Assalamu'alaikum

Berkorban itu Nikmat.............

By ; Surroh Zu'amah

    Berkorban artinya memberikan sesuatu untuk orang lain, mengeluarkan
sesuatu bukan untuk kepentingan sendiri, atau, melakukan sesuatu yang
hasilnya bukan untuk diri sendiri. Tapi kenapa pengorbanan itu selalu
memberi rasa nikmat? Kenapa memeras tenaga, berpikir, mengucurkan keringat,
mengeluarkan harta, hingga menyumbangkan darah dan nyawa untuk kepentingan
orang banyak, selalu memunculkan keteduhan yang luar biasa di dalam hati?

    Kenapa, tetap memberi meski dalam kondisi sempit, berusaha menanamkan
kebahagiaan untuk orang lain meski dalam kondisi sulit, memberi manfaat pada
orang lain meski dalam keadaan memerlukan, selalu melahirkan kenikmatan
dalam diri orang yang melakukannya?



Saudaraku,
    Pernahkah kita merasakan bagaimana nikmatnya menyisihkan uang untuk
berinfaq dan membahagiakan orang lain, dalam kondisi kita juga
memerlukannya? Bagaimana indah dan damainya hati saat kita memeras tenaga,
menguras pikiran, mengeluarkan apa yang kita punya, untuk kegiatan dakwah *
ilallah*? Bagaimana sejuknya hati, dikala kita bisa memberi sesuatu yang
berharga, yang kita miliki, untuk membahagiakan orang lain?



    Memberi, secara lahir adalah mengeluarkan sesuatu untuk orang lain yang
berarti juga mengurangi sesuatu yang kita miliki. Tapi secara maknawi,
memberi sesuatu kepada orang lain itu sama dengan memunculkan ketenangan
batin, kenikmatan dan kecerahan tersendiri bagi yang melakukannya. Kandungan
makna inilah yang banyak dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para *
salafushalih*. Anas ra pernah mengatakan bahwa Rasulullah adalah orang yang
tidak pernah diminta sesuatu, kecuali ia pasti memberi.

    Saudaraku,
    Para salafushalih bahkan lebih menginginkan kesulitan dalam berkorban
dan memberi untuk orang lain tidak terganggu dengan pemberian dan imbalan.

    Imam Al Auzai menolak pemberian murid-muridnya yang ingin belajar hadits
darinya. "Kalian boleh memilih. Jika kalian ingin hadiah ini aku terima, aku
tidak akan mengajarkan hadits pada kalian. Jika kalian ingin belajar hadits
dariku, maka hadiah ini tidak aku terima," katanya.

    Ulama lainnya, Isa bin Yunis, mengeluarkan kata-kata yang lebih tegas
lagi dalam hal yang sama. Ia mengatakan, "Tidak ada makanan dan minuman yang
aku terima untuk menyampaikan hadits Rasulullah SAW. Meskipun kalian
memenuhi masjid ini dengan emas seluruhnya." Itu dikatakan Isa bin Yunis
kepada penguasa yang ingin memberinya hadiah.

    Apa rahasia di balik penolakan itu? Mereka, pasti lebih ingin merasakan
nikmatnya berkorban, indahnya memberi, kelezatan lelah dan sejuknya hati
saat bersusah payah, dalam memberi manfaat banyak orang demi meraih
keridhaan Allah SWT.



    Berkorban itu nikmat saudaraku,
Seperti pengorbanan total yang telah ditunjukkan oleh Syaikhul Intifadhah,
Syaikh Ahmad Yasin - semoga Allah SWT menempatkannya dalam jannah-Nya.
Bagaimana dengan tubuhnya yang lumpuh, ia tetap memimpin pergerakan dakwah
dan perlawanan untuk membebaskan Palestina dan melindungi kiblat pertama
Masjidil Aqsha yang dirampas oleh Israel. Bagaimana dalam kondisi mata yang
sulit melihat, tapi mata hati dan pikirannya tidak pernah terlepas dari
memperhatikan langkah perjuangan umat Islam melawan penjajah Zionis Israel.

    Bagaimana dalam kondisi yang renta, keluar masuk penjara, tapi
semangatnya terus berkobar dengan keberanian yang sulit ditandingi. Ia terus
menerus menyongsong bahaya kematian yang mengancamnya setiap detik.
Bagaimana ia yang selalu berada di atas kursi roda, tapi tetap berangkat ke
masjid di waktu fajar untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. Dan beliau
mendapatkan syahidnya dirudal oleh Israel sepulangnya dari sholat shubuh.
Tidak semua orang bisa bangun sebelum fajar, dan tidak semua orang yang
bangun sebelum fajar punya keinginan untuk sholat di masjid walaupun
tubuhnya sehat dan kuat.



    Saudaraku, berkorban itu nikmat.
Ia telah melewati usia hidupnya dengan tekad jihad yang membaja, keberanian
yang tinggi, dan kepasrahan total kepada Allah SWT. Hingga akhirnya ia
berhasil mencapai prestasi hidup yang diidamkannya, mati syahid di jalan
jihad. Gugur setelah mengisi relung-relung usianya, dengan pengorbanan yang
tak pernah berhenti. Betapa indahnya akhir hidup seperti itu.



    Saudaraku,
Dr. Yusuf Qaradhawi, dalam memorandumnya pernah menceritakan sebuah kisah
yang sangat menyentuh saat ia ditahan di penjara perang Mesir. Seorang
aktivis muslim  bernama Hilmi Mukmin dipukuli secara membabi buta oleh
cambuk dan tongkat. Ia dihukum keras karena menolak diperintahkan untuk
memukul muka saudaranya, sesama aktivis. Ia lebih memilih disiksa oleh
algojo penjara dan memelihara kehormatan saudaranya.

Ternyata, meski dihujani pukulan bertubi-tubi, Hilmi Mukmin tak mengeluarkan
kata-kata apapun yang menunjukkan bahwa ia merasakan sakit. Sikap Hilmi
Mukmin, benar-benar membuat algojo penjara putus asa hingga ia berhenti
kelelahan memukulinya. Para algojo itu lalu memeluk Hilmi Mukmin untuk
meminta maaf dan mengobati tubuhnya yang berlumuran darah dan penuh luka.
Mereka mengira Hilmi Mukmin adalah seorang wali Allah dan mereka takut
menerima pembalasan dari seorang wali Allah. "Semua mukmin yang bertakwa
adalah wali di antara wali-wali Allah."

Bagaimana Saudara Hilmi Mukmin bukan seorang wali Allah? Bukankah dia telah
merelakan balasan Allah dari apa yang ia lakukan untuk membela
Saudara-saudaranya? "Ia telah ridha dengan All Quran sebagai prinsip dan
manhaj hidupnya. Ia juga telah menjadikan Rasul sebagai pimpinannya, dan
jihad sebagai jalannya. Dia telah teguh di atas prinsip itu dan bersabar
atas apa yang ia terima di jalan Allah," begitu tulis Qaradhawi. "Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan
mereka selalu bertakwa." (QS Yunus : 62)



    Berkorban itu nikmat Saudaraku,
    Namun tetaplah perhatikan kondisi dan suasana saat kita melakukan
pengorbanan. Karena, "Bila di hatimu tak ada kelezatan yang bisa kamu
dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigailah hatimu," ujar Ibnu
Taimiyah (Madarijus Salikin, 2/68). Maksudnya, Allah pasti membalas amal
seseorang di dunia dengan rasa nikmat, kecerahan dan ketenangan dalam hati.
Tapi bila ada orang yang belum merasakan hal itu, berarti amalnya
terkontaminasi.

    Saudaraku,
Berkorbanlah di jalan ini. Berkorbanlah dengan mengabaikan keinginan syahwat
dan mengutamakan keridhaan Allah. Bersabarlah dalam berkorban. Karena
menurut para salafushalih, sesungguhnya kenikmatan pengorbanan itu ada pada
seberapa besar kita bisa bertahan dan bersabar dalam melakukan pengorbanan
dalam beramal shalih. Sedangkan pengorbanan tidak mungkin dilakukan tanpa
kesabaran. Umar bin Khattab lah yang menyebutkan bahwa lezatnya kehidupan
itu ada pada kesabaran. Dalam perkataannya, "Aku telah membuktikan bahwa
kenikmatan hidup itu ternyata ada pada kesabaran kita dalam berkorban."
.Wallahu'alam



NB. Semoga kita termasuk dlm golongan orang2 yg dapat merasakan nikmatnya
berkorban.....Amin.

Rahmadsyah
www.trainer-tcc.blogspot.com

Kirim email ke