Salaam
Terima kasih pak Syarif tulisannya, ini jadi sebuah lecutan buat diri saya
pribadi..yang selalu terburu-buru, dikejar waktu...dan seringnya memang tidak
sabar. Berat memang untuk jadi orang sabar ya.
Subhanallah bagus sekali cara penyampaiannya, tidak menggurui, tidak boring
malah langsung saya menohok kediri sendiri, selfcritisized, mengukur level
kesabaran saya. Membaca ini ah saya jadi kecut deh, syukron enewei, semoga
Allah membalas kebaikan pak Syaraf dalam cara ber'dawah.
Selamat membaca buat para sahabat dimilis di uk.
wassalam, teteh.
Syarif Niskala <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
(mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali
bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka
akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS 2 : 45 -
46).
Sahabat-sahabat milis yang budiman.
Saya tidak mampu menangkap hakikat yang tersembunyi dari makna ayat di atas.
Keterbatasan ilmu pendukung tafsir yang dikuasai, mengkebiri keinginan
mengupas, apa sebenarnya yang dimaksud oleh ayat paling fenomenal tersebut.
Saya hanya melihat, pasti ada sesuatu yang sangat besar pada ayat tersebut,
dimana terdapat 4 kata yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yaitu
pertolongan, meminta, berat dan khusyuk.
Shalat, kedudukannya sangat vital dan krusial dalam keimanan dan keislaman.
Posisinya sebagai nomor dua, menunjukkan keutamaan yang sangat besar. Telah
berpuluh, beratus, beribu buku dan jutaan lembar dokumen dari para ulama untuk
melengkapkan sudut pandang tentang shalat, agar kaum muslimin tertarik untuk
menekuninya dengan sungguh-sungguh dan fokus (khusyuk) sebagai ketaatan yang
utama. Tapi entah mengapa dan apa yang ada dalam benak kaum muslimin, karena
jumlah sajadah yang terbentang dan ruang shaf di masjid, tidak sebanding dengan
keharusan ruang yang ditempati oleh kaum muslimin. Sajadah tetap saja jarang
disujudi. Masjid-masjid tetap saja sepi dari jamaah.
Bagaimana dengan shabar? Sejujurnya nasibnya tidak jauh berbeda dengan shalat.
Memang buku-buku, nasehat dan ajakan untuk bershabar tidak segencar
menegakkan shalat. Jika syariah telah menggariskan minimal 5 kali sehari
panggilan shalat, tidak demikian dengan panggilan untuk shabar. Tetapi jika
kita melihat kedudukan shabar dalam ayat di atas, sesungguhnya pasti ada
keutamaan yang besar padanya, walau tidak sebanding dengan keutamaan shalat.
Tapi pasti sangat besar.
Sahabat-sahabat milis yang rendah hati.
Saya tidak bermaksud membahas shabar dari sisi normatif, apatah lagi teori
yang rumit dan seringkali soliter itu. Saya ingin berbagi sudut pandang yang
terdekat dengan keseharian kita, sebagai salah satu bentuk terkini wajah
keshabaran kita, Anda dan saya. Saya mengundang Anda untuk memahami shabar
dari kalimat-kalimat berikut:
Apakah dapat disebut seorang penyabar, sebuah pribadi yang membaca bacaan
sholatnya menafikan semua ketentuan tajwid dalam melantunkan ayat-ayat suci?
Seberapa sering kita cukup bershabar untuk berpanjang harokat membaca surat Al
Ma'un pada kalimat 'yuroo un' atau 'ida jaa' pada surat An Nashr.
Apakah dapat disebut seorang penyabar, banyak pribadi yang membaca surah
Yasin tiap pekan, yang berbangga hati bila selesai duluan dengan
mengenyampingkan perintah-Nya untuk membaca dengan tartil?
Apakah dapat disebut seorang penyabar, apabila seorang hamba berdoa di akhir
shalatnya dengan doa yang tidak jelas harokat mad thabi'i, mad jaidz, tidak
taat waqaf, tidak peduli idgham?
Apakah dapat disebut seorang penyabar, sebuah pribadi yang tidak mampu
menahan diri untuk diam selama 5 detik agar tercapai rukun shalat tumaninah
pada setiap shalat sunatnya?
Apakah dapat disebut seorang penyabar, seseorang yang tidak mampu
melengkapkan huruf pada setiap kata dalam SMS yang dia kirimkan? Tidakkah kita
sering menemukan, sebuah sms yang hanya berisi deretan huruf mati, padahal
masih tersisa banyak jatah karakter yang walau kosong, tetap harus dibayarnya?
Apakah dapat disebut seorang penyabar, seorang pengendara motor yang tidak
mampu menahan diri sekitar 3 detik saja, saat lampu kuning masih menyala?
Sahabat-sahabat milist yang baik,
Jika kita semua mencermati hal-hal di atas, keshabaran itu bukan sifat,
melainkan ekspresi dari:
1. kualitas taat asas kita pada peraturan-peraturan
2. kualitas hormat kita pada orang lain
3. kualitas hormat kita pada diri sendiri
4. kualitas hormat kita pada waktu proses sebagai sunatullah - bukankah Yang
Maha Kuasa saja menciptakan alam ini melalui 6 massa, padahal kun fayakun.
Sahabat-sahabat, shabar itu bukan sifat, melainkan akibat.
Kita yang harus merancang respon, menakar hormat, menapaki tahapan, menaati
aturan; sehingga keseluruhan hidup kita teratur, terukur, terpikirkan,
terhormat. Dan atas kualitas hidup kita yang seperti ini, kita disebut sebuah
pribadi yang PENYABAR.
Penyabar bukan hanya tidak mendidih perasaan ketika dihardik dan dianiaya.
Lebih dari itu, penyabar adalah kualitas diri dari pribadi yang mulia. Itulah
sebabnya, shabar sangat dengat dengan shalat, yaitu sarana permintaan tolong
kepada-Nya. Sedekat persaudaraan huruf sha yang menjadi awal dua kata itu.
Sahabat-sahabat milis yang budiman,
Terima kasih atas perkenan Anda untuk membaca sudut pandang yang
mudah-mudahan melengkapi sudut pandang Anda sebelumnya.
Wassalam
Syarif Niskala
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.