Alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat datang Mas Rahmad.
Senang rasanya mengetahui bahwa mas Rahmad juga ada disini.
Mudah-mudahan bisa berbagi dengan para pendidik disini dengan tulisan-
tulisannya yang mencerahkan.

Semoga bisa saling memberikan manfaat untuk pengembangan pendidikan 
nasional.

Salam,
Rumah Ilmu Indonesia
www.rezaervani.com

--- In [email protected], "rahmad nurdin" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Assalamu'alaikum wr.wb
> 
> Saudara yang berbahagia...untuk mempererat silaturahim,saya ingin
> memperkenalkan diri terlebih dahulu,kepada moderator dan seluruh 
keluarga
> Rumah Ilmu senusantara...
> 
> Nama                  : Rahmadsyah
> Alamat                ; Jl.Dramaga Km.7 Bogor 16680
> HP                      : 085280633770
> Blog                    : www.trainer-tcc.blogspot.com
> Pekerjaan            : Personal Development Trainer (Motivator)
> Pendidikan          : Masih Kuliah di STEI TAZKIA
> Hobby                : Membaca,Menulis dan Berbagi (Coaching )
> 
> Sebenarnya saya sudah dari tahun kemarin bergabung dengan milist 
ini,nama
> RezaErvani sudah dari dulu saya kenal di milist tetangga.aktivitas 
milist
> juga saya ikuti,namun saya tidak bisa ikut nimbrung selama ini,ada 
sedikit
> kesalahan dengan email saya,sahingga setiap kali saya mau posting 
selalu
> failure.Alhamdulillah kemarin dapat teratasi,mudah-mudahan 
silaturahim dari
> saya kali ini dapat sukses...
> Mungkin ini dulu perkenalan dari saya...
> 
> wassalam
> Rahmadsyah
> Personal Development Trainer
> On Feb 13, 2008 1:32 PM, fiyan arjun <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> >   [image: Blog Entry]
> > 
<http://sebuahrisalah.multiply.com/journal/item/352/tafakur_TENGOKLAH_
KEBAWAH_>
> >
> > TENGOKLAH KEBAWAH!
> > Fiyan Arjun
> > http://sebuahrisalah.multiply.com
> > ID YM : paman_sam2
> >
> >
> > "*Kalau kamu mau bersyukur lihat ke bawah. Kalau kamu mau lihat
> > penderitaan saudara kita yang lain tengok keluar!"*
> >
> > Begitulah pesan yang disampaikan dan diberitahukan oleh orang 
yang saya
> > tuakan kepada saya ketika saya sedang berkeluh kesah tentang 
segala
> > "kekurangan" yang ada pada diri saya suatu hari pada saat itu 
kepadanya.
> >
> > Itu dulu. Sekarang saya sudah menyadari hal itu atas "kekeliruan" 
saya
> > saat itu. Yakni, saya selalu (mengeluh) menjadi orang yang serba 
kekurangan.
> > Sekarang ini saya sudah mulai mengetahui dan bahkan sudah 
memahami sekaligus
> > merasakan hal itu sendiri. Mengalami dan melihatnya sendiri 
secara langsung.
> > Ternyata saya bukanlah orang yang paling menderita apalagi 
kekurangan di
> > dunia ini. Ada yang lebih menderita dan *papa* selain diri saya 
sendiri.
> > Sekarang kini saya sudah mulai memahami kekeliruan itu. Kenapa 
saya
> > menyadari kekeliruan itu? Dikarenakan saya sudah melihat dengan 
mata dan
> > kepala saya sendiri secara *live*. Hal itu saya lihat langsung 
setiap hari
> > ketika saya—mulai bekerja kembali dan tiap usai pulang kerja.
> >
> > Setiap saya usai pulang dari tempat saya bekerja saya mulai 
mengerti
> > "disinilah" tempat saya untuk memahami dan menyimak segala warna-
warni
> > kehidupan yang Allah tujukan kepada saya. Sekolah kehidupan. Tiap 
kali jika
> > saya berangkat dan usaI pulang bekerja saya sering menemukan dan 
melihat
> > hal-hal yang membuat saya terenyuh, iba dan lantas bersyukur 
kepadaNya.
> > Ternyata bukan saya seorang diri yang memiliki kekurangan itu. 
Masih banyak
> > lagi selain saya.
> >
> > Seperti kemarin lalu saat saya berangkat kerja. Kebetulan hari 
itu saya
> > masuk kerja giliran masuk siang. Saya berpapasan dengan seorang 
tuna wisma
> > laki-laki lansia yang menengadahkan tangannya ke arah saya. 
Padahal saat itu
> > saya ingin lekas naik bus yang saya tunggu sejak tadi belum juga 
datang.
> > Namun pas bus yang saya tunggu itu datang saya dikejutkan lagi 
oleh suara
> > tuna wisma itu sambil menengadahkan tangannya lagi ke arah saya.
> >
> > "Dik, bagi uangnya sedikit. Bapak belum makan," lirihnya seakan 
mengiris
> > hati saya yang mendengarnya. Dalam hati saya bergumam," 
MasyaAllah ibukota
> > semegah ini masih saja ada anak manusia yang menahan laparnya 
demi sesuap
> > nasi." Akhirnya saya pun merelakan bus yang sejak tadi saya 
tunggu dan saya
> > beralih kepada tuna wisma yang sudah lanjut usia yang ada di 
hadapan saya.
> > Dan saya pun merogoh kocek saya di celana.
> >
> > "Oya, Pak ini ada sedikit uang!" singkat saya lansung memberi uang
> > alakadarnya ke tangannya tanpa pesan apa-apa. Maklum saya baru 
saja dapat
> > pekerjaan lagi jadi saya hanya memberi uang sesuai dengan kantong 
dan
> > keikhlasan saya. Dan seperti bisa saya pun menunggu bus yang akan
> > mengantarkan saya berangkat kerja.
> >
> > "Makasih, Dik. Semoga adik dilancarkan rezekinya," katanya sambil 
mulut
> > berkomat-komit. Entah apa yang di gumamkan saya juga tidak tak 
tahu.
> > Semoga yang ada di mulutnya itu sebuah doa mustajab untuk saya 
khususnya,
> > dan juga umumnya untuknya.
> > Di sinilah (baca: diluar usai tempat saya bekerja) banyak guru-
guru
> > kehidupan saya yang selama ini tidak saya ketahui keberadaannya, 
ada banyak
> > sekolah kehidupan di jalanan, dan banyak pula pelajaran-pelajaran 
yang saya
> > petik ketika saya ada di mana dan sedang apa. Baik sedang duduk 
di atas
> > bus, berjalan, berdiri maupun singgah ketika mau berangkat atau 
pun usai
> > pulang bekerja. Ada saja guru-guru yang mengajari saya tentang 
kehidupan
> > yang benar-benar membuat saya merasa mengurut dada jika 
melihatnya. Banyak
> > hal yang saya dapati di luar sana dan hal yang tidak dapat saya 
ketahui
> > sebelumnya. Ada yang mengajari saya bagaimana cara bersyukur dan 
juga
> > mengamati serta merasakan orang-orang yang diberikan ujian oleh 
Yang Maha
> > Kuasa. Halnya sepeti tuna wisma yang lanjut usia yang 
menangadahkan
> > tangannya ke arah yang ingin makan. Miris seakli saya 
mendengarkannya.
> >
> > Sungguh ada jiwa yang bergejolak jika saya melihat keadaan itu 
semua. Baik
> > dengan sepasang mata dan kepala saya sendiri. Seakan-akan Yang 
Maha Kuasa
> > memberikan saya sebuah adegan demi adegan film di kehidupan ini 
agar saya
> > selalu bersyukur dan menyadari atas kekeliruan saya dulu yang 
membuat saya
> > hampir-hampir menyalahkan kehadiranNya. *Naudzimindzalik*. Tapi 
hal itu
> > saya tepis jauh-jauh dari benak saya ketika saya menemui seorang 
yang saya
> > tuakan yang telah memberikan saya masukan dan pesan untuk saya 
agar tidak
> > melakukan hal itu semua. Yang mengakibatkan saya beranggapan 
bahwa Tuhan
> > tidak adil terhadap saya kala itu.
> >
> > Seharusnya saya harus bisa lebih bersyukur dengan apa yang saya 
miliki
> > sekarang. Sekarang saya sudah memiliki pekerjaan tetap lagi, 
bakat menulis
> > serta berada di sekililing orang-orang yang selalu memberikan 
nasehat kepada
> > saya dibandingkan di luar sana. Tak ada seperti saya ini. 
Mendapatkan
> > pekerjaan tetap memiliki bakat serta berada bersama orang-orang 
yang siap
> > memberikan masukan kepada saya. Mereka di luaran sana hanya bisa 
berkata:
> > *"besok* *bagaimana saya bisa makan!*" Itulah yang mungkin sering
> > diucapkan oleh mereka di luaran sana. Halnya beda dengan saya 
ini. Sungguh
> > sepatutnya saya semakin bersyukur dengan hal itu. Bukankah begitu?
> >
> > Satu hal saya juga patut bersyukur kepada Allah Yang Menciptakan 
saya ini
> > dan juga Maha Pemberi. Dengan kaki saya yang masih utuh. 
Sepasang. Saya bisa
> > beraktivitas. Berangkat dan pergi bekerja serta bersosialisai 
kepada yang
> > lain. Begitu juga dengan mata yang saya miliki ini, yang tidak 
buta (hanya
> > memakai kacamata minus) saya dapat bisa "melihat" di luar sana. 
Baik dari
> > luar jendela bus yang tiap hari saya tumpangi, baik dari 
berangkat sampai
> > pulang kerja. Melihat secara langsung saat saya sedang berjalan 
dan singgah
> > ditempat saya menemukan guru-guru, sekolah dan pelajaran kehidupan
> > sesungguhnya kepada saya selama ini yang saya tidak tahu dan 
memasabodohkan
> > keberadaannya serta yang di-*marjinal*-kan oleh orang yang tidak 
memiliki
> > hati dan juga yang memiliki kekuasaan.
> >
> > Untunglah saya ini yang masih bisa melihat dengan mata saya dan 
bisa
> > melangkah dengan kedua kaki saya lebih jauh untuk bisa melihat 
kebawah dan
> > menengok keluar. Bagaimana keadaan saudara saya yang lainnya 
sesungguhnya
> > dibawah!
> >
> > *Ciputat, 11 Februari 2008*
> > *Ketika hati ini merasa kecil dihadapanNya.*
> >
> > ------------------------------
> > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! 
Mobile. Try it
> > 
now.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=A
hu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ>
> > 
> >
>


Kirim email ke