Sahabat-sahabat milist yang budiman,

Dalam salah satu dialog ceria bersama sahabat-sahabat remaja yang tergabung 
dalam komunitas e-SANTRI di perumahan kami (17-02-2008), saya melontarkan 
sebuah pertanyaan lugu yang sering ditanyakan oleh anak usia balita.

Dimanakah Tuhan kita...?

Saya tidak dapat memastikan, faktor apa yang menyebabkan jawabannya demikian 
jauh dari Aqidah Islam.  Padahal para remaja itu, masih duduk di bangku sekolah 
menengah pertama, menengah atas (umum), menengah kejuruan, telah bekerja dan 
ada yang sedang kuliah.  Rata-rata mereka adalah lulusan TPA/TKI.  
Sesungguhnya, apa yang diajarkan oleh para guru agama di sekolah, guru santri 
di TPA/TKI, orang tua, para khatib shalat Jum'at, televisi, radio atau media 
massa lainnya?  Sungguh, sangat mencengangkan, karena jawabannya 100 persen 
adalah :

Allah ada di mana-mana. (???!!!)

Walau tidak pernah menyimak sinetron, tapi saya mengenal sebuah judul sinetron, 
yaitu Tuhan ada dimana-mana.  Jangan-jangan mereka telah dipengaruhi oleh 
aqidah sinetron?
Ketika saya klarifikasi, dari mana mereka memiliki jawaban yang se-yakin itu?
Ternyata, mereka tidak dapat menjawab sumbernya. Dengan demikian dapat ditarik 
sebuah pengertian bahwa proses tranformasi dan filtrasi budaya yang membentuk 
wawasan aqidah mereka.  Walau secara terbuka tidak diakui, tetapi jelas sekali, 
mereka memiliki pengetahuan dan keyakinan aqidah yang dibentuk oleh proses 
budaya, dimana budaya sekarang adalah budaya pop, sinetron, MTV, gaul, sms, 
hiburan dan hedonis.

Sahabat-sahabat milist, memang pertanyaan saya memiliki perangkap ganda; baik 
bagi yang awam maupun yang telah berwawasan.

Untuk menghapus memori mereka dan menanamkan sebuah pemahaman baru, saya 
berupaya keras untuk membuat logika berpikir yang sistematis, segar, logis, dan 
trendi.  Semoga dapat menjadi sebuah inspirasi pembelajaran, berikut saya 
ringkaskan sistematika yang saya lakukan Ahad kemarin.

Ya, benar sekali Tuhan ada dimana-mana.
Bukankah Tuhan manusia saat ini, banyak sekali.  Ada ALLAH Swt, ada Yesus, ada 
Syiwa, ada Budha, ada Roh Kudus, ada Bunda Maria, ada pikiran, ada filsafat, 
ada uang, ada pekerjaan, ada pacar, ada hobi, ada Metallica, ada Hardcore, ada 
underground, ada Peterpan dan lain-lain.  Karena tuhan adalah sesuatu yang 
dianggap paling penting oleh seorang manusia.

Tuhan langit dan bumi.
Tapi, jika Tuhan itu harus sesuatu yang sangat-sangat hebat, maka sebenarnya, 
siapakah Tuhan langit dan bumi?  Tuhan yang mampu menciptakan serta 
mengendalikan manusia, bumi, langit, malaikat, syaitan serta seluruh alam ini.  
(atas penegasan ini, mereka sepakat Tuhan yang dimaksud pertanyaan adalah Allah 
Swt).

Dimanakah Allah?
Jika Allah Swt adalah Maha Suci, apa kepantasan-Nya untuk berada di WC, tempat 
sampah, gereja, kuil, tempat prostitusi?
Jika Allah Swt adalah Maha Kuasa, apa kepantasan-Nya tidak memiliki singgasana 
(tempat yang mewakili kekuasaan tertinggi), karena para raja, presiden pun 
selalu punya istana?

Dirasakan dimana-mana, tidak berarti ada dimana-mana.
Dengan teknologi internet, seorang Bill Gates dapat dirasakan hadir dihadapan 
para stafnya pada saat pertemuan jarak jauh, walaupun tetap saja Bill Gates 
sedang ada di rumahnya.  Dalam siaran langsung sepak bola Liga Inggris, 
keberadaan Wayne Rooney adalah nyata bagi penonton di seluruh dunia yang 
menyaksikan pertandingan Manchester United melawan Arsenal dalam perebutan 
Piala Liga.  Tidak benar bahwa Wayne Rooney dan Bill Gates ada dimana-mana.  
Pengertian ini hanya dapat diterima oleh mereka yang pernah berhubungan dengan 
teknologi informasi jaringan, atau menonton siaran langsung televisi; dan pasti 
tidak masuk akal (disangka sihir), oleh seorang petani nomaden di belukar hutan 
Sumatera.  Jadi memang bagi orang kuno, dirasakan dimana-mana itu harus ada 
dimana-mana! (mereka semua tergelak dengan istilah kuno).
Sedangkan, bagi orang yang melek teknologi, cerdas dan modern; seseorang dapat 
dirasakan kehadirannya dimana-mana walau dia berdiam di suatu tempat. (mereka 
sekarang menerima kalimat ini dengan baik).

Kata Al Quran, Allah Swt bersemayam di Arasy dan di langit.
Karena satu-satunya sumber informasi tentang Allah Swt yang valid, kuat dan tak 
terbantahkan adalah Al Quran, maka satu-satunya pernyataan yang dapat diterima 
tentang lokasi keberadaan Allah Swt adalah dari Al Quran.
Dengan demikian, bagi yang cerdas dan modern, Allah Swt ada di Arasy atau 
Langit, dan bisa dirasakan kehadiran-Nya dimana-mana.  Bukankah teknologi Allah 
Swt pasti sangat-sangat canggih?

Sahabat-sahabat milist yang baik,
Adalah sangat penting untuk mengaitkan pengetahuan dasar Islam (terutama 
aqidah) dengan realitas kehidupan temporer saat ini, sehingga mereka tidak 
merasa sedang belajar di abad batu, asing dan tak terjangkau.

Terima kasih atas kesediaan Anda menerima catatan pembelajaran di atas.

Wassalam

Syarif Niskala
http://syarifniskala.wordpress.com
http://superwords.wordpress.com



Kirim email ke