asww... saya belum nikah mba.. ga punya pengalaman ^_^ tp ada nih pengalaman yang mungkin bisa ditiru. waktu itu saya pernah berbincang dengan seorang ibu usia 28 tahunan dengan 3 orang anak usia SD (kelas 1 dan 2) serta TK. ibu itu jg punya keprihatinan yang sama dengan banyak orangtua lainnya tentang tayangan2 televisi yang kurang mendidik. bersama sang suami, mereka bersepakat untuk menyetel TV saat tayangan2 berita saja. selebihnya mereka membuat sibuk anak-anak dengan banyak berdiskusi (cerita apa yg terjadi di sekolah, apa yg anak2 rasakan, dsb).
lalu bagaimana dengan sabtu/ahad dimana anak2 libur bersekolah dan waktu mereka habis di rumah? sang ibu dengan cerdiknya mengajak anak-anaknya memasak bersama. sabtu ini masak donat, misalnya. si sulung diberi tugas mencampur adonan, si tengah mengaduk adonannya, dan si bungsu menghias. lalu ahad, diselingi dengan piknik/jalan2 ke saudara. pokonya begitu seterusnya (yg jelas sang bunda harus siapin terus tiap wiken mau masak menu apa yg bisa dikerjakan bersama2...) kalau si anak mulai bosan dan meminta menonton TV, ibunya segera mengatakan "eh, masaknya belum selesai, nih masih ada yang harus kakak kerjakan..bantuin ya..." memang, si anak jadi gak tau kalau ditanya film ini-itu sama temen2nya. kalau gak cermat, bisa2 anak jadi minder kalau dicap gak gaul. semuanya saya rasa balik lagi ke bagaimana orangtua menjelaskan. fiuuu... gak kebayang deh betapa jadi ibu itu harus cerdas mensiasati ancaman dari luar... ayah juga siiih...tapi jadi ibu harus lebih care lagi karena lebih sering berada di rumah. well.. mudah2an menginspirasi ya... -Indra Fathiana- http://fathiana.rezaervani.com http://fathiana.blogspot.com http://fathiana.multiply.com ---- Original Message ---- From: Nurul Dwi <[EMAIL PROTECTED] net> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com Sent: Wednesday, January 23, 2008 2:03:20 PM Subject: RE: [rezaervani] Re: [KOMUNITAS] Gatotkaca itu Asli Indonesia ndak ya ? (sambungan diskusi Naruto Assalamualaikum Saya penggemar baca buku dan komik juga. Krn dulu gak berduit, jadi bacanya di toko buku sambil diusir2 ama penjaga. Juga penggemar film kartun sampai sekarang. Hanya saya tidak pernah dilarang melakukan semua itu, mungkin dulu masih kategori aman ya utk dikonsumsi anak2. Senangnya hayalan dan imajinatif saya pada saat itu berkembang dan senang sekali meniru tokoh2 yg menurut saya asik utk ditiru. Dari soal cara makan, gaya bahasa, gaya baju, kesukaan, semuanya. Orang tua juga gak protes, mungkin krn dilihatnya masih normal anak2. Sekarang jika saya melihat kartun jepang dan lain2, juga jauh lebih seru. Dan sering rebutan nonton dengan anak2 walaupun udah berkali2 ditayangkan tetap enak utk ditonton. Yg repot, yg saya rasakan adalah ternyata banyak juga dalam kartun itu yg dikuatirkan bisa membawa efek negatif, seperti beb era pa adegan di naruto, juga adegan percintaan di kartun lain. Ini yg suka buat saya deg-degan. Anak2 itu seperti kertas putih dan akan merekam apapun yg ada didepannya. Melarang mereka menonton pun, saya m era sa kurang efektif. Saya lebih suka pembatasan Bayangkan.. lingkungan sekolahnya membicarakan naruto, X samurai de el el, mereka tidak tahu pun akan repot ke mereka juga dan mungkin saja tanpa sepengetahuan kita mereka menonton dan mengartikan semau mereka krn penasaran. Itu baru SD, saya lebih deg-degan lagi ngebayangin kalau anaknya sudah ABG, SMP dan SMA, atau univ ??? aduuhhh… gak mungkin kan saya pelototin mereka 24 jam ? siapa yg akan menjaga mereka di belakang kita ? dikala kita tidak lihat ? atau yakin mereka tidak akan salah mengartikan semua adegan yg mereka lihat. Jadi inget smack down yg dipraktekan anak2 SD. Gak kebayang tau2 mereka pake pisau dapur ngejar2 orang hanya gara2 pengen dianggap seperti salah satu adegan di naruto yg pernah saya lihat bareng anak2. Duuh.. deg2an bener. Sharing dong dengan miliser yg punya anak2 yg hobi nonton kartun, sinetron, atau internet, bagaimana cara pengawasan dan edukasi yg efektif kepada mereka. Yang saya lakukan sekarang ini adalah ikutan menemani menonton utk kartun tertentu dan ikutan berkomentar jika ada adegan yg “kurang” dan saya kaitkan dg agama. Serta pada jam shalat stop menonton. Tapi cukup tidak ya ? Yg ingin saya tahu, bagaimana cara edukasi agama sebagai benteng bagi mereka jika mereka bertemu dgn sesuatu yg buruk dan mereka mampu untuk berkata TIDAK. Saya ingat di pendidikan SD di amerika anak2 didoktrin berkata TIDAK utk drugs dengan melakukan simulasi, mengundang polisi. Jadi mereka mengerti dari awal TIDAK untuk drugs (walaupun banyak juga yg gagal ya). Juga ingin teman2 sharing cara mendidik anaknya seperti bagaimana. Maklum saya pemula sebagai orang tua. Terima kasih sebelumnya Wassalam Dwi ____________________________________________________________________________________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs
