Assalaamu'alaikum wr wb Saya kira masalah ini adalah masalah yg sangat penting, banyak orang mengharapkan murobbinya itu seperti malaikat atau nabi, padahal Rasulullah SAW pernah mengajari sahabatnya, :Sampaikanlah apa yang dariku kepada yang tidak hadir, karena barangkali yang tidak hadir itu bisa memahami lebih baik dari pada yang hadir......atau seperti itu. Murabi hanyalah salah satu simpul untuk memahami Islam secara baik, mungkin awalnya kita memang lebih tidak mengerti dibanding murabi, tetapi seiring berjalannya waktu, bisa jadi kita bisa lebih memahami apa yang disampaikan oleh murabi. Misal : murabinya bicara ekonomi islam, padahal dia lulusan FMIPA Fisika, sedang mutarabinya orang ekonomi..... Tentu saja pada awalnya mungkin Mtr nya manggut2 ketika dijelaskan tentang ekonomi Islam karena masih diskusi dalam tataran semangat dan konsep, tetapi begitu bicara aplikasi ekonomi Islam, mungkin Mr nya yang tidak menguasai permasalahan ekonomi yang ada. Yang diperlukan adalah kebijaksanaan Mr dan Mtr dalam mensikapi antara harapan dan realita. Wallahu'alam Wassalaamu'alaikum wr wb
----- Original Message ---- From: fiyan arjun <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Cc: [email protected]; [EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, February 24, 2008 9:11:40 PM Subject: [rezaervani][CATHAR] MUROBBI ITU MANUSIA JUGA MUROBBI ITU MANUSIA JUGA Fiyan Arjun http://sebuahrisala h.multiply. com ID YM : paman_sam2 Dulu sebelum saya masuk dalam pengajian itu saya menganggap (mungkin) dialah orang yang tepat untuk saya. Tepat untuk saya menambah ilmu agama yang selama ini masih kurang dalam diri saya maupun tepat berbagi cerita tentang apa yang saya lakukan di luaran sana (sebelum) saya mengenal pengajian itu—yang sampai saat ini saya masih tetap ada di dalamnya (pengajaian) itu. Itu dulu. Saat saya masih tidak tahu bahwa siapa sesungguhnya dia sebenarnya? Seperti apa orangnya? Dan apakah bisa memberikan saya solusi jika saya ada problem? Tapi…ternyata anggapan itu saya salah. Bahkan jauh dari bayangan saya bahwa yang saya anggap murobbi itu--di dalam pengajian itu ada saya di dalamnya adalah bukan orang yang benar-benar orang yang mampu menyelesaikan (solusi) jika saya ada masalah. Dan juga bukan seorang hollyman (orang suci). Dia ternyata sama seperti saya. Seperti manusia juga! Dan dialah sang murrobi itu. Murrobi (pengajar) di dalam pengajian yang ada saya di dalamnya. Hal ini pun pernah saya lihat—dan murrobi itu benar-benar manusia juga ketika saya ada suatu masalah dan bercerita kepadanya. Bahwa malam itu saya memiliki masalah yang saya hadapi tak dapat saya selesaikan sendiri. Akhirnya orang yang tepat jatuhlah pada sang murobbi itu. Siapa tahu dialah orang tepat dan membantu saya. Pikir saya saat itu. Kebetulan di dalam pengajian yang saya diami itu mengadakan pengajiannya pada malam hari setelah usai saya bekerja. Dan pada saat itulah saya berkeluh kesah tentang masalah yang saya hadapi malam itu. Bukan! Bukan! Ini bukan masalah saya ngebet nikah. Sekali lagi bukan! Ini masalah saya tentang hambluminnas. Hubungan sesama saudara seiman dan seperjuangan saya yang agak renggang itu. Singkat kata saya curahkan semua yang ada di benak dan di dada saya bahwa saya sedang mengalami masalah malam itu. “Afwan, Pak saya malam ini ada troble sedikit mengenai ukhuwah yang saya alami terhadap saudara seiman dan seperjuangan saya. Bisakah Bapak menolong saya?” ujar saya memberitahukan masalah yang saya hadapi malam itu. Kebetulan saat itu saatnya waktu untuk memberikan masalah-masalah apa yang selama seminggu di hadapi para binaannya. Qadhaya ro’i begitu “sebutan” gaul di tempat pengajian saya. Ya, semacam curhatan itulah yang bisa saya katakan. “Oya, apa. Dan masalahnya apa,” jawab sang murabbi saya. Meminta penjelasan tentang apa yang saya hdapi malam itu. “Begini Pak…, bla…, bla…, bla…, bla…” Kata saya panjang lebar memberitahukan masalah yang saya hadapi malam itu. Lalu apa yang saya dapat akhir dari saya cerita yang saya ceritakan tentang masalah yang saya hadapi itu. Ternyata saya kurang puas dengan apa yang disampaikan oleh sang murrobi itu. Dan hasil buah dari itu adalah kekecewaan yang saya dapat? Ya, saya kecewa malam itu ketika masalah yang hadapi tak tuntas di selesaikan. Namun akhirnya saya sadar sendiri ketika ada kawan saya—kawan sepengajian saya memberitahukan dan menjelasakan kepada saya usai malam itu. Usai selepas pengajian malam itu. “Ente kecewa ya atas masalah yang belum tuntas,” tiba-tiba kawan saya itu menanyakan hal seperti itu. “Kecewa sih,” jawab saya datar. Kawan saya yang sejak tadi mendengarkan masalah yang saya hadapi tadi langsung menaruh simpati kepada saya dengan sikapnya yang tak mau membuat masalah lagi terhadap saya. Kawan saya hanya tersenyum. Penuh merasakan apa yang saya alami. “Ya, sudahlah memang semua apa pun yang kita hadapi tak semua orang dapat menyelesaikan apa yang kita hadapi dan kita inginkan. Dan itu semua dapat dilakukan hanya kepada Sang Pencipta kita. Allahu Roobi. Dan murrobbi itu hanya perantara saja. Dan bila yang disampaikan oleh murrobi kita membuat ente tak puas ya itu namanya juga manusia. Ada keterbatasan. Murrobi itu juga manusia lho…” Ucap kawan saya sambil menepuk pundak saya. Dan kawan saya itu tersenyum penuh merasakan. Saya merenung kembali. Diam memikirkan apa yang disampaikan oleh kawan saya itu. Dan ternyata itu semua benar apa yang disampaikan kawan saya. Ternyata murabbi saya itu juga manusia. Tak semua yang apa yang saya hadapi bisa dijangkau olehnya. Dia bukan Tuhan apalagi hamba yang “sempurna”. Bisa memiliki dan menyelesaikan masaalah-masalah. Baik itu yang dihadapi olehnya sendiri maupun masalah saya hadapi malam itu. Akhirnya saya pun mendapatkan kunci dari itu semua. Ya, saya harus lebih bijakasana menerima itu semua dan mendekatkan diri serta bermunajat kepadaNya tentang apa yang saya hadapi malam itu. Walau pun setelah saya sudah berusaha menceritakn itu semua tentang curhatan saya kepada murrobi saya itu. Tak saya temukan dan tak membuat saya puas. Itu pun saya menyadari ketika saya mendaptkan “curhatan” dari kawan saya itu. Ya, seorang murrobi itu juga manusia. Katanya.! Saya pun akhirnya mengerti dan memahami itu semua. Terima kasih kawan kau sudah membuka pintu hati saya mengenai siapa dia sesunggunya? Dialah murobbi kita. Sang murobbi seorang manusia juga. Ulujami, Februari 2008 Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. ____________________________________________________________________________________ Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
