Pak didi, menurut pendapat saya bukan hanya dokter tapi sudah semuanya. Karena 
semua fasilitas umum sekarang telah memiliki peringkat atau syarat seperti 
syaratnya naik Haji
BAGI YANG MAMPU (ya mampu bayar, mampu sekolah tinggi biar pintar, mampu - mapu 
yang lain)
Tinggal bagaimana kita yang mampu (atau merasa) turut berbagi kepada yang 
kurang (atau merasa) mampu.

Semoga dapat menyentil bagi yang mampu namun merasa kurang mampu berbagi..

Terimakasih 
Farry YS, SPd (Sarjana Penuh derita)
----- Original Message ----
From: Didi Mardiyanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, January 30, 2008 11:50:28 PM
Subject: [rezaervani] [CATHAR] Jadilah Dokter Yg Tidak Kikir Ilmu









  


    
            



 

JADILAH DOKTER YANG TIDAK 
KIKIR ILMU

 

Assalamu'alaikum Wr.Wb

 

Setelah beberapa waktu mengikuti milis ini, 
akhirnya tergerak juga untuk menulis sesuatu.  Tulisan perdana ini diilhami 
dari kejadian yang menimpa istri saya yang kebetulan beberapa hari lalu di 
rawat 
di Rumah Sakit Islam di bilangan Cempaka Putih Jakarta Pusat.

 

Istri saya yang kebetulan tengah mengandung usia 4 
bulan, pada beberapa waktu lalu harus dirawat di rumah sakit karena memiliki 
masalah pada kandung kemihnya.  Istri saya kesulitan melakukan Hajat Buang 
Air kecil, sehingga harus dirawat dan dipasang kateter untuk melancarkan proses 
buang air kecil.

 

Kejadian yang membuat saya ingin menulis ini 
terjadi pada saat istri saya dikunjungi oleh dokter yang melakukan 
perawatan.  Kebetulan dokter yang merawat adalah Dokter Rauf.  Pada 
saat dokter melakukan kunjungan ke ruang rawat, istri saya memanfaatkan 
kunjungan dokter untuk bertanya kepada dokter mengenai hal ihwal penyakit yang 
dideritanya.  Ketika istri saya bertanya " Dokter apa yang menyebabkan 
penyakit saya ? "  Sang Dokter hanya menjawab " penyakit ibu karena kondisi 
ibu yang sedang mengandung ".  Mendapat penjelasan dokter yang singkat 
tersebut, tentu saja istri saya ingin bertanya lebih jauh lagi, mengingat 
kehamilan istri saya adalah kehamilan yang ketiga dan dua kehamilan yang 
terdahulu tidak mengalami masalah seperti saat ini.

 

Istri saya kemudian kembali mengajukan pertanyaan " 
Bagaimana Dok .. koq karena kehamilan bisa menyebabkan saya harus dipasang 
kateter seperti ini ? "  Mendengar pertanyaan lanjutan dari istri saya, 
nampaknya sang dokter merasa tidak senang dan malas memberikan jawaban.  
Sebenarnya istri saya sejak awal sudah menduga bahwa Dokter Rauf yang 
merawatnya 
adalah tipe dokter yang enggan memberikan penjelasan kepada pasien. Namun 
ternyata dugaan istri saya jauh dari yang ia duga, karena ternyata Dokter Rauf 
memberikan jawaban yang di dalamnya tersirat sikap dokter yang menganggap 
pasien 
yang dihadapinya adalah orang bodoh.

 

Dokter Rauf menjawab pertanyaan istri saya dengan 
gaya ketus seperti ini : " Ibu ! apakah selama ini ibu pernah memikirkan 
bagaimana mata dapat bekerja ? Apakah Ibu pernah memikirkan bagaimana jantung 
bekerja ? ... Tidak Pernah khan ! karena memang bukan ilmu yang mudah untuk 
mempelajarinya.  Ibu tidak perlu mikir yang macam-macam dan yang 
sulit-sulit yang Ibu tidak akan faham.  Pokoknya penyakit ibu ini 
disebabkan oleh kehamilan !! "

 

Astagfirullah .... istri saya bergumam dalam 
hati.  Istri saya sangat kecewa dengan pernyataan yang diberikan oleh 
Dokter Rauf.  Mengharapkan mendapat jawaban yang mampu menjelaskan 
penyakitnya, yang didapatkan malah pernyataan yang meremehkan yang diberikan 
oleh sang dokter.

