Assalamu alaikum 

Mengikuti topik ini saya jadi teringat dengan almarhun kakak saya yang seorang 
dokter dan juga almarhum ibu saya, saya sangat ingat betul bagaimana ibu saya 
mendapati seorang pasien yang datang ke rumah karena mengeluh sesuatu tentang 
kesehatannya ( yang nota bene kakak saya tidak pengadakan praktek dirumah 
karena memang kesehariannya selalu praktek di rumah sakit hingga sore hari ), 
maka ibu akan segera menyuruh kakak saya yang sebenarnya sangat capek dan 
pengin istirahat atau bahkan sedang tidur sekalipun, maka ibupun akan  marah 
jika kakak saya malas - malasan dalam melayani pasien tersebut, dan walaupun 
kadang pasien tersebut tidak membawa uang sama sekali karena ketidak mampuan 
ekonominya, dan di lain  waktu ibu akan sangat senang jika kakak saya bisa 
melayani dengan baik dan menjelaskan penyakitnya kepada pasien tersebut.

Tapi dilain tempat sayapun pernah manemui seorang dokter yang tetap tidak mau 
melayani seorang pasien yang datang kerumahnya karena beliau tidak praktek di 
rumah, bahkan akhir pasien yang datang pada malam hari itu akhirnya meninggal 
dunia esuk harinya ( Memang bukan ketidak mauan beliau melayani dan memeriksa 
itu yang menyebabkan kematian tapi mungkin dengan beliau memeriksa mungkin akan 
ada hal-hal yang lebih baik buat seorang pasien ) 

Tidak hanya profesi dokter saja, semua profesi harus tetap didedikaskan untuk 
kemaslakhatan umat, agar kita berguna bukan hanya untuk diri kita sendiri dan 
keluarga kita, tapi bagi siapa saja disekitar kita...

Wassalamualaikum....

Nanang

----- Original Message ---- 
From: Shaffiyah Mazaya Zainal <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 5, 2008 8:20:49 PM
Subject: Re: Bls: [rezaervani] [CATHAR] Jadilah Dokter Yg Tidak Kikir Ilmu










  


    
            Ass.Wr.Wb, hmm..
Saya membaca tulisan ini jd teringat rapat beberapa hari yang lalu di klinik 
dimana sy bekerja.
Saya terkenal sebagai dokter yang terlalu lama meladeni pertanyaan pasien. Shg 
kdg pasien menunggu terlalu lama. Namun dr mereka yang pd akhirnya bertemu sy, 
menjadi rela menunggu krn sy pun mau meladeni sgl pertanyaan mrk.
Namun, sikap sy yg demikian mjd cibiran bg rekan sejawat dan staf. Mrk 
menyindir bahwa seharusnya pasien diberi tambahan biaya untuk konsultasi yg 
banyak. Lalu salah satu rekan sejawat sy mengatakan, jgn dong...klo gitu nanti 
dokternya mkn senang berlama-lama meladeni pertanyaan pasien.
Sy tumbuh besar di lingkungan dokter, ayah sy dokter juga. Dia mengajarkan saya 
bahwa melayani pasien hrs dr hati. bukan kita htiung berapa yg akan kita dapat 
per kepala.
Mohon maaf pd TS yg kurang berkenan...namun tiap dokter punya cara tersendiri 
utk melayani pasiennya. Sy tdk tkt pasien sy kabur....

endah sriredjeki
 <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:
                          
Jadi seru yaa pembahasan ttg topik ini.  
Semuanya bisa dijadikan cermin, bahwa baik dan buruk selalu ada pada profesi 
apa pun.
Alhamdulillah saya sering menemukan dokter yg perhatian pada pasien, bahkan 
ketika saya menengok tetangga yg opname di RS dan mengeluhkan  ttg penanganan 
penyakitnya yang seolah-olah mengada-ada,  saya coba konfirmasikan keluhan 
tetangga saya tsb ke
 dokter ybs  eh..kebetulan kami bertemu di lift, sama2 mau turun ke lobby.  
Beliau dengan senang hati menjelaskan,  bahkan ketika lift sudah berhenti dan 
kami hrs keluar, beliau masih juga menambahkan penjelasannya seolah ingin 
menjelaskan se detil2nya.  
Yaa, dokter juga manusia, kadang di rumah lg perang dingin dg nyonya trus  
kebawa ke tempat kerja.
Asal ngga sering2 aja.  Kalau keseringan yaa...hukum alam akan berlaku, dia 
ditinggalkan oleh pasiennya.  Ibarat pohon, buahnya terasa masam dan orang 
malas memetiknya.  Wallahu'alam. ....

ESR


----- Pesan Asli ----
Dari: arif rahman <smilehome2004@ yahoo.com>
Kepada: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Terkirim: Rabu, 30 Januari, 2008 1:38:01
Topik: Re: [rezaervani] [CATHAR] Jadilah Dokter Yg Tidak Kikir Ilmu

          
               
Assalaamu'alaikum wr wb
 Waduhh...... bbrp waktu yg lalu....(kebetulan saya dokter umum)....saya 
kenalan dengan seorang ibu dosen dari salah satu PTN di Sumatera...beliau 
menumpahkan marahnya ke saya, karena kasus yg mirip...tp beliau lebih parah. 
Beliau terkena penyakit tb.....ketika diobati..... ..rupanya gak tahan dengan 
obatnya, tapi oleh dokternya... .(komunikasinya jelek) disuruh minum obat tb 
terus sesuai dengan prosedur standard pengobatan tb.......kata beliau....saya 
hampir mati menahan sakitnya.... . yang beliau sesalkan...si dokter gak mau 
memberi penjelasan yg cukup untuk penyakit akibat minum obat itu, dan 
belakangan beliau tahu penyakitnya itu adalah SLE.
 Wahh....entah berapa jam, kami chat......saya dimarah2i beliau....hehehe. 
....setiap ada pertanyaan yang saya ga tahu....saya jawab, saya gak tahu...... 
Beliau protes...kok bisa gak tahu...kamu kan dokter.... aku jawab.....Bu. 
..bagaimana saya tahu lha wong informasi yg saya dapat cuman segini? lagi pula 
ilmu kedokteran memang luas sekali...gak mungkin lah saya menguasai 
semuanya.... ..alhamdulillah. ..akhirnya beliau bisa menerima "ketidaktahuan" 
saya. Dan sekarang kami berteman baik.....sering diskusi tentang riset2 kami yg 
sedang jalan...dll. ...
 Terus terang....kadang saya juga susah ngasih tahu pasien...... kebetulan saya 
praktek di klinik BSMI yang pasiennya ada kategori A....gratis, B bayar 2500 
dan C bayar sesuai dengan obatnya....15. 000. Dan mayoritas pasien saya orang 
madura....padahal bahasa madura
 saya lebih jelek dibanding bhs inggris hehehe..... contoh kasus...semalam ada 
ibu membawa 2 anak, sakit gatal2 di kaki dan tangan.....ibunya bilang : 
sakitnya baru 2 hari, padahal saya lihat sudah ada luka yg kering, berparut.... 
..akhirnya ibunya saya bilang.... Bu...ibu diam dulu yaa...saya mau bicara dg 
anaknya, setiap saya tanya ke anaknya, ibunya menyela terus... akhirnya saya 
bilang...bu. ...yang sakit itu putra ibu, tolong deh...diam nanti saya gak mau 
ngobatin. Akhirnya.... anaknya cerita kalo gatalnya sudah lebih dari 2 minggu 
dst. Saya diagnosa kudis (scabies) obatnya sih sederhana, tetapi menjelaskan  
cara  memakai salepnya itu yang susah...lha wong ibunya "ngeyel"...hampir saja 
tak suruh pulang manggil orang lain yg bisa tak ajarin cara memakai 
salepnya.... akhirnya saya bilang....bu kalo sampai anaknya gak sembuh atau 
kambuh lagi saya gak mau ngobatin lagi. (Saya menjelaskan cara penularan, cara 
menghindari penularan dll.....gak ada dia
 tanggapi dg serius,
 ngeyelnya aja yg diomongin).. ...hehehe. .kok jadi kebalik yaa....dokternya yg 
mengadukan pasien maaf....
 Saya ikut prihatin dengan kasus yg menimpa istri Pak Didi, saya tidak tahu 
kenapa ada dokter seperti itu. Saya sering berkata ke pasien saya....(kalau 
saya gak tahu diagnosanya) , maaf....saya tidak tahu penyakit bapak/ ibu. Kalau 
bapak/ibu pengin tahu dengan lebih pasti sebaiknya periksa ini dan itu dsb. 
tapi kalau tidak mau....saya akan mengobati penyakit bapak/ibu menurut yg 
paling mungkin, kalau tidak sembuh dalam 2 hari tolong kembali lagi. Biasanya 
sih saya tidak pernah dikomplain pasien saya......meski pernah juga sih....dok 
kok ga sembuh? atau dok kok tambah parah?....Kalau sudah begitu....kalau tidak 
saya rujuk ke spesialis yaa...saya suruh periksa lab untuk memastikan apa 
sebenarnya penyakitnya. Sungguh hal yg sangat ringan terasa di dada, ketika 
kita mengatakan,
 "saya tidak tahu". Bukan karena "kikir" ilmu, tetapi memang saya tidak tahu.
 Wallahu'alam
 Wassalaamu'alaikum wr wb


 ----- Original Message ----
From: Didi Mardiyanto <didi.mardiyanto@ telkom.net>
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Sent: Wednesday, January 30, 2008 11:50:28 PM
Subject: [rezaervani] [CATHAR] Jadilah Dokter Yg Tidak Kikir Ilmu

    
 
 JADILAH DOKTER YANG TIDAK KIKIR ILMU
  
 Assalamu'alaikum Wr.Wb
  
 Setelah beberapa waktu mengikuti milis ini, akhirnya tergerak juga untuk 
menulis sesuatu.  Tulisan perdana ini diilhami dari kejadian yang menimpa istri 
saya yang kebetulan beberapa hari lalu di rawat di Rumah Sakit Islam di 
bilangan Cempaka Putih Jakarta Pusat.
  
 Istri saya yang kebetulan tengah mengandung usia 4 bulan, pada beberapa waktu 
lalu harus dirawat di rumah sakit karena memiliki masalah pada kandung 
kemihnya.  Istri saya kesulitan melakukan Hajat Buang Air kecil, sehingga harus 
dirawat dan dipasang kateter untuk melancarkan proses buang air kecil.
  
 Kejadian yang membuat saya ingin menulis ini terjadi pada saat istri saya
 dikunjungi oleh dokter yang melakukan perawatan.  Kebetulan dokter yang 
merawat adalah Dokter Rauf.  Pada saat dokter melakukan kunjungan ke ruang 
rawat, istri saya memanfaatkan kunjungan dokter untuk bertanya kepada dokter 
mengenai hal ihwal penyakit yang dideritanya.  Ketika istri saya bertanya " 
Dokter apa yang menyebabkan penyakit saya ? "  Sang Dokter hanya menjawab " 
penyakit ibu karena kondisi ibu yang sedang mengandung ".  Mendapat penjelasan 
dokter yang singkat tersebut, tentu saja istri saya ingin bertanya lebih jauh 
lagi, mengingat kehamilan istri saya adalah kehamilan yang ketiga dan dua 
kehamilan yang terdahulu tidak mengalami masalah seperti saat ini.
  
 Istri saya kemudian kembali mengajukan pertanyaan " Bagaimana Dok .. koq 
karena kehamilan bisa menyebabkan saya harus dipasang kateter seperti ini ? "  
Mendengar pertanyaan lanjutan
 dari istri saya, nampaknya sang dokter merasa tidak senang dan malas 
memberikan jawaban.  Sebenarnya istri saya sejak awal sudah menduga bahwa 
Dokter Rauf yang merawatnya adalah tipe dokter yang enggan memberikan 
penjelasan kepada pasien. Namun ternyata dugaan istri saya jauh dari yang ia 
duga, karena ternyata Dokter Rauf memberikan jawaban yang di dalamnya tersirat 
sikap dokter yang menganggap pasien yang dihadapinya adalah orang bodoh.
  
 Dokter Rauf menjawab pertanyaan istri saya dengan gaya ketus seperti ini : " 
Ibu ! apakah selama ini ibu pernah memikirkan bagaimana mata dapat bekerja ? 
Apakah Ibu pernah memikirkan bagaimana jantung bekerja ? ... Tidak Pernah khan 
! karena memang bukan ilmu yang mudah untuk mempelajarinya.  Ibu tidak perlu 
mikir yang macam-macam dan yang sulit-sulit yang Ibu tidak akan faham.  
Pokoknya penyakit ibu ini disebabkan oleh
 kehamilan !! "
  
 Astagfirullah .... istri saya bergumam dalam hati.  Istri saya sangat kecewa 
dengan pernyataan yang diberikan oleh Dokter Rauf.  Mengharapkan mendapat 
jawaban yang mampu menjelaskan penyakitnya, yang didapatkan malah pernyataan 
yang meremehkan yang diberikan oleh sang dokter.
  
 Istri saya yang bekerja di bidang farmasi dan cukup mengerti tentang hal yang 
berkaitan dengan fungsi dan cara kerja organ tubuh, lebih memilih diam dan 
tidak melanjutkan pertanyaan kepada Dokter Rauf.  Jika mau, istri saya bisa 
saja memberikan komentar bahwa ia mengetahui tentang bagaimana mata bekerja dan 
bagaimana jantung bekerja.  Tapi itu tidak dilakukan oleh istri saya, karena 
menganggap percuma menanggapi seorang dokter yang terlalu bangga dengan 
profesinya,
 dan terlalu meremehkan orang lain, serta menganggap bahwa hanya orang pintar, 
jenius, dan yang terpilih saja yang mampu bergelar dokter.
  
 Apa yang dilakukan oleh Dokter Rauf adalah kenyataan di lapangan, bahwa ada 
dokter yang tidak memiliki kemampuan untuk berperan sebagai dokter yang tidak 
hanya menyembuhkan.   Peran Dokter pada saat seseorang sakit adalah tidak hanya 
menyembuhkan orang yang sakit tersebut, tetapi juga harus mampu memberikan 
penjelasan kepada pasien tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk menghindari 
penyakit yang dideritanya.  Memberikan penjelasan kepada pasien tentang 
penyebab penyakit dan cara pencegahannya, tidak harus serumit menjelaskan 
bagaimana mata bekerja dan bagaimana jantung bekerja.  Siapapun pasien yang 
dihadapinya, harusnya seorang dokter mau memberikan penjelasan yang diminta 
oleh sang pasien.  

  
 Untuk kasus Dokter Rauf, memberikan penjelasan kepada pasien yang nyata-nyata 
telah "membayarnya" saja tidak mau ia lakukan, apalagi jika yang bertanya 
kepada Dokter Rauf adalah pasien gratisan.
  
 Apa yang dilakukan oleh Dokter Rauf barangkali jangan dicontoh oleh 
rekan-rekan Dokter yang lain.  Jangan Kikir Ilmu kepada orang yang meminta kita 
menjelaskan sesuatu yang dibutuhkan.  Ilmu yang dimiliki oleh Dokter Rauf pasti 
tidak akan menjadi berkurang ketika diberikan kepada seorang pasien yang 
membutuhkan penjelasan atas sesuatu hal yang secara keilmuan dimiliki oleh 
seorang Dokter. Sosok seorang Dokter sudah tertanam dibenak masyarakat adalah 
sosok yang sudah pasti cerdas, pintar dan berilmu.  Tidak perlu meremehkan 
orang untuk mengingatkan bahwa "Belajar jadi Dokter itu
 susah".
  
 Atas kejadian yang menimpanya, istri saya langsung mencoret Nama Dokter Rauf 
dari List Dokter yang harus dikunjunginya ketika sakit.  Sosok Dokter Rauf 
harus dihindarinya, karena ketika sakit, istri saya berharap memperoleh 
kesembuhan dari Allah SWT melalui perantaraan seorang Dokter yang merawatnya, 
sekaligus mendapatkan ilmu tentang penyakitnya dari dokter yang merawatnya, dan 
itu tidak ia dapatkan dari Dokter Rauf.  
  
 Istri saya yakin bahwa Fenomena Dokter Rauf yang kikir ilmu adalah nyata.  
Namun ia masih memiliki keyakinan bahwa masih banyak sosok Dokter yang TIDAK 
KIKIR ILMU.   
  
 Wassalamu'alaikum Wr.Wb
  
  


 



          Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.       
      




       Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di 
Yahoo! Answers
     
            


Shafiyyah Mazaya Zainal, dr
(www.shafiyyah- life.blogspot. com) 
      
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

    
  

    
    




<!--

#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->



<!--

#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->



<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->








      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke