Kisah yang sangat menarik, Kang! Setidaknya menjadi referensi tambahan
bagi kita untuk memperbaharui niat, senantiasa LilLaahi Ta'ala.

Btw, bisa sedikit saja diinformasikan cerita ini ngambilnya dr mana?
Atau memang hasil kontemplasi Kang Ahmad sendiri... J Makasih....

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Ahmad Sopiani
Sent: Thursday, January 10, 2008 10:26 AM
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [rezaervani] [ARTIKEL] Pondasi Utama Bangunan Amal

 

Tulisan lama, barangkali bisa diangetin lagi... J

Kalau tulisan baru masih di angan2 nih, betul turun ke kertas atau
file... J

 

===000000====

 

PONDASI UTAMA BANGUNAN AMAL

 

By : Ahmad Sopiani

 

Seringkali kita mendengar atau bahkan mengatakan dengan lidah kita
sendiri, betapa niat merupakan pangkal, pondasi, pokok utama dari sebuah
amal yang dilakukan anak manusia. Dalam Islam bahkan menjadi standar sah
tidaknya suatu amal ibadah, sehingga seringkali sabda Nabi Muhammad SAW.
Tentang niat ini dikutip oleh para da'i dan utadz, bahkan dikutip oleh
banyak orang yang terhitung biasa-biasa saja dalam percakapan
sehari-hari. Dalam dunia "Buru Sergap", mungkin niat ini setara dengan
"Motif". Ingat! Kejahatan terjadi bukan saja karena ada niat pelakunya,
tetapi juga karena ada kesempatan".

 

"Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan bagi tiap-tiap
urusan akan didapat apa yang diniatkannya itu". (HR. Bukhari & Muslim).

 

Saya ingin mengajak Anda untuk menyimak sebuah kisah yang sering
diceritakan kembali tentang betapa niat dan motivasi melahirkan dua
hasil yang berbeda untuk satu amal yang sama.

 

***

 

Alkisah pada suatu ketika. Di sebuah negeri, terdapat sekelompok
komunitas manusia yang hidup cukup aman, damai dan tenteram dalam
suasana yang cukup heterogen anggota masyarakatnya. Rata-rata mereka
adalah muslim yang kadar keislaman dan keimanannya beragam.  Ada yang
bagus sekali dalam keislaman, ada yang sedang-sedang saja dan tidak
sedikit yang kadar keimanannya sangat minim.

Sebagai suatu kewajiban dinas, maka setanpun datang ke negeri tersebut
untuk melaksanakan tugasnya. Setelah menimbang dan memperhatikan situasi
dan kondisi masyarakat di negeri tersebut, dengan berpedoman pada
"Panduan Dasar Teknik Penyesatan", setanpun memutuskan untuk memasang
strategi dengan mendiami sebuah pohon beringin besar dan sekali-sekali
melakukan penampakan. Rupanya dalam analisa setan, penduduk setempat
amat suka dengan hal-hal yang berbau klenik, mistik dan magic.

Setan menyebarkan isu dan desas desus - inipun amat disukai oleh
penduduk - bahwa pohon beringin tersebut keramat dan angker dan bila
mereka menjatuhkan pilihan kepada pohon beringin tersebut untuk dimintai
tolong memecahkan masalah mereka, maka mereka akan mudah untuk
mendapatkan pertolongan. Awalnya tidak ada yang percaya, hingga kemudian
ada yang penasaran dan mencoba meminta, meski rada-rada iseng, agar ia
mendapat jodoh minggu ini. Lakadalah.... Ternyata terkabul. Iapun
bercerita kepada kawan-kawannya bahwa ia enteng jodoh waktu minta jodoh
kepada penunggu pohon beringin besar tersebut. Kawan-kawannya yang
mendengarpun jadi penasaran dan ingin mencoba juga.

Hasilnya luar biasa... Banyak sekali orang yang terkabul keinginannya
dengan meminta pada penunggu pohon beringin besar tersebut, karena setan
yang menunggu di situ mendapat dukungan dana dan sarana tak terbatas
dari seluruh kekuatan kerajaan setan untuk kelancaran tugasnya, sehingga
tidak perlu lama untuk mengumpulkan demikian banyak orang musyrik di
negeri itu. Sukses Besar.

Kenyataan ini mengusik keimanan seorang pemuda. Ia tidak tahan melihat
masyarakatnya tenggelam dalam kemusyrikan dengan adanya pohon keramat
tersebut. Maka dengan niat dan tekad yang bulat untuk menyelamatkan umat
dari lumpur kemusyrikan, suatu malam, dengan kapak terhunus, ia berjalan
dengan tagap dan gagah menuju pohon beringin tersebut dengan maksud
menebangnya hingga rata dengan tanah.

Tentu saja setan penunggu yang dinas di situ tidak tinggal diam. Ia
menghadang di tengah jalan tidak jauh dari pohon itu dan berusaha
mearingtangi si pemuda. Maka terjadilah pergulatan sengit antara
keduanya. Skor akhirnya 1:0 untuk si pemuda, karena keimanan dan niatnya
yang ikhlas karena Allah untuk memberantas kemusyrikan menjadi senjata
yang ampuh untuk menaklukkan si setan.

Setanpun mengaku kalah dan mengajak berdamai; "tolong, please,don't kill
me" kata setan, "Aku hanya menjalankan tugasku. Kita berdamai saja.
Daripada kau cape-cape menebang pohon sebesar itu, lebih baik kau terima
saja tawaranku. Aku akan memberikan sepuluh keping uang emas setiap pagi
di bawah bantalmu. Dengan uang itu kau bisa membangun masjid, pesantren
dan majlis ta'lim untuk mendidik masyarakatmu agar tidak mudah terpedaya
oleh godaanku. Dengan uang emas yang kau terima setiap hari itu, kaupun
bisa bersedekah sebanyak yang kau mau kepada fakir miskin, sehingga
mereka tidak lagi meminta kekayaan kepada pohon tempat tinggalku.
Bagaimana ? Adil 'kan tawaranku ?", tegas si setan.

Setelah mengingat, memperhatikan dan menimbang, akhirnya si pemudapun
menerima tawaran damai setan. Maka pulanglah ia. Dan seperti janji
setan, keesokan harinya ia mendapati 10 keping uang emas di bawah
bantalnya, lalu mulailah ia membangun kompleks ibadah, semacam islamic
center gitu, untuk mendidik masyarakatnya agar lebih cerdas, rasional
dan mengerti agama.

Setelah sekian lama, uang setan yang datang sudah lebih dari keperluan
dan akhirnya iapun merasa tidak masalah jika ia menggunakannya untuk
keperluan pribadi. Pada akhirnya iapun menjadi kaya raya dari uang damai
setan tersebut, hingga suatu pagi.... Ia tidak lagi mendapati uang emas
di bawah bantalnya. Ia pun marah besar karena setan mengingkari janjinya
untuk memberi 10 keping uang emas setiap pagi sebagai konpensasi pohon
tempat mangkalnya tidak ditebang. Iapun mengasah kembali kapak 212nya
dan bertekad bahwa kali ini ia akan benar-benar menebang pohon beringin
itu yang, meski tidak seramai sebelum ia mendirikan pesantren dan majlis
ta'lim, tetap banyak dikunjungi orang. Malam itu ia berangkat dengan
kapak terhunus.

Beberapa meter sebelum ia tiba di pohon itu, sang setan telah menghadap
berdiri tegak di jalan di depannya, merintangi maksudnya. Perkelahian
sengit kembali terjadi, namun dalam beberapa gebrakan saja si pemuda
terbujur tak berdaya dikalahkan si setan. Dengan nafas hampir putus ia
bertanya; "Hai Setan ! Dulu aku dengan mudah dapat mengalahkanmu.
Mengapa kini dengan mudah aku kau kalahkan ??!

"Karena dahulu kau bermaksud menebangnya dengan niat ikhlas karena Allah
untuk memberantas kemusyrikan. Karena itu aku kalah. Adapun kini, kau
bermaksud menebangnya karena kau tidak lagi kuberi uang emas seperti
yang kujanjikan. Itulah sebabnya kau dengan mudah ku kalahkan karena
kini niatmu bukan lagi ikhlas karena Allah". Sang setan menjelaskan.

Sang setan menang dan tempat tinggalnya makin dikeramatkan serta makin
ramai diunjungi orang. Sukses besar.

Wallahu a'lam.

 

 

<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke