Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. 
Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang 
khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, 
dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS 2 : 45 - 46).



Sahabat-sahabat milis yang budiman.

Saya tidak mampu menangkap hakikat yang tersembunyi dari makna ayat di atas.  
Keterbatasan ilmu pendukung tafsir yang dikuasai, mengkebiri keinginan 
mengupas, apa sebenarnya yang dimaksud oleh ayat paling fenomenal tersebut.  
Saya hanya melihat, pasti ada sesuatu yang sangat besar pada ayat tersebut, 
dimana terdapat 4 kata yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yaitu 
pertolongan, meminta, berat dan khusyuk.

Shalat, kedudukannya sangat vital dan krusial dalam keimanan dan keislaman.  
Posisinya sebagai nomor dua, menunjukkan keutamaan yang sangat besar.  Telah 
berpuluh, beratus, beribu buku dan jutaan lembar dokumen dari para ulama untuk 
melengkapkan sudut pandang tentang shalat, agar kaum muslimin tertarik untuk 
menekuninya dengan sungguh-sungguh dan fokus (khusyuk) sebagai ketaatan yang 
utama.  Tapi entah mengapa dan apa yang ada dalam benak kaum muslimin, karena 
jumlah sajadah yang terbentang dan ruang shaf di masjid, tidak sebanding dengan 
keharusan ruang yang ditempati oleh kaum muslimin.  Sajadah tetap saja jarang 
disujudi.  Masjid-masjid tetap saja sepi dari jamaah.

Bagaimana dengan shabar? Sejujurnya nasibnya tidak jauh berbeda dengan shalat.

Memang buku-buku, nasehat dan ajakan untuk bershabar tidak segencar menegakkan 
shalat.  Jika syariah telah menggariskan minimal 5 kali sehari panggilan 
shalat, tidak demikian dengan panggilan untuk shabar.  Tetapi jika kita melihat 
kedudukan shabar dalam ayat di atas, sesungguhnya pasti ada keutamaan yang 
besar padanya, walau tidak sebanding dengan keutamaan shalat.  Tapi pasti 
sangat besar.

Sahabat-sahabat milis yang rendah hati.

Saya tidak bermaksud membahas shabar dari sisi normatif, apatah lagi teori yang 
rumit dan seringkali soliter itu.  Saya ingin berbagi sudut pandang yang 
terdekat dengan keseharian kita, sebagai salah satu bentuk terkini wajah 
keshabaran kita, Anda dan saya.  Saya mengundang Anda untuk memahami shabar 
dari kalimat-kalimat berikut:

Apakah dapat disebut seorang penyabar, sebuah pribadi yang membaca bacaan 
sholatnya menafikan semua ketentuan tajwid dalam melantunkan ayat-ayat suci?  
Seberapa sering kita cukup bershabar untuk berpanjang harokat membaca surat Al 
Ma'un pada kalimat 'yuroo un' atau 'ida jaa' pada surat An Nashr.

Apakah dapat disebut seorang penyabar, banyak pribadi yang membaca surah Yasin 
tiap pekan, yang berbangga hati bila selesai duluan dengan mengenyampingkan 
perintah-Nya untuk membaca dengan tartil?

Apakah dapat disebut seorang penyabar, apabila seorang hamba berdoa di akhir 
shalatnya dengan doa yang tidak jelas harokat mad thabi'i, mad jaidz, tidak 
taat waqaf, tidak peduli idgham?

Apakah dapat disebut seorang penyabar, sebuah pribadi yang tidak mampu menahan 
diri untuk diam selama 5 detik agar tercapai rukun shalat tumaninah pada setiap 
shalat sunatnya?

Apakah dapat disebut seorang penyabar, seseorang yang tidak mampu melengkapkan 
huruf pada setiap kata dalam SMS yang dia kirimkan?  Tidakkah kita sering 
menemukan, sebuah sms yang hanya berisi deretan huruf mati, padahal masih 
tersisa banyak jatah karakter yang walau kosong, tetap harus dibayarnya?

Apakah dapat disebut seorang penyabar, seorang pengendara motor yang tidak 
mampu menahan diri sekitar 3 detik saja, saat lampu kuning masih menyala?

Sahabat-sahabat milist yang baik,

Jika kita semua mencermati hal-hal di atas, keshabaran itu bukan sifat, 
melainkan ekspresi dari:

1. kualitas taat asas kita pada peraturan-peraturan

2. kualitas hormat kita pada orang lain

3. kualitas hormat kita pada diri sendiri

4. kualitas hormat kita pada waktu proses sebagai sunatullah - bukankah Yang 
Maha Kuasa saja menciptakan alam ini melalui 6 massa, padahal kun fayakun. 



Sahabat-sahabat, shabar itu bukan sifat, melainkan akibat.  

Kita yang harus merancang respon, menakar hormat, menapaki tahapan, menaati 
aturan; sehingga keseluruhan hidup kita teratur, terukur, terpikirkan, 
terhormat.  Dan atas kualitas hidup kita yang seperti ini, kita disebut sebuah 
pribadi yang PENYABAR.

Penyabar bukan hanya tidak mendidih perasaan ketika dihardik dan dianiaya.  
Lebih dari itu, penyabar adalah kualitas diri dari pribadi yang mulia.  Itulah 
sebabnya, shabar sangat dengat dengan shalat, yaitu sarana permintaan tolong 
kepada-Nya.  Sedekat persaudaraan huruf sha yang menjadi awal dua kata itu.



Sahabat-sahabat milis yang budiman,

Terima kasih atas perkenan Anda untuk membaca sudut pandang yang mudah-mudahan 
melengkapi sudut pandang Anda sebelumnya.



Wassalam

Syarif Niskala

Kirim email ke