi turunnya ayat ini adalah 
ketika Abu Bakar Ash Shidiq r.a merasa begitu cemas jikalau pasukan Quraisy 
yang mengikuti jejaknya dan Rasulullah Muhammad saw mengetahui tempat 
persembunyian mereka di Gua Tsur.

Al Bukhari meriwayatkan dari Anas, dari Abu Bakar, dia berkata : 
“Aku bersama Nabi shalallahu alaihi wa salam di dalam gua. Kudongakkan kepala, 
dan kulihat kaki beberapa orang. Aku berkata, “Wahai Nabi Allah, andaikata 
mereka melongokkan pandangannya, tentu mereka akan melihat kita.”

Rasulullah saw menjawab :
“Diamlah wahai Abu Bakar. Dua orang, dan yang ketiga adalah Allah.”

Dalam suatu lafazh disebutkan, “Apa perkiraanmu wahai Abu Bakar tentang dua 
orang, sedang yang ketiga adalah Allah”

Hijrah adalah momentum kebangkitan kaum Muslim. Nilai utamanya bukanlah pada 
proses perpindahannya. Tapi pada keyakinan tadi : Bahwa kita tidak pernah 
sendiri, ada Allah di atas kita, dan Allah-lah yang menjadi alasan dan tujuan 
segala gerak dalam hidup seorang hamba. Demikianlah pula yang digambarkan oleh 
Rasulullah saw dalam satu haditsnya yang terkenal dan menjadi hadits pertama 
dalam Arbain An Nawawiyah :

“Sesungguhya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan 
amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya karena Allah dan 
RasulNya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan RasulNya. Barangsiapa hijrahnya 
karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka 
hijrahnya itu menuju yang ia inginkan. 
(Hadits Riwayat Bukhari Muslim)


Dalam dunia pelatihan, kita mengetahui ada yang disebut dengan Achievement 
Motivation Training, Pelatihan Motivasi Pencapaian. Apa yang dicapai ?

Disinilah kita mendapatkan betapa rapuhnya motivasi-motivasi kesuksesan ala 
Barat, yang menjadikan materi menjadi ukuran keberhasilan.

Hijrah adalah perpaduan yang sangat seimbang antara keyakinan yang kuat dengan 
kekuatan amal yang nyata. Inilah motivasi yang paling tinggi bagi seorang 
mukmin. Perubahan besar yang terjadi karena perpaduan keduanya menjadi sangat 
luar biasa, sebagaimana yang akan kita bahas dalam bagian berikut tulisan ini.

Keseimbangan Idealisme dan Karya Nyata
Begitu dahsyatnya sebuah episode perubahan yang termotivasi oleh Dzat Yang Maha 
Tinggi. 

Coba perhatikan Al Quran … perpindahan karena Allah itu menjadikan komposisi 
ayat yang turun memasuki tahap berikutnya, yang oleh jumhur ulama disebut 
sebagai fase Madinah, sehingga ayat-ayatnya pun disebut ayat-ayat Madaniyah.

Ayat-ayat Madaniyah ini sebagian besar adalah implementasi dari pembelajaran 
dan penguatan keyakinan secara utuh selama 11 tahun fase Makkiyah. Keyakinan 
dan idealisme yang sudah terbentuk menuntut kerja nyata dan lebih keras, bukan 
menyimpannya dalam sebuah guci romantisme dan khayalan semu tentang kebangkitan 
sebuah peradaban Rabbani.

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang 
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) 
Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada 
kamu apa yang telah kamu kerjakan
(Al Quran Al Karim Surah At Taubah ayat 105)


Inilah ayat tentang motivasi pencapaian yang paling sempurna. Bobotnya jauh 
lebih berat dari ribuan buku motivasi yang pernah ada. Komposisi seimbang yang 
tak pernah ada dalam kitab suci manapun selain Al Quran Al Karim. Setidaknya 
ada 5 (lima) perpaduan unsur yang menjadi kekhasan motivasi berbasis Quran :

1.    Pekerjaan kita diperhatikan oleh Allah, sehingga menuntut optimasi tanpa 
batas.
2.    Pekerjaan kita juga telah diberikan bingkai prinsip dasar oleh apa-apa 
yang dicontohkan oleh RasulNya. Bingkai yang diberikan oleh Rasulullah ini 
begitu utuh, ada bingkai keadilan, ada bingkai hubungan sosial, ada bingkai 
pelestarian lingkungan, ada bingkai waktu, ada bingkai hak dan kewajiban dan 
banyak lagi.
3.    Pekerjaan kita mestilah berhasil guna, mampu memberikan manfaat 
sebesar-besarnya bagi banyak orang.
4.    Ada banyak bagian yang kita tidak ketahui dari pekerjaan kita. Ada campur 
tangan yang tak terjangkau oleh akal dalam keberhasilannya atau bahkan 
kegagalannya.
5.    Optimasi kerja akan selalu berhadapan dengan keterbatasan manusiawi. Tapi 
tidak ada yang sia-sia karena pekerjaan kita bukan saja berorientasi dunia, 
tapi harus menembus ruang dan waktu, menjadi tabungan pensiun di masa kekal 
dimana kita tidak dituntut untuk bekerja lagi.

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini 
tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya 
dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian 
menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap 
pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al Quran Al Karim Surah An Nisa ayat 100)


Begitulah ummat muslim bekerja di masa-masa awal, sehingga peradaban yang 
tercatat terbangun paling cepat di dunia bisa begitu menggetarkan dan 
menggemparkan.

Dengan cara itulah mereka berpindah dari Mekkah ke Madinah
Dengan cara itulah mereka memindahkan sejarah dari tangan Kisra, Rum dan Parsi 
ke genggaman Islam.

Mampukah kita menyusuri jejak mereka, merajut kembali nilai-nilai hijrah, agar 
kita dapat kembali memindahkan kejayaan yang kini terlepas kembali ke pangkuan 
ummat.

Semoga …

Laa Haula wa Laa Quwwata Ila Billah

Allahu ‘Alam

Bandung, 1 Muharram 1429 Hijriyah
Original Writing by Reza Ervani
komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani


       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke