Assalaamu'alaikum wr wb,

ya...kira2 begitulah kenyataan kebanyakan dokter maupun bukan di negara kita 
ini ... toh ilmu yg diberikan sebenarnya adalah yang akan menjadi ilmu yg 
bermanfaat untuk menerangi jalannya di akhirat. Semoga banyak yang menyadarinya 
.
Hal serupa juga saya alami waktu praktek di salah satu poli klinik departemen 
pemerintahan , karena saya tidak pelit ilmu terhadap pasien sehingga selalu di 
cari pasien dan di benci oleh dokter yang lain .

Wassallam,
M. Ferry Wong
www.persadaindo.com
www.ferrywong.rezaervani.com
www.forum.rezaervani.com

endah sriredjeki <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
Jadi seru yaa pembahasan ttg topik ini.  
Semuanya bisa dijadikan cermin, bahwa baik dan buruk selalu ada pada profesi 
apa pun.
Alhamdulillah saya sering menemukan dokter yg perhatian pada pasien, bahkan 
ketika saya menengok tetangga yg opname di RS dan mengeluhkan  ttg penanganan 
penyakitnya yang seolah-olah mengada-ada,  saya coba konfirmasikan keluhan 
tetangga saya tsb ke dokter ybs  eh..kebetulan kami bertemu di lift, sama2 mau 
turun ke lobby.  Beliau dengan senang hati menjelaskan,  bahkan ketika lift 
sudah berhenti dan kami hrs keluar, beliau masih juga menambahkan penjelasannya 
seolah ingin menjelaskan se detil2nya.  
Yaa, dokter juga manusia, kadang di rumah lg perang dingin dg nyonya trus  
kebawa ke tempat kerja.
Asal ngga sering2 aja.  Kalau keseringan yaa...hukum alam akan berlaku, dia 
ditinggalkan oleh pasiennya.  Ibarat pohon, buahnya terasa masam dan orang 
malas memetiknya.  Wallahu'alam.....

ESR


----- Pesan Asli ----
Dari: arif rahman <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rabu, 30 Januari, 2008 1:38:01
Topik: Re: [rezaervani] [CATHAR] Jadilah Dokter Yg Tidak Kikir Ilmu

                         
Assalaamu'alaikum wr wb
 Waduhh...... bbrp waktu yg lalu....(kebetulan saya dokter umum)....saya 
kenalan dengan seorang ibu dosen dari salah satu PTN di Sumatera...beliau 
menumpahkan marahnya ke saya, karena kasus yg mirip...tp beliau lebih parah. 
Beliau terkena penyakit tb.....ketika diobati..... ..rupanya gak tahan dengan 
obatnya, tapi oleh dokternya... .(komunikasinya jelek) disuruh minum obat tb 
terus sesuai dengan prosedur standard pengobatan tb.......kata beliau....saya 
hampir mati menahan sakitnya.... . yang beliau sesalkan...si dokter gak mau 
memberi penjelasan yg cukup untuk penyakit akibat minum obat itu, dan 
belakangan beliau tahu penyakitnya itu adalah SLE.
 Wahh....entah berapa jam, kami chat......saya dimarah2i beliau....hehehe. 
....setiap ada pertanyaan yang saya ga tahu....saya jawab, saya gak tahu...... 
Beliau protes...kok bisa gak tahu...kamu kan dokter.... aku jawab.....Bu. 
..bagaimana saya tahu lha wong informasi yg saya dapat cuman segini? lagi pula 
ilmu kedokteran memang luas sekali...gak mungkin lah saya menguasai 
semuanya.... ..alhamdulillah. ..akhirnya beliau bisa menerima "ketidaktahuan" 
saya. Dan sekarang kami berteman baik.....sering diskusi tentang riset2 kami yg 
sedang jalan...dll. ...
 Terus terang....kadang saya juga susah ngasih tahu pasien...... kebetulan saya 
praktek di klinik BSMI yang pasiennya ada kategori A....gratis, B bayar 2500 
dan C bayar sesuai dengan obatnya....15. 000. Dan mayoritas pasien saya orang 
madura....padahal bahasa madura saya lebih jelek dibanding bhs inggris 
hehehe..... contoh kasus...semalam ada ibu membawa 2 anak, sakit gatal2 di kaki 
dan tangan.....ibunya bilang : sakitnya baru 2 hari, padahal saya lihat sudah 
ada luka yg kering, berparut.... ..akhirnya ibunya saya bilang.... Bu...ibu 
diam dulu yaa...saya mau bicara dg anaknya, setiap saya tanya ke anaknya, 
ibunya menyela terus... akhirnya saya bilang...bu. ...yang sakit itu putra ibu, 
tolong deh...diam nanti saya gak mau ngobatin. Akhirnya.... anaknya cerita kalo 
gatalnya sudah lebih dari 2 minggu dst. Saya diagnosa kudis (scabies) obatnya 
sih sederhana, tetapi menjelaskan  cara  memakai salepnya itu yang susah...lha 
wong ibunya "ngeyel"...hampir saja tak suruh pulang
 manggil orang lain yg bisa tak ajarin cara memakai salepnya.... akhirnya saya 
bilang....bu kalo sampai anaknya gak sembuh atau kambuh lagi saya gak mau 
ngobatin lagi. (Saya menjelaskan cara penularan, cara menghindari penularan 
dll.....gak ada dia tanggapi dg serius, ngeyelnya aja yg diomongin).. 
...hehehe. .kok jadi kebalik yaa....dokternya yg mengadukan pasien maaf....
 Saya ikut prihatin dengan kasus yg menimpa istri Pak Didi, saya tidak tahu 
kenapa ada dokter seperti itu. Saya sering berkata ke pasien saya....(kalau 
saya gak tahu diagnosanya) , maaf....saya tidak tahu penyakit bapak/ ibu. Kalau 
bapak/ibu pengin tahu dengan lebih pasti sebaiknya periksa ini dan itu dsb. 
tapi kalau tidak mau....saya akan mengobati penyakit bapak/ibu menurut yg 
paling mungkin, kalau tidak sembuh dalam 2 hari tolong kembali lagi. Biasanya 
sih saya tidak pernah dikomplain pasien saya......meski pernah juga sih....dok 
kok ga sembuh? atau dok kok tambah parah?....Kalau sudah begitu....kalau tidak 
saya rujuk ke spesialis yaa...saya suruh periksa lab untuk memastikan apa 
sebenarnya penyakitnya. Sungguh hal yg sangat ringan terasa di dada, ketika 
kita mengatakan, "saya tidak tahu". Bukan karena "kikir" ilmu, tetapi memang 
saya tidak tahu.
 Wallahu'alam
 Wassalaamu'alaikum wr wb


 ----- Original Message ----
From: Didi Mardiyanto <didi.mardiyanto@ telkom.net>
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Wednesday, January 30, 2008 11:50:28 PM
Subject: [rezaervani] [CATHAR] Jadilah Dokter Yg Tidak Kikir Ilmu

    
 
 JADILAH DOKTER YANG TIDAK KIKIR ILMU
  
 Assalamu'alaikum Wr.Wb
  
 Setelah beberapa waktu mengikuti milis ini, akhirnya tergerak juga untuk 
menulis sesuatu.  Tulisan perdana ini diilhami dari kejadian yang menimpa istri 
saya yang kebetulan beberapa hari lalu di rawat di Rumah Sakit Islam di 
bilangan Cempaka Putih Jakarta Pusat.
  
 Istri saya yang kebetulan tengah mengandung usia 4 bulan, pada beberapa waktu 
lalu harus dirawat di rumah sakit karena memiliki masalah pada kandung 
kemihnya.  Istri saya kesulitan melakukan Hajat Buang Air kecil, sehingga harus 
dirawat dan dipasang kateter untuk melancarkan proses buang air kecil.
  
 Kejadian yang membuat saya ingin menulis ini terjadi pada saat istri saya 
dikunjungi oleh dokter yang melakukan perawatan.  Kebetulan dokter yang merawat 
adalah Dokter Rauf.  Pada saat dokter melakukan kunjungan ke ruang rawat, istri 
saya memanfaatkan kunjungan dokter untuk bertanya kepada dokter mengenai hal 
ihwal penyakit yang dideritanya.  Ketika istri saya bertanya " Dokter apa yang 
menyebabkan penyakit saya ? "  Sang Dokter hanya menjawab " penyakit ibu karena 
kondisi ibu yang sedang mengandung ".  Mendapat penjelasan dokter yang singkat 
tersebut, tentu saja istri saya ingin bertanya lebih jauh lagi, mengingat 
kehamilan istri saya adalah kehamilan yang ketiga dan dua kehamilan yang 
terdahulu tidak mengalami masalah seperti saat ini.
  
 Istri saya kemudian kembali mengajukan pertanyaan " Bagaimana Dok .. koq 
karena kehamilan bisa menyebabkan saya harus dipasang kateter seperti ini ? "  
Mendengar pertanyaan lanjutan dari istri saya, nampaknya sang dokter merasa 
tidak senang dan malas memberikan jawaban.  Sebenarnya istri saya sejak awal 
sudah menduga bahwa Dokter Rauf yang merawatnya adalah tipe dokter yang enggan 
memberikan penjelasan kepada pasien. Namun ternyata dugaan istri saya jauh dari 
yang ia duga, karena ternyata Dokter Rauf memberikan jawaban yang di dalamnya 
tersirat sikap dokter yang menganggap pasien yang dihadapinya adalah orang 
bodoh.
  
 Dokter Rauf menjawab pertanyaan istri saya dengan gaya ketus seperti ini : " 
Ibu ! apakah selama ini ibu pernah memikirkan bagaimana mata dapat bekerja ? 
Apakah Ibu pernah memikirkan bagaimana jantung bekerja ? ... Tidak Pernah khan 
! karena memang bukan ilmu yang mudah untuk mempelajarinya.  Ibu tidak perlu 
mikir yang macam-macam dan yang sulit-sulit yang Ibu tidak akan faham.  
Pokoknya penyakit ibu ini disebabkan oleh kehamilan !! "
  
 Astagfirullah .... istri saya bergumam dalam hati.  Istri saya sangat kecewa 
dengan pernyataan yang diberikan oleh Dokter Rauf.  Mengharapkan mendapat 
jawaban yang mampu menjelaskan penyakitnya, yang didapatkan malah pernyataan 
yang meremehkan yang diberikan oleh sang dokter.
  
 Istri saya yang bekerja di bidang farmasi dan cukup mengerti tentang hal yang 
berkaitan dengan fungsi dan cara kerja organ tubuh, lebih memilih diam dan 
tidak melanjutkan pertanyaan kepada Dokter Rauf.  Jika mau, istri saya bisa 
saja memberikan komentar bahwa ia mengetahui tentang bagaimana mata bekerja dan 
bagaimana jantung bekerja.  Tapi itu tidak dilakukan oleh istri saya, karena 
menganggap percuma menanggapi seorang dokter yang terlalu bangga dengan 
profesinya, dan terlalu meremehkan orang lain, serta menganggap bahwa hanya 
orang pintar, jenius, dan yang terpilih saja yang mampu bergelar dokter.
  
 Apa yang dilakukan oleh Dokter Rauf adalah kenyataan di lapangan, bahwa ada 
dokter yang tidak memiliki kemampuan untuk berperan sebagai dokter yang tidak 
hanya menyembuhkan.   Peran Dokter pada saat seseorang sakit adalah tidak hanya 
menyembuhkan orang yang sakit tersebut, tetapi juga harus mampu memberikan 
penjelasan kepada pasien tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk menghindari 
penyakit yang dideritanya.  Memberikan penjelasan kepada pasien tentang 
penyebab penyakit dan cara pencegahannya, tidak harus serumit menjelaskan 
bagaimana mata bekerja dan bagaimana jantung bekerja.  Siapapun pasien yang 
dihadapinya, harusnya seorang dokter mau memberikan penjelasan yang diminta 
oleh sang pasien.  
  
 Untuk kasus Dokter Rauf, memberikan penjelasan kepada pasien yang nyata-nyata 
telah "membayarnya" saja tidak mau ia lakukan, apalagi jika yang bertanya 
kepada Dokter Rauf adalah pasien gratisan.
  
 Apa yang dilakukan oleh Dokter Rauf barangkali jangan dicontoh oleh 
rekan-rekan Dokter yang lain.  Jangan Kikir Ilmu kepada orang yang meminta kita 
menjelaskan sesuatu yang dibutuhkan.  Ilmu yang dimiliki oleh Dokter Rauf pasti 
tidak akan menjadi berkurang ketika diberikan kepada seorang pasien yang 
membutuhkan penjelasan atas sesuatu hal yang secara keilmuan dimiliki oleh 
seorang Dokter. Sosok seorang Dokter sudah tertanam dibenak masyarakat adalah 
sosok yang sudah pasti cerdas, pintar dan berilmu.  Tidak perlu meremehkan 
orang untuk mengingatkan bahwa "Belajar jadi Dokter itu susah".
  
 Atas kejadian yang menimpanya, istri saya langsung mencoret Nama Dokter Rauf 
dari List Dokter yang harus dikunjunginya ketika sakit.  Sosok Dokter Rauf 
harus dihindarinya, karena ketika sakit, istri saya berharap memperoleh 
kesembuhan dari Allah SWT melalui perantaraan seorang Dokter yang merawatnya, 
sekaligus mendapatkan ilmu tentang penyakitnya dari dokter yang merawatnya, dan 
itu tidak ia dapatkan dari Dokter Rauf.  
  
 Istri saya yakin bahwa Fenomena Dokter Rauf yang kikir ilmu adalah nyata.  
Namun ia masih memiliki keyakinan bahwa masih banyak sosok Dokter yang TIDAK 
KIKIR ILMU.   
  
 Wassalamu'alaikum Wr.Wb
  
  


 



          
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.       
      




       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers
     
                               

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke