Balaa, man aslama wajhahu lillaahi wa huwa muhsinun falahuu ajruhuu 'inda robbihii wa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuun.
INDAHNYA CINTA Wahai saudaraku seiman..masalah cinta ini dibahas dengan sangat indah oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam bukunya, "Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu", berikut kurang lebih cuplikannya (afwan ana tidak buka buku, jadi ya 'kurang lebih') ^_^ : Cinta itu nur (cahaya) maka barangsiapa yang tidak mendapatkannya ia berada di samudera kegelapan yang dalam. Cinta itu manis, maka barangsiapa yang tidak merasakannya ia akan merasakan kepahitan. Cinta itu obat, maka barangsiapa yang mengharamkannya maka halal baginya segala penyakit. PRIORITAS CINTA YANG BENAR Wahai SaudarakuÂ…..tahukah engkau, bagaimanakah cinta seorang hamba yang benar-benar beriman kepada-Nya? Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri- istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (Al-Qur'an Al-Karim Surah At-Taubah [9] : ayat 24) Ayat yang mulia di atas menjelaskan bahwa tingkatan cinta, mulai dari yang tertinggi adalah sebagai berikut : [1]. Cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala Hikmah diciptakannya hati adalah untuk mencintai Allah (mahabbah lillah), ini adalah cinta yang paling tinggi dan paling mulia. Seluruh hati diciptakan dengan tabiat untuk mencinta siapa saja yang memberinya nikmat dan bersikap baik padanya. Maka dari itu wahai saudaraku yang kusayangi dan kucintai karena Allah, yang paling berhak kita cintai di tempat hati kita yang tertinggi adalah Allah karena tiada suatu nikmat pun yang dirasakan oleh kita, bahkan seluruh makhluk di langit dan di bumi kecuali berasal dari-Nya. Allah tidak membutuhkan kecintaan ataupun ibadah kita sedikitpun tetapi kebaikan Allah terus-menerus turun kepada para hamba-Nya walaupun tidak diminta. Subhanallah!! [2]. Cinta kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam. Wahai saudariku, apakah engkau tahu bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa Sallam itu lebih utama daripada diri kita sendiri? Hal ini diterangkan dalam Al-Qur'an. "Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri merekasendiri" (Al-Qur'an Al-Karim Surah Al-Ahzab [33] : ayat 6) Maksud dari ayat itu adalah orang-orang mukmin itu mencintai Nabi mereka lebih dari mencintai diri mereka sendiri dalam segala urusan. Bahkan Nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam telah bersumpah bahwa seorang hamba tidak akan sempurna keimanannya sampai mencintai beliau melebihi cinta kepada anak, orang tua, dan manusia seluruhnya. [3]. Cinta kepada Jihad di jalan Allah Jihad adalah salah satu amalan yang paling utama. "Dan barangsiapa yang berjihad dengan sungguh-sungguh maka akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik (muhsiniin)." Jazakumullohu khoiron katsiiron Uhibbukum fillah Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh (Al-Qur'an Al-Karim surah Al-Ankabut [29]: ayat 69) --- In [email protected], arif rahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalaamu'alaikum wr wb > Maaf aku cp kan satu artikel dari blog seseorang > ================ > Oleh Herry Mardian > ANDA pernah jatuh cinta? Pernah melihat atau sekedar berkenalan pada seseorang, lalu anda mulai tertarik dengannya? Awalnya mungkin ada sebuah `rasa' terhadapnya. Lalu anda mulai sering memikirkannya. Banyak hal yang dilakukannya membuat anda tertarik, walaupun mungkin tidak setiap saat kita berinteraksi dengannya. Ketika dia ramah dan tersenyum pada kita satu atau dua detik, atau sekedar berkata "Halo, apa kabar?" sambil tersenyum, pikiran kita mulai berpersepsi. > > "Wah, ramah sekali. Kayaknya baik ya. Boljug nih, jadi pasanganÂ… " dan seterusnya. > Ketika anda sedang lelah, lalu teringat lagi padanya, kemudian muncul rasa ingin bertemu dengannya. Kita mulai berimajinasi. "Kayaknya enak kalau lagi capek begini ngobrol dengannya. Pasti kebaikannya bisa membuat saya terhibur. Kalau curhat pasti dia mau dengerin deh." > Ketika kita melihat dia ramah pada anak-anak, maka pikiran kita berpersepsi lain lagi. "Wah, betapa dia seorang ibu/ayah yang ideal." > Ketika kita sudah mulai berinteraksi satu-dua kali, ternyata tutur katanya ramah, santun, dan sebagainya. Pikiran kita mengambil indikator ini, "Ternyata orangnya baik. Enak diajak ngobrol. Pemikiran kita nyambung. Udah gitu humoris pula." Ditambah lagi dengan data dari teman-teman kita, katanya dia orang baik, humoris, bertanggung jawab dan sebagainya. > Lalu dia mulai sering ada di pikiran kita. Sosok dia, dalam pikiran kita, kini sudah menjadi imajinasi satu kepribadian manusia yang utuh: orangnya baik, cantik/ganteng, ramah, cerdas, humoris, bertanggung jawab, dan seorang suami atau istri yang ideal. Sepotong senyum atau interaksi satu-dua kali, sudah cukup untuk membuat mekanisme kecerdasan kita membentuk satu sosok kepribadian yang utuh di dalam imajinasi kita. Dan sekarang, dengan adanya sosok yang utuh di dalam pikiran kita ini, kita mulai benar-benar jatuh cinta kepadanya. Ingat terus, kalau ditelepon atau ketemu merasa senang sekali, dan seterusnya, dan seterusnya. > Indikator-indikator kepribadian yang tadinya disimpan di kepala kita sebagai data, dengan kemampuan persepsi otak kita diolah menjadi suatu sosok yang utuh, dan akhirnya kita jatuh cinta dengan sosok ini. Indah sekali kan? > Pada tahap ini, kenapa kita bisa jatuh cinta hanya dengan satu senyum, atau satu-dua kali interaksi? Imajinasi. Itulah keunggulan mekanisme pikiran kita. Kita dibekali kemampuan berimajinasi tentang sesuatu, sehingga dari data yang sedikit bisa dipersepsikan, atau diimajinasikan, bagaimana sosok kepribadian orang itu dengan utuh. > Lalu semakin lama anda berinteraksi dengannya, mulai nampak pula hal-hal yang tidak terlalu kita sukai dari dirinya. Kita mulai menimbang-nimbang, berfikir positif atau negatif mengenai dirinya. Cinta kita sudah mulai memasuki tahap cinta rasional, bukan hanya cinta emosional. Rasa cinta tidak lagi demikian terasa dahsyat dan menggebu-gebu di dalam dada kita. Sekarang kita mulai `mendapatkan pengalaman' (meng-experience) interaksi dengan dia yang sebenarnya. > Pada tahap ini, bisa jadi kita malah sebal, atau ternyata berkesimpulan tidak cocok dengannya. Atau jika kebetulan kita sampai di jenjang pernikahan, setelah sepuluh tahun menikah, misalnya, cinta kita tidak lagi terasa demikian emosional dan menyenangkan seperti ketika awal bertemu. Pada tahap ini, cinta kita sudah mulai menjadi cinta yang rasional dan dewasa. Diwarnai oleh tanggung jawab, peran sosial, kewajiban, pemakluman, dan lain sebagainya. Intinya, kini belum tentu 'semuanya indah sekali' seperti dulu. > Lalu kenapa dulu rasa cinta itu bisa terasa demikian menyenangkan dan `dahsyat' terasa di dalam dada? Sekali lagi, imajinasi. Dulu, sebenarnya kita jatuh cinta bukan pada dia, tapi jatuh cinta kepada `imajinasi kita tentang dia'. Kita jatuh cinta pada sosok dia yang ada di pikiran kita, bukan pada dia yang sebenarnya. Kini, setelah lama berinteraksi dengannya, kita mulai mengenal dia yang asli, bukan hanya imajinasinya. Dia yang asli, dengan `imajinasi kita tentang dia' tentu berbeda. > Dia yang asli bisa kita kenali dengan interaksi dengannya, dan bukan melalui `imajinasi' kita tentang dia. Demikian juga dengan mengenal Tuhan. Sebenarnya, tidak cukup untuk mengenal Dia hanya dengan indikator sifat yang diperoleh `kata teman', menurut buku, kata ustad, dan sebagainya. Kita selama ini hanya mendapatkan data tentang Dia dengan `katanya'. Kalau kita jujur pada diri kita sendiri, tanyakanlah: siapa Tuhan yang kita mengaku mencintai-Nya itu? Siapa yang kita sembah itu? Jawablah dengan jujur: kita benar- benar mencintai-Nya, atau baru mencintai imajinasi kita tentang diri- Nya, yang terbentuk di kepala kita? > > > > > > ----- Original Message ---- > From: Rumah Ilmu Indonesia <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Tuesday, February 12, 2008 12:19:28 AM > Subject: [rezaervani] [CATHAR] Aku Jatuh Cinta > > Aku Jatuh Cinta > oleh : Reza Ervani > > Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. > (Al Quran Al Karim Surah Maryam ayat 96) > > Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ? > Berbunga-bunga hatinya > Mengalir dalam darahnya butir-butir semangat membara > Nafas lelah berubah jadi motivasi dan asa > > Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ? > Saat terbangun, mentari seakan lebih cerah dari biasanya > Mimpipun terasa singkat di malamnya > Dan senandung menjadi lazim tiap pagi harinya > > Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ? > Keringatnya kini jauh lebih sedikit dari kerja > Pikirannya pun lebih jernih seakan banyak jalan terbuka > Tangan dan kaki yang tadinya lemah kini lebih bertenaga > > Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ? > Bukan hanya karena pandangan akan rupa > Tak pula kata-kata yang menggoda > Karena itu semua mungkin hanya jalannya semata > > Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ? > Karena ada relung di balik dadanya > Tempat ia merasakan suka dan nestapa > Dimana ia simpan mimpi dan cita-cita > > Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ? > Karena sungguh Maha Sayang Sang Pencipta > Ia ciptakan seraut rasa suka > Yang bisa ciptakan puisi berjuta kata > > Kenapa seseorang bisa jatuh cinta ? > Semata-mata karena anugerah Sang Kuasa > Dalam bentuk fitrah seorang manusia > Agar dengan makhluk lain ia menjadi jauh berbeda > > Dan kini aku sedang .... Jatuh Cinta > > Bandung, Medio Februari 2008 > > (original writing by Reza Ervani) > www.rezaervani, com > komunitas : http://groups. yahoo.com/ group/rezaervani > > > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > > > > _____________________________________________________________________ _______________ > Looking for last minute shopping deals? > Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php? category=shopping >
