apalagi jika menggunakan kedokteran nuklir, misal pas penyinaran rahim,
kanker, payudara. Penyinaran dilakukan berkali-kalai, berbulan-bulan. Ada
indikasi dokter hanya cari duwit saja. Padahal dokter bisa saja nggak usah
lama-lama mengobati agar tidak dituduh cari uang. Caranya diradiasi sekali
saja dengan dosis tinggi. pastilah kanker mati termasuk pasiennya. Padahal
meradiasi itu harus pelan-pelan dengan dosis kecil, agar tidak meradiasi
organ lainnya dengan sudut tertentu, atau malahan hanya menyinggung
permukaan kulit saja. Lha gimana, pasien kalau dijelaskan juga sulit sih
ngerti masalah kedokteran nuklir.
wassalam soedardjo

On
Wed, January 30, 2008 13:38, arif rahman wrote: 
| Assalaamu'alaikum
wr wb 
| Waduhh......bbrp waktu yg lalu....(kebetulan saya dokter
umum)....saya 
| kenalan dengan seorang ibu dosen dari salah satu PTN
di Sumatera...beliau 
| menumpahkan marahnya ke saya, karena kasus yg
mirip...tp beliau lebih 
| parah. Beliau terkena penyakit
tb.....ketika diobati.......rupanya gak 
| tahan dengan obatnya, tapi
oleh dokternya....(komunikasinya jelek) disuruh 
| minum obat tb
terus sesuai dengan prosedur standard pengobatan 
| tb.......kata
beliau....saya hampir mati menahan sakitnya..... yang beliau 
|
sesalkan...si dokter gak mau memberi penjelasan yg cukup untuk penyakit

| akibat minum obat itu, dan belakangan beliau tahu penyakitnya itu
adalah 
| SLE. 
| Wahh....entah berapa jam, kami chat......saya
dimarah2i 
| beliau....hehehe.....setiap ada pertanyaan yang saya ga
tahu....saya 
| jawab, saya gak tahu...... Beliau protes...kok bisa
gak tahu...kamu kan 
| dokter.... aku jawab.....Bu...bagaimana saya
tahu lha wong informasi yg 
| saya dapat cuman segini? lagi pula ilmu
kedokteran memang luas 
| sekali...gak mungkin lah saya menguasai 
| semuanya......alhamdulillah...akhirnya beliau bisa menerima 
|
"ketidaktahuan" saya. Dan sekarang kami berteman baik.....sering
diskusi 
| tentang riset2 kami yg sedang jalan...dll.... 
|
Terus terang....kadang saya juga susah ngasih tahu pasien......kebetulan

| saya praktek di klinik BSMI yang pasiennya ada kategori
A....gratis, B 
| bayar 2500 dan C bayar sesuai dengan
obatnya....15.000. Dan mayoritas 
| pasien saya orang
madura....padahal bahasa madura saya lebih jelek 
| dibanding bhs
inggris hehehe..... contoh kasus...semalam ada ibu membawa 2 
| anak,
sakit gatal2 di kaki dan tangan.....ibunya bilang : sakitnya baru 2 
| hari, padahal saya lihat sudah ada luka yg kering,
berparut......akhirnya 
| ibunya saya bilang.... Bu...ibu diam dulu
yaa...saya mau bicara dg 
| anaknya, setiap saya tanya ke anaknya,
ibunya menyela terus... akhirnya 
| saya bilang...bu....yang sakit
itu putra ibu, tolong deh...diam nanti saya 
| gak mau ngobatin.
Akhirnya....anaknya cerita kalo gatalnya sudah lebih 
| dari 2 minggu
dst. Saya diagnosa kudis (scabies) obatnya sih sederhana, 
| tetapi
menjelaskan cara memakai salepnya itu yang susah...lha wong ibunya 
|
"ngeyel"...hampir saja tak suruh 
| pulang manggil orang
lain yg bisa tak ajarin cara memakai salepnya.... 
| akhirnya saya
bilang....bu kalo sampai anaknya gak sembuh atau kambuh 
| lagi saya
gak mau ngobatin lagi. (Saya menjelaskan cara penularan, cara 
|
menghindari penularan dll.....gak ada dia tanggapi dg serius, ngeyelnya

| aja yg diomongin).....hehehe..kok jadi kebalik yaa....dokternya yg

| mengadukan pasien maaf.... 
| Saya ikut prihatin dengan kasus
yg menimpa istri Pak Didi, saya tidak tahu 
| kenapa ada dokter
seperti itu. Saya sering berkata ke pasien 
| saya....(kalau saya gak
tahu diagnosanya), maaf....saya tidak tahu 
| penyakit bapak/ ibu.
Kalau bapak/ibu pengin tahu dengan lebih pasti 
| sebaiknya periksa
ini dan itu dsb. tapi kalau tidak mau....saya akan 
| mengobati
penyakit bapak/ibu menurut yg paling mungkin, kalau tidak sembuh 
|
dalam 2 hari tolong kembali lagi. Biasanya sih saya tidak pernah 
|
dikomplain pasien saya......meski pernah juga sih....dok kok ga sembuh?

| atau dok kok tambah parah?....Kalau sudah begitu....kalau tidak
saya rujuk 
| ke spesialis yaa...saya suruh periksa lab untuk
memastikan apa sebenarnya 
| penyakitnya. Sungguh hal yg sangat
ringan terasa di dada, ketika kita 
| mengatakan, "saya tidak
tahu". Bukan karena "kikir" ilmu, tetapi memang 
|
saya tidak tahu. 
| Wallahu'alam 
| Wassalaamu'alaikum wr wb 
| 
| 
| ----- Original Message ---- 
| 
From: Didi
Mardiyanto <[EMAIL PROTECTED]> 
| To:
[email protected] 
| Sent: Wednesday, January 30, 2008
11:50:28 PM 
| Subject: [rezaervani] [CATHAR] Jadilah Dokter Yg Tidak
Kikir Ilmu 
| 
|  
| 
| JADILAH
DOKTER YANG TIDAK KIKIR ILMU 
| 
| Assalamu'alaikum Wr.Wb 
| 
| Setelah beberapa waktu mengikuti milis ini, akhirnya tergerak
juga untuk 
| menulis sesuatu. Tulisan perdana ini diilhami dari
kejadian yang menimpa 
| istri saya yang kebetulan beberapa hari lalu
di rawat di Rumah Sakit Islam 
| di bilangan Cempaka Putih Jakarta
Pusat. 
| 
| Istri saya yang kebetulan tengah mengandung usia 4
bulan, pada beberapa 
| waktu lalu harus dirawat di rumah sakit
karena memiliki masalah pada 
| kandung kemihnya. Istri saya
kesulitan melakukan Hajat Buang Air kecil, 
| sehingga harus dirawat
dan dipasang kateter untuk melancarkan proses buang 
| air kecil. 
| 
| Kejadian yang membuat saya ingin menulis ini terjadi pada saat
istri saya 
| dikunjungi oleh dokter yang melakukan perawatan.
Kebetulan dokter yang 
| merawat adalah Dokter Rauf. Pada saat dokter
melakukan kunjungan ke ruang 
| rawat, istri saya memanfaatkan
kunjungan dokter untuk bertanya kepada 
| dokter mengenai hal ihwal
penyakit yang dideritanya. Ketika istri saya 
| bertanya "
Dokter apa yang menyebabkan penyakit saya ? " Sang Dokter 
|
hanya menjawab " penyakit ibu karena kondisi ibu yang sedang
mengandung ". 
| Mendapat penjelasan dokter yang singkat
tersebut, tentu saja istri saya 
| ingin bertanya lebih jauh lagi,
mengingat kehamilan istri saya adalah 
| kehamilan yang ketiga dan
dua kehamilan yang terdahulu tidak mengalami 
| masalah seperti saat
ini. 
| 
| Istri saya kemudian kembali mengajukan pertanyaan
" Bagaimana Dok .. koq 
| karena kehamilan bisa menyebabkan saya
harus dipasang kateter seperti ini 
| ? " Mendengar pertanyaan
lanjutan dari istri saya, nampaknya sang dokter 
| merasa tidak
senang dan malas memberikan jawaban. Sebenarnya istri saya 
| sejak
awal sudah menduga bahwa Dokter Rauf yang merawatnya adalah tipe 
|
dokter yang enggan memberikan penjelasan kepada pasien. Namun ternyata 
| dugaan istri saya jauh dari yang ia duga, karena ternyata Dokter Rauf

| memberikan jawaban yang di dalamnya tersirat sikap dokter yang
menganggap 
| pasien yang dihadapinya adalah orang bodoh. 
| 
| Dokter Rauf menjawab pertanyaan istri saya dengan gaya ketus seperti
ini : 
| " Ibu ! apakah selama ini ibu pernah memikirkan
bagaimana mata dapat 
| bekerja ? Apakah Ibu pernah memikirkan
bagaimana jantung bekerja ? ... 
| Tidak Pernah khan ! karena memang
bukan ilmu yang mudah untuk 
| mempelajarinya. Ibu tidak perlu mikir
yang macam-macam dan yang 
| sulit-sulit yang Ibu tidak akan faham.
Pokoknya penyakit ibu ini 
| disebabkan oleh kehamilan !! " 
| 
| Astagfirullah .... istri saya bergumam dalam hati. Istri saya
sangat 
| kecewa dengan pernyataan yang diberikan oleh Dokter Rauf.
Mengharapkan 
| mendapat jawaban yang mampu menjelaskan penyakitnya,
yang didapatkan malah 
| pernyataan yang meremehkan yang diberikan
oleh sang dokter. 
| 
| Istri saya yang bekerja di bidang
farmasi dan cukup mengerti tentang hal 
| yang berkaitan dengan
fungsi dan cara kerja organ tubuh, lebih memilih 
| diam dan tidak
melanjutkan pertanyaan kepada Dokter Rauf. Jika mau, istri 
| saya
bisa saja memberikan komentar bahwa ia mengetahui tentang bagaimana 
| mata bekerja dan bagaimana jantung bekerja. Tapi itu tidak dilakukan
oleh 
| istri saya, karena menganggap percuma menanggapi seorang
dokter yang 
| terlalu bangga dengan profesinya, dan terlalu
meremehkan orang lain, serta 
| menganggap bahwa hanya orang pintar,
jenius, dan yang terpilih saja yang 
| mampu bergelar dokter. 
|

| Apa yang dilakukan oleh Dokter Rauf adalah kenyataan di lapangan,
bahwa 
| ada dokter yang tidak memiliki kemampuan untuk berperan
sebagai dokter 
| yang tidak hanya menyembuhkan. Peran Dokter pada
saat seseorang sakit 
| adalah tidak hanya menyembuhkan orang yang
sakit tersebut, tetapi juga 
| harus mampu memberikan penjelasan
kepada pasien tentang hal-hal yang harus 
| dilakukan untuk
menghindari penyakit yang dideritanya. Memberikan 
| penjelasan
kepada pasien tentang penyebab penyakit dan cara pencegahannya, 
|
tidak harus serumit menjelaskan bagaimana mata bekerja dan bagaimana 
| jantung bekerja. Siapapun pasien yang dihadapinya, harusnya seorang

| dokter mau memberikan penjelasan yang diminta oleh sang pasien.

| 
| Untuk kasus Dokter Rauf, memberikan penjelasan kepada
pasien yang 
| nyata-nyata telah "membayarnya" saja tidak
mau ia lakukan, apalagi jika 
| yang bertanya kepada Dokter Rauf
adalah pasien gratisan. 
| 
| Apa yang dilakukan oleh Dokter
Rauf barangkali jangan dicontoh oleh 
| rekan-rekan Dokter yang lain.
Jangan Kikir Ilmu kepada orang yang meminta 
| kita menjelaskan
sesuatu yang dibutuhkan. Ilmu yang dimiliki oleh Dokter 
| Rauf pasti
tidak akan menjadi berkurang ketika diberikan kepada seorang 
|
pasien yang membutuhkan penjelasan atas sesuatu hal yang secara keilmuan

| dimiliki oleh seorang Dokter. Sosok seorang Dokter sudah tertanam
dibenak 
| masyarakat adalah sosok yang sudah pasti cerdas, pintar
dan berilmu. 
| Tidak perlu meremehkan orang untuk mengingatkan bahwa
"Belajar jadi Dokter 
| itu susah". 
| 
| Atas
kejadian yang menimpanya, istri saya langsung mencoret Nama Dokter 
|
Rauf dari List Dokter yang harus dikunjunginya ketika sakit. Sosok Dokter

| Rauf harus dihindarinya, karena ketika sakit, istri saya berharap

| memperoleh kesembuhan dari Allah SWT melalui perantaraan seorang
Dokter 
| yang merawatnya, sekaligus mendapatkan ilmu tentang
penyakitnya dari 
| dokter yang merawatnya, dan itu tidak ia dapatkan
dari Dokter Rauf. 
| 
| Istri saya yakin bahwa Fenomena Dokter
Rauf yang kikir ilmu adalah nyata. 
| Namun ia masih memiliki
keyakinan bahwa masih banyak sosok Dokter yang 
| TIDAK KIKIR ILMU.

| 
| Wassalamu'alaikum Wr.Wb 
| 
| 
| 
|

| 
|
____________________________________________________________________________________

| Looking for last minute shopping deals? 
| Find them fast
with Yahoo! Search. 
|
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping 

Kirim email ke