Assalaamu'alaikum wr wb
Maaf aku cp kan satu artikel dari blog seseorang
================
Oleh Herry Mardian
ANDA pernah jatuh cinta? Pernah melihat atau sekedar berkenalan pada seseorang, 
lalu anda mulai tertarik dengannya? Awalnya mungkin ada sebuah ‘rasa’ 
terhadapnya. Lalu anda mulai sering memikirkannya. Banyak hal yang dilakukannya 
membuat anda tertarik, walaupun mungkin tidak setiap saat kita berinteraksi 
dengannya. Ketika dia ramah dan tersenyum pada kita satu atau dua detik, atau 
sekedar berkata “Halo, apa kabar?” sambil tersenyum, pikiran kita mulai 
berpersepsi.

“Wah, ramah sekali. Kayaknya baik ya. Boljug nih, jadi pasangan… ” dan 
seterusnya.
Ketika anda sedang lelah, lalu teringat lagi padanya, kemudian muncul rasa 
ingin bertemu dengannya. Kita mulai berimajinasi. “Kayaknya enak kalau lagi 
capek begini ngobrol dengannya. Pasti kebaikannya bisa membuat saya terhibur. 
Kalau curhat pasti dia mau dengerin deh.”
Ketika kita melihat dia ramah pada anak-anak, maka pikiran kita berpersepsi 
lain lagi. “Wah, betapa dia seorang ibu/ayah yang ideal.”
Ketika kita sudah mulai berinteraksi satu-dua kali, ternyata tutur katanya 
ramah, santun, dan sebagainya. Pikiran kita mengambil indikator ini, “Ternyata 
orangnya baik. Enak diajak ngobrol. Pemikiran kita nyambung. Udah gitu humoris 
pula.” Ditambah lagi dengan data dari teman-teman kita, katanya dia orang baik, 
humoris, bertanggung jawab dan sebagainya.
Lalu dia mulai sering ada di pikiran kita. Sosok dia, dalam pikiran kita, kini 
sudah menjadi imajinasi satu kepribadian manusia yang utuh: orangnya baik, 
cantik/ganteng, ramah, cerdas, humoris, bertanggung jawab, dan seorang suami 
atau istri yang ideal. Sepotong senyum atau interaksi satu-dua kali, sudah 
cukup untuk membuat mekanisme kecerdasan kita membentuk satu sosok kepribadian 
yang utuh di dalam imajinasi kita. Dan sekarang, dengan adanya sosok yang utuh 
di dalam pikiran kita ini, kita mulai benar-benar jatuh cinta kepadanya. Ingat 
terus, kalau ditelepon atau ketemu merasa senang sekali, dan seterusnya, dan 
seterusnya.
Indikator-indikator kepribadian yang tadinya disimpan di kepala kita sebagai 
data, dengan kemampuan persepsi otak kita diolah menjadi suatu sosok yang utuh, 
dan akhirnya kita jatuh cinta dengan sosok ini. Indah sekali kan?
Pada tahap ini, kenapa kita bisa jatuh cinta hanya dengan satu senyum, atau 
satu-dua kali interaksi? Imajinasi. Itulah keunggulan mekanisme pikiran kita. 
Kita dibekali kemampuan berimajinasi tentang sesuatu, sehingga dari data yang 
sedikit bisa dipersepsikan, atau diimajinasikan, bagaimana sosok kepribadian 
orang itu dengan utuh.
Lalu semakin lama anda berinteraksi dengannya, mulai nampak pula hal-hal yang 
tidak terlalu kita sukai dari dirinya. Kita mulai menimbang-nimbang, berfikir 
positif atau negatif mengenai dirinya. Cinta kita sudah mulai memasuki tahap 
cinta rasional, bukan hanya cinta emosional. Rasa cinta tidak lagi demikian 
terasa dahsyat dan menggebu-gebu di dalam dada kita. Sekarang kita mulai 
‘mendapatkan pengalaman’ (meng-experience) interaksi dengan dia yang sebenarnya.
Pada tahap ini, bisa jadi kita malah sebal, atau ternyata berkesimpulan tidak 
cocok dengannya. Atau jika kebetulan kita sampai di jenjang pernikahan, setelah 
sepuluh tahun menikah, misalnya, cinta kita tidak lagi terasa demikian 
emosional dan menyenangkan seperti ketika awal bertemu. Pada tahap ini, cinta 
kita sudah mulai menjadi cinta yang rasional dan dewasa. Diwarnai oleh tanggung 
jawab, peran sosial, kewajiban, pemakluman, dan lain sebagainya. Intinya, kini 
belum tentu ’semuanya indah sekali’ seperti dulu.
Lalu kenapa dulu rasa cinta itu bisa terasa demikian menyenangkan dan ‘dahsyat’ 
terasa di dalam dada? Sekali lagi, imajinasi. Dulu, sebenarnya kita jatuh cinta 
bukan pada dia, tapi jatuh cinta kepada ‘imajinasi kita tentang dia’. Kita 
jatuh cinta pada sosok dia yang ada di pikiran kita, bukan pada dia yang 
sebenarnya. Kini, setelah lama berinteraksi dengannya, kita mulai mengenal dia 
yang asli, bukan hanya imajinasinya. Dia yang asli, dengan ‘imajinasi kita 
tentang dia’ tentu berbeda.
Dia yang asli bisa kita kenali dengan interaksi dengannya, dan bukan melalui 
‘imajinasi’ kita tentang dia. Demikian juga dengan mengenal Tuhan. Sebenarnya, 
tidak cukup untuk mengenal Dia hanya dengan indikator sifat yang diperoleh 
‘kata teman’, menurut buku, kata ustad, dan sebagainya. Kita selama ini hanya 
mendapatkan data tentang Dia dengan ‘katanya’. Kalau kita jujur pada diri kita 
sendiri, tanyakanlah: siapa Tuhan yang kita mengaku mencintai-Nya itu? Siapa 
yang kita sembah itu? Jawablah dengan jujur: kita benar-benar mencintai-Nya, 
atau baru mencintai imajinasi kita tentang diri-Nya, yang terbentuk di kepala 
kita?





----- Original Message ----
From: Rumah Ilmu Indonesia <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, February 12, 2008 12:19:28 AM
Subject: [rezaervani] [CATHAR] Aku Jatuh Cinta

Aku Jatuh Cinta
oleh : Reza Ervani
 
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha 
Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.
(Al Quran Al Karim Surah Maryam ayat 96)
 
Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Berbunga-bunga hatinya
Mengalir dalam darahnya butir-butir semangat membara
Nafas lelah berubah jadi motivasi dan asa
 
Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Saat terbangun, mentari seakan lebih cerah dari biasanya
Mimpipun terasa singkat di malamnya
Dan senandung menjadi lazim tiap pagi harinya
 
Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Keringatnya kini jauh lebih sedikit dari kerja
Pikirannya pun lebih jernih seakan banyak jalan terbuka
Tangan dan kaki yang tadinya lemah kini lebih bertenaga
 
Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Bukan hanya karena pandangan akan rupa
Tak pula kata-kata yang menggoda
Karena itu semua mungkin hanya jalannya semata
 
Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Karena ada relung di balik dadanya
Tempat ia merasakan suka dan nestapa
Dimana ia simpan mimpi dan cita-cita
 
Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Karena sungguh Maha Sayang Sang Pencipta
Ia ciptakan seraut rasa suka
Yang bisa ciptakan puisi berjuta kata
 
Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ?
Semata-mata karena anugerah Sang Kuasa
Dalam bentuk fitrah seorang manusia
Agar dengan makhluk lain ia menjadi jauh berbeda
 
Dan kini aku sedang .... Jatuh Cinta
 
Bandung, Medio Februari 2008
 
(original writing by Reza Ervani)
www.rezaervani, com
komunitas : http://groups. yahoo.com/ group/rezaervani 


Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. 



      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke