MUROBBI ITU MANUSIA JUGA
Fiyan Arjun
http://sebuahrisalah.multiply.com
ID YM : paman_sam2
Dulu sebelum saya masuk dalam pengajian itu saya menganggap (mungkin) dialah
orang yang tepat untuk saya. Tepat untuk saya menambah ilmu agama yang selama
ini masih kurang dalam diri saya maupun tepat berbagi cerita tentang apa yang
saya lakukan di luaran sana (sebelum) saya mengenal pengajian ituyang sampai
saat ini saya masih tetap ada di dalamnya (pengajaian) itu.
Itu dulu. Saat saya masih tidak tahu bahwa siapa sesungguhnya dia sebenarnya?
Seperti apa orangnya? Dan apakah bisa memberikan saya solusi jika saya ada
problem? Tapi
ternyata anggapan itu saya salah. Bahkan jauh dari bayangan saya
bahwa yang saya anggap murobbi itu--di dalam pengajian itu ada saya di dalamnya
adalah bukan orang yang benar-benar orang yang mampu menyelesaikan (solusi)
jika saya ada masalah. Dan juga bukan seorang hollyman (orang suci). Dia
ternyata sama seperti saya. Seperti manusia juga! Dan dialah sang murrobi itu.
Murrobi (pengajar) di dalam pengajian yang ada saya di dalamnya.
Hal ini pun pernah saya lihatdan murrobi itu benar-benar manusia juga ketika
saya ada suatu masalah dan bercerita kepadanya. Bahwa malam itu saya memiliki
masalah yang saya hadapi tak dapat saya selesaikan sendiri. Akhirnya orang yang
tepat jatuhlah pada sang murobbi itu. Siapa tahu dialah orang tepat dan
membantu saya. Pikir saya saat itu. Kebetulan di dalam pengajian yang saya
diami itu mengadakan pengajiannya pada malam hari setelah usai saya bekerja.
Dan pada saat itulah saya berkeluh kesah tentang masalah yang saya hadapi malam
itu. Bukan! Bukan! Ini bukan masalah saya ngebet nikah. Sekali lagi bukan! Ini
masalah saya tentang hambluminnas. Hubungan sesama saudara seiman dan
seperjuangan saya yang agak renggang itu. Singkat kata saya curahkan semua yang
ada di benak dan di dada saya bahwa saya sedang mengalami masalah malam itu.
Afwan, Pak saya malam ini ada troble sedikit mengenai ukhuwah yang saya alami
terhadap saudara seiman dan seperjuangan saya. Bisakah Bapak menolong saya?
ujar saya memberitahukan masalah yang saya hadapi malam itu. Kebetulan saat itu
saatnya waktu untuk memberikan masalah-masalah apa yang selama seminggu di
hadapi para binaannya. Qadhaya roi begitu sebutan gaul di tempat pengajian
saya. Ya, semacam curhatan itulah yang bisa saya katakan.
Oya, apa. Dan masalahnya apa, jawab sang murabbi saya. Meminta penjelasan
tentang apa yang saya hdapi malam itu.
Begini Pak
, bla
, bla
, bla
, bla
Kata saya panjang lebar memberitahukan
masalah yang saya hadapi malam itu.
Lalu apa yang saya dapat akhir dari saya cerita yang saya ceritakan tentang
masalah yang saya hadapi itu. Ternyata saya kurang puas dengan apa yang
disampaikan oleh sang murrobi itu. Dan hasil buah dari itu adalah kekecewaan
yang saya dapat? Ya, saya kecewa malam itu ketika masalah yang hadapi tak
tuntas di selesaikan. Namun akhirnya saya sadar sendiri ketika ada kawan
sayakawan sepengajian saya memberitahukan dan menjelasakan kepada saya usai
malam itu. Usai selepas pengajian malam itu.
Ente kecewa ya atas masalah yang belum tuntas, tiba-tiba kawan saya itu
menanyakan hal seperti itu.
Kecewa sih, jawab saya datar.
Kawan saya yang sejak tadi mendengarkan masalah yang saya hadapi tadi langsung
menaruh simpati kepada saya dengan sikapnya yang tak mau membuat masalah lagi
terhadap saya. Kawan saya hanya tersenyum. Penuh merasakan apa yang saya alami.
Ya, sudahlah memang semua apa pun yang kita hadapi tak semua orang dapat
menyelesaikan apa yang kita hadapi dan kita inginkan. Dan itu semua dapat
dilakukan hanya kepada Sang Pencipta kita. Allahu Roobi. Dan murrobbi itu hanya
perantara saja. Dan bila yang disampaikan oleh murrobi kita membuat ente tak
puas ya itu namanya juga manusia. Ada keterbatasan. Murrobi itu juga manusia
lho
Ucap kawan saya sambil menepuk pundak saya. Dan kawan saya itu tersenyum
penuh merasakan.
Saya merenung kembali. Diam memikirkan apa yang disampaikan oleh kawan saya
itu. Dan ternyata itu semua benar apa yang disampaikan kawan saya. Ternyata
murabbi saya itu juga manusia. Tak semua yang apa yang saya hadapi bisa
dijangkau olehnya. Dia bukan Tuhan apalagi hamba yang sempurna. Bisa memiliki
dan menyelesaikan masaalah-masalah. Baik itu yang dihadapi olehnya sendiri
maupun masalah saya hadapi malam itu.
Akhirnya saya pun mendapatkan kunci dari itu semua. Ya, saya harus lebih
bijakasana menerima itu semua dan mendekatkan diri serta bermunajat kepadaNya
tentang apa yang saya hadapi malam itu. Walau pun setelah saya sudah berusaha
menceritakn itu semua tentang curhatan saya kepada murrobi saya itu. Tak saya
temukan dan tak membuat saya puas. Itu pun saya menyadari ketika saya
mendaptkan curhatan dari kawan saya itu. Ya, seorang murrobi itu juga
manusia. Katanya.! Saya pun akhirnya mengerti dan memahami itu semua. Terima
kasih kawan kau sudah membuka pintu hati saya mengenai siapa dia sesunggunya?
Dialah murobbi kita. Sang murobbi seorang manusia juga.
Ulujami, Februari 2008
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.