MUJAHID FAJAR
   
  Fiyan Arjun
   
  http://sebuah risalah.multiply.com
  ID YM: paman_sam2
   
  “Dirikanlah shalat  dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam  dan 
(dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh disaksikan (oleh 
malaikat)“ (Q.S. Al-Isra:78).
   
   
  Kalau saya mengingat waktu (shalat) subuh saya jadi malu untuk mengingat 
diri. Malu karena saya begitu malas untuk bangun pagi saat itu. Nanti jika 
pukul setengah enam pagi saya baru shalat subuh. Begitu yang ada dibenak saya 
saat itu. Tapi sekarang saya akan malu jika terus-terusan melakukan hal itu. 
Karena selain saya malu pada diri saya sendiri, saya juga malu pada seorang 
anak tetangga yang baru usia lima tahun yang sudah rajin ikut shalat subuh 
dengan abi-nya (baca: ayah) di mushallah yang ada di dekat rumah saya. 
   
   
  Tiap pagi saya selalu melihatnya jika adzan subuh mulai berkumandang dari 
mushallah. Dan ia tidak sendirian menuju mushallah itu untuk menunaikan  shalat 
subuh melainkan ia bersama  dengan ayahnya. Dari mushallahlah saya melihat 
gelagat dan tingkahnya itu. Lucu, menggemaskan dan juga cerdik. Apalagi kalau 
saat ia memakai kopiah haji berwarna putih serta bawahnya memakai sarung yang 
kebesaran. Pasti saya saat itu yang melihatnya tak mampu untuk menahan senyum. 
Karena apa? Setiap kali ia berdiri sarungnya itu yang ia pakai selalu saja 
melorot ke bawah. Dan tak pelak saya ikut tersenyum melihat hal itu. Tapi ada 
satu hal yang  patut saya jadikan ibrah dan iktibar buat diri saya khususnya. 
Yakni, ia begitu semangat untuk bangun pagi dan menunaikan shalat subuh. Walau 
sebenarnya ia yang tak tahu niat dan kewajiban shalat tapi ia tetap semangat 
untuk ikut ayahnya shalat subuh.
   
   
  Oya, selain ia rajin shalat subuh bersama ayahnya ia juga pandai bergaul dan 
sering menolong sesama kawan seusianya. Sering saya melihat ia bermain bersama 
kawan usianya. Dan ia juga tak cengeng bila ada orang yang memusuhi atau 
melukai dirinya. Ia tetap kuat dan tak lemah. Begitu yang saya ketahui jika 
saya melihat dirinya bermain besama kawan usianya. Dan itu juga merupakan 
didikan dari ayahnya. 
   
   
  Itulah gambaran seorang mujahid fajar yang jika di waktu subuh  selalu 
mengundang senyum saya. Kenapa saya bisa sebut seperti itu? Ya, karena ia 
pantas disebut demikian. Mujahid fajar jika tiba waktu sahlat subuh ia selalu 
ikut meramaikan shalat subuh bersama dengan ayahnnya itu. Mungkin tak ada 
usianya yang begitu giat bangun pagi apalagi harus bangun untuk shalat subuh. 
Paling-paling jika subuh menurut saya ukuran seusianya mungkin sedang asyik 
dibuai dan di-ninabobokan oleh sang ibunya. Atau, sedang asyik dengan 
mimpi-mimpinya. Tapi ia bukanlah sosok seperti itu.Kadang kala saya juga malu 
jika berhadapan dengan dirinya saat bersama ayahnya jika saya tidak shalat 
subuh di mushallah. Pasti ia akan menanyakan kepada saya jika saya bertemu 
denganya “Om, kok subuh tadi nggak shalat di mushallah.” Begitu jika ia bertemu 
dengan saya. Dan juga begitu ia tanyakan jika saya tak shalat subuh di 
mushallah. Saya pun hanya bisa mengeluarkan senyum untuknya sebagai tanda 
jawaban
 bahwa saya memang pagi itu kebablasan tidur. Dan aku hanya shalat di rumah 
seorang diri. Tak berjamaah seperti mujahid fajar kecil itu. Ya, mau dikata 
saya sendiri juga tak bisa mengelak pertanyaan darinya. Akhirnya senyuman 
sayalah saya keluarkan sebagai jawaban atas pertanyaannya.
   
   
  Mujahid kecil di waktu fajar tak lain ia adalah tetangga saya satu RT. Bukan 
hanya satu RT saja tapi juga rumah saya juga dekat dengannya. Paling-paling 
jika saya shalat subuh pasti saya selalu melewati rumahnya dulu. Baru kemudian 
saya menuju mushallah untuk menunaikan shalat subuh. Entah, sampai kapan 
mujahid fajar itu bisa bertahan untuk shalat subuh? Saya harap ia terus dan 
terus menunaikan shalat subuh agar ia menjadi contoh untuk anak-anak usianya di 
tempat tinggal saya. Ya, semoga saja ia juga tak lekas bosan dan jenuh bila 
diajak shalat subuh bersama ayahnya itu. Dan juga subuh tak ada hal  yang 
mebuat saya tersenyum bila tak ada mujahid fajar seperti dirinya. Ayolah 
mujahid kecil tegakan shalat subuh agar dirimu menjadi contoh untuk ukuran 
usiamu dan juga khususnya untuk diri ini. Allahu Akbar ayo bangkit mujahid 
kecil. Mujahid fajar genggan masa depanmu yang nanti akan menunggumu nanti 
kelak.
   
                                                                   Ciputat, 2 
Februari 2008


       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke