Maaf.....saya memahami logika mas dwi, tetapi sekali lagi...itu adalah logika kita. Para ulama setahu saya, tidak pernah memberikan kepastian, bahwa Allah Maha Melihat...berarti Allah punya mata, memang Allah punya mata, tetapi hanya Allah yang tahu seperti apa "mata" milik Allah itu. Begitu juga Allah berada di atas arsy...... kita tidak tahu bagaimanakah Allah di situ, benarkah arsy itu lebih besar dari Allah.....atau pertanyaan2 sejenisnya. Logika kita sangat dipengaruhi ilmu dan pengalaman kita, sementara dzat Allah SWT sepenuhnya kita tidak mengetahui, dan kita tidak ada pengalaman dalam hal ini. Saya cuplikkan dialog antara imam Hanafi dengan orang kafir, semoga bermanfaat : DIALOG ABU HANIFAH DENGAN SEORANG ATHEIS Seorang atheis bertanya kepada Abu Hanifah ra, “Apakah Anda pernah melihat Robbmu?” Abu Hanifah Ra menjawab, “Maha suci robbku, Dia tidak bida dicapai oleh penglihatan.” “Apakah Anda pernah menyentuh, mencium, mendengar atau mencicipinya?” Tanya atheis lebih dalam. “Maha suci robbku, Dia tidak sama dengan sesuatu apapun, Dia Maha Mendengar lagi Maha melihat,” kata Abu Hanifah selanjutnya. Si Atheis terus mencecernya, “Kalau anda tidak pernah melihat, tidak pernah mendengar suaranya, dan tidak pernah meraba zatnya, lalu dari mana Anda bisa membuktikan keberadaannya?” Abu Hanifah mulai kesal dengan pertanyaan orang atheis itu. ia tidak menjawab pertanyaan tersebut, tetapi justru balik bertanya, “Hai saudara, apakah Anda melihat akalmu?” “Tidak,” jawab orang atheis itu. “Pernahkah Anda mendengar suara akalmu?” “Tidak,” jawab orang atheis itu lagi. “Juga, pernahkah Anda maraba akalmu?” Orang atheis kembali menjawab sambil menggeleng, “tidak.” Akhirnya Abu Hanifah sampai pada pertanyaan, “Apakah Anda seorang akil (sehat akal) atau seorang yang sinting (kurang waras)?” “Tentu seorang akil!” Jawab orang atheis itu tegas. “Apakah Anda mempunyai akal?” “Tentu ada!” Jawab sang atheis itu agak sewot. Abu Hanifah menegaskan kembali, “Apalagi Zat Allah Robbul alamin. Tentu wajib ada-Nya meskipun indera kita tidak mampu menjaungkau-Nya!” --- sumber: Hiburan Orang Mukmin 2
----- Original Message ---- From: dwi prasetyo <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, February 18, 2008 3:48:48 PM Subject: Re: [rezaervani] [ARTIKEL] Tuhan ada di mana-mana Saya tergelitik dengan pertanyaan dimana Tuhan ? Kalo berada di langit (arasy) apakah berarti bahwa arsy itu lebih basar dari Tuhan itu sendiri. Sedangkan segala sesuatu yg berhubungan dengan ruang dan waktu pasti akan hancur Mungkin sahabat milist mempunyai penjelasan yang lebih jelas. Wassalam --- Syarif Niskala <[EMAIL PROTECTED] agung.co. id> wrote: > Sahabat-sahabat milist yang budiman, > > Dalam salah satu dialog ceria bersama > sahabat-sahabat remaja yang tergabung dalam > komunitas e-SANTRI di perumahan kami (17-02-2008) , > saya melontarkan sebuah pertanyaan lugu yang sering > ditanyakan oleh anak usia balita. > > Dimanakah Tuhan kita...? > > Saya tidak dapat memastikan, faktor apa yang > menyebabkan jawabannya demikian jauh dari Aqidah > Islam. Padahal para remaja itu, masih duduk di > bangku sekolah menengah pertama, menengah atas > (umum), menengah kejuruan, telah bekerja dan ada > yang sedang kuliah. Rata-rata mereka adalah lulusan > TPA/TKI. Sesungguhnya, apa yang diajarkan oleh para > guru agama di sekolah, guru santri di TPA/TKI, orang > tua, para khatib shalat Jum'at, televisi, radio atau > media massa lainnya? Sungguh, sangat mencengangkan, > karena jawabannya 100 persen adalah : > > Allah ada di mana-mana. (???!!!) > > Walau tidak pernah menyimak sinetron, tapi saya > mengenal sebuah judul sinetron, yaitu Tuhan ada > dimana-mana. Jangan-jangan mereka telah dipengaruhi > oleh aqidah sinetron? > Ketika saya klarifikasi, dari mana mereka memiliki > jawaban yang se-yakin itu? > Ternyata, mereka tidak dapat menjawab sumbernya. > Dengan demikian dapat ditarik sebuah pengertian > bahwa proses tranformasi dan filtrasi budaya yang > membentuk wawasan aqidah mereka. Walau secara > terbuka tidak diakui, tetapi jelas sekali, mereka > memiliki pengetahuan dan keyakinan aqidah yang > dibentuk oleh proses budaya, dimana budaya sekarang > adalah budaya pop, sinetron, MTV, gaul, sms, hiburan > dan hedonis. > > Sahabat-sahabat milist, memang pertanyaan saya > memiliki perangkap ganda; baik bagi yang awam maupun > yang telah berwawasan. > > Untuk menghapus memori mereka dan menanamkan sebuah > pemahaman baru, saya berupaya keras untuk membuat > logika berpikir yang sistematis, segar, logis, dan > trendi. Semoga dapat menjadi sebuah inspirasi > pembelajaran, berikut saya ringkaskan sistematika > yang saya lakukan Ahad kemarin. > > Ya, benar sekali Tuhan ada dimana-mana. > Bukankah Tuhan manusia saat ini, banyak sekali. Ada > ALLAH Swt, ada Yesus, ada Syiwa, ada Budha, ada Roh > Kudus, ada Bunda Maria, ada pikiran, ada filsafat, > ada uang, ada pekerjaan, ada pacar, ada hobi, ada > Metallica, ada Hardcore, ada underground, ada > Peterpan dan lain-lain. Karena tuhan adalah sesuatu > yang dianggap paling penting oleh seorang manusia. > > Tuhan langit dan bumi. > Tapi, jika Tuhan itu harus sesuatu yang > sangat-sangat hebat, maka sebenarnya, siapakah Tuhan > langit dan bumi? Tuhan yang mampu menciptakan serta > mengendalikan manusia, bumi, langit, malaikat, > syaitan serta seluruh alam ini. (atas penegasan > ini, mereka sepakat Tuhan yang dimaksud pertanyaan > adalah Allah Swt). > > Dimanakah Allah? > Jika Allah Swt adalah Maha Suci, apa kepantasan-Nya > untuk berada di WC, tempat sampah, gereja, kuil, > tempat prostitusi? > Jika Allah Swt adalah Maha Kuasa, apa kepantasan-Nya > tidak memiliki singgasana (tempat yang mewakili > kekuasaan tertinggi), karena para raja, presiden pun > selalu punya istana? > > Dirasakan dimana-mana, tidak berarti ada > dimana-mana. > Dengan teknologi internet, seorang Bill Gates dapat > dirasakan hadir dihadapan para stafnya pada saat > pertemuan jarak jauh, walaupun tetap saja Bill Gates > sedang ada di rumahnya. Dalam siaran langsung sepak > bola Liga Inggris, keberadaan Wayne Rooney adalah > nyata bagi penonton di seluruh dunia yang > menyaksikan pertandingan Manchester United melawan > Arsenal dalam perebutan Piala Liga. Tidak benar > bahwa Wayne Rooney dan Bill Gates ada dimana-mana. > Pengertian ini hanya dapat diterima oleh mereka yang > pernah berhubungan dengan teknologi informasi > jaringan, atau menonton siaran langsung televisi; > dan pasti tidak masuk akal (disangka sihir), oleh > seorang petani nomaden di belukar hutan Sumatera. > Jadi memang bagi orang kuno, dirasakan dimana-mana > itu harus ada dimana-mana! (mereka semua tergelak > dengan istilah kuno). > Sedangkan, bagi orang yang melek teknologi, cerdas > dan modern; seseorang dapat dirasakan kehadirannya > dimana-mana walau dia berdiam di suatu tempat. > (mereka sekarang menerima kalimat ini dengan baik). > > Kata Al Quran, Allah Swt bersemayam di Arasy dan di > langit. > Karena satu-satunya sumber informasi tentang Allah > Swt yang valid, kuat dan tak terbantahkan adalah Al > Quran, maka satu-satunya pernyataan yang dapat > diterima tentang lokasi keberadaan Allah Swt adalah > dari Al Quran. > Dengan demikian, bagi yang cerdas dan modern, Allah > Swt ada di Arasy atau Langit, dan bisa dirasakan > kehadiran-Nya dimana-mana. Bukankah teknologi Allah > Swt pasti sangat-sangat canggih? > > Sahabat-sahabat milist yang baik, > Adalah sangat penting untuk mengaitkan pengetahuan > dasar Islam (terutama aqidah) dengan realitas > kehidupan temporer saat ini, sehingga mereka tidak > merasa sedang belajar di abad batu, asing dan tak > terjangkau. > > Terima kasih atas kesediaan Anda menerima catatan > pembelajaran di atas. > > Wassalam > > Syarif Niskala > http://syarifniskal a.wordpress. com > http://superwords. wordpress. com > > > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. http://tools. search.yahoo. com/newsearch/ category. php?category= shopping ____________________________________________________________________________________ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs
