AKU MENULIS KARENA AKU TAK TAHU?
  Fiyan Arjun
  http://sebuahrisalah.multiply.com
  ID YM :paman_sam2
   
   
   
  “Aku menulis bukan karena aku memahami dunia, meiainkan karena aku tidak 
memahami”(Gerald Murnane)
   
   
  
  
  
  Boleh jadi apa yang dikatakan oleh Gerald Murnane benar adanya. Saya menulis 
selama ini bukan karena saya hebat, intelek apalagi ingin popular. Terlebihnya 
saya berambisi membuat buku—best seller nantinya—yang terpaksa menuntut karena 
profesi sebagai penulis. Jujur hal itu tak ada dalam benak saya. Sepintas lewat 
pun tak ada dalam pikiran. Yang ada saya ingin berkarya dengan sendirimya tanpa 
sesuatu yang saya kejar.  Walau pun ada itu pun kecil, aku tak ingin 
terburu-buru. Ya, kalau sudah saatnya juga akan tiba. Saya yakin itu!
   
  
   
  
  Menulis bagi saya adalah menuliskan kembali pengalaman-pengalaman perjalanan 
saya maupun orang lain. Halnya yang selama ini saya lakukan dimana, kapan pun 
dan bagaimana pun keadaan saya saya pasti saya menuliskan kembali. Entah itu di 
handphone saya (sebagai kunci utama saya dalam menulis) kemudian saya tuangkan 
kembali ke buku diary elektronik saya. Atau, lebih dikenal blogg. Itulah saya 
lakukan selam ini. Setidaknya saya ingin tahu dalam keadaan apa saya bisa 
menuangkan kembali dalam bentuk tulisan. Karena itu—yang tadi saya tak 
tahu—menjadi  saya tahu.
   
   
  
  
  
  
  Selama ini saya menulis itu semata-mata saya ingin karya saya dibaca banyak 
orang. Dan tentunya berguna dan bermanfaat bagi yang membacanya. Itulah hal 
yang paling sangat aku syukuri (walau pun nanti berdatangan hujan kritikan dan 
saran membangun) dalam diri saya. Tapi ingat jangan melihat diri saya! Tapi 
karya saya! Buat apa melihat saya (sebagai penulis) toh nantinya Anda—pembaca 
pasti akan mengetahui sendirinya siapa saya sesungguhnya? Bukankah seseorang 
itu (penulis) akan diketahui siapa dia sesungguhnya hanya dari apa yang ia 
tulis? Sayarasa itu ada betulnya. Walau pun saya belum tahu pasti kebenarannya. 
Dikarenakan saya bukan psikolog apalagi yang mengetahui orang lain hanya dari 
tulisannya saja. Itu perlu kerja keras dan mendalaminya.
   
   
  
   
  
  Saya menulis buat diri saya sendiri. Kalau pun ada yang suka dengan karya 
saya itu saya anggap sebagai reward—yang saat ini saya ingin mempersembahkan 
untuk para penulis-penulis di Indonesia. Tak ada yang lebih membanggakan jika 
karya saya dibaca dan dinikmati lalu diimplementasikan dalam kehidupan 
sehar-hari bagi yang membaca tulisan saya.. Dan itulah keinginan saya. Selain 
itu juga saya ingin membantu dan mengangkat derajat anak bangsa yang masih ada 
saja yang buta aksara. Betapa malangnya mereka di zaman globalisasi dan zaman 
tekhnologi masih tersimpan anak bangsa yang tak bisa membaca. Betapa miris hati 
saya jika saat itu saya mengetahaui hal itu.
   
   
  
   
  
  Maka dengan ini—yang saya tulis agar saya bisa berbagi dengan mereka. Saya 
tahu saya menulis bukan karena saya tak tahu. Di sinilah letak kenapa saya 
selalu ingin menulis. Karena saya ingin mengetahu seperti apa dunia saya 
sebenarnya? Apakah hanya dari bait demi bait, kata- demai kata., kalimat demi 
kalimat yang saya susun dan rangkai. Ternyata tidak! Saya harus mendalami dan 
merasakan bagaimana nasib mereka yang tidak sebaik dengan saya. Saya bisa 
menulis dan menikmati istirahat saya dengan membaca buku-buku. Namun jika saya 
melihat mereka di sana betapa hati saya menjerit. Ternyata saya benar-benar tak 
tahu bahwa saya menulis untuk siapa?. Dan tentunya saya harus lebih banyak 
belajar agar saya tahu sebenarnya untuk apa say menulis?
   
   
   
  
  
  Dan untuk mengakhir tulisan saya  ini saya sengaja mengutip satu kata-kata 
bijak agar saya khususnya bisa  berintropeksi diri dan pada umumnya untuk Anda 
semua sebagai pembaca. Kita ada di sini bukan untuk saling bersaing. Kita ada 
di sini untuk saling melengkapi. Semoga.
   
  
   Ciputat, April 2008
   

                           

   


        

Kirim email ke