Hari Ini Aku Marah-Marah
oleh: Nurlina Salehe
Hari ini, aku marah dengan ingatanku
yang kepintarannya mengingat huruf-huruf namamu
melebihi kemahiranku menghapal angka-angka ulangtahunku
Hari ini, aku marah dengan dompetku
yang bersekutu dengan tanganmu diam-diam
menyelipkan gambarmu di sela-sela uang pembeli tiketku.
Gambar yang selalu berbisik di telingaku dengan
kata berulang-ulang, cepat pulang.
Hari ini, aku marah dengan jam penerbangan
yang jalannya amat lambat melintasi pukul dua.
Seakan-akan menunggu kedatanganmu untuk
menghadiahkanku sebuah pelukan, selamat jalan.
Tuk menjadi selimutku dalam pesawat, kelak.
Hari ini, aku marah dengan karyawan hotel
yang pura-pura tidak tahu kalau aku hanya memesan
teh manis. Tetapi, masih saja melengkapkannya dengan
secawan kopi tanpa gula, kesukaanmu. Yang warnanya
sehitam rambutmu.
Hari ini, aku marah dengan bantal dan tidur
yang selalu cerewet dalam mimpiku. Hingga
membangunkan aku mendengar suara gerimis hujan di
atap kamarku, dengan pertanyannya yang tidak bisa aku jawab,
mengapa hari ini, aku marah-marah?
Awal November 2007,
(detik-detik keberangkatanku)
Kota Apartemen
oleh:Nurlina Salehe
Kita pernah duduk di tengah-tengah bangunan apartemen yang menjulang itu.
Tempat bernaungnya keluarga sederhana. Yang katanya, cukup mempunyai
dua anak saja. Ayah ibu tidak payah memeras banyak peluh untuk memandikan
banyak kepala. Sedangkan, anak-anaknya tidak memperdengar tangis untuk
meratapi bau badan yang tidak kebagian peluh, yang tak kunjung mengalir.
Kita saling bertanya: Apartemen manakah yang lebih tinggi?
Kita hanya saling memandang, lalu menertawakan diri sendiri.
Rupanya, kita terlalu rendah untuk memandang semua ujung-ujungnya.
Tempat menancapnya benda-benda runcit. Katanya: Untuk menangkal petir.
Betulkah?
Sambil menunggu sebuah taksi jurusan bandara
yang akan membawa kita ke negeri asal.
Kita selipkan sebuah berita di kepala dari life!
"Seorang pembantu RT dijatuhi hukuman seumur hidup
karena menjatuhkan seorang nenek dari tingkat sembilan
di sebuah apartemen"
Sambil menangis, kupukul dadaku. Lalu, bertanya: Benarkah ini sudah setega
itu?
Kemudian, kau memelukku dan berbisik di telingaku: Mari pulang
membangun sebuah rumah tak bertingkat! Sebelum kota-kota kita dipenuhi
apartemen.
catatn kecil: -Negara Singapore, negara yang kaya apartemen.
-life! : Newspaper harian di Singapore
-Berita itu adalah berita benar
Compassvale Walk, 12/12/2007
Kutipan Sungai
oleh:Nurlina Salehe
Kau tahu, mengapa aku nak menjawab pertanyaanmu:
'Di mana sebenarnya aliran sungai-sungai bermula?'
Kau pasti tidak tahu, bukan?
"Berapa panjangkah sungai yang bisa dijepret oleh batas lensa kamera
jika kau berdiri di pinggirnya saja?"
Ada kutipan dari diariku untuk sungaimu itu.
'Belajarlah tata cara menerbangkan pesawat!
Agar kau bisa jadi pilot. Juga, bisa memotret sungai-sungai yang panjang
sebagai peta penerbangan. Dan, bisa melihat, sungai berawal dari mata air
pegunungan
dan bermuara di lautan'
Kau pernah memaki bibirmu itu
yang tak mau berhenti mengucap kata: Seterusnya, seterusnya dan seterusnya...
Kata seterusnya tidak akan pernah berhenti
sebelum bibirmu sendiri yang mengucap kata: STOP!
"Bukankah air bening di pipimu itu
tidak berasal dari lubang sungai mata orang lain?"
Ada pesan dari guru untuk sungaimu itu.
'Duduklah di tepi jendela pesawat! Berjalanlah di pinggir sungai!
Jika kau hendak menyeberang, pakailah perahu kala airnya dalam dan deras!
Berkapallah di lautan!'
"Karena membuat bendungan di sungai
tidak membuat air berhenti mengalir, bukan?"
Compassvale Walk, Jum'at subuh (7/12/2007)
Cinta Utuh
oleh: Nurlina Salehe
Di sudut sekolah, kita pertama berjumpa
dan saling mengenal nama.
Di sudut kantin pula, kita bersama makan bakso
dan saling memandang mata yang penuh seloroh.
Di sebuah surat, kita saling jatuh cinta.
Lalu, mengungkapkannya lewat puisi yang romantis ria.
Di pelaminan kita mengucap janji.
Janji sehidup semati, sekarang dan selamanya.
Di penghujung nyawa kita berperan,
dan saling berpelukan dalam kuburan,
sambil mendengar suara malaikat lewat getaran,
untuk memberi jawaban atas pertanyaan,
agar bisa kembali ke asal kelahiran.
seusai menghadiri pesta pernikahan, 9/12/2007
Pertanyaan Pulang
oleh:Nurlina Salehe
Kau tahu, besok aku sudah pulang.
Ingin sekali aku menekan nombor-nombor teliponmu.
Memberitahumu, kalau besok pukul empat sore
aku ke bandara Sultan Ismail di Johor Bahru.
Sekaligus, menyuruhmu menjemputku di 'sana'.
Tetapi, tiba-tiba jari-jemariku ini menjadi kaku.
Telepon bimbitku pun tiba-tiba tak punya siknal.
Hanya ingatanku selalu sibuk dan sibuk
mencatat dan mengetik nama dan nombor-nombor teliponmu.
Kenapakah?
Sebuah sms gratis masuk di nokiaku itu.
"Dia lupa membawa teleponnya. Bahkan, namamu pun, dia sudah lupa"
Aku bertanya pada air mataku,
"Tidakkah dia merindukan kepulanganku?
Seperti puisi-puisi rindu yang selalu
dia bacakan dalam tidur dan mimpiku."
Kau tahu, air mataku hanya diam dan mengalir.
Yang menjawabnya, malah langkah-langkah kakiku,
"Engkau diceraikan oleh memori sebuah puisi.
Engkau dipisahkan oleh cabang jalan yang entah kapan bertemunya di satu
jalan."
Sudah benarkah jawabannya seperti itu?
Tidakkah kau sendiri yang ingin menjawabnya, di sini?!
PS: Saya pernah beranggapan kalau puisi itu hanya lahir dari kisah-kisah
pribadi. Ternyata aku salah besar. Seorang penulis pernah berkata, "Puisi itu
boleh lahir dari mana saja, dari benda apa saja.....". Makanya, saya belajar
mengkhayal membuat puisi. Mau tahu kenapa? Ya, supaya saya bisa
tersenyum-senyum sendiri. Iya, saya senyum-senyum sendiri jika membaca
puisi-puisiku. Hehehe! (aneh.com, mode.on) Semangat!!!! Eh, memangnya
tulisanku sudah layak disebut puisi? Ge-eR! Hehehe!
Salam hormat,
Aline yg lagi belajar berpuisi ria
Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel