Saya senang membaca tulisan antum,..
Kalau boleh saya tambah makna hijrah yg sebenarnya adalah :
Kenapa selama 13 tahun dakwah rasul di MEKAH belum berhasil hanya beberapa
puluh orang yang ikut dgn ajaran islam, pointnya adalah jahililyah, betapa
buruknya keadaan sosial masyarakat Mekah waktu itu,
pembunuhan,pembataian,kesyirikan,semua aturan hidup manusia benar benar buruk
dan kufur.Hukum tidak berjalan,hukum diatur siapa yg kuat dia lah yg menang,
benar2 zolim masyarakat Mekah waktu itu. Sampai Allah SWT memerintah kepada
Muhammad SAW untuk berhijrah ke Madinah.
Artinya apa,.. tinggalkan sistem kufur dan kembali ke sistem islam, dengan
sistem islam baru lah masyarakat akan terlindungi, keberkan dari Allah SWT akan
turun. Jadi kalau mau INDONESIA mau baik, mau merubah nasib, mau mendapat
ridhoNYA Allah, terhindar dari malapetaka, terhindar dari musibah, ikutilah
cara cara Rasulallah SAW, mulai dari shalatnya sampai bagaimana Rasulallah SAW
mengelolah negara.
Sebab Islam itu bukan hanya mengatur masalah shalat,zakat,puasa,dan haji
saja, Islam juga mengatur seluruh kehidupan manusia : ekonomi,
perdata/pidana,pendidikan,militer, politik, budaya, pemerintahan, dll.
Nah,..sekarang pemerintah kita mau tidak berhijrah dari sistem pemerintahan
yg kufur menjadi sistem pemerintahan yg islami sebagaimana Rasulallah dan para
sahabat menjalankannya. Sebab,..mesin/sistem pemerintahan kita sekarang ini
terbuat dari pemikiran barat yaitu Demokrasi, demokrasi yg jelas jelas ajaran
tidak sesuai dgn ajaran Islam, suara rakyat adalah suara tuhan. Tidak peduli
halal atau haram sebuah aturan itu yang penting suara terbanyak, maka aturan
itu menjadi sah dan benar. Kalau islam tdk seperti itu,.. kebenaran datang dari
wahyu tolok ukurnya halal dan haram,bukan suara terbanyak.
Jadi kesimpulannya mau tdk kita berhijrah dari masyarakat yg tidak islami
menjadi masyarakat yg islami.
Terima kasih,
Syatibi bin Hasan
Rumah Ilmu Indonesia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MEMINDAHKAN SEJARAH
(renungan tahun baru hijriyah 1429 H)
Oleh : Reza Ervani
(unduh versi pdf di : http://
www.rezaervani.com/training/memindahkan_sejarah.pdf)
Bismilahirrahmanirrahiim
Yang Ketiga adalah Allah
Ada ayat di dalam Al Quran Al Karim yang menceritakan sepenggal dari proses
hijrah. Sebagaimana ayat Quran, bagian yang dipaparkan tentulah bagian penting
atau bahkan terpenting dari rangkaian proses, tanpa menghilangkan keutuhan
kejadian secara keseluruhan.
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah
menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya
(dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada
dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita,
sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada
(Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan
Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah
itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Al Quran Al Karim Surah At Taubah ayat 40)
Asbab An Nuzul, atau kejadian yang melatar belakangi turunnya ayat ini adalah
ketika Abu Bakar Ash Shidiq r.a merasa begitu cemas jikalau pasukan Quraisy
yang mengikuti jejaknya dan Rasulullah Muhammad saw mengetahui tempat
persembunyian mereka di Gua Tsur.
Al Bukhari meriwayatkan dari Anas, dari Abu Bakar, dia berkata :
Aku bersama Nabi shalallahu alaihi wa salam di dalam gua. Kudongakkan kepala,
dan kulihat kaki beberapa orang. Aku berkata, Wahai Nabi Allah, andaikata
mereka melongokkan pandangannya, tentu mereka akan melihat kita.
Rasulullah saw menjawab :
Diamlah wahai Abu Bakar. Dua orang, dan yang ketiga adalah Allah.
Dalam suatu lafazh disebutkan, Apa perkiraanmu wahai Abu Bakar tentang dua
orang, sedang yang ketiga adalah Allah
Hijrah adalah momentum kebangkitan kaum Muslim. Nilai utamanya bukanlah pada
proses perpindahannya. Tapi pada keyakinan tadi : Bahwa kita tidak pernah
sendiri, ada Allah di atas kita, dan Allah-lah yang menjadi alasan dan tujuan
segala gerak dalam hidup seorang hamba. Demikianlah pula yang digambarkan oleh
Rasulullah saw dalam satu haditsnya yang terkenal dan menjadi hadits pertama
dalam Arbain An Nawawiyah :
Sesungguhya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat
balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya karena
Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan RasulNya. Barangsiapa
hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia
nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.
(Hadits Riwayat Bukhari Muslim)
Dalam dunia pelatihan, kita mengetahui ada yang disebut dengan Achievement
Motivation Training, Pelatihan Motivasi Pencapaian. Apa yang dicapai ?
Disinilah kita mendapatkan betapa rapuhnya motivasi-motivasi kesuksesan ala
Barat, yang menjadikan materi menjadi ukuran keberhasilan.
Hijrah adalah perpaduan yang sangat seimbang antara keyakinan yang kuat dengan
kekuatan amal yang nyata. Inilah motivasi yang paling tinggi bagi seorang
mukmin. Perubahan besar yang terjadi karena perpaduan keduanya menjadi sangat
luar biasa, sebagaimana yang akan kita bahas dalam bagian berikut tulisan ini.
Keseimbangan Idealisme dan Karya Nyata
Begitu dahsyatnya sebuah episode perubahan yang termotivasi oleh Dzat Yang Maha
Tinggi.
Coba perhatikan Al Quran
perpindahan karena Allah itu menjadikan komposisi
ayat yang turun memasuki tahap berikutnya, yang oleh jumhur ulama disebut
sebagai fase Madinah, sehingga ayat-ayatnya pun disebut ayat-ayat Madaniyah.
Ayat-ayat Madaniyah ini sebagian besar adalah implementasi dari pembelajaran
dan penguatan keyakinan secara utuh selama 11 tahun fase Makkiyah. Keyakinan
dan idealisme yang sudah terbentuk menuntut kerja nyata dan lebih keras, bukan
menyimpannya dalam sebuah guci romantisme dan khayalan semu tentang kebangkitan
sebuah peradaban Rabbani.
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)
Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada
kamu apa yang telah kamu kerjakan
(Al Quran Al Karim Surah At Taubah ayat 105)
Inilah ayat tentang motivasi pencapaian yang paling sempurna. Bobotnya jauh
lebih berat dari ribuan buku motivasi yang pernah ada. Komposisi seimbang yang
tak pernah ada dalam kitab suci manapun selain Al Quran Al Karim. Setidaknya
ada 5 (lima) perpaduan unsur yang menjadi kekhasan motivasi berbasis Quran :
1. Pekerjaan kita diperhatikan oleh Allah, sehingga menuntut optimasi tanpa
batas.
2. Pekerjaan kita juga telah diberikan bingkai prinsip dasar oleh apa-apa
yang dicontohkan oleh RasulNya. Bingkai yang diberikan oleh Rasulullah ini
begitu utuh, ada bingkai keadilan, ada bingkai hubungan sosial, ada bingkai
pelestarian lingkungan, ada bingkai waktu, ada bingkai hak dan kewajiban dan
banyak lagi.
3. Pekerjaan kita mestilah berhasil guna, mampu memberikan manfaat
sebesar-besarnya bagi banyak orang.
4. Ada banyak bagian yang kita tidak ketahui dari pekerjaan kita. Ada campur
tangan yang tak terjangkau oleh akal dalam keberhasilannya atau bahkan
kegagalannya.
5. Optimasi kerja akan selalu berhadapan dengan keterbatasan manusiawi. Tapi
tidak ada yang sia-sia karena pekerjaan kita bukan saja berorientasi dunia,
tapi harus menembus ruang dan waktu, menjadi tabungan pensiun di masa kekal
dimana kita tidak dituntut untuk bekerja lagi.
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi
ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari
rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian
menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap
pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al Quran Al Karim Surah An Nisa ayat 100)
Begitulah ummat muslim bekerja di masa-masa awal, sehingga peradaban yang
tercatat terbangun paling cepat di dunia bisa begitu menggetarkan dan
menggemparkan.
Dengan cara itulah mereka berpindah dari Mekkah ke Madinah
Dengan cara itulah mereka memindahkan sejarah dari tangan Kisra, Rum dan Parsi
ke genggaman Islam.
Mampukah kita menyusuri jejak mereka, merajut kembali nilai-nilai hijrah, agar
kita dapat kembali memindahkan kejayaan yang kini terlepas kembali ke pangkuan
ummat.
Semoga
Laa Haula wa Laa Quwwata Ila Billah
Allahu Alam
Bandung, 1 Muharram 1429 Hijriyah
Original Writing by Reza Ervani
komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it
now.
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.