 

Istri saya yang bekerja di bidang farmasi dan cukup 
mengerti tentang hal yang berkaitan dengan fungsi dan cara kerja organ tubuh, 
lebih memilih diam dan tidak melanjutkan pertanyaan kepada Dokter Rauf.  
Jika mau, istri saya bisa saja memberikan komentar bahwa ia mengetahui tentang 
bagaimana mata bekerja dan bagaimana jantung bekerja.  Tapi itu tidak 
dilakukan oleh istri saya, karena menganggap percuma menanggapi seorang dokter 
yang terlalu bangga dengan profesinya, dan terlalu meremehkan orang lain, 
serta menganggap bahwa hanya orang pintar, jenius, dan yang terpilih saja 
yang mampu bergelar dokter.

 

Apa yang dilakukan oleh Dokter Rauf adalah 
kenyataan di lapangan, bahwa ada dokter yang tidak memiliki kemampuan untuk 
berperan sebagai dokter yang tidak hanya menyembuhkan.   Peran Dokter 
pada saat seseorang sakit adalah tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit 
tersebut, tetapi juga harus mampu memberikan penjelasan kepada pasien tentang 
hal-hal yang harus dilakukan untuk menghindari penyakit yang dideritanya.  
Memberikan penjelasan kepada pasien tentang penyebab penyakit dan cara 
pencegahannya, tidak harus serumit menjelaskan bagaimana mata bekerja dan 
bagaimana jantung bekerja.  Siapapun pasien yang dihadapinya, harusnya 
seorang dokter mau memberikan penjelasan yang diminta oleh sang pasien.  


 

Untuk kasus Dokter Rauf, memberikan penjelasan 
kepada pasien yang nyata-nyata telah "membayarnya" saja tidak mau ia lakukan, 
apalagi jika yang bertanya kepada Dokter Rauf adalah pasien 
gratisan.

 

Apa yang dilakukan oleh Dokter Rauf barangkali 
jangan dicontoh oleh rekan-rekan Dokter yang lain.  Jangan Kikir Ilmu 
kepada orang yang meminta kita menjelaskan sesuatu yang dibutuhkan.  Ilmu 
yang dimiliki oleh Dokter Rauf pasti tidak akan menjadi berkurang ketika 
diberikan kepada seorang pasien yang membutuhkan penjelasan atas sesuatu hal 
yang secara keilmuan dimiliki oleh seorang Dokter. Sosok seorang Dokter sudah 
tertanam dibenak masyarakat adalah sosok yang sudah pasti cerdas, pintar dan 
berilmu.  Tidak perlu meremehkan orang untuk mengingatkan bahwa "Belajar 
jadi Dokter itu susah".

 

Atas kejadian yang menimpanya, istri saya langsung 
mencoret Nama Dokter Rauf dari List Dokter yang harus dikunjunginya ketika 
sakit.  Sosok Dokter Rauf harus dihindarinya, karena ketika sakit, istri 
saya berharap memperoleh kesembuhan dari Allah SWT melalui perantaraan seorang 
Dokter yang merawatnya, sekaligus mendapatkan ilmu tentang penyakitnya dari 
dokter yang merawatnya, dan itu tidak ia dapatkan dari Dokter Rauf.  


 

Istri saya yakin bahwa Fenomena Dokter Rauf yang 
kikir ilmu adalah nyata.  Namun ia masih memiliki keyakinan bahwa masih 
banyak sosok Dokter yang TIDAK KIKIR ILMU.   

 

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

 

 


    
  

    
    




<!--

#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->



<!--

#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->



<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->







Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke