SEBUAH PERMINTAAN
Fiyan Arjun
http://sebuahrisalah.multiply.com
ID YM : paman_sam2
Akhirnya datang juga. Bunda Mas Pri dan perempuan itu. Pelan kuputar handel
pintu rumahku. Enggan. Berharap waktu lambat berlalu. Mestinya aku menyadari
ini sejak semula. Hanya saja aku terlalu keras kepala.
"Wit?!" Mas Pri berseru lagi.
"Bunda datang, Wit!"
Aku terdiam diri. Terpaku. Saat aku melihat Mas Pri, Bunda dan perempuan itu
memasuki rumah kami secara bersamaan. Apalagi saat perempuan itu mengenakan
busana muslim yang membalut tubuhnya itu. Sungguh-sungguh amat serasi dengan
dirinya sebagai seorang muslimah yang moderat.
Bukan itu saja, perempuan itu pun membuatku iri ketika aku ketahui
penampilannya saat itu sangat begitu anggun dibandingkan aku. Tetapi siapakah
dia sesungguhnya? Itu yang belum aku ketahui. Apakah perempuan ini yang
dimaksud Mas Pri? Batinku tak karuan. Entahlah. Aku tak ingin terburu-buru
berprasangka yang tidak-tidak kepada perempuan itu.
Ayu Indahswari. Begitu seperti Mas Pri, suamiku katakan. Ya, Ayu Indahswari
namanya. Dan Mas Pri pernah mengatakan bahwa aku harus benar-benar siap
menerima kehadirannya. Bagaimana pun yang terjadi. Bila nanti Bundanya itu
datang bersama seorang perempuan.
Ternyata benar. Perkataan Mas Pri benar apa adanya. Bundanya itu akhirnya
datang juga didampingi seorang perempuan. Aku pun tak bisa mengelak apalagi
menepis kehadirannya itu. Bukankah ia datang bukan hanya seorang diri melainkan
datang bersama Bunda? Mertua perempuanku. Entahlah. Hadapi dengan sabar dan
tenang itu yang harus aku lakukan. Itu pun karena permintaan dari Mas Pri
tentunya. Aku harus bersikap seperti itu. Seperti robot yang dikendalikan oleh
remote control.
Jujur, aku sebagai seorang wanita sekaligus seorang istri, aku tak ingin
menghadapi kenyataan yang pelik ini. Tapi apa hendak dikata toh itu harus
terjadi walau ada seseorang yang merasa tersakiti. Tak lain tak bukan orang
yang merasa tersakiti itu adalah aku. Ya, aku! Aku ini wanita malang. Wanita
tak sempurna. Baik di hadapan Mas Pri maupun di mata Bundanya. Baginya aku
adalah wanita yang benar-benar malang. Andai aku harus memilih diantara dua
pilihan. Aku tak ingin kedua-duanya itu menjadi pilihanku atau melimpah diriku.
Hidup adalah sebuah pilihan. Itu yang sering aku dengar dari beberapa
pembicaraan setiap kali aku mengikuti dan menghadiri seminar maupun
penggalangan dana kemanusiaan ketika memberikan sebuah kebijakan dalam
menentukan pilihan hidup. Itu pun semua aku lakukan karena atas permintaan Mas
Pri pula.
Dan, akhirnya apa yang aku lakukan pun menurutinya. Kegiatan yang hanya
memamerkan kekayaan dan keintelektualan semata. Itu semua bagiku adalah hal
yang paling aku benci. Kegiatan yang penuh dengan kemunafikan! Apalagi ketika
aku masih menjadi wanita penjaja cinta. Sebagian dari suami-suami mereka ada
yang aku ketahui. Bahkan ada di antara suami-suami mereka yang menyimpanku
sebagai wanita simpananya.
Bukan itu saja, suami-suami mereka pun pernah mengeluhkan tentang kehidupan
rumah tangganya masing-masing. Suami-suami mereka menganggap hidupya bagaikan
pohon tanpa akar. Hidup tanpa kekuatan dari orang-orang yang dimilikinya.
Itulah keluhan-keluhan yang keluar dari mulut suami-suami mereka saat sedang
mabuk. Itu yang aku dengar dari suami-suami mereka. Menganggap istri-istri
mereka hanyalah sebuah panjangan rumah semat. Tidak lebih. Maka pantaslah jika
aku berkata demikian bahwa istri-istri mereka --notabene kawanku juga dalam
sebuah kegiataan kewanitaan. Hidup penuh dengan kemunafikan.
Memang, aku akui itu ada benarnya juga. Dan menjadi istri Mas Pri yang taat dan
berbakti kepada suami itu adalah pilihanku. Pilihan yang tak dapat aku
tawar-tawar lagi. Tetapi sebuah pemintaan tetap sebuah permintaan yang harus
dilaksanakan. Begitu pula jika aku menjadi Mas Pri mungkin aku harus memilih
permintaan Bunda segera dituruti.
Untuk apa Mas Pri hidup bersama wanita seperti aku ini yang tak memberi
apa-apa?. Tentunya sebagai seorang anak yang berbakti kepada orangtua jalan
terbaik adalah menuruti keinginannya itu. Tapi tidak halnya dengan Mas Pri. Ia
malah meminta keputusan Bunda aku yang menentukan. Apa yang harus dilakukan dan
jalan terbaik mana yang harus ia ambil? Memilih aku sebagai istrinya yang tak
sempurna atau Bundanya yang sejak kecil memberi kasih sayang kepadanya seorang
diri? Entah. Apalagi Mas Pri anak semata wayang. Tentunya ia tak ingin
mengecewakan permintaan Bundanya itu.
Aku akui semenjak pernikahanku dengan Mas Pri, Bundanya tak pernah menyukai
kehadiranku. Apalagi ketika ia tahu kalau aku ingin menikah dengan anak semata
wayangnya itu, Mas Pri. Namun karena keteguhan laki-laki itu untuk meluluhkan
hati Bunda untuk merestui pernikahanku akhirnya membuahkan hasil. Bunda mau
merestui pernikahanku dan mau menerimaku sebagai menantunya.
Untuk hidup bersama Mas Pri dengan sebuah syarat menohok hatiku. Bila nanti
dalam pernikahanku menginjak tahun kelima aku tak memberikan keturunan aku
harus siap merelakan Mas Pri untuk berbagi cinta kepada wanita lain. Tentunya
dengan cara halal. Menikah. Seperti halnya Mas Pri menikahiku sebagai istri
sahnya bukan sebagai wanita simpanannya. Menyedihkan! Tapi itulah hidup! Aku
harus memilih.
Awalnya dulu aku menolak untuk dipersunting oleh laki-laki itu. Tapi lelaki itu
selalu saja membujukku agar mau diperistri olehnya. Padahal saat itu aku
bukanlah dari kalangan wanita baik-baik apalagi dari kalangan wanita terhormat.
Aku? Apalah aku ini? Aku hanya berasal dari wanita kelas orang-orang kotor. Aku
ini mantan pelacur. Entah kenapa saat itu aku begitu tergoda dengan bujuk rayu
manisnya untuk dijadikan istrinya. Aku sendiri juga tak tahu kenapa hal itu
begitu cepat dan aku langsung mengiyakan: aku siap menjadi istrinya.
Seingatku, saat itu laki-laki itu memohon-mohon kepadaku layaknya seperti para
pengemis cinta yang sering aku temui di mana-mana. Halnya seperti di tempat aku
bekerja dulu sebagai wanita penjaja cinta dan penghibur para laki-laki hidung
belang. Menerima cinta dari banyak laki-laki lain.
"Ayolah Wit, jadilah istriku. Aku janji akan membahagiakan dirimu," rayu Mas
Pri saat itu. Memohon permintaannya lekas diluluskan.
"Mas, aku ini wanita kotor. Mana mungkin ada lelaki normal yang sudi
menikahiku. Kalau pun itu ada, itu hanya mereka ingin memiliki tubuhku, bukan
aku. Aku mohon Mas jangan mempersulit keadaan. Apa kata orang-orang nanti jika
Mas memperistri aku?" jawabku.
Bukan Mas Pri namanya jika ia menyerah. Lelaki itu paling bisa membuat aku jadi
goyah terhadap prinsipku. Sampai kapan pun aku takkan menikah oleh lelaki mana
pun.
"Tapi, kan....".
"Tidak pakai tapi-tapian, Mas."
"Kalau kamu menerima cintaku aku ingin kita besok menikah."
"Bukan itu Mas yang aku maksud. Tapi aku sudah menjadi milik orang lain sebelum
kamu, Mas." tukasku memberitahukan apa yang sedang aku alami.
"Bukankah dia hanya ingin tubuhmu saja bukan cintamu. Aku ini sangat mencintai
kamu, Wit. Baiklah, jika kamu tidak menerima aku takkan sudi mengenalmu lagi,"
ancam Mas Pri membuat aku tak bisa berkutik.
Sungguh, ancaman Mas Pri saat itu bagai dilema. Di satu sisi memang aku sangat
menyukai Mas Pri. Bukan saja dari fisiknya yang tampan tapi hatinya juga yang
lembut. Perhatian kepada diriku. Karena itulah aku dibuat bimbang oleh dua
pilihan yang membuatku terpaksa memilih salah satunya, yakni adalah aku siap
menjadi istrinya.
Sungguh, aku bahagia sekali saat hari-hari indah itu selalu bersamaku. Tentunya
bersama dengan Mas Pri. Tapi sayang saat pernikahanku menginjak tahun ke lima,
aku harus menghadapi hal itu. Aku harus memenuhi permintaan Bunda Mas Pri untuk
berbagi posisi sebagai istri sahnya kepada wanita lain. Tak lain tak bukan
wanita itu adalah perempuan yang bersama Bunda Mas Pri.
"Wit, aku ingin bilang sama kamu. Jika nanti Bundaku datang bersama seorang
wanita apakah kamu sudah siap menghadapinya?" tanya Mas Pri suatu hari
memberitahu prihal kedatangan Bundanya.
"Lalu kenapa dengan aku, Mas? Bukankah kita selama ini baik-baik saja?," ucapku
tak mengerti dengan jalan pikiran Mas Pri yang menyampaikan hal itu.
"Itulah, Wit! Aku tak tega untuk memberitahu apa maksud dan tujuanku mengatakan
seperti itu," jawab Mas Pri.
"Ya, ada apa, Mas? Aku tak mengerti maksud kamu, Mas?" ulangku lagi.
"Bundaku akan datang bersama dengan seorang wanita. Dan wanita itulah yang
nanti akan menjadi istriku selanjutnya sesuai permintaan Bundaku."
"Nantilah Mas, kita lihat saja bila itu benar-benar menjadi kenyataan." jawabku
lirih.
***
"LHO, Bunda kok datang tidak memberitahukan kami dulu," ujarku saat aku baru
saja pulang dari pasar pagi.
Hari itu, aku tak tahu sama sekali atas kedatangan Bunda Mas Pri. Andai saja
aku tahu aku akan menyambutnya dengan semeriah mungkin. Aku akan memasak
masakan kesukaan Bunda, membersihkan rumah dahulu serta menjemputnya. Tapi ini
tidak! Aku tidak menyambut seperti apa yang aku bayangkan. Ini tidak sama
sekali.
"Sudahlah, kamu tidak usah repot-repot. Kami berdua kemari ingin memberitahu
kamu dan anakku, Priyatno," Bunda Mas Pri memberitahukan maksud dan tujuan ia
datang. Mungkin benar apa yang dikatakan Mas Pri belum lama ini. Entah apakah
aku harus bahagia atau malah sebaliknya. Tak bahagia atas kedatangan Bunda
bersama perempuan itu atau tidak? Entahlah. Walau pun aku dan Mas Pri tidak
memiliki masalah. Pun ada hanyalah soal anak dan hal itu Mas Pri tak terlalu
permasalahkannya. Seorang anak. Ya, seorang anak yang sudah lama aku impikan
keluar dari rahimku tapi tak membuahkan hasil sampai pernikahanku beranjak
tahun ke lima.
Dan sesuai permintaan Bunda Mas Pri, jika aku tak memiliki anak dalam jangka
waktu yang telah ditetapkan, Aku harus merelakan Mas Pri menikah lagi. Ya,
dalam waktu lima tahun sebagai syarat aku harus menerima Mas Pri untuk menikah
lagi kepada seorang wanita yang sudah dicarikan oleh Bundanya itu.
"Kamu sudah siap, Wit?" tiba-tiba suara Bunda Mas Pri memecahkan lamunanku saat
aku sedang menyajikan teh untuknya.
"Belum, Bu! Mungkin Tuhan belum mempercayai kami untuk memiliki anak," sela Mas
Pri menghalau pertanyan Bunda.
"Lho, aku tanya Sawitri. Istrimu, bukannya kamu, Priyatno!"
"Tapikan dia istriku, Bu!" bela Mas Pri lagi.
"Ah, kamu ini bisa saja mengelaknya, Priyatno. Sudah Bunda katakan sama kamu
jangan kamu nikahi wanita mandul itu. Tapi kamu tetap saja tak menuruti kata
Bundamu ini," berondong Bunda dengan kata-kata yang membuatku tak ingin
mendengarkannya.
"Bukan Sawitri yang mandul. Tapi aku Bunda! Aku.... Aku ini... Anakmu yang
bernama Priyatno yang mandul!" Aku hanya berdiam diri ketika kedua manusia satu
darah itu mengeluarkan argumen-argumen kebenarannya nya masing-masing. Tak ada
yang mau mengalah. Baik orangtua maupun anaknya.
***
TIGA hari sudah Bunda Mas Pri dan perempuan itu bermalam di rumah kami. Tak
satu pun yang istimewa aku memperlakukannya. Mungkin lebih baik begitu. Toh
daripada nanti kepedihan yang aku harus terima. Lambat laun hal itu pasti akan
terjadi juga. Apakah aku harus berbuat lebih atau tidak sama sekali. Namun hati
kecil kewanitaanku pasti sangatlah pedih untuk menerima itu semua.
"Wit, Bunda sudah kamu beri teh pahit? Ingat lho Bunda paling suka teh pahit di
pagi hari," tiba-tiba Mas Pri memperingatkanku agar aku tak lupa memberi teh
pahit untuk Bundanya itu ketika Mas Pri usai mandi untuk berangkat kerja.
"Sudah kok, Mas. Malah Ayu yang menyajikannya." "Lho, kok bukan kamu, Wit,"
kata Mas Pri lagi. Terkejut saat aku memberitahukan bahwa bukan aku yang
memberikannya. Melainkan perempuan itu menyajikannya.
"Sebenarnya aku yang ingin meyajikannya, Mas, tetapi Bunda melarangnya." Tanpa
sengaja mataku berkaca-kaca hingga membentuk anak sungai kecil di pipiku.
"Kamu menangis, Wit?"
"Ti, tidak, tidak kok, Mas!" kataku yang langsung menyeka airmata.
"Pri, Sawitri, kemari kamu berdua. Bunda ingin bicara sama kamu dan Ayu
sekalian." Suara Bunda Mas Pri menghentikan rasa sedihku. Akhirnya
satu-persatu, aku, Mas Pri dan perempuan yang bersama Bunda Mas Pri itu sudah
berada di ruang tamu. Dengan gontai aku melangkah ke depan bersama Mas Pri.
Saat itu rasanya kakiku sangat berat untuk melangkah. Kulihat Bunda Mas Pri
sedang membaca koran pagi yang sejak tadi tergelatak di atas meja ruang tamu.
"Silakan kalian duduk! Bunda ingin memberitahukan kalian semua. Khusus buat
kamu Sawitri. Bunda harap kamu tegar dan tak perlu terkejut. Mungkin anakku
sudah memberitahukan kamu sebelunya. Bukankah pernikahan kalian sudah cukup
lama berjalan. Lima tahun bukan? Sesuai syarat yang Bunda ajukan kepada kamu
sebelum kamu menikah kepada anakku kamu harus merelakan suamimu untuk membagi
cintanya kepada wanita lain. Kamu mau kan?"
Panjang lebar Bunda Mas Pri menceritakan semua itu. Aku sebagai pendengar yang
baik tak sanggup lagi untuk meneruskannya. Apalagi untuk menentangnya.
"Anakku, apa kamu bersedia menikahi Ayu dan mau membagi cintamu kepadanya?
Ingat Priyatno, kamu sudah menikah cukup lama. Bunda harap kamu harus mengambil
tindakan yang benar dan bisa membahagiakan Bunda. Bukankah itu sudah menjadi
suatu ketentuan dalam keluarga besar kita. Dan perlu kamu ingat lagi Bunda
hanya seorang diri hanyalah kamu anak laki-laki Bunda yang mampu meneruskan
keturunan keluarga besar kita."
"Bunda! Aku ini bukan anak kecil lagi. Anak kecil yang dulu Bunda suruh ini itu
harus dituruti. Aku ini punya keluarga dan punya kehidupan sendiri. Lagi pula
Sawitri belum tentu menerima dengan sepenuhnya dengan persyaratan Bunda yang
kolot, kuno dan tak masuk akal itu."
Belum sempat aku mendengar penjelasan dari Mas Pri terhadap permintaan Bunda
itu, tiba-tiba seluruh badanku dingin dan mataku gelap. Pekat. Seperti kiamat
yang sedang menghantuiku. Aku pingsan. Dan aku tak tahu lagi apa yang
disampaikan oleh Mas Pri.
Tanpa sadar, aku sudah terbaring di ruang yang amat kubenci. Ya, aku sedang
terbaring lemah tanpa daya di rumah sakit. Akibat dingin yang memuncak dan
pusing berat yang menyergapku secara tiba-tiba.
"Wit..., bangun..., bangun..., bangun, Wit. Ayolah bangun, aku ada kabar baik
untuk kamu. Bunda telah membantalkan permintaannya. Kamu tahu tidak, Wit, itu
lantaran kamu sekarang sedang hamil...," Aku pun terbangun ketika Mas Pri terus
mengoyang-goyangkan badanku dan membisikan sesuatu di telingaku.
Lalu, saat aku membuka kelopak mataku, aku melihat senyum bahagia Mas Pri.
Senyuman yang sudah lama menghilang. Kini senyuman itu kembali lagi. Senyuman
yang mirip sekali seperti senyuman yang pertama kali ketika cinta Mas Pri aku
terima.
"Kamu sudah sadar, Wit," ucap Mas Pri lagi sambil mengecup keningku.
"Sekarang Bunda dan Ayu sudah pergi kembali ke Surabaya untuk mengabarkan kabar
baik ini." Kata-kata itu terus diulang oleh Mas Pri saat aku sudah sadarkan
diri.
Aku sangat senang ketika melihat Mas Pri begitu bahagia. Tapi aku sangat
menyesalkan ketika Mas Pri tak tahu bahwa aku hamil bukan dari benih cintanya.
Melainkan hasil percintaanku dengan lelaki lain. Lelaki yang dulu pernah
memiliki aku. Benih inilah yang ia tinggalkan di rahimku.
Entahlah. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk meyakinkan kepada Mas Pri. Bahwa
benih yang aku kandung bukanlah benih dari dirinya melainkan benih dari lelaki
lain. Tapi itulah yang aku lakukan semata-mata untuk membahagiakan Mas Pri dan
juga keputusan yang aku ambil walau sebenarnya hatiku menangis. Selingkuh.
Dengan teman lelaki yang pernah memilikiku sebelum Mas Pri. Itulah cara yang
terbaik yang aku lakukan walau sebenarnya hatiku tak menerima seutuhnya. Itu
pun aku lakukan karena aku sangat menyayangi Mas Pri.
Oh, Tuhan... Aku tak sanggup untuk menerima cobaan ini. Semua yang aku
cita-citakan telah hilang begitu saja tanpa bekas. Ya, karena aku sudah
mengkhinati kepercayaan semua orang; kepercayaan Mas Pri, Bunda, dan juga
kepada Tuhanku sebagai tempatku bermunajat untuk segara mengabulkan segala
doa-doaku, segera mendapatkan seorang anak di rahimku serta menjadi seorang
istri yang taat dan patuh kepada suaminya.
Tapi itu sangatlah sulit aku mehilangkannya, bahkan masih mendera di hatiku
saat-saat permintaan Bunda harus aku turuti Ya, aku tahu serigala tetaplah
serigala. Ia takkan berubah menjadi kucing rumah dan patuh terhadap tuannya.
Dan, dan itu semua karena berawal dari sebuah permintaan.
***
Ulujami, Revisi-3 Agustus 2007
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.